Menyembelih Perasaan

Have you heard sound of silence ?”
It’s like soul of cages, trapped between reality and fantasy……”
Pierre-Auguste Renoir (1841 – 1919)

Jauh sebelum bibit permusuhan antara kerajaan Alengka lawan kerajaan Ayodya meruyak, tiga bersaudara; Rahwana, Kumbakarna dan Gunawan Wibisana dari Alengka; itu persis saudara kembar yang tak mudah dibedakan wajah maupun tingkah lakunya.

Meski Rahwana dan Kumbakarna bertampang raksasa namun ketika rakyatnya membandingkannya dengan Gunawan Wibisana, si ksatria yang tampan, selalu saja mereka mendapatkan wajah Wibisana memancar dari wajah-wajah Rahwana maupun Kumbakarna. Begitu juga, setiap wajah Wibisana ditatap, selalu saja wajah kedua kakaknya itu semburat mewarnai wajah adiknya. Dari sini tumbuhlah ketiga bersaudara itu hidup dalam keharmonisan sama rata sama rasa.

Gunawan Wibisana yang jenius dalam hal politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, manajemen dan perbankan dengan sendirinya menjadi jubir dan duta keluarga untuk melanglang buana. Bertemu dengan semua maharaja dan pemimpin-pemimpin tertinggi dunia, Wibisana berjasa besar dalam memajukan hidup berdampingan dalam damai antar negara.

Namun apa mau diharap jika kemudian panas setahun, musnah oleh hujan sehari, terjadi. Ketika Rahwana untuk pertama kalinya melihat Dewi Sinta; permaisuri Rama; nah, dari sinilah awal malapetaka; Rahwana jatuh cinta. Mabuk kepayang ini tak tertanggungkan lagi, lebih-lebih ketika Rahwana menobatkan dirinya sebagai maha-raja Alengka.

Sejak Rahwana tak kesampaian maksudnya mempersunting Sinta, Rahwana lalu menyerap segala kekuatan untuk menambah kekuatan dirinya yang sesungguhnya sudah amat tegar itu. Manusia, binatang, tumbuhan dan benda-benda dibunuhnya, untuk disedot kekuatannya.

Wibisana, yang sangat mencintai kakaknya selalu mencoba mengingatkan; “Kakanda Rahwana adalah yang paling berhak atas perasaan cinta kakanda sendiri, meskipun begitu jangnlah didahului dengan menentukan nasib orang lain.” “Wibisana, kau tahu apa tentang perasaan cinta ?’ sergah Rahwana.

“Kakanda, cinta itu adalah hak setiap orang dan hanya mereka yang mengalaminya mampu merasakan hakikinya perasaan tersebut.” dengan lembut Wibisana berusaha menerangkan pada saudaranya tercinta. “Karena akulah yang mengalaminya, kau tidak berhak untuk mengguruiku ! Wibisana, rebutlah Sinta untuk kakakmu ini,” desak Rahwana.

“Cinta bagi saya bukanlah seperti yang dirasakan oleh kakanda, kepada sesama mahluk kakanda menundukan diri, padahal Hyang Widi-lah sebagai tujuan akhir cinta. Dia menciptakan mahluk agar mengenal-Nya. Bila sudah mengenal-Nya mereka akan menyembah-Nya dan mencintai-Nya. Bila sudah mencintai-Nya,dibukakanlah rahasia-rahasia kerajaan-Nya. Dan ketika menyaksikan cahaya kekuasaan-Nya, bertambahlah kenikmatanku,”kata Wibisana.

Wibisana melanjutkan kata-katanya “Kakanda, apabila memang bersikeras untuk jatuh cinta kepada istri orang dan tetap membunuh semua mahluk, pancunglah saya ! Seraplah seluruh kesaktianku, jiwa, ruh dan nyawa hingga kau puas dan rasakanlah bahwa ini bentuk cinta-ku pada Hyang Widi.”

Akhirnya Rahwana membunuh Wibisana. Jiwa, ruh dan nyawanya disedot Rahwana ketika mencuat dari tenggorokannya. Begitu terisap kekuatan prahara si Adik,kaget bukan kepalangnya Rahwana mendengar suara Wibisana, ” I hear the voice whispering on me. Do you have sufferance ? The answer of that question is just only your reflection but I have my own,…….that is You, brother.”

Wibisana meng”kurban”kan dirinya sendiri untuk rasa kasihnya pada saudara dan cintanya kepada terminal akhir, Sang Hyang Widi.

Ridho Hasan Rosid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s