Deteksi Dini Mewaspadai Penyakit

Ganyong, Pengalaman berharga saya peroleh, ketika saya dalam proses pemeriksaan Dokter karena pembengkakan prostat jinak (BPH/benign prostatic hyperplasia), terdeteksi salah satu ginjal saya membengkak, tetapi tidak merasakan gejala apapun, karena pemeriksaan darah ( ureum dan creatinin ) dan urine di Laboratorium klinik untuk mengetahui fungsi ginjal hasilnya : normal.

Tetapi Dokter Urolog yang mem”baca” foto rontgen (IVP), mengatakan bahwa ginjal sebelah kiri terjadi pembengkakan karena adanya hambatan/penyempitan pada ureter kiri. Bila dibiarkan dapat berakibat kerusakan pada ginjal tersebut, dan dapat merambat pula ke ginjal yang satunya lagi.

Saya tanyakan, mengapa hasil pemeriksaan darah dan urine tidak meperlihatkan kelainan pada fungsi ginjal, jawabannya adalah karena ginjal yang kanan masih berfungsi normal.

Untuk mengatasi hal ini, lalu diadakan tindakan medis bersamaan dengan operasi pem- bengkakan prostat yang juga akan mengganggu fungsi ginjal, bila tidak segera diatasi.

Dengan pengalaman saya itu, maka deteksi dini untuk mengetahui lebih awal kemungkinan adanya gangguan kesehatan apapun, merupakan hal yang sangat penting, terutama bila kita sudah menginjak pada usia “matang” : 40 tahunan, Bukankah ada yang mengatakan : “hidup dimulai pada usia 40 (life begin at 40) ? Ini berarti kita juga harus mulai waspada dengan kondisi tubuh kita, yang bagaimanapun sudah kita “pakai” selama 40 tahun.

Salah satu yang dapat dilakukan adalah “deteksi dini/check up” untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh kita yang sebenarnya, lewat pemeriksaan Dokter yang didukung oleh hasil pemeriksaan laboratorium. Tetapi banyak orang mengabaikan perlunya “check up” ini dengan berbagai alasan, antara lain: tidak merasa ada keluhan rasa sakit / kelainan apapun, atau dengan diperiksa nanti akan ketahuan adanya penyakit / kekhawatiran mengidap penyakit tertentu, sehingga merepotkan pengobatannya.

Ada juga yang beralasan: “Wah nanti diperiksa dokter, malah saya nggak boleh merokok, nggak boleh minum kopi, mengurangi ini, itu dan sebagainya. Begini saja hidup sudah enak, kalau waktunya sakit ya biarlah sakit, kan ada Dokter….”

Dilain pihak , tidak mau “check up” karena biayanya mahal, menghabiskan uang.

Dalam, banyak hal sering terbukti salah satu penyakit yang berbahaya adalah “penyakit sok sehat”, karena bukankah sering kita dengar “nggak sakit apa-apa kok meninggal…..”

Hal ini disebabkan karena banyak kelainan fungsi organ tubuh maupun metabolisme yang tidak normal, tidak menimbulkan gejala atau keluhan rasa sakit atau tidak nyaman yang mengganggu. Hypertensi, hyperkolesterol, diabetes mellitus, bagi sebagian orang yang mende- rita penyakit degeneratif itu tidak merasakan. Baru setelah penyakit itu menjadi kronis dan sulit diobati, merasakan bahwa penyakit itu telah menghinggapi tubuhnya, karena baru dirasakan adanya ketidak nyamanan yang mengganggu.

Disinilah manfaat “check up” atau deteksi dini terhadap kemungkinan adanya berbagai gangguan kesehatan yang mungkin mengganggu atau akan mengganggu tubuh kita, dapat diketahui lebih awal, sehingga dapat segera diantisipasi dengan pengobatan, atau tubuh dikondisikan agar penyakit tidak berkembang dengan penyesuaian pola hidup/kebiasaan sehari-hari.

Penyakit tidak perlu ditakuti, tetapi harus diwaspadai, sehingga kalaupun toh akhirnya datang, kita sudah siap menghadapinya.

Bukankah mematikan penyakit akan lebih mudah dan murah, bila keadaan belum menjadi buruk? Bukankah mencegah timbulnya penyakit lebih baik dari pada menunggu datangnya penyakit lalu baru mengobati ?

Gangguan fungsi ginjal, yang bisa berkembang menjadi kerusakan ginjal dan akhirnya gagal ginjal dan berujung pada kematian, pada awalnya tidak menunjukkan gejala atau keluhan apapun. Menurut seorang Nefrolog (Ahli ginjal), kerusakan ginjal sering baru menunjukkan gejala yang signifikan atau mengganggu benar, ketika fungsi ginjal kurang dari 10%. Kondisi ini akan sangat sulit diatasi dan tidak jarang berkembang menjadi kegagalan ginjal yang berakhir pada kematian.

Jantung yang berdetak, misalnya rata-rata 80 kali per menit, berarti sehari berdetak 57.600 x , setahun = 210.240.0000, dan selama umur kita misalnya : 40 tahun, berarti jantung berdetak : 8.409.600.000, tanpa henti samasekali barang sebentar saja…….

Itu baru salah satu contoh, betapa organ tubuh kita bekerja demikian kerasnya, sedangkan kalau mau diteliti, ribuan fungsi organ tubuh kita yang bekerja terus menerus seumur hidup kita. Dilain pihak perilaku kita sehari-hari tidak selalu tertib, sehingga akan mengakibatkan atau mempercepat kerusakan pada organ tubuh tadi.

Karena itu, memantau kondisi mereka menjadi sangat penting, agar tidak terjadi kerusakan/ disfungsi yang tidak kita ketahui.

Apakah “check up” itu mahal?

Itu tergantung, apa yang kita ingin periksa. Di banyak Rumah sakit, dan Laboratorium Klinik biasanya di tawarkan “paket check up” dengan berbagai tingkat harga, dari yang paling murah untuk pemeriksaan dasar misalnya : kadar gula darah, fungsi ginjal, hati dan profil lemak, sampai yang paling lengkap dengan EKG, MRI dan lain sebagainya, yang di rumah sakit bagi kalangan berduit bisa mencapai puluhan juta.

Jadi tinggal sesuaikan dengan kemampuan kocek, yang penting tercapai tujuan untuk mendeteksi dini kondisi tubuh kita.

Langkah yang bijaksana dalam “check up” yaitu pertama kita melakukan pemeriksaaan yang mendasar dulu. cukup dengan biaya 1-2 ratus ribu rupiah.

Kemudian perhatikan “pohon keluarga / family tree”, yaitu riwayat kesehatan anggota keluarga dalam satu garis keturunan langsung. Diamati apakah ada yang mempunyai gangguan penyakit yang mungkin dapat menjadi faktor resiko kita untuk “mewarisi” penyakit itu. Kalau misalnya ada yang penderita diabetes, darah tinggi, kolesterol tinggi, pemeriksaan untuk mendeteksi adanya penyakit ini pada diri kita harus lebih sering dilakukan, antara 3-6 bulan sekali, sejalan dengan bertambahnya umur.

Berikan perhatian khusus, bila ada anggota dalam family tree yang menderita kanker, apakah kanker rahim, kanker payudara, kanker prostat, dan lakukan deteksi dini terhadap kemungkinan itu akan menjadi penyakit kita juga. Sedangkan bagi wanita, papsmer untuk mendeteksi adanya kanker rahim, dan deteksi untuk kanker payudara memang wajib dilakukan secara rutin.

Deteksi adanya kanker prostat, dapat dilakukan dengan pemeriksaan PSA (prostate spesific antigen) secara berkala.

Disamping itu, perhatikan pola hidup kita, apakah kita tertib melakukan pola hidup sehat, apakah lingkungan sehari-hari kita cukup baik, bukan dilingkungan yang penuh asap rokok atau polusi udara lainnya, apakah ada keluhan atau kelainan yang sering kita rasakan dalam keseharian kita, konsultasikan dengan Dokter bila perlu ada pemeriksaan yang spesifik lainnya.

Jadi tidak perlu harus sekaligus melakukan pemeriksaan seluruh organ/fungsi tubuh, kecuali kalau memang menghendaki dan duitnya ada. Hasil pemeriksaan itulah yang akan menjadi dasar bagi Dokter untuk memberi petunjuk apa yang harus kita lakukan. Bagaimana pola hidup yang sebaiknya dijalankan, atau bila memang perlu tindakan medis apa yang harus dilakukan.

Disinilah mungkin mengharuskan kita mengubah kebiasaan hidup sehari-hari, untuk menghindari penyakit tertentu, yang mungkin dari hasil pemeriksaan sudah menunjukkan “lampu kuning” adanya penyakit, misalnya kadar gula darah atau kolesterol dalam darah yang ada diambang batas normal tinggi.

Atau mungkin rasio perbandingan antara kolesterol jahat (LDL) dengan kolesterol baik (HDL) menunjukkan indikasi tingginya resiko penyakit jantung koroner, dan sebagainya. Hal ini yang menjadi salah satu faktor keengganan orang untuk melakukan “check up”, karena ini dianggap mengurangi “kenikmatan hidupnya”. Padahal penyakit itu akan lebih mudah diatasi kalau sejak awal sudah dihambat untuk berkembang lebih lanjut, yang antara lain (dan utamanya) dengan mengubah gaya hidup.

Pada akhirnya, memang untuk tetap sehat dan bugar itu sangat tergantung pilihan masing-masing pribadi. Ada yang mau mengubah gaya hidup sesuai tuntutan kondisi individualnya, agar tetap dapat menikmati hidup dengan sehat dan bugar. Tetapi juga ada yang mau tetap menikmati hidup dengan gaya yang sudah menjadi kebiasaan, walaupun dengan badan yang lesu, tidak bugar, atau harus batuk-batuk, napas pendek, asalkan masih bisa merokok 20 batang per hari atau minum alcohol. Toh masih ada uang untuk bayar obat dan dokter….. Yaahhh, semua adalah pilihan hidup masing-masing.

Sumber : Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s