MEMILIH OBAT YANG TAK BIKIN SAKIT (KANTONG)

Written by Azril Kimin

Tak bisa disangkal obat adalah benda yang paling didambakan bila kita sakit. Berapapun harganya obat mesti diupayakan agar kondisi tubuh kembali nyaman dan sehat. Adakalanya masyarakat membeli langsung obat ke apotik/ toko obat berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya dalam mengatasi keluhan penyakit.

Adakalanya pengetahuan tersebut amat terbatas sehingga memerlukan pertolongan orang lain dalam mengatasi penyakit. Pergi ke dokter adalah pilihan yang tepat. Selain untuk memastikan jenis penyakit, mendapatkan resep obat yang cocok merupakan tujuan utama. Namun sayang, pergi berobat ke dokter atau ke rumah sakit sering menciutkan nyali banyak orang, kuatir biaya tinggi yang mesti dikeluarkan.

Banyak faktor mengapa biaya berobat di tanah air dirasakan mencekik leher bagi sebagian masyarakat. Dari biaya jasa dokter, biaya kamar rumah sakit, sampai biaya obat. Berdasarkan fakta, biaya obat ternyata paling tinggi proporsinya pada layanan kesehatan di Indonesia.

Menyita 50 sampai 70 persen dari total biaya pengobatan. Karena itu layaklah intervensi untuk menurunkan biaya obat akan berpengaruh signifikan bagi penurunan biaya pengobatan. Upaya yang mesti digalakkan sehubunhan hal ini adalah rasionalisasi pemilihan obat,penggunaan obat generik, dan konsistensi penataan harga obat generik yang diberi nama dagang.

Pembelian obat lewat resep hakekatnya merupakan proses jual beli. Bedanya si pembeli tidak bisa memilih/ memutuskankan langsung apa yang akan dibelinya, tetapi harus menggunakan jasa mediator terlebih dahulu.

Dalam hal ini, dokter sebagai mediator akan bekerja profesional untuk menentukan obat yang dipilih, setelah mempertimbangkan efektifitas obat, keamanan, jumlah, harga maupun kemudahan memperolehnya. Peran dokter di sini mulia karena disamping berupaya menyembuhkan pasien juga melaksanakan amanah memilihkan obat bermutu dengan harga wajar.

Manfaat sangat besar akan diperoleh masyarakat bila dokter menulis resep menggunakan kaidah-kaidah pengobatan rasional. Obat yang diberi hendaknya sesuai dengan indikasi penyakit yang ada, dan merupakan pilihan terbaik dari sederetan obat yang ada. Manfaat obat juga harus lebih besar dari pengorbanan yang diberikan pengguna obat (biaya yang mesti dibayar dan resiko efek samping).

Jika diperlukan beberapa jenis obat (polifarmasi) misalnya, obat-obat tersebut sudah dipertimbangkan betul manfaat dan resikonya dalam mempercepat kesembuhan dan memperkecil efek samping. Dan yang tak kalah pentingnya obat harus mudah diperoleh di apotik atau di rumah sakit.

Karena masih sering terjadi, derita si pasien masih ditambah hilir mudik ke luar masuk apotik di seantero kota hanya untuk mendapatkan obat merek tertentu yang jarang dimiliki apotik padahal obat dengan kandungan sama namun hanya berbeda pabrik pembuat banyak tersedia di pasaran.

Untuk mendapatkan obat yang tepat, di dunia medis dikenal istilah drug of choice atau obat terpilih. Terpilih artinya paling baik dari kumpulan obat sejenis yang beredar. Walau dikenal banyak jenis antibiotik misalnya, hanya 1 jenis saja yang terbaik untuk membunuh bakteri penyebab infeksi tertentu. Jenis antibiotika lain bisa saja mampu membunuh kuman tersebut, namun masih kalah efektif dari obat pertama.

Malangnya yang diterima pasien tidak semua obat pilihan terbaik. Selain bukan pilihan terbaik dari sisi khasiat, juga tidak terbaik dari pilihan harga. Banyak biaya terbuang sia-sia karena obat yang diresepkan merupakan produk mahal padahal ada alternatif obat yang lebih murah harganya.

Selain itu obat yang diperoleh sering berlebih jenis dan jumlahnya yg berarti makin membengkaknya biaya yang mesti dibayar pasien. Banyak cerita dari pasien yang menyisakan lebih separuh obat-obat yang telah dibelinya dengan harga mahal, setelah penyakitnya disembuhkan. Dan bukan rahasia lagi kalau di banyak rumah tangga terdapat banyak obat sisa yang tak dimanfaatkan lagi.

Melirik Obat Generik

Berdasarkan hak edarnya, dunia mengenal istilah obat paten dan obat generik. Suatu obat disebut obat paten bila hanya diproduksi oleh pabrik penemunya atau pabrik yang diberi izin oleh penemunya (innovator). Pabrik penemu diberi hak paten umumnya 15 sampai 20 tahun untuk memonopoli produksi.

Bila waktu tersebut dilampaui yang berarti hak paten habis, pabrik apapun di dunia ini boleh memproduksi obat tersebut. Obat yang diproduksi setelah masa paten habis disebut obat generik. Bila obat tersebut dijual dengan nama kimia zat berkhasiatnya, kita menyebutnya sebagai obat generik murni (pure generik), yang di tanah air disebut obat generik berlogo. Kalau obat generik tersebut dijual dengan merek tertentu/ merek dagang, obat tersebut disebut sebagai Obat Generik Bermerek (Brand Generik).

Pengetahuan masyarakat yang terbatas menimbulkan anggapan yang keliru di masyarakat mengenai obat paten. Obat generik yang dijual sebagai obat paten (brand name generik) sering dianggap sebagai obat paten karena itu dianggap wajar kalau harganya mahal.

Walau sama-sama berbahan baku generik, obat generik dengan nama dagang tersebut dijual berlipat-lipat hingga 10 kali harga obat generik. Malangnya di Indonesia obat yang lebih mahal ini jauh lebih laku di pasaran.

Untuk mengatasi penyimpangan ini sebenarnya Menteri Kesehatan RI pada 2006 telah mengeluarkan ketentuan bahwa harga obat generik bermerek yang sering disangka obat paten itu harganya tidak boleh 3 kali lebih tinggi dari harga obat generik.

Namun pada prakteknya, peraturan tersebut belum ditaati sepenuhnya oleh pabrik farmasi di tanah air. Karena tidak ada sanksinya masih banyak obat generik dengan nama dagang yang lebih tinggi harganya dari ketentuan Menkes RI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s