Mendidik Anak agar Gemar Membaca

“Yulia, anak saya yang kelas tiga SD itu, sedikit pun tak tertarik pada buku. Jangankan membaca, menyentuhnya saja enggan. Kalau tidak menonton TV, pasti main game seharian. Rapornya pas-pasan. Apa yang mesti saya lakukan?” Begitu keluhan seorang teman di Pameran Buku Bandung 2005. Padahal buku-buku, apalagi saat pameran, selalu dibelinya. Sang anak pun diajak. Doanya terus mengalir agar anaknya mau membaca. Tapi hasilnya belum tampak. Anaknya tetap malas membaca dan kerasan ber-play station di rumah temannya.

Lantas, bagaimana agar gemar membaca? Sebetulnya ini bisa dirintis dari bacaan apa saja, terutama buku-buku yang ringan isinya seperti cerita tradisional,majalah anak, koran anak atau kartu-kartu puzzle dan kwartet. Semua ini memberikan peluang pada anak untuk gemar membaca. Apalagi kalau diperkaya dengan gambar-gambar indah. Semuanya menjadi pintu-jendela dari rumah ilmu dan teknologi (sainstek).

Masalahnya adalah cara membukanya. Jika pintu dan jendela itu sudah terbuka, tinggal membangunkannya saja. Tentu tidak semudah mengajak menonton TV, film, video atau piknik ke pantai. Butuh ketelatenan orang tua. Sebab, cinta membaca tak lahir serta merta. Ia mesti dibina dalam usia dini, pada masa prasekolah.

Karakter baca
Mencetak habitasi baca bukan cuma perlu pembinaan tapi juga dana. Di kalangan sosial-ekonomi menengah-bawah justru danalah kendalanya. Tidak berarti di menengah-atas tiada rintangan. Di kalangan mampu ini justru banyak aktivitas keluarga yang tidak kondusif bagi pencitraan cinta buku. Misalnya, gemar lihat TV, VCD, film, game, datang ke zone game di plaza atau warnet dan jalan-jalan di mal. Atau, karena orang tuanya terlalu sibuk sehingga tak sempat memberikan contoh gerakan gemar membaca. Berikut ini ada tujuh cara yang mudah-mudahan dapat membantu tumbuh-kembang karakter baca itu.

  • Kesatu, orang tua harus biasa membaca. Membaca apa saja: buku, koran, majalah atau buku resep masak sekalipun. Peragakan di depan anak-anak secara ekspresif. Sesekali keraskanlah suara untuk menarik perhatian disertai gerakan tubuh.
  • Kedua, banjiri rumah dengan buku, koran dan majalah. Tidak harus yang baru; yang bekas juga boleh. Taruhlah di setiap sudut ruangan yang terjangkau anak-anak. Dari kamar tidur anak, ruang tamu, ruang makan hingga ke dapur (misalnya majalah atau buku resep membuat kue). Tempelkanlah poster berisi tulisan dan gambar flora fauna di ruang tidurnya. Inilah indoktrinasi secara halus.
  • Ketiga, rutinlah membeli buku atau hadiahkan buku pada hari istimewanya seperti saat naik kelas atau tanggal kelahirannya. Sempatkan membacakannya minimal menjelang tidur bagi anak bawah tujuh tahun. Jalan cerita boleh diubah dengan improvisasi. Cara ini semacam suntikan bagi anak untuk lebih bergairah mendengarkan. Nanti akan tiba saatnya, anaklah yang minta dibacakan cerita. Atau dia berupaya “membaca” sendiri buku itu.
  • Keempat, ajaklah ke toko buku. “Lepaslah” di sana dan biarkan dia memilih buku kesukaannya. Di toko besar biasanya buku anak-anak dikhususkan pada satu ruang atau satu lantai. Mau beli satu, dua atau lebih, kalau ada dana, belikan saja. Tidak rugi membeli buku karena bisa dirintis jadi perpustakaan mini di rumah.
  • Kelima, kunjungi pameran buku (misalnya Pameran Buku Bandung dari 2 s.d 8 Agustus 2005 ini) atau bursa buku. Di sini anak melihat begitu banyak judul buku. Seperti di toko, biarkan dia masuk ke setiap stan. Siap-siaplah menjawab pertanyaannya berkenaan dengan apa yang dilihatnya. Keuntungan lain, orang tua pun makin tahu bahwa ada begitu banyak buku (ilmu dan teknologi).
  • Keenam, selektif memilih acara TV atau VCD. Ada yang bermanfaat kalau jeli memilih. Ada cerdas tangkas, dunia hewan dan tumbuhan, kisah tour ke objek wisata dan situs bersejarah. Atau, tontonlah berita TV sambil menemani anak.
  • Ketujuh, selalu bawa buku. Ke mana pun pergi, naik mobil sendiri, kereta api,pesawat atau pun bis, bawalah buku, majalah, koran atau tabloid. Termasuk ketika antri atau makan di restoran, rumah makan atau kedai. Demikian. *

oleh Gede H. Cahyana
* dosen Universitas Kebangsaan, Bandung
* penulis buku “PDAM Bangkrut? Awas Perang Air”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s