Rahasia Tendangan Pisang

From: Ulya, Ahmad 
Tendangan Pisang

———————-
David Beckham mungkin lebih dimanjakan dengan bola Teamgeist karena lebih mudah menghasilkan tendangan pisang. Namun, bola buatan Adidas yang digunakan selama Piala Dunia 2006 dikritik kiper Jerman Jens Lehmann karena sulit diprediksi gerakannya. Sejak dulu tendangan yang menghasilkan gerakan bola melengkung memang diimpikan para penyerang namun dibenci kiper. Nah, apa rahasia kehebatan tendangan pisang?

Tendangan pisang mulai dipopulerkan pada awal 1950-an. Gelandang Brasil bernama Didi menemukan cara menendang yang menyebabkan bola tidak bergerak lurus namun melengkung. Jika bola dipelintir saat ditendang, gerakan bola akan berbelok di udara.

Teknik ini bukan secara kebetulan muncul pertama kali di Brasil. Bola kulit yang dipakai pada pertandingan sepak bola saat itu mudah menyerap air sehingga bertambah berat. Ini akan menurunkan pengaruh gaya aerodinamik karena dipelintir. Di Brasil, yang bersuhu panas dan kering, air tak menjadi hambatan, tapi di Eropa menjadi masalah besar terutama saat pertandingan musim dingin.

Teknik tersebut baru diadaptasi secara meluas sejak diperkenalkannya bola dari bahan sintetis dan kedap air. Para pemain Eropa segera menjajal kemampuan yang telah lebih dulu dicicipi para pemain Brasil. Para pemain yang terkenal dengan tendangan pisangnya pun makin banyak bermunculan.

Dinamika fluida

—————-
Tendangan pisang dapat dijelaskan secara ilmiah dengan ilmu dinamika fluida. Sebuah bola yang menembus udara akan memicu aliran udara di permukaannya berlawanan dengan arah gerak bola. Jika bola bergerak di udara dengan kecepatan kurang dari 20 kilometer per jam, aliran udara di permukaanya akan terpisah di titik karakteristik yang terpisah cukup lebar.

Permukaan bulat bukan bentuk aerodinamis yang efisien. Ketika aliran udara di permukaan bola yang bergerak terpisah, udara di belakangnya bergolak karena terjadi turbulensi. Turbulensi selalu menghasilkan gaya hambat sehingga bola menjadi objek yang sulit diarahkan. Namun, pada kecepatan sekitar 20 kilometer per jam, keajaiban bisa terjadi. Turbulensi semakin jauh sehingga menghasilkan lapisan udara batas. Hal tersebut menyebabkan aliran udara tipis terbentuk (tripped) sangat dekat dengan permukaan bola.  

Efek turbulensi berkurang dan gaya hambatnya hilang. Tendangan atau lemparan bola dengan kecepatan di atas itu dapat dilakukan dengan leluasa dan diarahkan lebih tepat ke sasaran. Nah, ketika bola berputar, lapisan pembatas masih masih terbentuk namun titik berpisahnya aliran udara mengalami pergeseran. Tempat terpisahnya aliran udara lebih dekat ke sisi yang berlawanan dengan arah putaran bola. Pergeseran ini menyebabkan perbedaan tekanan dan membelokkan dorongan yang mengatur gerakan dan arah bola.

Pola panel di permukaan

————————
Terbentuknya aliran udara batas juga dipengaruhi lekuk permukaannya, khususnya batas jahitan yang sedikit menaik. Semakin banyak lekukan karena banyaknya panel, semakin besar kestabilan aerodinamikanya. ist

  1. Bola yang bergerak kurang dari 20 kilometer perjam menghasilkan turbulensi.
  2. Jika bergerak lebih cepat, turbulensi semakin kecil sehingga terbentuk lapisan aliran udara (tripping).
  3. Saat dipelintir, aliran udara bergeser berlawanan dengan arah putaran bola.

Ada banyak variasi permukaan yang ditentukan bentuk panel-panel pelapis bola. Misalnya, bola dengan pola panel heksagonal tersusun dari 32 panel, sedangkan model klasik Inggris memiliki 26 panel. Meskipun demikian, bola Teamgeist hanya memiliki 14 panel. Mungkinkah ini salah satu faktor yang memicu kegelisahan Jens Lehmann? 

Untuk menjelaskannya, bandingkan bola sepak dengan bola baseball. Sebuah bola baseball sangat sederhana karena hanya mengandung dua panel. Seorang pitcher (pelempar) di baseball biasanya memelintir bola dengan cara melemparkannya dengan putaran. Putaran udara di permukaanya mirip dengan bola sepak yang ditendang dengan cara dipelintir.

Adakalanya, seorang pitcher memberi umpan bola yang sangat sulit dipukul atau disebut knuckleball. Ini terjadi ketika pitcher melempar bola dengan putaran yang sangat sedikit. Karena panelnya hanya dua, bola berputar tanpa aturan dan membentuk aliran udara batas di sisi tertentu. Hal tersebut menyebabkan arah membelok yang tidak dapat diprediksi. Padahal, ke mana bola berbelok merupakan arah yang mesti dilawan pemukul dari sisi sebaliknya.

Tentu saja, kunci menghasilkan tembakan yang bagus adalah sedikit putaran. Namun, membuat putaran yang sangat sedikit lebih mudah saat melempar bola baseball daripada menendang bola sepak. Kalaupun hal tersebut terjadi pada hasil tendangan bola, mungkin banyak dipengaruhi jumlah panel di permukaannya.

Bola Teamgeist dengan 14 panel secara aerodinamik lebih mendekati bola baseball daripada bola sepak Inggris dengan 26 panel atau bola dengan 34 panel berpola heksagonal. Jadi, perhatikanlah saat bola tersebut ditendang dengan sedikit putaran.

Di ajang piala dunia, bola Teamgeist bakal membuat gatal David Beckham, Thierry Henry, atau Ronaldinho. Struktur bola yang mendukung tendangan pisang sangat cocok bagi pemain seperti Henry atau Ronaldinho yang mengandalkan tendangan pelintir ke samping atau Beckham dengan pelintir atasnya.

Tendangan-tendangan seperti itu juga bakal membuat kewalahan kiper-kiper dunia. Mereka umumnya lebih memilih menahan atau menjatuhkan bola yang dipelintir daripada langsung menangkapnya. Tapi, saat-saat seperti itu mungkin akan langka jika bola jarang terpelintir.

Jika masih penasaran, perhatikan saja saat-saat gerakan lambat tendangan-tendangan mematikan yang bakal tejadi selama Piala Dunia 2006 yang berlangsung hingga tanggal 9 Juli.

Sumber: bbc.co.uk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s