Management Hati dan Management Hidup

Saya pernah di undang pada sebuah acara seminar sehari sebagai salah satu pembicara, awalnya saya sedikit bingung, apa thema yang pantas saya bawakan dalam seminar ini?, karena hampir sebagian besar seminar yang saya ikuti selalu di kalangan dunia kesehatan, namun posisi saya saat itu bukan sebagai nara sumber dibidang kesehatan atau management kesehatan, namun panitya meminta saya sebagai motivator pada acara seminar yang berkaitan dengan dunia management ini.

Dua minggu sebelum acara di mulai, saya akhirnya menemukan judul dan thema yang pantas setelah mendapat sedikit masukan tentang inti dari seminar ini, rupanya seminar dalam hal bagaimana cara meningkatkan kemampuan bisnis dengan kepekaan Intuisi dan kekuatan yang ada pada si pelaku bisnis.

Hari yang ditentukanpun tiba, saya di jadwalkan sebagai pembicara ketiga, sehingga sayapun bisa mengikuti seminar itu dengan seksama, ternyata banyak sekali ilmu yang bisa saya petik dari pengalaman ini, dan Alhamdulillah bisa saya terapkan juga pada management pelayanan medis di klinik saya.

Begitu tiba pada giliran saya di session ketiga sesudah coffee break, saya memulai membawakan judul makalah saya.

Dengan didahului salam kepada semua peserta seminar, saya memulai pembicaraan itu.

Baik, tadi di sesi pertama dan kedua kita sudah mengikuti semua pemahaman yang sangat bagus, dan ini pasti akan mendatangkan banyak manfaat buat kita semua yang hadir disini, tugas saya berdiri di hadapan Anda semua kali ini, hanya ingin memberikan sebuah motivasi tentang bagaimana cara kita me-management hati dan hidup, sehingga dapat membantu kepercayaan diri dari saudara/i disini saat nanti akan memulai suatu bisnis.

Setelah memberi kode kepada panitya dengan alat peraga yang saya minta, maka saya memulai semuanya.

Sebagian besar semua perserta tertawa melihat alat peraga yang saya minta dari panitya, karena sangat sederhana dan agak aneh, sehingga mengundang sedikit keriuhan dalam ruang seminar, dan inilah yang membuat acara seminar ini agak cair dari keseriusan yang mencekam pada sesi sebelumnya.

Alat peraga yang saya tampilkan adalah sebuah ember berukuran sedang, batu batu kali ukuran sekepalan tangan, kerikil kerikil kecil yang biasa untuk mengecor bangunan, pasir dan sebotol air.

Banyak selentingan suara yang sempat saya dengar saat itu, apa yang akan dilakukan seorang dokter ini, yang mereka anggap agak sedikit eksentrik, sambil diselingi tawa yang makin meriah.

Baik saudara saudara, sebelum kita mulai, saya akan menjelaskan dahulu apa maksud saya menyediakan semua alat peraga ini, apa saya akan meragakan membangun sebuah bangunan, atau membuat istana dari pasir seperti saat kita bermain pasir di tepi pantai atau ada sesuatu yang berharga dibalik itu semuanya?

Saya berharap setelah nanti saya peragakan semuanya, maka saudara saudara akan mendapatkan kesadaran yang datangnya dari diri Anda sendiri, tugas saya disini hanya membatu Anda menciptakan kesadaran itu.

Dengan penuh semangat saya berdiri di depan ruang seminar itu dan berkata, “Okay, sekarang waktunya untuk memperagakan semuanya. Kemudian saya mengambil sebuah ember kosong dan meletakkannya di atas meja, kemudian saya mulai mengisi ember tersebut dengan batu batu sebesar kepalan tangan. Saya mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember itu, lalu saya bertanya kepada semua peserta seminar, “Menurut Anda, apakah ember ini telah penuh?”

Semua peserta seminar serentak berkata, “Ya!”

Saya bertanya kembali, “Sungguhkah demikian?”

Kemudian, saya mengambil sekantung plastik kerikil-kerikil kecil itu, lalu menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember, lalu mengoyang goyang dan mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu, jelas kelakuan saya ini mengundang derai tawa yang sangat riuh, namun sangat tertib.

Kemudian, sekali lagi saya bertanya pada semua peserta seminar, “Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?”

Kali ini para peserta seminar terdiam. Ada seseorang peserta menjawab, “Mungkin belum.”

“Bagus sekali!,” sahut saya.

Kemudian saya mengeluarkan lagi sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil.

Sekali lagi, saya bertanya pada semua peserta , “Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?”

“Belum!” Sahut seluruh peserta.

Nampaknya mereka semua mulai bergeser keyakinan atas sebuah jawaban yang berbeda sama sekali dengan jawaban yang pertama kali, saat saya baru mengisi ember ini dengan batu batu sebesar genggaman tadi.

Sekali lagi saya berkata, “Bagus, bagus sekali!.”

Kemudian saya meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu saya menoleh ke forum dan bertanya, “sekarang saudara yakin, apakah ember ini sudah penuh?”

Ada yang hanya diam, tapi sebagian besar menjawab, Ya!…sudah penuh”.

Tampak banyak keraguan yang saya lihat dari wajah wajah sebagian besar semua peserta seminar. Dan saya hanya tersenyum simpul melihat pemandangan ini.

Lalu saya bertanya lagi,”Tahukah saudara saudara apa maksud dari illustrasi ini?”

Kali ini, benar benar sunyi senyap, tak ada jawaban dari semua peserta seminar…

Tak lama kemudian ada seorang peserta dengan bersemangat mengacungkan jari dan berkata, “Maksudnya adalah, tidak peduli seberapa padat jadwal kegiatan kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya.”

“Oh bukan!,” sahut saya, “Bukan itu maksudnya.

Kenyataan dari illustrasi ini, mengajarkan pada kita bahwa: “Bila Anda tidak memasukkan batu besar terlebih dahulu, maka Anda tidak akan bisa memasukkan semuanya!”.

Apa yang dimaksud dengan “batu besar” dalam kehidupan kita?

Ya…, yang dimaksud dengan batu besar ini adalah Anak-anak Anda, pasangan Anda, pendidikan Anda, orang orang yang Anda kasihi.

Hal-hal yang penting lainnya dalam hidup Anda, mengajarkan sesuatu pada orang lain, melakukan pekerjaan yang Anda cintai, waktu untuk diri sendiri, kesehatan Anda, teman Anda, atau semua yang berharga lainnya.

Ingatlah!, untuk selalu untuk memasukkan “batu besar” pertama kali atau Anda akan kehilangan semuanya!.

Bila Anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup Anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu Anda lakukan, karena dengan demikian Anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya Anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.

Oleh karena itu, saya mengajak saudara saudara untuk bisa merenungkan dan mengambil pelajaran dari semua illustrasi yang baru saja saya peragakan ini, dengan me-management hati dan hidup Anda, agar Anda bisa memilih sesuai skala prioritas, mana hal yang besar dan penting dalam kehidupan Anda, jangan Anda memulainya dengan hal hal kecil yang akan banyak menyita waktu dan tenaga Anda.

Coba setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan illustrasi sederhana ini, tanyalah pada diri Anda sendiri: Apakah “batu besar” dalam hidup saya ini?, Lalu kerjakan itu pertama kali.

Saya yakin semua dari Anda semua yang hadir disini, sudah mempunyai banyak bekal yang cukup untuk memulai sebuah bisnis yang bisa mendatangkan banyak keuntungan sehingga akan banyak mendatangkan kesejahteraan buat orang orang yang Anda kasihi.

Dalam hal management bisnis, saya yakin Andalah Ahlinya, namun mulailah terlebih dahulu me-management hati dan kehidupan Anda, agar apa yang Anda lakukan akan banyak mendatangkan manfaat dan berbuah kebahagiaan yang sebenarnya.

Itulah uraian dan pesan dari semua yang saya berikan pada saudara saudara dikesempatan ini.

Dengan ditutup riuhnya tepuk tangan yang sangat meriah saya maengakhiri pembicaraan di forum seminar itu.

Akhirnya saya selaku penulis, hanya ingin berbagi saja dengan semua pembaca di Kompasiana ini, saya berharap , apa yang saya sharing-kan ini dapat memberi manfaat buat kita semua.

Salam sehat dari saya, Dr. dr. Anugra Martyanto, di Purwokerto.

 

Sumber : Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s