5 Alasan Meeting Tak Optimal Lantaran Bawa Laptop!

Jakarta – Tahukah Anda mengapa meeting selalu berlarut-larut, menjemukan dan hasilnya cenderung tak optimal? Ternyata salah satu penyebabnya adalah karena peserta meeting membawa laptop (ataupun blackberry dan smartphone)! Kok bisa?

Berikut ini 5 (lima) alasannya, berdasarkan pengalaman penulis + sejumlah contoh kasus yang tersedia di Internet:

  1. Meeting dengan seluruh atau sebagian besar peserta membawa laptop, akan berdampak pada semakin minimnya komunikasi non-verbal antar peserta rapat. Bahasa non-verbal, adalah komponen tak terpisahkan dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan sesama manusia, bahkan antar mahluk hidup. Anggukan kepala, picingan mata, gerak bibir, posisi duduk, letak tangan, adalah hal yang paling penting untuk mengukur tingkat perhatian (ketertarikan) peserta meeting, pemahaman dan lainnya. Meeting pun menjadi berlarut-larut
  2. Saat pihak lain sedang melakukan presentasi gagasan atau laporannya, maka kecenderungan peserta meeting lainnya yang membawa laptop akan lebih sibuk mengutak-atik materi presentasi masing-masing. Ini adalah akibat dari ketidaksiapan untuk menghadiri meeting, atau minimnya waktu yang tersedia untuk melakukan persiapan tersebut. Menyiapkan ataupun merapihkan materi presentasi saat meeting tengah berlangsung, adalah salah satu bentuk kerja yang kontra-produktif.
  3. Peserta meeting dengan membawa laptop cenderung akan lebih berinteraksi dengan laptopnya, ketimbang dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya untuk mengusir kebosanan saat meeting, maka mereka akan bermain game, hingga chatting, browsing ataupun blogging apabila ada akses Internet. Walhasil, pihak yang sedang presentasi tidak akan mendapatkan respon yang interaktif. Feedback dari peserta meeting pun menjadi minim, yang akhirnya berdampak pada tidak matangnya output yang dihasilkan.
  4. Juga dengan adanya akses Internet, maka peserta meeting yang membawa laptop akan cenderung membentuk kelompok kecil eksklusif secara online, yang anggotanya adalah sebagian dari peserta meeting tersebut. Kelompok kecil ini akan membuat diskusi terpisah, melalui fitur messenger, dengan konten diskusi yang bisa jadi tidak konstruktif. Bentuknya pun beragam, bisa sekedar saling melempar joke, sampai membicarakan (dalam konteks negatif) pihak yang sedang melakukan presentasi, materinya ataupun peserta meeting yang lain.
  5. Meeting seharusnya adalah sebuah bentuk koordinasi ataupun integrasi antar unit/divisi, atau bisa juga sebagai akselerasi ataupun sinkronisasi. Tetapi yang terjadi, ketika peserta meeting membawa laptop, maka dia bisa tergoda untuk melakukan pekerjaan pararel, semisal diselingi dengan menggarap kerjaan lainnya yang tertunda karena harus menghadiri meeting. Aktifitas pararel, bukan berarti dapat berpikir ataupun menganalisis sesuatu secara parerel. Karena otak sejatinya akan berpikir dengan berlompat-lompat, “pause” di satu hal, dan “play” di hal lain. Sehingga buah pikir yang dihasilkan cenderung menjadi tidak optimal lantaran tidak fokus.

“Topless Meeting”
Dari ke-5 hal di atas, kata kuncinya adalah tak terwujudnya collective learning yang optimal. Tak ada collective learning, tak ada collective decission. Akhirnya, segala keputusan sifatnya lebih menjadi tanggung-jawab sektoral (“itu tanggung jawabmu, bukan aku!”) dan tak lagi mengedepankan team work yang solid.

Salah satu solusi atas permasalahan di atas, seperti kini mulai banyak diyakini (dan dijalankan) oleh banyak pihak, adalah dengan melakukan ‘topless meeting’. Topless meeting di sini bukan dalam artian meeting tanpa mengenakan busana bagian atas.

Topless meeting di sini adalah tak diijinkannya peserta meeting untuk membawa laptop, blackberry atau gadget lainnya yang dapat menganggu fokus diskusi. Salah satu ulasannya, dalam bentuk tayangan berita dari stasiun televisi CBS dari berita dari stasiun televisi NBC.

Pastinya, topless meeting adalah semacam “budaya baru”, yang tentu akan mengakibatkan adanya “gegar budaya” (culture shock). Tidak semua orang akan menjadi nyaman, apabila harus “dilucuti” gadget-nya sebelum masuk ke ruang meeting. Ibarat maju berperang, tetapi sejumlah senjata pamungkas andalan tak boleh ditenteng.

Jadi bagaimana jika kita ingin menerapkan topless meeting? Lalu apa persiapan kita jika harus menghadiri topless meeting? Bagaimana strategi agar topless meeting bisa berhasil? Silakan baca artikel selanjutnya.

*) Penulis adalah peneliti ICT Watch dan penulis blog www.donnybu.com. Tulisan ini adalah pendapat pribadi.

sumber ; detikINET.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s