10 Penyakit kerja bagi pemula

Minggu lalu kita berbicara soal 10 jenis penyakit mental dalam bekerja yang biasanya dialami oleh para pekerja pemula. Nah, pada minggu ini, mari kita diskusikan solusi ataupun tip yang bisa diberikan kepada para pekerja pemula.

Soal pertama, bagi para pekerja pemula dengan visi kerja yang tidak jelas. Tanpa visi, jalan mana pun menjadi tidak jelas dan mungkin dipilih kerena menggoda ataupun mengalihkan mereka. Karena itu, supaya tidak berputar-putar di dalam karier yang tidak jelas, maka kejelasan sangatlah perlu pada awal.

Dari si pekerja, mestilah menentukan dan bertanya berbagai hal seperti; (1) apakah ini pekerjaan pengantara saja atau inilah pekerjaan yang akan saya tekuni; (2) hingga berapa tahun, berapa lamanya yang akan saya targetkan untuk sampai pada posisi tertentu?; (3) apa posisi yang saya ingin raih?; (4) apa jenis pekerjaan akhirnya ingin saya lakukan?; (5) berapa penghasilan yang saya harapkan?

Dalam hal, ini sangat penting bagi seorang pekerja pemula untuk merenungkan dan bertanya. Jangan sekadar mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak punya arah yang jelas mengapa melakukan pekerjaan tersebut.

Pernah ada seorang guru yang mengatakan bahwa dia menjadi guru karena “Daripada nggak ada kerjaan, Pak”. Namun, akhirnya dengan visi yang tidak jelas, kariernya terseok-seok dan dia pun tidak bahagia.

Sangat dianjurkan pula bagi pekerja pemula untuk bertanya pada pimpinan, HRD maupun rekan yang kompeten untuk memberikan nasihat dan bimbingan mengenai visi ini.

Penyakit kedua, bersemangat pada awal, tetapi ‘letoy’ (tidak semangat) di akhir. Untuk penyakit kedua ini, betul-betul harus dikenali dan dicari tahu, apa yang menyebabkan seorang karyawan jadi tak semangat.

Penyebabnya, bermacam-macam. Bisa jadi (1) Kerjaan tidak seperti yang diharapkan; (2) Nilai-nilai kerja dengan pribadi yang tidak pas; (3) Lingkungan kerja yang ternyata kurang menyenangkan; (4) Atasan yang sulit; (5) Rekan kerja yang kurang mendukung; (6) Kebiasaan kerja yang tidak sesuai; (7) Persyaratan kerja yang tidak pas.

Supaya penyakit pertama ini tidak muncul memang sejak pertama harus diberikan klarifikasi mengenai pekerjaaan yang akan ditekuni, sejelas mungkin. Hal ini menjadi tanggung jawab si pekerja maupun perusahaan yang mempekerjakan.

Pihak perusahaan sebaiknya memberikan kejelasan pada masa orientasi kerja bagi karyawan pemula, mengenai harapan dan kondisi kerja sehingga si karyawan siap mentalnya.

Kalaupun tidak dijelaskan, si pekerjalah yang harus aktif mencari tahu. Sangat disayangkan, sudah mulai bekerja tetapi kemudian mengalami kekecewaan hanya karena kurangnya informasi.

Penyakit ketiga, senang memulai tetapi sedikit yang selesai. Untuk penyakit ketiga ini, para pekerja baru harus selalu berpikir bahwa lebih baik satu pekerjaan selesai, daripada sepuluh pekerjaan di tangan yang tidak tuntas.

Kondisi ini akan menimbulkan citra yang buruk, jika seorang karyawan menerima begitu banyak pekerjaan tetapi tidak mampu menyelesaikannya. Untuk itu, saat tergoda untuk beralih ke pekerjaan yang lain dan bosan dengan apa yang ada di tangan sekarang, jangan!

Tuntaskanlah dulu pekerjaan yang ada dan kalau perlu, selesaikanlah dengan cepat. Menunda atau menelantarkan sebuah pekerjaan bukanlah cara yang bijaksana. Hal ini akan menimbulkan citra buruk bagi Anda.

Saya teringat seorang rekan saya yang terkenal suka ikut proyek ini dan itu tetapi tidak menyelesaikan apa pun. Oleh seorang atasan, dia pun dijuluki “Si Ibu proyek!”. Beberapa atasan pun enggan mengikutsertakannya dalam proyeknya karena tahu kebiasaannya untuk tidak menyelesaikan proyek.

Nah, kalau sudah mendapat citra buruk semacam ini, akan sulit mengubahnya. Jadilah orang yang dipercaya karena mampu menuntaskan pekerjaan.

Penyakit keempat, memilih-milih pekerjaan. Untuk penyakit keempat ini, seorang pekerja awal harus ‘tahu diri’ bahwa perusahaannya menyewanya untuk mengerjakan pekerjaan di kantor apa pun yang sesuai dengan alasan dia dibayar, bukannya untuk memilih-milih pekerjaan.

Pada sisi lain, setiap pekerjaan mungkin akan memberikan ‘nilai tambah’ bagi diri kita karena ada suatu pembelajaran di dalamnya. Mungkin Anda masih ingat, di beberapa perusahaan ternama, seseorang harus merangkak dari bawah sebelum mendapatkan posisi di atas.

Hal ini rupanya menjadi pembelajaran bahwa kalau seseorang memahami pekerjaan yang ‘di bawah’, kelak akan mudah baginya ketika manjadi pemimpin. Jadi, selama masuk akal, apa pun pekerjaan yang diserahkan kepada kita, lakukanlah itu dengan sukacita dan tanggung jawab. Semua pekerjaan, pada dasarnya akan melatih mental dan kemampuan itu. Anggaplah bahwa itulah ujian buat Anda!

Penyakit kelima, menyepelekan pekerjaan kecil dan sederhana. Kenyataannya, banyak pekerja pemula suka memilih-milih pekerjaan yang dianggap lebih bergengsi, lebih populis ataupun strategis. Itulah pekerjaan yang ‘wah’ kesannya.

Akibatnya, mereka sering merendahkan pekerjaan yang dianggap sepele dan kurang berkelas. Saya teringat dengan sebuah buku berjudul, The Unwritten Laws of Business karya W.J King. Ini salah satu buku kuno tentang perilaku kerja yang ditulis sejak 1944.

Di dalamnya terdapat aturan yang berbunyi, “Sekasar dan seremeh apapun tugas awal Anda, kerahkan upaya terbaik Anda”. Jadi, jangan anggap remeh kerjaan sehingga kualitas kerja Anda menjadi buruk.

Justru kerahkan energi Anda menyelesaikannya. Ingatlah, jika Anda tidak dapat dipercaya untuk pekerjaan yang sepele, bagaimanakah Anda akan dipercaya untuk pekerjaan yang lebih besar?

Panyakit keenam, membuat prioritas kerja sendiri. Sebagai karyawan awal, Anda masih belum punya pandangan yang strategis mengenai apa pekerjaan yang penting.

Karena itu, janganlah Anda membuat prioritas kerja sendiri. Ada kejadian, seorang karyawan disuruh menjual produk, malah ia asyik membuat desain promosi produk. Terang saja, atasannya menjadi marah karena prioritas baginya adalah menjualkan produk bukan bikin desain.

Lakukanlah apa yang menjadi prioritas atasan Anda. Namun, bila Anda tidak tahu mana yang menjadi prioritasnya, sebaiknya Anda bertanya, bukannya dengan membuiat asumsi sendiri. Hal ini akan membuat Anda menjadi karyawan yang dapat diandalkan.

Penyakit ketujuh, pasif menunggu perintah. Ingatlah Anda adalah manusia, bukan robot yang harus dipencet setiap waktu. Robot saja, akan tuntas dan terus-menerus aktif mengerjakan apa yang telah diprogramkan kepadanya. Karena itu, menjadi pasif dan tidak melakukan hal yang produktif di kantor adalah hal yang sangat tabu.

Baik atasan maupun manajemen akan merasa senang tatkala melihat bahwa Anda memberikan kontribusi bagi perusahaan dengan ide, kerja dan hasil Anda, bukannya dengan menjadi ‘mayat hidup’ di kantor.

Tatkala Anda sudah terlalu pasif dan tidak berkontribusi apa pun, siaplah-siaplah untuk ditendang keluar dari kantor ataupun bararti Anda sedang memilih karir Anda mandeg di titik sekarang.

Penyakit kedelapan, tidak melakukan follow up pekerjaan hingga tuntas. Hal ini kelihatannya sepele, tetapi dalam pekerjaan ini adalah suatu hal yang penting. Misalkan setelah menyerahkan laporan di meja bos Anda. Janganlah lalu diam dan tidak bicara apa pun.

Pastikan bos Anda membacanya dan tanyakan, apakah ada sesuatu yang salah dan bisa diperbaiki. Melakukan follow up pekerjaan adalah bukti sebuah tanggung jawab. Di sini Anda memastikan sebuah pekerjaan betul-betul tuntas dilakukan. Namun memastikannya jangan sampai kelewatan karena mungkin Anda bersinggungan dengan tugas orang lain.

Lakukanlah ini dengan niat baik bahwa Anda ingin membantu suatu pekerjaan hingga tuntas, bukan mendikte atau memerintah orang lain. Inilah bukti tanggung jawab Anda.

Penyakit kesembilan, tidak melakukan update dan progress report. Hal ini penting, karena atasan kita karena begitu sibuknya, mungkin tidak paham apa yang telah kita kerjakan.

Pastikan atasan Anda tetap berada pada ‘loop informasi’ Anda. Memang tidak perlu sampai apa pun dilaporkan tetapi adalah penting membuat boss Anda tahu sampai di mana pekerjaan Anda.

Dengan demikian, Anda bisa terus dibimbing dan membuat atasan Anda paham, bahwa Anda terus berkontribusi yang ujung-ujungnya akan berdampak pada karier Anda pada masa yang akan datang.

Akhirnya, ini penyakit sederhana, tetapi bisa merampok karier Anda yakni tidak menaruh hati pada apa yang dikerjakan.

Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency

Sumber: Bisnis Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s