Reseller

Sedikit Info, mudah2an bermanfaat. Belajar bisnis kecil2an dari tahap sebagai reseller mungkin baik & tidak terlalu beresiko.

 Suatu pagi beberapa tahun yang lalu, saya punya sebuah kegelisahan yang tidak biasa. Apa pasal? Sudah lebih dari sebulan cake tape keju saya laku keras dijual oleh teman lain dengan harga lebih dari dua kali lipat harga saya. Teman saya itu selalu memesan tanpa label. Pokoknya nggak boleh ada identitas Natural, malah kadang dia ganti kemasannya dengan kemasan model lain.

Menyusul seorang wartawan teman suami juga menawarkan jasa yang sama. Saya gelisah dan bertanya dalam hati, “Kok enak ya, saya yang capek, mereka yang untung?” begitulah pikiran  negatif yang ada dalam benak saya. Sampai akhirnya, saya minta “kuliah” pagi pada salah seorang manager di kantor yang memang ahli marketing. Saya ceritakan semua masalah ini, dan minta pendapatnya secara marketing management.

“Oke, kamu jual harga berapa?”
“Sepuluh ribu.”
“Dia jual berapa?”
“Dua puluh lima ribu.”
“Kamu untung apa tidak?”
“Saya untung.”
“Lalu apa urusan kamu sama harga dia? Bukankah kamu sudah untung sesuai hitungan kamu?”
 
Sejak saat itu saya belajar yang namanya fokus pada bisnis sendiri! Saya menjadi tenang dan tidak mau pusing berapapun orang lain akan menjual hasil produk kue saya. Fokus yang saya lakukan adalah menjual hasil karya saya. Bahwa ada orang lain yang berhasil menjual produk saya dengan harga lebih baik, itu adalah prestasi dia. Bukan urusan saya. Kalau dia sukses adalah hasil jerih payah dia.

Kalau saya mau mencapai harga jual seperti dia juga, ya saya harus bekerja keras mencari ceruk pasar khusus yang mau membeli dengan harga seperti itu. Bukan salah teman saya yang berhasil mendapatkan harga jual lebih baik.
 
Fokus pada bisnis sendiri ini sangat penting untuk kemajuan usaha kita. Selalu merasa beruntunglah kita bila orang lain mau menjual ulang produk kita. Bahwa kita ingin membangun merk dagang kita, itu salah satu pilihan. Akan tetapi bila ingin usaha anda berkembang dengan baik, janganlah pernah berfikir untuk bekerja sendiri.

Bila ingin jaringan pemasaran lebih luas, kita pasti butuh orang lain. Nah, bila ingin memaksa orang lain menggunakan merk dagang kita, beri keuntungan khusus padanya, ini salah satu cara. Tapi bila anda ingin bertahan mendapat uang utuh dengan harga jual yang anda patok, jangan mimpi mengatur orang lain tetap menggunakan merk dagang anda.
 
Dalam rangka mengembangkan usaha, saya memilih untuk mengikuti apa yang pelanggan saya mau. Bahkan bila mereka mengirim kemasan khusus dengan merk dagang mereka-pun, buat saya nggak masalah, saya layani juga. Saya akan bantu dengan senang hati. Paling penting saya tetap fokus bahwa  “jualan saya laku”. Merk dagang tidak penting, yang perlu saya jaga adalah kualitas produk supaya mereka yang me-reseller produk saya tidak mendapatkan kesulitan dikemudian hari.

Merk dagang digunakan untuk mendapatkan identitas, supaya laku dan pelanggan dapat dengan mudah menghubungi kita. Nah, kali ini sudah ada pelanggan yang menghubungi kita dengan mudah, jualan kitapun laku. Apalagi makna merk dagang bila pelanggan menghendaki lain.

Paradigma yang saya tanamkan dalam pikiran saya adalah, mereka sedang “membeli” produk saya. Saya buang pikiran bahwa mereka “sedang ambil untung dari saya”. Justru sebaliknya, saya ingin mereka “untung” berurusan dengan saya. Karena bila mereka untung, sejatinya sayapun ikut beruntung.
 
Kembali fokus pada bisnis sendiri. Ketika anda merasa belum mampu membayar orang lain menjadi tenaga marketing, maka biarkan teman-teman anda “menggaji” diri mereka sendiri. Ingat, saat ini banyak sekali pengusaha Event Organizer. Mereka mengelola banyak acara yang juga membutuhkan banyak mitra dagang seperti kita-kita.

Bila kita menutup diri dengan memaksa para EO tetap memasang label dagang kita, sementara mereka justru akan memasang label merk dagang mereka sendiri meski kita produsennya, akankah kalian menolak??? Bila jawabannya ya, saya yakin, bisnis Anda tidak akan berkembang baik seperti berkembangnya bunga flamboyan belakangan hari ini disepanjang sungai Manggarai.

Apalah artinya sebuah merk dagang, bila itu hanya berupa gambar tempel yang akan teronggok di laci meja tanpa menghasilkan apa-apa.
 
Lalu sayapun teringat, suatu kali saya berhasil menjual sapi dengan harga lebih baik darpada teman pemilik sapi itu. Dia komplain, dan bilang “Fat, gue aja nggak ambil untung sebanyak itu.”

Saya bilang, “Lalu masalahnya apa?” Bukankah dia ingin sapinya cepat laku? Ada apa rupanya kalau saya mendapatkan untung? Ini bisnis, bung! (fb)

  

 Sumber : milis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s