Atasi Rasa Bosan Kerja!

Pekerjaan yang monoton bisa menimbulkan kebosanan. Atasi sebelum membuat kinerja Anda merosot.

  • Kebosanan kerja bisa menerpa setiap karyawan. Sebelum menjadi hal yang negatif, segera atasi kebosanan supaya kinerja Anda tak merosot.

Ada banyak penyebab seseorang bosan dengan pekerjaannya. Nilai-nilai pribadi (value) yang dibawa seseorang sebelum memasuki dunia kerja salah satunya. Pola hubungan dalam keluarga di rumah merefleksikan perilakunya di tempat kerja.

Mereka yang dididik menghormati orangtua, maka saat berinteraksi di kantor akan otomatis menghormati orang yang lebih senior. Begitupun jika di rumah terbiasa berkompetisi, maka di tempat kerja pun ia akan lebih mudah berkompetisi dengan orang lain. Nah, nilai pribadi ini akan bertemu dengan nilai pribadi dan kultur kantor. Jika nilai itu bersesuaian, maka seseorang akan betah bekerja. Demikian pula sebaliknya.

Faktor lain penyebab seseorang tak betah, antara lain pola pekerjaan yang sama, berulang-ulang. Selain itu, karyawan tak diberi kesempatan untuk pengembangan diri, apalagi pengembangan karier.

Tingkat kebosanan setiap orang berbeda-beda. Ada yang setahun sudah bosan, ada juga yang lima atau sepuluh tahun, baru merasa bosan. Cara mengatasinya sebenarnya bisa dimulai dari diri sendiri. Yakni, dengan bertanya, “Apa yang membuat saya bosan?”

Jika penyebabnya pola pekerjaan yang monoton, menurut Neni Indra Melani, Psi., cobalah untuk melakukan pekerjaan secara bervariasi. Tapi jangan sampai mengubah pekerjaan orang lain. Setelah mengukur jangkauan wewenang diri sendiri, barulah ia menyiasati teknis pengerjaan tugasnya. Tak perlu berurutan, bisa dari A lompat ke D kembali ke B, dan seterusnya. Yang penting, tidak melewati tenggat.

Jika seseorang memutuskan keluar dari pekerjaan karena bosan kerja, hal itu malah tak menyisakan masalah bagi perusahaan. Tapi, bila karena keterbatasan kemampuan diri maka ia tak berani keluar, ia bisa menjadi virus untuk karyawan lain. Rasa tak puas akan ia tebarkan ke rekan kerja. Kelak, ia akan menjadi karyawan bermasalah.

Atasan harus bisa mendeteksi hal ini sedini mungkin. Terutama atasan langsung. Melalui proses pembinaan, pimpinan dapat melihat bahwa anak buahnya yang satu ini mulai bosan kerja. Cobalah dirotasi. Namun, “Sebaiknya dahului dengan dialog atasan-bawahan, untuk mendapat kepastian duduk permasalahannya,” pesan Neni. Siapa tahu, bioritme si karyawan sedang drop, atau ia sedang asyik pada pekerjaan itu sehingga jika dirotasi mendadak terkesan ia dibuang.

Adalah bagian dari tugas atasan untuk menggali masalah apa yang tengah membelit anak buahnya, bila kinerja yang bersangkutan mengalami degradasi. Apakah karena bosan kerja, ada masalah pribadi, atau kondisi kerja yang tidak memuaskan dirinya. Jika atasan kurang peka dan bersikap tidak perduli karena hubungan atasan-bawahan kurang baik, maka keadaan akan makin parah dan ruwet.

Jika seorang karyawan terlihat stres oleh beratnya pekerjaan, atasan jangan memberinya pekerjaan baru sebelum yang lama selesai. Jangan beri stres baru sebelum stres lama terobati, sebab akan lebih memberatkan dia. Terutama mereka yang daya tahan stresnya rendah. Kecuali mereka yang telah terlatih, broker misalnya.

Cobalah untuk cuti
Kemungkinan terburuk bila rasa bosan kerja dibiarkan meruyak, dari segi kinerja prestasinya pastilah melorot. Akibatnya, penilaian kinerja pun menurun, sehingga ia tak bisa mengharapkan penghargaan finansial atau apa pun bentuknya dari perusahaan. Sebab banyak pekerjaannya terbengkalai.

Andai ia tak dapat mengatasi masalahnya, dengan menemukan apa yang ia inginkan, maka akan berimbas pada hubungan dengan rekan kerja. Hubungan horisontal jadi kurang sehat. Mereka yang pendiam akan cenderung menarik diri. Sedang mereka yang cukup percaya diri justru membawa pengaruh kurang baik bagi karyawan lain. “Ia akan menularkan rasa bosan ke teman-temannya. Virus bosan bisa menular ke seisi kantor,” ujar Neni.

Si pembosan tadi, lantaran bosan lalu menunda pekerjaan. Makin lama pekerjaan makin menumpuk. Kemudian, ia mengajak temannya mengobrol, sehingga pekerjaan temannya pun terbengkalai. Padahal, Neni memberi solusi, teman-temannya bisa ikut membantu mengikis bosan, misalnya dengan mengajaknya ikut mengerjakan pekerjaan teman. Atau, ada teman yang minta tolong dirinya untuk diajarkan sesuatu yang amat dikuasainya.

Dibandingkan dengan pindah ke bagian atau perusahaan lain, Neni lebih menyarankan untuk mawas diri, apa yang menyebabkan rasa bosan. Jika penyebabnya adalah pekerjaan, dengan pindah ke lingkungan lain mungkin bisa membantu, minimal perubahan pekerjaan.

Hanya, risikonya, ia akan menghadapi segala serba baru. Tapi, bila ia tergolong penggemar tantangan yang lebih besar, ia akan ambil risiko itu. Atau, seandainya ia memulai usaha baru yang tantangannya lebih besar, ia tak takut, sebab segala sesuatunya ia sendiri yang menentukan. Risiko terbesar jika sampai gagal, ia akan bangkrut. Jadi, intinya, hanya pemilihan risiko saja.

Neni menyarankan, kalau toh hanya mengatasi rasa bosan, sebenarnya bisa ambil cuti saja. Selama cuti, sama sekali jangan memikirkan pekerjaan. “Fokus hanya melakukan sesuatu yang disenangi saja. Benar-benar lepas dari pekerjaan,” ujarnya.

Ia memuji sejumlah perusahaan besar yang memberi cuti panjang sebulan penuh, setelah masa kerja tertentu. Sebaiknya teman-teman kerja diminta untuk tidak menghubungi selama cuti.

author : Agus Surono
Sumber : Intisari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s