Mengorbankan Nyawanya Demi SARS..!

Dr. Carlo Urbani “Bug Warrior”: Mengorbankan Nyawanya Demi SARS..!

Dr. Scott Dowell berdiri terpaku, wajahnya terlihat kaku, jari-jemarinya memegang pintu kaca yang memisahkannya dengan ruang isolasi rumah sakit. Di tempat tidur, dibalik kaca itu, tubuh Dr. Carlo Urbani (46) terbujur, diam tak bergerak. Enam dokter dan perawat yang mengenakan pakaian perlindungan layaknya di luar angkasa, satu persatu melangkah keluar ruangan.

Semuanya tampak kelelahan dan kehabisan tenaga. Mereka berjuang mati-matian, selama berjam-jam, mempertahankan nyawa Dr. Urbani agar mampu melalui saat-saat kritisnya. Sayangnya, upaya itu tak berhasil. Tibalah saatnya, membiarkan sang dokter pergi dengan tenang, menuju alam baka.

Peristiwa itu, terjadi pukul 11.45, hari Sabtu ( 29/3), di rumah sakit Bangkok, Thailand. Urbani, dokter spesialis penyakit menular yang sejak awal menangani kasus-kasus sindroma pernapasan dadakan yang berat atau SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) –serta rajin memperingatkan pihak-pihak yang berwenang di bidang kesehatan soal bahaya SARS– meninggal akibat penyakit itu sendiri. Sebuah pengorbanan yang tak ternilai.

Dowell, adalah dokter yang terlibat dalam hiruk pikuk tadi. Ia menangani Urbani yang tertular SARS, sejak dokter asal Italia bertubuh tinggi besar itu tiba di Bangkok, Thailand, 18 hari lalu. Tubuh Dowell sendiri sudah mulai demam, dan ia belum juga tahu, penyakit apa yang dihadapinya.

Saya tidak pernah mengira ia (Urbani) tidak akan sembuh, ” kata Dowell penuh sesal. “Sama sekali tidak terlihat, ia tidak mampu menahan keganasan penyakit ini.” (Lebih dari 1800 orang diketahui terserang SARS, termasuk seorang wanita tua di Atlanta, Amerika Serikat yang kini dalam perawatan.

Setidaknya 62 nyawa telah melayang, hampir semuanya terjadi di Asia.  Dr Carlo Urbani menghadapi penyakit ganas itu dengan gagah berani. ) Urbani seorang parasitologist dari sebuah desa di pesisir timur laut Italia. Sejak awal, ia bergabung dengan WHO dan mengabdikan dirinya untuk memperbaiki kesehatan masyarakat di negara-negara miskin. Menikah dengan tiga orang anak, Urbani tinggal bersama keluarganya di Hanoi, atas penugasan WHO. Penugasan itu diberikan, ketika seorang pengusaha dari Hong Kong membawa penyakit misterius itu ke Vitenam.

Pengusaha keturunan Cina-Amerika itu bernama Johnny Chen. Dia datang dalam keadaan sakit pada 26 Februari 2003, kemudian memeriksakan diri di rumah sakit “Vietnam-France Hospital”. Chen-lah yang memicu berjangkitnya penyakit ini di Vietnam. Lebih dari 80 orang staf rumah sakit itu -lebih dari setengahnya pernah melakukan kontak dengan Chen- terkena SARS setelah merawat dan berdekatan dengannya.

Penyakit SARS telah berjangkit di Cina selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya menyebar pula di Hong Kong. Chen yakin, ia tertular SARS ketika menginap dalam satu lantai di Metropole Hotel, Hanoi, bersama seorang dokter asal Guangdong, Cina.

Chen kemudian kembali ke Hong Kong, disanalah ia meninggal. Setelah kasus Chen merebak, “Vietnam-France Hospital” lantas ditutup. Dr. Urbani, yang dipanggil untuk menangani para petugas rumah sakit tersebut, kemudian memperingatkan supervisor-nya di Jenewa, Swiss, akan berjangkitnya penyakit misterius berbahaya ini, dan mulai mengadakan riset.

Dalam sambutannya, pada 1999, ketika menerima penghargaan Nobel Perdamaian atas nama “Doctors without Borders” –sebuah grup yang anggotanya dikenal mau menghadapi bahaya tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri– Urbani mengatakan, ” Adalah tugas kami selalu mendampingi para korban dan menjamin mereka mendapatkan perawatan yang pantas.”

Di Hanoi, Urbani telaten merawat pasien-pasien SARS –bahkan ketika penyakit ini belum punya nama. Dia bolak-balik ke rumah sakit, melacak setiap penularan dan mengambil sampel para penderita. Ia cemas karena penyakit ini (terutama) mengancam pekerja rumah sakit, yang selalu berdekatan dengan pasien.

Urbani kemudian memperingatkan WHO untuk melakukan sejumlah tindakan pencegahan, yang sangat dibutuhkan oleh para pekerja rumah sakit dari ancaman penyakit berbahaya ini. Sampai suatu hari, Urbani merasakan tubuhnya sendiri terserang penyakit ini, bahkan lebih buruk dari yang dibayangkannya.

Dr. Scott Dowell tidak pernah mengenal Dr. Urbani sebelumnya. Dokter spesialis penyakit menular ini, bekerja di Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) di Atlanta, Amerika Serikat. Dowell, adalah direktur program yang bertugas mendeteksi penyakit-penyakit baru di Asia.

Pada tanggal 11 Maret, Dr. Tim Uyeki dari CDC bergabung bersama Dowell di Bangkok. Uyeki adalah anggota the Epidemic Intelligence Sevice (EIS), “pasukan” siap tempur yang siap dikirim kemana saja di seluruh dunia, ketika ada penyakit yang mengundang perhatian. Di Atlanta, sehari sebelumnya, Uyeki mendapat panggilan penting: “Segera pergi ke Hanoi, stop di Bangkok mengurus visa dan perlengkapan laboratorium.”

Uyeki kemudian membahas bersama Dowell dan Dr. Michael Martin (staff Dowell), tentang penyakit yang berjangkit di Hanoi ini. Tanpa hasil uji laboratorium yang memadai dan bisa dijadikan pegangan, ketiga dokter ini menduga mereka menghadapi sejenis penyakit influenza yang fatal dan menular dengan cepat.

“Kami sangat khawatir,” kata Dowell, ketika dihubungi lewat telepon dalam sebuah wawancara. “Bangkok adalah pusat penerbangan, dan orang- orang dari seluruh Asia datang ke sini untuk mendapatkan perawatan kesehatan. Kami menduga penyakit ini akan segera menyebar di sini.”

Dowell segera menghubungi perwakilan WHO di Bangkok. Dia mendapatkan jaminan yang menenteramkan hati bahwa perwakilan WHO sudah tahu seberapa serius penyakit ini. Tetapi, jaminan itu tak berlansgung lama. Pada pukul 21.45, malam itu juga, teleponnya berdering, dari pejabat WHO yang baru saja ditemuinya.

“Apa yang kita khawatirkan sore tadi, benar-benar terjadi, ” kata staff WHO tadi. “Dan ini lebih buruk dari yang kita bayangkan. Ini tentang salah satu staff kami (WHO).” Dialah Dr. Urbani, yang akan segera tiba di Bangkok untuk mendapatkan perawatan. Pesawatnya segera mendarat dalam 20 menit kemudian.

Dowell lalu ngebut menuju bandar udara, menembus lalu lintas Bangkok yang sangat ruwet. Ia sempat menelepon Menteri Kesehatan Thailand, untuk segera mengkarantina para petugas rumah sakit, sebelum Urbani tiba. Begitu sampai di bandar udara, pesawat Urbani mendarat. Bus yang membawa penumpang mulai mendekati gerbang kedatangan.

“Kami memegang secarik kertas, bertuliskan namanya, agar Urbani tahu kami menjemputnya.” kata Dowell. “Tetapi kami segera mengenalinya begitu dia turun dari bus. Wajahnya begitu kelam dan pucat.” Dowell bersama para petugas karantina menyapa Urbani dengan sangat hati-hati. Mereka menjaga jarak beberapa meter jauhnya, dan mencoba tidak berjabat tangan. Mereka membawa Urbani keluar melalui pintu lain, dimana mobil ambulans diperkirakan sudah menunggu.

Tetapi, ambulans tidak ada. Rupanya, para kru-nya khawatir oleh berita-berita tentang penyakit ini. Mereka berhenti sejenak untuk melengkapi diri dengan perlindungan yang memadai. Tidak hanya itu, petugas ambulans ini malah tersesat di bandar udara, mereka tidak tahu dari pintu mana Dr. Urbani keluar. Dibutuhkan 90 menit untuk menemukan pintu yang benar.

“Saya sudah mendengar penularan penyakit yang begitu mengerikan ini di Hanoi, dan Carlo (Urbani) mengatakan, dia tidak mau saya dekat- dekat dengannya,” ujar Dowell. “Jadi kami mengatur tempat duduk terpisah, sekitar 8 feet jauhnya -jarak yang cukup aman. Tidak lama kemudian sebuah ambulans berhenti, keluarlah orang-orang dengan pakaian luar angkasa lengkap. Mereka segera mengangkut kami bertiga ke rumah sakit.”

Para petugas rumah sakit sudah menyiapkan ruangan bertekanan negatif . Namun komponen-komponen utama ruang isolasi seperti di Barat, jarang sekali tersedia di negara-negara berkembang. Urbani ditempatkan di ruangan yang tertutup rapat , dilengkapi kipas angin untuk mengisap udara keluar ruangan dan mengeluarkannya lewat jendela. Ini usaha maksimal untuk menjaga penyakit atau organisme bertimbun di rumah sakit.

“Carlo Urbani sangat tenang,” kenang Dowell. “Dia tidak tampak kesakitan -napasnya tidak tersengal-sengal, dia juga tidak batuk-batuk. Hanya sedikit demam. Tapi dia khawatir kondisinya segera memburuk.”  Kondisi Urbani memang memburuk, tapi tidak secepat yang diperkirakan. Selama satu minggu, ia terlihat baik-baik saja. Demamnya tetap stabil, pemeriksaan X-ray menunjukkan dadanya tetap bersih. Paru- parunya juga bekerja dengan baik.

“Secara keseluruhan, ia tidak tampak seperti pasien yang membutuhkan pertolongan,” ucap Dowell. “Tetapi dia takut dan merasa depresi. Di Hanoi, dia sudah melihat pasien yang pagi harinya tampak sangat sehat, namun mendadak sangat kesakitan malam harinya, dan dia khawatir itu akan segera terjadi.”

Hari itu, minggu kedua, Urbani terbaring di ruang isolasi. Para dokter sudah mencoba setiap pengobatan yang mereka pikir bisa berhasil. Mulai dari antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang tak terdeteksi; obat-obatan baru untuk menyembuhkan influenza; sampai antiviral yang oleh dokter di Hongkong dikabarkan sukses menangani SARS. Sayangnya, tak satu pun yang berhasil!

Dowell kemudian menelepon istri Urbani di Hanoi. “Carlo tidak ingin saya berada di dekatnya,” kata istrinya. “Dia bilang, kami bisa tetap mengingatnya dimanapun dia berada.” Tetapi, istri Urbani disarankan untuk segera menemui suaminya. Dia kemudian menitipkan ketiga anaknya pada keluarganya di Italia dan menemui suaminya di Bangkok.

Ketika istrinya tiba, rumah sakit tengah membangun ruang isolasi tambahan di sekeliling Urbani. Ruangan itu kini dilengkapi dinding kaca lapis dua, setiap petugas diwajibkan memakai sarung tangan rangkap, baju panjang, dan masker. Ketika mereka meninggalkan ruang isolasi semua perlengkapan langsung dibuang dan dimusnahkan.

Istri Urbani tidak dapat berbicara dengan suaminya, karena seperti pasien lain yang sangat kesakitan akibat SARS, ia menggunakan pipa pernafasan untuk memperlancar aliran oksigen menuju paru-parunya. Menginjak minggu ketiga, paru-paru Urbani penuh dengan cairan. Hari Jum’at malam (28/3) Dowell dan Martin kami sangat khawatir akan kondisinya. Sabtu pagi, Martin mendadak mendapat panggilan penting dari Dowell. Urbani mendapat serangan jantung!

Dowell segera berlari menuju rumah sakit. Tak ada waktu mengenakan pakaian “luar angkasanya”. Ia hanya sempat mengenakan masker. Di dalam ruangan para petugas mati-matian berjuang menghidupan kembali Urbani. Martin berlutut di samping tempat tidur Urbani, menekan dada pria besar itu dan memberinya CPR (resusitasi jantung-paru digunakan untuk mengejutkan jantung agar berdenyut lagi)

Tiga kali jantung Urbani berhenti berdetak, dan tim dokter berhasil mengaktifkannya kembali -tetapi tekanan pada penyakit paru-parunya yang begitu berat telah membebani sistem tubuhnya terlalu jauh. Ketika jantung Urbani berhenti berdetak lagi, Dowell menerima kenyataan yang tak dapat dielakkan, dan menyatakan: Urbani telah meninggal!

Satu persatu, anggota tim ini keluar dari ruang isolasi. Wajah mereka memancarkan kesedihan mendalam. Dibalik “baju luar angkasa” yang mereka kenakan, tubuh mereka basah kuyup oleh keringat. Ketika mengisahkan kejadian ini, Dowell mengambil nafas dalam-dalam. “Sendirian di negara yang sama sekali asing, dalam ruangan yang dipenuhi orang-orang berbaju luar angkasa, yang dilarang menyentuh tubuhmu. Itu bukanlah cara yang indah untuk mati,” ucap Dowell.

Tiga hari setelah kematian Dr. Urbani, rasa terkejut mereka akan kematian Urbani berangsur sirna. Namun, Dowel dan staf-nya masih menyesali kematian seseorang yang dalam tiga minggu mereka kenal sangat dekat. Urbani telah menjadi sahabat. “Bagi tim kami, dia adalah pahlawan…” ujar Dowell.

Pada hari yang sama, setelah Urbani meninggal, Dowell duduk sendirian di kursi di rumahnya. Ia mulai merasa demam dan sulit bernafas. Malam itu, ia memutuskan — sekedar berjaga-jaga-tidak memberi ciuman selama tidur pada anak-anaknya.

Keesokkan paginya, keadaannya membaik. “Penyakit ini sangat serius, lebih dari yang diperkirakan orang, ”  katanya. “Penyakit ini lebih dramatis dibandingkan penyakit lain yang menular dengana cara yang sama. Orang-orang harus mampu mengenali dengan baik gejala-gejala awalnya.”  “Saya khawatir, SARS akan bersama kita untuk jangka waktu cukup lama,” demikian Dowell mengakhiri kisahnya. (ZRP/The Atlanta Journal- Constitution)

 

Sumber  : Milis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s