Berdiri di Depan Cermin

Mbah Narto
Ya, Allah, Tuhan Yang Maha Suci.

Ampunilah dosa-dosa kami yang tidak sepertinya ini. Kami barangkali tak begitu baik, tapi kami terus berusaha untuk lumayan. Banyak kesalahan yang kami buat dan kami suka menimpakan kesalahan itu kepada orang lain. Boleh jadi kami kelelahan. Kami ingin serba cebat. Serba “instant”. Kami ingin meniru-Mu dengan berteriak: “Kun ! Fayakun.” Hal yang mustahil tentu. Kami suka lupa bahwa kami cuma barang ciptaan-Mu. Kami serba terbatas. Kami ingin sekali menjadi yang maha kuasa. Kemauan akan perubahan begitu menggebu. Seperti angin yang mengantarkan bau. Ke seluruh pojok dan pelosok. Ya, Tuhan, selamatkanlah kami dari huru hara yang lebih besar lagi.

Ya, Allah, Tuhan Yang Maha Kepujian.

Ampunilah dosa-dosa kami yang tak terinci ini. Boleh jadi kami telah membaca tanda-tanda-Mu. Gempa bumi, tanah longsor, kerusuhan sosial, ledakan bom yang selalu siap menteror, banjir di musim kemarau saat ini, kemusyrikan bersimaharajalela, penindasan, fitnah dan pemerkosaan di semua bidang. Keburukan semua itu muncul karena kami tak lagi memiliki keberanian yang mati-matian mempertahankan kehormatan. Kami lebih suka menjual diri untuk seperak dua perak padahal dengan itu kami sedang memasukan bara api neraka ke dalam perut kami. Ya, Tuhan, karuniai kami kekuatan untuk menyelamatkan diri dari kemarahan-Mu.

Ya, Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ampunilah dosa-dosa kami yang sengaja maupun tak sengaja. Engkaulah yang paling penyayang di antara yang paling penyayang. Hanya kepada-Mu kami berlindung dari kesewenang-wenangan hukum. Selama ini hukum menjadi barang mainan, tapi tak semua boleh ikut bermain. Padahal alam semesta ini berputar rapi dan aman karena Engkau atur dengan hukum. Tidak mungkin hukum menjadi cermin yang jernih, selama kami tak pernah membersihkan cermin itu. Hukum yang runtuh menciptakan kerusuhan yang tak berkesudahan. Ya, Tuhan, selamatkanlah kami dari tiang-tiang yang sudah menunggu roboh.

Ya, Allah, Tuhan Yang Maha Mengerti.

Ampunilah dosa-dosa kami yang membuat kami semakin mengerti akan sepak-terjang kami sendiri. Karuniai kami kewaskitaan. Suatu suryakanta atau teropong yang mampu memantau gejala kecil yang paling jauh sekalipun. Supaya menjadi saksi sejarah yang dipercayai. Kami bekerja penuh rekayasa supaya kami selalu menang. Kami ini juara di tiap pertandingan. Kami membangun di segala bidang, tapi entah kenapa, ada saja yang masih tertinggal bahkan porak poranda berantakan. Barangkali karena jiwa kami sudah tidak utuh lagi, kami tidak cekatan lagi mendirikan beton-beton penyangga. Ya, Tuhan, selamatkanlah kami dari perbedaan dan pertentangan yang semakin tajam.

Ya, Allah, Tuhan Yang Maha Halus.

Ampunilah dosa-dosa kami yang semakin menggunung ini. Kabulkanlah doa kami. Kami memang bershalat, berpuasa,membayar zakat, dan melaksanakan seluruh perintah-Mu. Tapi kami juga pergi ke dukun. Memang ke dukun itu enak dan perlu. Dukun selalu menuruti kehendak kami. Dukun selalu memberikan nasib baik yang kami minta. Selalu “happy ending” yang disajikannya. Menyenangkan dan bikin kami nyandu. Kami juga mudah mengembangkan ilmu hitam untuk mencelakakan orang lain. Dalam kamus kami, orang lain yang tidak setuju dengan kami, adalah musuh kami. Ya, Tuhan, selamatkanlah kami dari pembalasan dendam.

Ya, Allah, Tuhan Yang Maha Pengatur.

Ampunilah dosa-dosa kami yang kami sadari namun tak mungkin kami hindari. Barangkali karena kemauan kami untuk menguasai seluruh kawasan. Kami memang pengendali. Jika tidak demikian, keamanan bakal terus terganggu. Denyut nadi kami terdengar ke seluruh kota dan desa. Mata kami mengawasi setiap gerak-gerik siapa pun. Yang mencurigakan, kami buru. Birokrasi kami bertele-tele, apa boleh buat, tapi kami menyajikan yang paling aman. Banyak orang tak suka. Ada yang merasa terjegal. Kami mendengar, melihat dan memutuskan. Ya, Tuhan, selamatkanlah kami dari ketidakmampuan melaksanakn keadilan dan pemerataan.

Ya, Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Ampunilah dosa-dosa kami yang semakin melibas orang baik-baik. Memang kami akui, kami semakin rajin menata dan menilai. kami memang pilih kasih. Jika kami mencintai seseorang, cinta kami selangit, sampai tak mau melihat cacat-celanya sedikit pun. Sedang jika kami membenci, kebencian kami selangit, sampai tak mau melihat kebaikannya sedikit pun. Sebenarnya kami rukun, tapi kami malas melakukan konsolidasi. Kami penyeru getol persatuan dan kesatuan, tapi kami ternyata yang paling tidak kompak. Kami memang sering melakukan pembenaran pribadi. Segala sepak-terjang kami rasanya selalu dilandasi kebenaran. Orang yang tidak setuju, pasti salah dalam melihat. Ya, Tuhan selamatkanlah kami dari bentrok di antara kami sendiri……..

Ridho Hasan Rosid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s