Bekas jadi berkelas

Konsep dan ide yang menarik bisa jadi barang jualan yang laris manis. Hal ini yang dirasakan Didi Diarsa Adiana, pengusaha mebel berbasis ramah lingkungan asal Cimanggis, Depok bernama Furniture Aktif.

Jika berbicara mengenai industri mebel, tentu banyak pelaku industri yang berkecimpung dengan usaha manufaktur yang satu ini.

Akan tetapi, ada yang menarik dari usaha pria kelahiran Jakarta 35 tahun lalu ini. Mantan tenaga riset dan pengembangan ini kreatif memanfaatkan bahan baku kayu Jati Belanda bekas bongkaran kontainer yang disulap jadi barang produk mebel berstandar internasional. Tekstur kayu Jati Belanda atau disebut juga kayu oak yang mirip kayu jati dianggap menjadi daya jual produk Furniture Aktif.

Hanya dengan sentuhan pernis mengilap, model, dan pengerjaan tukang yang cermat, membuat produk-produk Furniture Aktif langsung laku di pasaran meski usianya masih 2 tahun.

Beberapa kategori produk board furniture yang merupakan papan belajar dalam kelas, furnitur sekolah, dan business furniture, jadi pilihan Furniture Aktif dalam berbisnis yang sejak semula sengaja hanya membidik pasar sekolah.

“Saya kan berasal dari lingkungan sekolah, jadi strategi dagang saya lebih mudah. Selain itu ada visi menyediakan produk berkualitas dan berstandar internasional untuk sekolah-sekolah di Indonesia,” Didi menambahkan.

Siapa sangka jika ide kreatifnya itu mampu menghasilkan produk mebel berkualitas yang ramah lingkungan dan memiliki visi positif untuk dunia pendidikan.

Tidak heran jika produk Furniture Aktif masuk dalam jajaran nominasi kompetisi International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Design Award yang akan digelar di London September tahun ini.

Nantinya dia akan bersaing dengan sembilan finalis lain yang juga memiliki profil serupa dengannya. Muda, wirausahawan, pelaku industri kreatif, yang datang bukan hanya dari Jakarta melainkan juga beberapa kota di Indonesia.

Dalam kompetisi itu akan dipilih satu orang yang dianggap terbaik dalam hal menggabungkan keterampilan artistik, kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat, sekaligus kemampuan mengelola bisnis untuk berkompetisi secara internasional di London September nanti.

Selama 14 hari dia akan berpromosi di festival 100% Design, berjejaring dengan tokoh-tokoh desain internasional, serta memperebutkan hadiah utama sebesar o 5.000.

“Awalnya saya cari-cari ide produk apa yang mudah dijual tetapi tetap ramah lingkungan. Sempat berkunjung ke Eropa dan melihat beberapa produk mebel bekas pakai di Finlandia, saya aplikasikan produk ini di Indonesia,” mantan karyawan Sekolah Model Insan Madani Jakarta ini bercerita.

Kayu bekas
Perjalanan usaha Didi dimulai dengan pencarian kayu bekas pakai yang bisa digunakan. Pilihannya langsung jatuh pada kayu Jati Belanda, bekas bongkaran peti kemas barang-barang impor di pelabuhan.

Bukan persoalan mudah mencari bahan baku kayu yang dibutuhkan, karena bongkaran kayu itu biasa ditadah oleh para pengusaha barang bekas asal Madura yang telah memiliki jaringan khusus di pelabuhan selama bertahun-tahun.

Akhirnya jalan keluar yang dipilih adalah membeli kayu-kayu itu dari beberapa penadah asal Madura yang hingga kini sudah jadi pemasok tetapnya.

“Dulu pernah nyoba cari di pelabuhan, malah ketemu dengan para preman pelabuhan. Akhirnya pendekatan saya lewat penadah saja,” ujar lulusan sarjana Universitas Negeri Jakarta 1993 ini.

Selain melalui penadah pelabuhan, Didi juga memanfaatkan kondisi geografis Cimanggis yang dekat dengan beberapa pabrikan. Kayu-kayu bongkaran impor barang itu akhirnya bisa dia dapatkan secara berkala tanpa harus keliling kota mencari pemasok.

“Biasanya kayu-kayu itu dibuang begitu saja, daripada terbuang percuma dan jadi sampah, lebih baik saya manfaakan.”

Kini rumah hunian yang berlokasi di Desa Sukamaju Baru kawasan Cimanggis Depok disulap jadi bengkel kerja Furniture Aktif bersama 10 tukang kayu.

Di rumah ini, Didi mulai mengumpulkan, mengolah, membentuk, hingga memoles kayu bekas kontainer ini jadi mebel yang layak jual.

Hasilnya, sebuah meja belajar dalam ruang beragam bentuk menarik sudah masuk beberapa kelas di sekolah-sekolah internasional seperti misalnya SDIT Darul Abidin Depok, SDI Al Azhar Duren Sawit, SD Nasional Pondok Gede, Sekolah Azhari Cikini, Sekolah Global Islamic Labschool Depok, dan masih banyak lagi.

“Target kami memang sekolah-sekolah standar internasional karena model dan kualitasnya juga diambil dari bentuk ruang kelas sekolah-sekolah di luar negeri,” ujar bapak tiga anak ini.

Meski sudah memiliki beberapa pelanggan dari jaringan lembaga pendidikan bertaraf internasional, Didi tidak begitu saja mengabaikan unit pengembangan dan pemasaran produk.

Oleh karena itu, Didi tengah berkonsentrasi untuk mengembangkan produk yang menurutnya masih memiliki model standar, agar mampu bersaing dengan usaha mebel sejenis baik lokal maupun impor.

Meski diakui, bahan baku mebel berkualitas dari kayu bekas pakai ini membuat harga pasaran produk-produknya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan mebel sejenis dari produsen lain. (wulandari@bisnis.co.id)

Th. D. Wulandari
Sumber: Bisnis Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s