Demi Kesehatan, Jangan Tergiur Membeli Daging SAPI Ilegal

Untuk mencegah agar tidak terkena penyakit kuku dan mulut (PMK) serta sapi gila, konsumen daging sapi saat ini harus waspada saat membeli daging. Terlebih kini daging-daging sapi ilegal membanjiri pasar-pasar di Jakarta.  Sebaiknya konsumen membeli daging lokal atau yang diizinkan untuk diimpor, yakni daging dari Australia atau Selandia Baru. Jauhi daging sapi India, juga daging sapi Amerika.

Direktur Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang-Departemen Kesehatan dr Thomas Suroso SU menyatakan, seseorang yang mengonsumsi daging sapi yang tidak bebas PMK bisa tertular penyakit tersebut.  PMK menyebabkan bercak- bercak putih seperti sariawan di mulut, namun tidak menimbulkan kematian. Bagi manusia, PMK tidak terlalu menjadi masalah, namun PMK menjadi masalah besar bagi peternakan karena jika terserang PMK maka hewan tersebut tidak mau makan sehingga produksi berkurang.

Soal penularan PMK pada manusia, praktisi hewan kecil dari Denpasar, Bali, drh Soeharsono DTVS PhD menyatakan, PMK tidak membahayakan manusia. Dari pengalamannya ikut menginvestigasi kasus PMK di Pulau Jawa tahun 1983, tidak ada seorang pun yang terkena PMK. Artinya PMK tidak menular pada manusia.

“Memang ada yang menulis PMK menular pada manusia, tapi saya meragukan itu. PMK merupakan penyakit hewan berkuku genap, seperti sapi, kerbau, kambing, babi, domba. PMK ini membahayakan hewan-hewan di Indonesia karena paling ditakuti di bidang peternakan, sementara Indonesia bebas PMK,” kata Suharsono. Karena itu jika ditemukan daging sapi yang tercemar PMK, maka daging sapi tersebut harus segera dimusnahkan. Ia menyesalkan tindakan yang selama ini selalu lambat pelaksanaannya.

SEBALIKNYA untuk penyakit sapi gila (BSE, bovine spongiform encephalopathy), akan berakibat fatal bagi manusia. Jika tidak mau tertular penyakit ini maka konsumsi daging sapi dari Amerika harus dihentikan karena tidak bebas penyakit sapi gila.  Masa inkubasi penyakit sapi gila menurut dr Thomas Suroso terbilang lama karena bisa mencapai 10 tahun atau ada juga yang lebih cepat, dua tahun. Seseorang bisa terinfeksi jika makan daging sapi yang terkontaminasi dalam jumlah besar. Suharsono menjelaskan, penularan penyakit sapi gila pada manusia menurut hipotesa akibat makan daging sapi terutama yang mengandung banyak prion (agen penyebab penyakit yang lebih kecil dan sederhana dari virus) seperti otak atau sumsum tulang. Sedangkan di daging prionnya sedikit.

Untuk mencegah agar tidak tertular penyakit sapi gila, sebaiknya tidak mengonsumsi daging atau bahan-bahan yang banyak mengandung prion. “Jangan ambil risiko dengan penyakit sapi gila,” tegas Suharsono.  ORANG yang terkena penyakit sapi gila antara lain menunjukkan gejala neurologis seperti gangguan pada susunan saraf pusat, jalan sempoyongan, nafsu makan berkurang, dan akhirnya meninggal dunia.

“Karena otaknya rusak maka keseimbangan tubuhnya juga terganggu. Namun dia tidak menjadi gila atau mengamuk. Penyakit itu sudah terjadi di Inggris dan Irlandia. Di Indonesia belum dijumpai,” kata Thomas.  Penyakit sapi gila ini juga belum ditemukan obatnya, karena prionnya sendiri masih misterius. “Tidak jelas dari bahan apa asalnya. Dari protein atau jasad yang hidup?” tambahnya. Sejauh ini Depkes mewaspadai PMK dan sapi gila, dengan membentuk kelompok kerja bersama dengan Ditjen Peternakan, Fakultas Kedokteran Hewan dan WHO dengan menggelar seminar-seminar guna mewaspadai penyakit tersebut.

 

Sumber : Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s