KARIER

  • Apa yang terbayang di benak kita tentang “karier”?

Karier adalah perjalanan hidup seseorang di dunia pekerjaannya. Bagi kebanyakan orang, perjalanan
karier adalah perjalanan menuju ke “atas”. Kita biasa menggunakan kata-kata “anak tangga karier”, “jenjang karier”, atau bila seseorang meraih kedudukan tertinggi dalam pekerjaannya, kita menyebutnya “telah sampai di puncak karier”.  Zig Ziglar pun pernah menulis buku berjudul “See You at The Top” yang seolah ingin mengatakan bahwa karier bukan sekedar perjalanan namun lebih tepat disebut pendakian. Gunung apa yang didaki oleh para pejalan karier? 

Gunung itu adalah struktur organisasi yang memang berbentuk kerucut.  Batu-batu yang harus ditapaki dinamai dengan jabatan, tanggung jawab, tugas dan wewenang, atau kedudukan. Sebagaimana halnya pendakian, perjalanan karier tentu bukan perjalanan mudah.

Perjalanan karier adalah perjalanan yang melelahkan, membutuhkan kemampuan, keberanian dan pengorbanan. Di jaman sekarang, dimana persaingan semakin ketat, banyak orang menambahkan faktor kecepatan, maka perjalanan karier bukan lagi sekedar pendakian yang tampak lambat dan berat, namun tak ubahnya seperti “arena balap” dimana para pejalan karier saling berlomba, berpacu bahkan berebut tempat terbaik.

Tak sedikit penulis menggambarkan karier seperti “jalan bypass”, atau tak sedikit orang menggunakan motto ala Olimpiade, “stronger, higher, faster”,lebih kuat, lebih tinggi dan lebih cepat, untuk memotivasi diri agar mampu meraih kariernya lebih baik.

Maka, sebenarnya, tanpa embel-embel apapun, kata “karier” sendiri sudah mencerminkan sesuatu yang bergerak maju dan dinamis. Tidak ada tempat untuk berhenti apalagi mundur, karena bertentangan dengan makna internalnya.

Mari kita perhatikan orang-orang yang memutuskan untuk melakukan perjalanan karier. Mereka bagaikan pendaki-pendaki gunung yang gagah berani. Pembawaan mereka penuh percaya diri, bernyali besar untuk memasuki bidang-bidang baru,berkepribadian tangguh, pandai dan cerdas.

Kita senang melihatnya karena berwawasan jauh ke horison serta berpandangan tajam dalam melihat peluang. Selain itu, sebagaimana halnya seorang pembalap, mereka bergerak cepat,lincah dan dinamis bukan lamban bagai kura. Pantas saja bila kita mengibaratkan mereka dengan elang (tajam, cepat), singa (gagah, berani), kuda mustang (kuat, dinamis) atau simbol-simbol lain. Yang jelas mereka bukan pekerja biasa. Mereka adalah manusia-manusia ulung yang diperlukan bagi kemajuan suatu usaha.

  • Pertanyaan yang lebih menarik adalah, mengapa seseorang rela melakukan perjalanan karier yang tak mudah itu? Apa yang sebenarnya dicari? 

Tak mungkin suatu pengorbanan tak memberikan imbalan. Benar! Justru di sinilah letak segala daya tarik sekaligus persoalan para pejalan karier. Sederhananya, karier berkaitan dengan kehidupan seseorang di dunia pekerjaan.

Motivasi dasar yang mendorong kita bekerja adalah penghasilan. Dan itu halal bahkan wajib. Karena, dengan bekerja kita memiliki harkat sebagai manusia yang mulia dan bertanggungjawab. Pejalan karier adalah pekerja keras di atas rata-rata.

Sewajarnyalah mereka memperoleh penghasilan yang lebih baik, yang memungkinkan mereka memiliki kehidupan yang, tentu saja, lebih baik. Semakin tinggi karier seseorang semakin baik penghasilan yang diperolehnya; juga berbagai fasilitas dan kenikmatan hidup.

Pada titik tertentu, semua ini bukan hanya memberikan kenikmatan, namun kehormatan,kedudukan sosial, kekuatan, bahkan kekuasaan. Karier mampu memberikan hasrat yang diimpikan oleh manusia. Begitu kemilaunya apa yang bisa diperoleh dari karier, banyak orang mulai membuat macam-macam rencana karier.

Mereka menyusunnya seolah menggambar peta pencarian harta karun. Lebih lanjut, mereka menetapkan jadwal waktu,perbekalan yang harus disiapkan, jaringan hubungan dan lain-lain yang rumit. Tak jarang orang meniru taktik-taktik perang. Bila demikian, ini bukan lagi sekedar rencana, namun “stategi”.

Bagi dirinya sendiri, pejalan karier adalah seorang jendral tempur. Pernahkah kita melihat gambar serdadu yang gagah berani tergantung di dinding ruang kerja seseorang pejalan karier?  Itu adalah sumber motivasi yang tak henti-henti dipandanginya.

  • Dunia karier adalah dunia kerja.

Tak sedikit orang menganggap dunia kerja adalah dunia yang terpisah dari dunia lain, semisal, keluarga atau lingkungan sosial. Malah ada orang yang membenturkan keduanya. Kita sering mendengar orang mengatakan “pilih karier atau keluarga”.

Seolah-olah keberhasilan karier harus mengorbankan keberhasilan keluarga. Sebagian berdalih, bahwa apa yang diperjuangkan di jalan karier pada akhirnya toh akan dinikmati juga oleh keluarga. “Biarlah sekarang saya mengorbankan keluarga, tapi di masa depan kehidupan kami terjamin.”, demikianlah kata mereka.

Maka, alih-alih meningkatkan harkat kita, karier justru meletakkannya lebih rendah dari semestinya. Tapi, tak apa, harapan besar yang diangankan di waktu mendatang dianggap jauh lebih berharga; sehingga pengorbanan kali ini akan mudah terlunasi kemudian.

  • Seorang bijak pernah berkata, “Bila kau ingin membuat Tuhan tertawa, kemukakanlah rencana kariermu!”

Ini bermakna bahwa sehebat apa pun kita menyusun rencana karier, kita tetap tak bisa memastikan sesuatu yang akan terjadi. Tak seorang pun dengan jujur berani menjamin bahwa tahun depan ia akan menjadi manajer, dua tahun kemudian general manager, lalu direktur di lima tahun lagi, dan seterusnya.

Sama tak beraninya memastikan jumlah penghasilan, kekayaan dan kenikmatan yang bisa kita berikan pada keluarga. Maka, bagaimana rencana karier bisa disusun?   Strategi karier bisa jadi hal yang sia-sia saja.

Seseorang yang dengan mengherankan mampu mewujudkan seluruh rencana-rencana kariernya dimungkinkan oleh dua hal, pertama,kecermatan dan kerja keras yang tak terbayangkan besarnya, (mungkin juga diikuti oleh tindakan menghalalkan segala cara). Kedua, keberuntungan atau nasib baik.

Yang kita perlukan bukan lagi apa yang akan kita raih, melainkan bagaimana kita mempersiapkan diri agar bila kesempatan itu hadir, kita telah siap menerimanya. Ibarat idiom yang berlaku di kaum spiritualist, “Bila anda siap, karier pun datang.”

Dengan demikian, karier tidak lagi dipandang sebagai perjalanan ke atas, melainkan perjalanan horisontal. Perjalanan karier tidak lagi harus mendaki gunung jabatan dan posisi, tetapi pemupukan kemampuan pribadi. Pejalan karier tak lagi melirik perusahaan besar yang memiliki usaha dari hulu ke muara.

Cukuplah sebuah perusahaan kecil namun memberikan ruang lepas untuk pengembangan kemampuan pribadi. Karier berkaitan dengan proses pembelajaran diri yang tak kenal henti. “Tak apalah aku hanya sampai di kursi kepala bagian, asal kapasitas dan kematangan pribadiku melebihi manajer sekalipun,” demikian kira-kira kata mereka. Perusahaan terbaik adalah perusahaan yang memberikan kesempatan belajar seluas mungkin.

  • Benturan yang muncul antara kesuksesan karier dengan kesuksesan keluarga,atau kekecewaan pada kegagalan atas tujuan karier yang berorientasi pada hal-hal finansial, kedudukan, jabatan dan berbagai kenikmatan serta kekuasaan lain, menimbulkan kesadaran lain.

Kehidupan yang terpecah,persaingan ketat yang memboleh cara-cara tak etis, dan runtuhnya ikatan sosial mendorong kita mencari paradigma baru yang lebih manusiawi, atau tepatnya, memberikan kepuasan batin. Pepatah “kasur baik belum tentu memberikan mimpi baik” berlaku pula di perjalanan karier. Beberapa orang menemukan paradigma bahwa perjalanan karier bukanlah perjalanan ke atas, kesamping atau kemana-mana. Perjalanan karier dipandang sebagai perjalanan ke”dalam”.

Keberhasilan karier tidak lagi diukur dengan hal-hal materiil maupun seberapa luas mereka mampu berkembang. Mereka menggunakan ukuran yang sangat abstrak, yaitu kebahagiaan diri; kepuasan batin; kesenangan ruhani; kegembiraan hati.

Mereka meneropong jauh ke dalam batin untuk meneliti motivasi-motivasi diri. Hal-hal yang menyebabkan gangguan pada keseimbangan hidup, mereka singkirkan jauh-jauh. Mereka menyadari bahwa keberhasilan karier haruslah merupakan keberhasilan diri mereka yang utuh, baik sebagai pejalan karier, anggota keluarga, dan masyarakat.

Sebagai perekatnya, mereka memegang teguh norma-norma moral dan integritas. Perjalanan karier merupakan perjalanan menemukan peran mereka di dunia. Berkaryalah sebaik mungkin tanpa memilah-milah kepentingan diri, karyawan, perusahaan, konsumen, pemegang saham dan sebagainya. Sepanjang bisa memberikan kepuasan batin, meski hanya “menyingkirkan duri dari jalan”, cukuplah sudah. Pribadi yang muncul adalah kebijakan, pandangan yang takjim, senyum tulus, gerakan yang halus dan berhati-hati.

Landasan bekerja mereka adalah kasih sayang serta niat untuk senantiasa menaikkan harkat hidup sesama. Nilai semua itu melebihi penghasilan, kedudukan, dan kekuasaan lain.  Kini, tugas anda adalah menentukan perjalanan karier yang manakah yang anda pilih untuk ditempuh. Perjalanan ke atas, ke samping atau ke dalam, bukan jadi soal, sepanjang anda sadar akan pilihan anda, dan siap menanggung setiap konsekuensi maupun resiko yang mungkin muncul.  , “Selamat berkarya. Semoga sukses selalu.”

 

Sumber :Milis (Rekan Kantor)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s