Antara Dokter, Pasien dan Obat….

Dunia medis Indonesia tidak terlepas dari tiga unsur penting,

  1. yaitu Dokter (obyek),
  2. Pasien (obyek),
  3. dan Obat (alat).

Selanjutnya didukung oleh oleh peralatan penting lainya.  Seringkali dokter itu bersikap acuh, sombong banhkan terkesan maunya sendiri. Dan ternyata ini menjadi banyak guncingan banyak orang di sekitar kita. Parahnya lagi, ternyata tidak sedikit dokter yang lemah di dalam men-diaognosa. Wah hasil, terjadilah sesuatu yang tidak diinginkan oleh obyek (pasien). Wajarlah jika banyak masyarakat mengatakan:” paling dokter itu belajarnya nyontek ya…? kok diagnosanya sangat lemah, dan tidak akurat.

Pasien adalah fihak yang lemah. Ketika dokter mendiagnosa dengan oenyakit tertentu. Maka, tidak ada kekuatan apapun untuk melawan titah seorang dokter, belum lagi resep obatnya tidak bisa dibaca oleh banyak orang. Dengan alasan” Nanti bisa dipergunakan semena-mena, atau apakah? Yang jelas, dokter itu ibarat pekerjaan sakral yang tidak boleh digugat, bahkan disalahkan. Apalagi merasa bersalah, walaupun sudah nyata-nyata salah? Begitu ampuhnya kekuatan dokter, sehingga tidak ada kekuatan yang bisa menyentuhnya….

Obat…adalah bagian dari dunia medis. Seringkali dokter itu kolaborasi dengan dunia parmasi untuk mengeruk kantong pasien dalam-dalam. Memang ini tidak bisa dipungkirii, karena dokter sendiri sekolahnya mahal. Sehingga, ada sebagian mereka yang tujuan ilmunya hanyalah profit oriented. Bukan menolong pasien yang menderita dan tidak berdaya.

Coba lihatlah….langka sekali dokter itu miskin, di daerahku rata-rata mobilnya bagus (mewah) rumahnya mewah. Kaluapun ada dokter yang miskin, pasti ada yang mencibir. Dokter kok miskin, apa ngak laku ya?. Memang, tidak semua dokter itu kaya, saat ini banyak sekali lulusan dokter yang nganggur karena sulitnya pekerjaan dan ruwetnya peraturan praktek.

Prof. Dr. Ahmad Tafsir pernah menyampaikan kuliah di UIN malang, bahwa saat ini tidak sedikit dokter yang pengangguran. Di beberapa daerah, ada dokter yang memang tidak bisa mengembangkan ilmunya. Mereka kadang numpang praktek kepada mitra sesama dokter, dengan tujuan agar bisa membeli makan, atau apalah….?

Jadi, mestinya antara dokter, pasien, dan parmasi itu memiliki filsafat kedokteran yang menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Sebagaimana baju putih yang dikenakan oleh para dokter. Kenapa para medis menggunakan baju putih? ada yang menjawab” Biar tidak sama dengan dukun? bener juga jawaban ini.

Trus, apa ada jawaban lain? menurut teman saya” Agar supaya terlihat jelas jika ada kotoran yang menempel, karena seorang dokter itu harus bersih dari kotoran, dan menjadi contoh bagi pasienya. Kan lucu jika seorang dokter memakai pakaian yang kumuh, atau warna warni. Lagi pula dokter itu kan bukan penari atau penyanyi.

Jawaban ini belum mengena. Menurut saya pribadi: Sesungguhnya, pakaian putih seorang dokter itu adalah filsafat, artinya seorang dokter itu mesti tulus dan profesional di dalam memberikan pelayanan  kemanusiaan kepada pasien. Putihnya baju itu mesti mencerminkan putihnya tujuan seorang dokter.

Jangan sampai putihnya baju itu kotor dengan uang, atau menjadikan pasien itu sebagai komoditas dagangan. Menjual obat dengan harga yang mahal, padahal ada obat generik yang bisa. Jika telah dikotori dengan beragam cara untuk mendapatkan uang. Berarti, sang dokter itu tidak pantas mengenakan pakaian putih. Lebih bagus memakai pakaian hitam yang artinya sama dengan DUKUN?

Sumber : kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s