SILAKAN MENGHAKIMI

“Lastriiiii !!!!”

“Luisaaaa !!!”

Kedua wanita itupun berpelukan erat. Memang keduanya baru berjumpa kembali setelah sekian lamanya berpisah. Tepatnya setelah 9 tahun berpisah.
“Kamu sekarang kerja di mana ?” tanya Luisa kepada Lastri.
“Nggak, Aku masih kaya dulu, jualan jamu tradisional. Kalau kamu di mana ?” tanya Lastri balik.

Luisa tertegun sesaat. “Ya ampun deh Lastri” pikirnya. “Dari SMA dulu kamu masih saja pecundang, masih jualan jamu juga. Mbok sudah, cari pekerjaan yang bener gitu lho !”
“Luisa ? LUISA ? Kok bengong begitu !” tegur Lastri membuyarkan lamunan Luisa.

“EH IYA, aduh maaf ya. Aku kerja sebagai sekretarisnya Pak Roger, itu lho yang punya pabrik alat musik KAWANUA ! Gajinya lumayan, kamu ikut saja disana, Pak Roger pasti mau bantu kamu lah, jadi apaan gitu.” jawab Luisa.  “Ih bisa aja deh kamu !” jawab Lastri sambil tertawa.
“Huh dasar Lastri” pikir Luisa dalam hati, “sekali pecundang tetap pecundang…”

Keduanya lalu berbincang – bincang sampai pada suatu ketika … “If you love the Lord say aaaah … say aaaah … say HALLELUYAH !!!”  Lastri terkejut ketika melihat bahwa suara tersebut sebenarnya adalah suara nada dering ponsel Luisa.

Luisa yang sadar akan kekaguman temannya ini malah sengaja pamer. Ditunjukkannya ponsel itu sambil berpromosi. “Ini tipe 3650 !!! Keren kan ?” Lastri terkagum – kagum melihat ponsel itu, sudah berwarna, bisa mengambil gambar, malahan bisa merekam nada dering sendiri. Tidak seperti ponselnya sekarang yang hanya dua warna yaitu hijau dan hitam dan nada deringnya, gariiiing !

“Ini mau dijual lho ! Kalau kamu mau kamu bayar saja 1,5 juta rupiah !” kata Luisa kepada Lastri.
“Lho !” potong Lastri heran. “Bagus begini kok mau dijual ?” tanyanya.
Luisa tersenyum. “Iya, aku mau ganti tipe P900 saja, jauuuuh lebih keren. Gimana, mau kamu beli tidak ?” katanya balik bertanya.  “BAIK !” jawab Lastri. “Saya akan ke kantor kamu besok siang dengan uangnya ya !”  “Iya deeeh, apa kata kamu aja deeeeh …” jawab Luisa enteng.

Kedua wanita itupun kembali berbincang – bincang mengenai masa lalu, kuliah mereka, sampai calon presidenpun mereka jadikan bahan obrolan. Tentunya mereka berdua akan memilih calon presiden yang paling cantik, tentunya. Setelah itu keduanyapun berpisah.

Keesokan harinya Lastri sungguh – sungguh datang ke kantor Luisa.  “Luisa, nih uangnya !” kata Lastri kepada Luisa. Luisa terkejut – kejut melihat Lastri sungguh – sungguh membawa uang sebanyak itu. Bagaimana tidak terkejut, terakhir kali Luisa melihat Lastri adalah 9 tahun yang lalu. Dan saat itu Lastri hanyalah anak seorang penjual jamu saja. Bagaimana mungkin Lastri bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam semalam ?

“Aduh maaf ya Lastri, ponselku itu sudah aku jual tadi pagi. Nih, lihat, aku sudah beli yang baru” kata Luisa.  Lastri tampak sangat kecewa. “Lho kok gitu, kan kamu sudah janji mau menjualnya padaku !” kata Lastri.  “Iya, maaf ya. Tadi pagi aku tidak tahan godaan si penjualnya yang menawarkan untuk menukar tambah saja ponselku itu. Maaf ya !” kata Luisa lagi.

Belum selesai mereka berurusan, eeeh tibalah Pak Roger boss Luisa yang makin hari makin tampan dan makin kaya saja. Begitu melangkah masuk, Roger langsung berteriak “EEEEHHH BU LASTRI !!!”
katanya sambil menjabat kedua tangan Lastri.

Luisa terheran – heran melihat keakraban bossnya dengan Lastri.  “Waaah ini orang hebat nih Luisa, Bu Lastri ini yang membawa jamu tradisional kota kita ke Hongkong, Taiwan dan Singapura !!!” promosi Roger.  “Coba siapkan minuman untuk Bu Lastri !”  Luisa terkejut bahwa ternyata Lastri temannya itu rupanya orang terkenal.

Tidak lama kemudian Lastri pergi meninggalkan kantor itu, diantarkan langsung oleh Pak Roger sampai ke angkutan umum yang memang selalu menjadi kendaraan pilihan Lastri.

“Lihat orang itu” kata Roger kepada Luisa. “Sangat sederhana bukan ! Milyuner yang selalu merakyat. Pakaiannya pun selalu sederhana. Hanya segelintir orang yang tahu bahwa dialah pemilik perusahaan kosmetik tingkat dunia, Lastri Flame. Kalau tidak dipaksa para pelanggannya mungkin tidak akan pernah tahu cara menggunakan ponsel ha ha ha ha ….”

Luisa tertunduk malu. Dia menukarkan ponselnya kepada sebuah toko ponsel karena dikiranya Lastri tidak akan mungkin bisa membeli ponsel miliknya.  Ternyata ….

Luisa kembali duduk di mejanya. Pikirnya, sekalipun kejadian tadi cukup memalukan, tidak ada seorangpun yang tahu tentang hal itu.  “Kriiiing” suara telpon berbunyi.  “Halo ?” kata Luisa memulai pembicaraan.  “Ibu Luisa, ini Tony dari Bank Watson. Maaf Bu, kami belum bisa menerima permohonan kartu kredit yang Ibu ajukan.” jawab seorang pria dari ujung telepon.

“Belum bisa ? Berarti ditolak ? KENAPA ? Gaji saya kan sangat besar !!!” protes Luisa.  “Maaf Bu” jawab Tony, “kami belum bisa memberikan kartu kredit untuk Ibu”  “TAPI KENAPA ? MEMANGNYA KAMU BUTA TIDAK BISA MEMBACA SLIP GAJI SAYA ?” bentak Luisa marah.

“Justru karena saya nggak buta Bu ! Masa CUMA SEKRETARIS SAJA mengaku gaji sampai sebesar itu !!! Sorry deh Bu, cari saja Bank lain yang bisa dibohongi ! Selamat siang !” Tony membanting telponnya.
Luisa terdiam sejenak lalu … “HA HA HA HA HA HA” dia mulai tertawa terbahak – bahak.

“Makanya Luisa …” katanya pada dirinya sendiri, “Jangan suka menghakimi kalau tidak mau dihakimi.”
“Karma ?” potong Anita Miu sekretaris pribadi Pak Roger yang tiba – tiba muncul seperti hantu.
“Lebih parah !” kata Luisa sambil menutup matanya. “Ini hukum tabur tuai, siapa menabur angin akan menuai badai …..”

Sumber Milis (Sugeng Wiguno)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s