Belajar Dari Raccoon “Culun”

Anda tahu Rakun ? Bukan..bukan makanan ! Apaa ? Wah bukan..yang di leher itu mah jakun ! Rakun itu binatang. Jika Anda penggemar kartun, Anda paling tidak pernah melihat bentuk “culun” nya lewat film-film keluaran Disney. Raccoon dengan nama latin Procyon Lotor, adalah binatang yang punya kampong halaman di Amerika Utara sono.

Memiliki ukuran panjang antara 41-71 cm dan berat badan 3,6-9 kg. Mamalia yang satu ini memang unik, selain bentuknya yang merupakan penggabungan tupai, kucing dan musang, beberapa fakta mengenai binatang itu sangat menarik. Aku sendiri baru mengetahuinya ketika iseng menonton sebuah film satwa yang diproduksi oleh salah satu stasiun TV asing. Nah mari kita mulai…

Pertama, ia termasuk binatang yang enggan berenang, tetapi jika diperlukan ia adalah perenang yang tangguh. Saking tangguhnya Raccoon sanggup melawan derasnya arus sungai.

Kedua, indra penglihatannya kurang baik. Beberapa ahli malah membuktikan jika Raccoon sebenarnya buta warna. Tetapi jika sedang berburu, ia dapat menangkap makanan yang jaraknya demikian jauh. Bukan lewat matanya, tetapi dengan menggunakan indra pendengarannya.

Kemudian ketiga,Raccoon termasuk binatang yang mencari makanan dekat dari sarang. Tetapi jika makanan disekitarnya sudah habis, Raccoon dapat berjalan hingga tujuh mil untuk mendapatkan makanan dan kembali lagi kesarangnya !

Keempat, untuk tempat tinggal biasanya Raccon memanfaatkan celah atau sarang yang sudah ada, tetapi jika tempat itu tidak ditemukan. Maka ia akan membuat sendiri sarangnya dengan tangannya yang luar biasa.

Kelima, sebenarnya Raccon punya habitat di mixed forest, tetapi karena penebangan hutan, area hutan mulai terbatas. Anehnya itu tidak membuat Raccoon punah, malah sebaliknya. Raccoon dapat hidup di mana saja. Pegunungan, ladang, pantai bahkan perumahan penduduk.

Sudah berapa tuh..? Oke ini yang keenam. Raccoon sebenarnya adalah pemakan serangga, tetapi jika menu makanan yang satu ini habis. Ia bisa makan apa saja, dari mulai ikan, burung, kulit kayu, hingga dedaunan. Mengagumkan bukan ?

Ngemeng-ngemeng soal Raccoon. Pikiranku langsung bercermin. Jika Raccoon didesign sedemikian rupa sehingga mampu mengatasi apa saja “permasalahan” hidupnya. Bagaimana dengan kita, manusia. Puncak dari segala ciptaan Sang Khalik. Manager sekaligus Pemimpin yang diserahi kekuasaan atas binatang dan seluruh kekayaan alam bumi ini.

Pasti nya kita didesign jauh lebih dashyat dari seekor Raccoon. TUHAN pasti sudah memperlengkapi kita dengan segala perlengkapan 1000 kali lebih hebat dari mahluk manapun juga dimuka jagat ini. Kalau Raccoon diperlengkapi dengan kemampuan fisik dan insting yang mengagumkan, untuk kita pastilah Ia sudah melengkapi kita dengan benih ilahi. *Wong kita ini special pake telor kok !!* Tinggal bagaimana kita menyadari dan memanggil keluar kekuatan ilahi yang tertanam dalam diri kita.

Seperti halnya Raccoon kemungkinan besar kemampuan luar biasa itu bisa muncul kepermukaan jika “ditrigger” oleh permasalahan hidup. Kesulitan-kesulitan membuat “kuasa” itu mencuat kepermukaan. Jika itu benar, berarti kita harus mengubah sikap dan pandangan psikologis kita terhadap sebuah persoalan.

Persoalan, kesulitan dan tantangan bukan musuh, melainkan guru, yang akan membuat kita menyadari betapa hebatnya kita didesign oleh Sang Pencipta. Manusia selalu jauh lebih dahsyat dari persoalan hidup apapun !! Segala hormat hanya bagi Dia, yang bersemayam dalam kekekalan, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.

*”In the middle of every difficulty lies opportunity”

(Albert Einstein) *

Sebagai penutup. Ada kejadian lucu yang aku alami sendiri waktu kecil, yang mungkin dapat dijadikan sedikit gambaran tentang uraian diatas. Waktu itu lutut ini sering mengalami nyeri-nyeri terutama ketika menjelang sore. Wah rasanya nggak enak banget. Setiap sore – terutama jika musim hujan- orang tua ku harus menyiapkan botol berisi air panas yang digunakan untuk mengkompres kaki.

Benar-benar merepotkan. Kebetulan ada seseorang yang menyarankan ku agar melatih kaki ini dengan cara jogging teratur. Saran yang waktu itu aku pikir lebih mirip sebuah *ledekan*. *Boro-boro* lari, jalan aja linu ! Waktu berlalu. Dan terjadilah sesuatu yang merubah semua itu.

Aku memang terkenal suka buah. Tetapi persoalannya buah itu didapat bukan dengan cara membeli tetapi lewat “maling”. Suatu kali aku kena batunya. Pada saatsedang mencuri mangga di sebuah taman kanak-kanak sebelah rumah, keluarlah seekor anjing peliharaan yang pada saat itu kebetulan sedang tidak dirantai.

Bagaikan disambar petir rasanya. Tanpa mengeluarkan tembakan peringatan alias gonggongan, Si Hitam segera berkelebat kearah ku. Karena panik, aku segera berlari sekencang-kencangny a. Tunggang langgang. Dan terjadilah kejar-kejaran yang sangat seru antara “pencuri mangga” dan “penjaga mangga”.

Beberapa yang orang sempat memergoki adegan dashyat tapi memalukan itu,malah bertepuk tangan sambil berteriak-teriak. Seolah sedang menonton pertandingan lari tujuh belasan. Aseemm tenan !!! Cukup lama dan panjang rute yang kami tempuh, dan Si Hitam tetap tidak sanggup menyusulku.

Tiba-tiba saja dalam waktu sepersekian detik, aku dapat wangsit. Teringat pesan kakek bahwa anjing takut jika kita berjongkok dan berpura-pura mengambil batu. Tanpa memperhitungkan jarak antara aku dan Si Hitam, aku sekonyong-konyong berjongkok mengambil batu sebisanya.

Reaksi ku yang tiba-tiba itu, tampak membuat Si Hitam gelagapan. Wajah sangar itu tiba-tiba berubah kecut. Kaki-kakinya yang tadi begitu bernafsu memburuku itupun,terlihat sibuk ngerem, “ngepot” kesana-sini sebisa mungkin, kemudian ngibrit menjauhiku. Ini dia…it’s my turn..dengan refleks batu ditangan segera ku ayunkan kearahnya. Ia terlihat semakin panik.

Kini adeganpun berganti “penjaga mangga” terbirit-birit dikejar “pencuri mangga”. Supporter dipinggir jalanpun ngakak nggak karuan. Ha..ha..ha.. aku pemenangnya. Tetapi bukan itu intinya, setelah insiden tidak berdarah itu, entah mengapa nyeri lututkupun berkurang. Dan aneh, aku jadi suka jogging.

Alhasil extrakurikuler yang kuikuti pada saat SMP adalah atletik. Hal itu berlanjut,jadi ikutan berlatih Taekwondo tiga kali seminggu, berenang disela-sela waktu luang karena kebagian ticket gratis, bahkan jadi hobby naik gunung ketika SMA. Wah kegiatan yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya olehku. Apa jadinya jika waktu itu Si Hitam tidak mengejar aku. Mungkin sampai saat ini aku tetap ditemani botol culun berisi air panas untuk mengkompres lututku.

***

with friendship, respect & blessing

*Made Teddy Artiana, S. Kom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s