Tangan-Tangan yang Sibuk

Awalnya, kami sedikit kerepotan mengurus anak-anak kami. Ada lima orang. Semuanya mengikuti kegiatan di luar sekolah. Masing-masing mengejar bakatnya melalui olahraga dan kegiatan musik. Itulah yang dikehendaki aku dan Steve bagi mereka. Rumah kami penuh dengan bola sepak, pakaian senam ketat, dan sepatu balet, sementara udara dipenuhi oleh gema piano, biola, biola alto, dan musik seruling. Anak-anak dan kegiatan mereka membuat tangan Steve dan tanganku terus-menerus sibuk, tetapi kami menikmati irama itu. Kami puas mengamati anak-anak kami tumbuh dan berkembang menjadi orang yang kuat, cerdas, dan mahir.

Lalu Steve meninggal dunia. Tugas sebagai orangtua tunggal bagi lima orang anak yang berumur enam hingga tujuh belas tahun menjadi tugas yang amat berat. Kedua tanganku itu sajalah yang ada untuk mengantarkan anak-anak mengikuti les, untuk bertepuk tangan pada pagelaran-pagelarannya, untuk membebat lutut-lutut yang tergores. Aku kewalahan menghadapi sepuluh tangan kelima anakku yang menjulur menantikanku. Mereka butuh ayah mereka, tapi ia telah pergi. Mereka butuh aku, tapi aku tak mungkin tahu bagaimana dapat memenuhi semua kebutuhan mereka.

Yang membuat tambah tegang karena menjadi ayah dan ibu sekaligus adalah masalah keuangan. Pelajaran-pelajaran musik dan olahraga itu butuh banyak uang. Aku melakukan beberapa tugas kecil paruh waktu, dan diantaranya, aku harus terus-menerus mengemudi bagi seseorang ke suatu tempat. Aku mulai merasa bahwa aku hampir-hampir tak pernah punya waktu bagi anak-anakku. Aku mulai merasa kebingungan – kebingungan dipemukimanku sendiri, di rumahku sendiri, dalam hidupku. Aku minta bantuan Terri, sahabat karibku, yang menjadi sumber kekuatan dan penghiburan yang besar pada saat sakit dan kematian suamiku. Namun, Terri punya keluarga sendiri yang perlu diurus, dan sekarang aku sadar bahwa ia tak mampu menolongku. Aku membandingkan situasinya dengan situasiku. Anak-anaknya juga mengikuti kursus. Mereka terlibat dalam olahraga dan berbagai macam kegiatan. Namun, hidupnya tampaknya mengalir begitu tenang dan damai, sementara hidupku tetap bergelora hebat. Apakah perbedaan dalam kehidupan kami? Barangkali ia punya rahasia untuk menjalankan kehidupan yang lancar itu.

Pada suatu petang, aku duduk sendirian di ruang tamuku dengan sebatang pensil dan buku coret-coretan, mencoba mencari suatu jalan selain kata-kata untuk mengungkapkan keputusasaan dan kepedihanku. Pertama-tama, aku menggambar keluarga “ideal” Terri, membuat sket dua gambar pentol korek api yang menggambarkan tangan untuk mencari kasih, pertolongan, dan bimbingan. Aku menggambar ibu mereka yang penuh perhatian mengelilingi mereka, ayah mereka yang kuat dan penuh dukungan, nenek mereka, bibi mereka. Tiba-tiba aku menyadari bahwa anak-anak ini tinggal dengan empat orang dewasa yang penuh kasih. Mereka hanya perlu mengulurkan kedua tangan mereka, maka delapan tangan yang kuat dan penuh dukungan itu akan menyambutnya.

Apakah “rahasia” Terri sekadar memiliki banyak tangan yang penuh kasih, empat tangan bagi setiap anak? Membandingkan keluargaku dengan Keluarga Terri membuatku hancur lebur. Hidup tampaknya tidak adil. Lebih buruk lagi, anak-anakku mulai terasa seperti musuhku – suatu beban yang membuatku hampir patah. Aku merasa lebih sendirian dan murung daripada dulu-dulu.

Petang berikutnya, aku dan anak-anakku berkumpul di sekitar meja, sambil menyelesaikan makan malam. Aku mulai bicara tentang tangan-tangan, bagaimana tangan-tanganku begitu sibuk: mengurus mereka, menolong mereka, dan mengantar mereka ke kegiatan mereka yang banyak itu. Aku melukiskan teman-teman mereka, Keluarga Terri, dan berapa banyak dukungan tangan yang diterima oleh anak-anaknya.

Kemudian aku mengulurkan kedua tanganku dan meminta setiap anak untuk memegangnya. Sepuluh tangan menjulur melintasi meja itu. Ada begitu banyak tangan dan hanya ada satu tanganku. Kami duduk tertegun dan diam terpana, ketika aku menyadari tak ada caraku yang dapat memenuhi semua kebutuhan mereka.

Suara kecil memecah keheningan itu. “Ibu, kalau kita semua menggapai satu sama lain, kita masing-masing akan dapat memperoleh satu tangan utuh.” Sambil melepaskan jari-jariku, mereka saling meraih satu sama lain.

Setiap orang memegang erat dua tangan lain yang penuh dukungan dan penuh kasih. Kami tersenyum.

Hari-hari kami masih dipenuhi dengan kegiatan ekstrakurikuler, pelajaran menari, olahraga, permainan bola, pagelaran-pagelaran, konser-konser, dan seterusnya. Aku masih menjadi orangtua tunggal dengan lima orang anak yang giat dan cerdas. Tetapi anak-anakku terpaksa tumbuh sedikit lebih kuat. Mereka tak melulu menggapai tangan sang ibu mencari pertolongan; mereka menggapai satu sama lainnya pula, aku masih memiliki dua tangan saja dengan sepuluh jari.

Tetapi, dengan tambahan sepuluh tangan itu, keluarga kami sekarang merupakan sebuah lingkaran utuh yang dipenuhi pertolongan dan dukungan. Kami memiliki cukup banyak tangan untuk dibagi-bagikan.

(Linda Butler – Chicken Soup for the Single’s Soul)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s