Penjahat yang Bersembunyi Dalam Kalimat

Bimo Nugroho
Saya terjebak dalam debat dengan seorang rekan jurnalis, yang bagi saya cukup menggelisahkan. Topiknya tentang liputan kekerasan. Polemiknya,siapa yang selayaknya didudukkan sebagai subyek dalam berita?

Menurut rekan wartawan Kompas ini, sang korban-lah yang selayaknya menjadi subyek berita (baik dalam judul maupun isi berita). Contoh: “Empat Demonstran Tewas Tertembak” atau “Perempuan Keturunan Cina Diperkosa dalam Kerusuhan Mei”.

Argumentasinya cukup kuat, pensubyekan korban mempunyai nilai berita yang cukup tinggi, membangkitkan empati pembaca, dan menyedotnya untuk mengetahui pokok persoalan. Saya punya pendapat sebaliknya, pelaku kekerasannya-lah yang harus didudukkan sebagai subyek berita.

Debat berlangsung tidak tuntas karena rekan saya ini dikejar tugas dan sebelum dia pergi sempat berujar,”Kalau kamu bertahan dengan pendapatmu, itu seperti orang yang lebih dulu mengejar ular daripada menolong korban gigitan yang harus segera ditolong”.

Saya tahu perumpamaan itu salah, dan itulah yang membuat saya gelisah sehingga saya tulis artikel pendek ini. Siapa yang menjadi subyek berita, saya pikir bukan semata persoalan struktur kalimat dalam berita.

Sebagaimana dikemukakan Robert Hodge dan Gunther Kress (yang saya pahami dengan bantuan Eriyanto karena istilah-istilah Critical Linguistic yang rumit), subyek dalam kalimat berita menentukan makna yang tercipta di benak pembaca.

Pelaku kekerasan maupun korban kekerasan bisa saja ditempatkan sebagai subyek oleh wartawan. Biasanya, kalau pelaku yang jadi subyek maka kalimatnya cenderung aktif,sebaliknya bila korban yang jadi subyek maka kalimatnya cenderung pasif.

Bandingkan: Polisi menembak empat demonstran/Empat demonstran ditembak Polisi
Ada serdadu memperkosa perempuan/Perempuan diperkosa seorang serdadu

Sekilas dua kalimat aktif pasif itu sama. Tapi representasi yang muncul di media bisa jadi berbeda. Kita menemukan headline di berbagai media kala Mei 1998 dengan judul sebagai berikut: “Empat Demonstran Tewas Tertembak” atau “Perempuan Cina Diperkosa Saat Kerusuhan Meledak di Jakarta” (Perhatikan keduanya beranjak dari struktur kalimat pasif).

Saya pikir liputan semacam ini tidak menjernihkan tapi justru memperparah keadaan, tidak peace journalism tapi chaos journalism. Mengapa? Pertama, terjadi manipulasi sintaksis (Fowler, Hodge, Kress, and Trew,1979;Eriyanto, 2000).

Karena dengan menempatkan korban sebagai subyek dan kalimat cenderung menjadi pasif, pembaca tidak kritis (atau dibuat tidak kritis) untuk mengetahui siapa pelaku kekerasan di atas. Bagi reporter dilapangan, memang lebih mudah menempatkan korban sebagai subyek dan fokus berita karena yang bersangkutan lebih bisa diliput daripada melacak pelaku kekerasan (kalau dia diindikasi seorang polisi/TNI, atas dasar apa?

Belum lagi keharusan investigasi dari kesatuan mana, pangkatnya apa, pakai senjata apa). Kebingungan atas siapa pelaku kekerasan itu menggiring pembaca pada isu provokator yang tetap tak ketahuan sosok belangnya. Tanpa disadari oleh para jurnalis dan media, para penjahat kekerasan itu bersembunyi dalam kalimat yang diberitakan.

Manipulasi sintaksis ini, seharusnya dipantau secara serius oleh mediawatch dan dihindari oleh kawan-kawan jurnalis yang menganut paradigma Peace Journalism.
Kedua, terjadi Runaway Words (Bukan The Runaway World-nya Anthony Giddens).

Istilah Runaway Words muncul dalam pikiran saya untuk menggambarkan susunan kata-kata yang mblandhang atau kebablasan sehingga menciptakan efek wacana yang tidak diinginkan. Saya yakin bahwa para penulis berita yang menempatkan korban sebagai subyek tentu tidak ingin bahwa berita yang ditulisnya justru memancing kekacauan. Tetapi mari perhatikan lebih jeli:

Empat Demonstran Tewas Tertembak
Saya kebetulan punya latar-belakang demonstran. Membaca atau mendengar berita empat demonstran tertembak, saya tak peduli ia dari kampus mana,kelompok mana, yang jelas empat orang “kawan saya” ditembak oleh “tentara” (siapa lagi kalau bukan tentara musuh para demonstran? Padahal belum tentu).

Apa yang saya lakukan kemudian adalah mengorganisir kawan-kawan saya untuk menggalang aksi solidaritas. Saya akan menyanyi dengan megaphone dalam aksi massa “Kawan kita telah ditembaki, telah ditembaki, di negeri sendiri” (lagu ini, dalam situasi demikian, bisa membuat semua aktivis menangis dan bangkit militansinya).

Apa bedanya dengan para aktivis Laskar Jihad atau Laskar Kristus yang membangkitkan emosi massanya untuk berperang di Maluku. Padahal bisa jadi bersamaan dengan agitasi itu, pihak-pihak yang berkepentingan telah memobilisasi penjarahan, kerusuhan, dan…pemerkosaan. Dan apa yang ditulis dengan peristiwa pemerkosaan:

“Perempuan Cina Diperkosa dalam Kerusuhan Mei di Jakarta”
Bayangkan! Perempuan! Cina! Ada bias SARA di sana. Bagi pembaca yang pribumi di mana sentimen anti-cina mengakar dengan kadar yang berbeda-beda, bisa memaklumi. Tapi apakah karena korban adalah perempuan dan keturunan Cina,lantas bisa saja diperkosa?

TIDAK. Paman yang menikahi adik ibu saya, kebetulan keturunan Cina, punya pendapat yang lain lagi. Investasi asing,terutama yang dikelola para taipan, akan sulit masuk ke Indonesia bukan karena perhitungan untung rugi, tetapi mereka memutuskan untuk tidak invest karena merasa terhina. Nah, begitulah The Discourse of Runaway Words atau wacana kata-kata yang mblandhang itu.
————————————————————————

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s