Gaya Hidup Vegetarian

Penganut pola makan vegetarian makin bertambah. Banyak juga yang masih enggan menyebut dirinya vegetarian, walau mereka tidak makan daging. Mengapa mereka memilih gaya hidup sayang hewan ini?

Iskandar merasa hidupnya tidak menyenangkan. Darah tinggi, naiknya kolesterol melengkapi ketidaknyamanan hidup yang dijalaninya. Setiap pukul lima sore, bawaannya marah-marah melulu. Akibatnya, orang-orang di sekitarnya tidak pernah merasa nyaman berada di dekatnya.

Belakangan pria berusia 40 tahun ini sadar, semua itu terjadi karena ia suka makaan daging, jeroan, dan merokok. Nah, sejak meninggalkan daging delapan tahun lalu keadaan tidak menyenangkan itu bisa teratasi dengan baik. Jadilah kemudian Iskandar penganut vegetarian.

“Saya vegetarian murni. Selain menghindari daging, juga produk dari susu dan telur. Kuahnya pun tidak saya makan,” kata pria yang saat ini berprofesi sebagai penyembuh ini.

Herannya, kebiasaan merokok pun menghilang dengan sendirinya, seiring niatnya menghindari makanan dari hewan bernyawa ini. Bahkan, sekarang kalau aroma daging terjebak di ujung indra penciumannya, perutnya langsung mual. Apalagi kalau mengonsumsinya. “Tubuh serasa punya mekanisme penolakan,” ujarnya.

Sampai saat ini, Iskandar merasa semakin baik kondisi fisik serta mentalnya. Ia bukan pemarah lagi. Yang penting juga, kalau masih makan daging, mungkin stroke bakal menyerangnya saat ini. Ia merasa bahwa langkah yang dijalaninya sangat tepat, yaitu bergaya hidup vegetarian.

Biar Sehat
Pola vegetarian belakangan ini makin digemari banyak orang, meski ada beberapa yang tidak mau disebut vegetarian. “Nggak doyan daging, saya lebih suka sayur,” tutur Karnia, karyawan perusahaan sepatu ini.

“Saya lebih suka makanan berbahan nabati dan sebisa mungkin menghindari yang hewani. Kecuali terpaksa, ya saya makan. Apakah saya vegetarian? Terserah orang menyebutnya apa, karena bagi saya ini soal pilihan gaya hidup saja supaya lebih sehat, dan tidak ada kaitannya dengan agama,” ujar Wati, seorang pasien perguruan tinggi swasta.

Pada beberapa acara pesta pribadi maupun pesta perusahaan sudah mulai sering pula dijumpai tuan rumah yang menyediakan dua jenis menu, yaitu menu umum dan menu vegetarian. Alasannya jelas, yaitu banyak orang mulai menganut pola hidup menghindari daging-dagingan dengan alasan beragam.

Jika tidak memasan dari restoran khusus vegetarian, tuan rumah biasanya menyediakan menu tradisional yang tidak mengandung daging maupun telur dan susu. Seperti urap, pecel, lalapan, asinan, dan gado-gado plus hidangan dari tahu dan tempe.

Karena makin banyak penganutnya, restoran maupun kafe yang menyediakan menu ala vegetarian pun menjamur. Di Jakarta saja ada 12 lebih restoran atau kafe yang mengkhususkan diri pada menu vegetarian.

Sebut saja Lovepower yang menyediakan fastfood vegetarian pertama di Indonesia. Bahkan di bilangan Sunter, Jakarta Utara ada rumah sakit khusus vegetarian. Di luar kota Jakarta, juga bisa ditemui puluhan rumah makan vegetarian.

Pelaku vegetarian memang belum bisa diketahui jumlah pastinya. Namun, diperkirakan mencapai puluhan ribu orang di seluruh Indonesia.

Apa sebenarnya yag mendasari sikap mereka sehingga yakin bahwa gaya hidup ini layak dianut, bahkan mereka menganjurkan sebaiknya semoa orang di dunia ini menjalaninya?

Di sisi lain, kedokteran modern, khususnya bidang gizi dengan slogan gizi seimbang memberikan beberapa pilihan bahan makanan yang berasal dari makhluk bernyawa seperti ikan atau daging binatang ternak.

Pengalaman Iskandar dalam hal ini sedikit mewakili salah satu alasan mengapa gaya hidup ini dijalani. Keinginan menjadi sehat, menjadi motif utama banyak orang memilih pola makan vegetarian.

Alasan ini memang masuk akal karena pada dasarnya menurut Dr. Cindiawaty Pudjiadi, MARS, MS, banyak orang meninggal karena penyakit akibat berlebihnya lemak tubuh, seperti penyakit jantung koroner dan stroke.

Pada penelitian Adventist Mortality (1992) yang menghubungkan antara konsumsi daging dengan penyakit jantung, didapati risiko penyakit jantung koroner meningkat dua kali lipat pada pria yang makan daging sampai tiga kali seminggu dibandingkan pria yang tidak pernah mengonsumsi daging. Sementara pada wanita tidak didapatkan peningkatan risiko.

Tentu saja alasan ini bisa dibantah karena langkah mengurangi asupan makanan berlemak tinggi mungkin sudah cukup. Artinya, tidak sama sekali meninggalkan makanan berlemak hewani.

Aliran Energi Lancar
Selain biar sehat secara fisik, David, sebut saja begitu, memilih pola vegetarian untuk mengontrol emosi. “Sebelum menjalani gaya hidup ini, saya mudah sekali memukul orang. Apalagi saya jago tae kwon do,” sebut pria yang sudah 15 tahun menjadi vegan (pelaku vegetarian murni) ini.

Kesaksian seperti ini bukanlah isapan jempol meski belum ada penelitian ilmiah yang menjelaskan hubungan pola vegetarian dengan emosi. Menurut pemilik resto Lovepower yang juga aktivitas Komunitas Vegetarian Murni Indonesia (KVMI), Ir. Bambang Sumantri, ketika kita makan daging atau makanan dari makhluk bernyawa, tubuh juga menyerap energi ketakutan, stres, bahkan energi kebencian dari sang hewan.

“Bawang putih saja kita hindari karena sifatnya merangsang nafsu, ego, dan emosi negatif secara berlebihan sehingga sulit dikendalikan. Bahkan juga merusak cakra, apalagi hewan yang membawa energi benci,” ujar pria yang menjadi vegan sejak usia 17 tahun ini.

Praktisi prana yang juga master Reiki, Sumarsono, menyebutkan bahwa energi seseorang akan semakin lancar dan besar ketika menjalani pola hidup vegetarian. Pengalaman ini dibenarkan David. Ia mengakui bahwa selain terkontrolnya emosi, penyaluran energi dirinya lebih mudah dan tidak tersendat. Tentu hal ini sangat berguna untuk menolong orang lain.

Menurut Bambang, saat tubuh memancarkan energi negatif yang didapat dari hewan-hewan yang kita makan, kita pun menarik energi sejenis dalam diri kita. Ke mana pun dalam diri kita pergi, energi ini akan terbawa dan memengaruhi lingkungan.

“Padahal untuk bisa menyalurkan energi, butuh sikap dasar, yakni pasrah pada Tuhan dan cinta yang tulus pada siapapun. Untuk itu, energi positif pada diri kita perlu ditingkatkan,” papar Sumarsono.

Salah satu jalan menghindari energi negatif adalah menjadi vegetarian. Karenanya, gaya hidup ini dijalankan oleh hampir setiap penyembuh alternatif, baik praktisi reiki, prana, yoga, maupun yang lainnya.

Sakit Disembelih
Yang paling manusiawi dari kesemua alasan yang sudah disebutkan adalah belas kasih. Dengar saja uraian dosen Ilmu Budaya di sebuah universitas di Jakarta, Drs. Sunarto, yang sering disapa Mas Narto.

Pria yang juga Sekjen Forum Paranormal dan Penyembuh Alternatif ini mengatakan, “Saya menjadi vegetarian bukan hanya ingin sehat, melainkan karena merasa kasihan. Dia berteriak ketika disembelih, dibawa-bawa dalam kurungan, meski kita tidak pernah mau tahu.”

Anda juga tidak mau disakiti kan? Karena itu jangan menyakiti hewan, apalagi membunuhnya.

Sumber: Senior

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s