Komunikasi Efektif Kurangi Dampak Krisis Kesehatan

Atlanta (ANTARA) – Ahli komunikasi krisis pada “Centers for Disease Control and Prevention” (CDC) Amerika Serikat Barbara J Reynolds mengatakan, komunikasi yang efektif dapat mengurangi dampak krisis kesehatan seperti pandemi dan kejadian luar biasa penyakit.

“Komunikasi risiko yang efektif membuat orang menjadi tahu apa yang harus dilakukan supaya terhindar dari penyakit, ini membuat kecepatan penyebarannya berkurang,” katanya dalam pelatihan komunikasi krisis dan kedaruratan kesehatan di kantor pusat CDC di Atlanta, AS, Selasa.

Bahkan, ia melanjutkan, pada kejadian krisis yang akhirnya diketahui berakibat ringan seperti pandemi influenza A H1N1 arau flu babi, komunikasi risiko tak hanya dapat menekan penyebaran penyakit tapi meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup sehat.

“Orang jadi suka mencuci tangan, menjaga jarak dengan orang dengan gejala influenza, dan melakukan hal-hal lain yang sebenarnya dapat mencegah berbagai masalah kesehatan, tak hanya influenza,” paparnya.

Ia menjelaskan, komunikasi risiko yang efektif harus dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat akan informasi akurat dan terpercaya mengenai penyakit baru yang sedang menimbulkan kedaruratan kesehatan.

“Dalam keadaan krisis orang butuh tahu apa yang sebenarnya terjadi, seberapa buruk dampaknya dan apa yang bisa mereka lakukan untuk menghindarinya,” tuturnya.

Sebagai otoritas yang bertanggung jawab memberikan informasi terkait kedaruratan kesehatan, kata dia, pejabat pemerintah harus bisa menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat secara cepat, supaya mereka tidak terombang-ambing dalam ketidaktahuan dan khawatir.

Pemerintah, lanjut dia, harus menyampaikan informasi akurat kepada masyarakat berdasarkan data dan fakta yang ada di lapangan secara jujur, meski kadang hal itu sulit dilakukan.

“Sebab, jika tidak orang akan mencari tahu dari sumber informasi yang lain yang belum tentu bisa diandalkan, yang mungkin membuat mereka justru melakukan hal yang salah,” ucapnya menegaskan.

Kejujuran pemerintah dalam menyampaikan informasi selama krisis kesehatan terjadi, menurut dia, sangat penting dalam upaya pencegahan perluasan dampak krisis kesehatan.

“Ini membuat orang percaya, sehingga mau melakukan apa yang direkomendasikan. Mungkin tidak semua orang, tapi setidaknya akan lebih banyak orang yang akan mengikuti rekomendasi yang diberikan,” ujarnya.

Konsultan komunikasi risiko Jody Lanard menjelaskan, dalam hal ini pemangku kepentingan terkait tidak harus menyediakan keseluruhan informasi karena hal itu akan sulit dilakukan dalam waktu singkat saat krisis terjadi.

Pemangku kepentingan terkait, kata dia, hanya perlu memberikan informasi yang mereka ketahui terkait situasi yang sedang terjadi dan langkah yang akan diambil untuk mengatasi masalah tersebut.

“Jangan memberikan jaminan berlebihan bahwa apa yang terjadi bisa diatasi karena ini justru akan membuat orang yang sedang bingung dan khawatir marah, skeptis dan tidak mempercayai apa yang mereka dengar,” katanya.

Pemangku kepentingan terkait, lanjut dia, tidak akan bisa membuat orang tenang saat ada kedaruratan kesehatan dengan menyatakan bahwa semua “bisa dikendalikan” pada awal kejadian karena orang tahu itu tidak mungkin bisa.

“Lebih baik mereka jujur kalau belum sepenuhnya mengetahui apa yang terjadi, sampaikan informasi yang sudah ketahui dan kemungkinan bahwa kondisi bisa berubah, serta pemerintah akan mencari tahu apa yang sedang terjadi dan berusaha mengatasinya,” tuturnya menambahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s