Vitamin D kurangi risiko diabetes

Dari beragam vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh, vitamin D merupakan zat yang paling mudah didapatkan, salah satunya dengan berjemur di bawah matahari pagi selama 10 hingga 15 menit.

Namun, banyak orang yang tinggal di iklim tropis masih kekurangan ‘vitamin matahari’ ini dan butuh tambahan dari makanan atau suplemen. Padahal akibat yang ditimbulkan jika kekurangan vitamin tersebut cukup signifikan yaitu bisa menyebabkan osteoporosis bagi orangtua dan rakitis bagi anak-anak.

Akibat yang lebih fatal bisa diderita oleh penderita diabetes yaitu gula darah yang kurang terkontrol dan menambah risiko sindrom metabolisme pada orang lanjut usia. Hal tersebut terungkap dari dua penelitian terbaru yang dipresentasikan di pertemuan tahunan Endocrine Society di San Diego akhir pekan lalu.

Penelitian pertama dilakukan oleh Johns Hopkins University di Baltimore dengan menguji 124 pasien diabetes tipe 2 yang menerima perawatan khusus di bagian rawat jalan endokrin antara tahun 2003 dan 2008.

Menurut hasil penelitian itu, lebih dari 90% pasien, yang berusia antara 36 dan 89 tahun, mengalami kekurangan atau ketidakcukupan vitamin D, meski semua pasien telah menjalani perawatan umum rutin sebelum melakukan kunjungan khusus.

Hanya sekitar 6% dari para pasien diberi suplemen vitamin D tiap kali kunjungan, seperti yang dicatat tim riset, dan mereka yang memiliki level vitamin D rendah juga cenderung memiliki level gula darah rata-rata tinggi.

“Penemuan ini mendukung pentingnya peran vitamin D dalam perkembangan diabetes tipe 2,” ujar Esther Krug, salah seorang peneliti yang juga asisten dosen kedokteran, dalam pernyataan pers dari Endocrine Society.

Karena selama dalam perawatan umum, lanjutnya, kebanyakan pasien mendapat diagnosa dan perawatan bagi diabetes tipe 2, pemeriksaan dan pemberian suplemen vitamin D sebagai perawatan umum rutin dapat meningkatkan kesehatan dari kondisi yang sangat lazim ini.

Penelitian kedua terhadap hampir 1.300 pria dan wanita Belanda kulit putih di atas umur 65 tahun, ditemukan bahwa setengah dari mereka mengalami kekurangan vitamin D, sementara 37% memiliki sindrom metabolis.

Sindrom metabolis merupakan kelompok faktor risiko kesehatan, termasuk tekanan darah tinggi, obesitas di bagian perut, level kolesterol tidak normal dan gula dalah tinggi.

“Karena sindrom metabolis meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung, level vitamin D yang cukup dalam tubuh penting untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut,” ujar Marelise Eekhoff dari Pusat Medis VU University di Amsterdam.

Baik pria maupun wanita yang memiliki jumlah vitamin D tidak cukup dalam darah cenderung menderita sindrom itu dibandingkan dengan mereka yang memiliki vitamin D cukup, menurut penelitian Eekhoff dan kawan-kawan.

“Penting untuk menyelidiki peran pasti dari vitamin D dalam diabetes guna menemukan cara baru dan mungkin lebih mudah untuk mencegah diabetes dan penyakit jantung,” lanjut Eekhoff.

Risiko kanker

Sementara itu, penelitian lainnya memupuskan kemungkinan bahwa orang yang lebih banyak mengonsumsi vitamin D dapat memiliki risiko lebih kecil terhadap sejumlah tipe kanker tidak umum yang semakin berkembang.

Para peneliti tidak menemukan kaitan antara level vitamin D lebih tinggi dalam darah dan kecilnya tingkat limfoma non-Hodgkin atau kanker endometrium esophagus, perut, ginjal, rahim dan pankreas. Hal itu berdasarkan analisa para peneliti terhadap contoh darah yang diambil dari sekitar 12.000 pria dan wanita dalam 10 penelitian.

“Kami tidak melihat risiko kanker lebih rendah pada orang dengan kadar vitamin D dalam darah lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki kadar vitamin D normal bagi jenis-jenis kanker ini. Sebaliknya, kami tidak melihat risiko kanker lebih tinggi pada pasien dengan kadar vitamin D lebih rendah.” ujar salah satu peneliti Demetrius Albanes dari U.S. National Cancer Institute dalam sebuah pernyataan pers.

Hasil penelitian diumumkan secara online pada 18 Juni sebelum dicetak dalam American Journal of Epidemiology edisi Juli.

Namun, para peneliti menemukan bahwa orang dengan level vitamin D tinggi cenderung untuk menderita kanker pankreas. Belum jelas apakah ada kaitan sebab-akibat, dan para peneliti menyerukan penelitian lebih lanjut untuk melihat keterkaitan yang mungkin.

Secara umum, mereka yang berusia 50 tahun ke atas butuh asupan vitamin D lebih banyak daripada orang yang lebih muda. Untuk itu, tanyakan pada ahli kesehatan mengenai jumlah yang sesuai bagi Anda. (t04) (rahayuningsih@bisnis.co.id)

Rahayuningsih

Bisnis Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s