Vitamin: Antara Perlu Dan Tidak Perlu

Written by Azril Kimin

Vitamin adalah obat yang sering dituding sering ikut andil dalam peresepan berlebihan. Karena itu banyak perusahaan asuransi di Indonesia menolak klaim vitamin dari pelanggannya. Di samping itu banyak institusi yang tidak mau mengganti biaya berobat karyawannya untuk resep yang mengandung Vitamin karena dianggap tidak perlu. Di komunitas tersebut vitamin sering dikesankan sebagai obat yang tidak atau kurang perlu.

Hal ini bertolak belakang dengan trend masyarakat akhir-akhir ini yang makin banyak berbelanja Vitamin lewat toko obat, apotek dan sarana multi level marketing.

Vitamin adalah zat organik penting yang diperlukan tubuh dalam jumlah kecil untuk berbagai reaksi metabolisme dan mempertahankan kesehatan tubuh. Vitamin terutama disuplai dari makanan. Sumber vitamin yang paling baik adalah makanan sehingga orang sehat yang makanannya bermutu baik mesti sudah mendapat jumlah vitamin yang cukup. Manusia tidak dapat mensintesa vitamin dalam tubuhnya kecuali vitamin D pada kulit, nicotinamide dan tryptophan.

Makanan adalah sumber terbaik vitamin dan mineral. Manusia sehat yang mengkonsumsi makanan yang cukup dan berimbang tidak akan memperoleh keuntungan dari vitamin tambahan. Namun untuk individu yang melakukan diet rendah kalori (kurang dari 1200 kalori perhari) seringkali tidak memperoleh vitamin yang cukup sehingga membutuhkan tambahan vitamin dari luar.

Kekurangan suatu jenis vitamin dapat mengarah ke sindrom defisiensi spesifik. Sindrom ini disebut defisiensi primer bila berasal dari diet yang tidak cukup dan disebut defisiensi sekunder apabila penyebabnya adalah kelainan absorpsi (kelainan usus atau diare kronik) atau meningkatnya kebutuhan metabolisme (masa pertumbuhan, kehamilan, menyusui, hyperthyroidsm dan demam).

Defisiensi vitamin umumnya menghasilkan gambaran klinis yang beragam dan kompleks. Defisiensi vitamin B1 misalnya, terbukti dapat menyebabkan penyakit beri-beri. Defisiensi ini banyak terjadi di negara belahan timur karena konsumsi beras sebagai makanan utama dari sutau penduduk sudah terkelupas kulit arinya.

Di negara-negara barat, vitamin B1 paling banyak ditemukan pada pecandu alkohol. Suatu bentuk dari defisiensi akut Vitamin B1 juga ditemukan pada anak-anak. Gejala utama dari defisiensi vitamin B1 berhubungan dengan sistem syaraf (dry beri-beri) dan terhadap sistem kardiovaskuler (wet beri-beri). Sebagian besar dari tanda dan gejala merupakan gambaran dari peripheral neuritis.

Dewasa ini, ada anggapan yang hampir menjadi mitos, bahwa kekurangan vitamin merupakan penyebab banyak penyakit kronis dan mudah terkena penyakit infeksi. Pandangan inilah yang mendorong masyarakat mengkonsumsi banyak preparat vitamin, yang pada sebagian besar pemakai mungkin berfungsi tidak lebih sebagai plasebo belaka. Untunglah sebagian besar vitamin tidak bersifat toksis, kecuali pemakaian jangka panjang vitamin A dan D.

Pada dasarnya vitamin dapat dibagi dalam dua kelompok:

  • Vitamin yang larut dalam air: seperti golongan vitamin B dan C.
  • Vitamin yang larut dalam lemak: vitamin A, D, E dan vitamin K.

Vitamin yang larut dalam air disimpan dalam tubuh hanya dalam jumlah terbatas dan sisanya dibuang, sehingga untuk mempertahankan saturasi jaringan vitamin larut air perlu sering dikonsumsi. Meskipun demikian pemberian vitamin larut dalam air dalam jumlah berlebihan, selain merupakan pemborosan juga mungkin akan menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Sebaliknya vitamin yang larut dalam lemak dapat disimpan tubuh dalam jumlah banyak, sehingga kemungkinan terjadinya toksisitas jauh lebih besar daripada vitamin larut air.

Kebutuhan vitamin untuk manusia sehat pada umumnya sudah dipenuhi terutama dari berbagai makanan yang dikonsumsinya sehari-hari. Data-data dari berbagai penelitian gizi menunjukkan berbagai variasi diet yang dikonsumsi manuasia di negara maju sudah mencukupi kebutuhan vitamin. Meskipun demikian, tetap saja tablet vitamin dan tonikum dipakai secara luas yang disertai perdebatan ilimiah mengenai manfaatnya bagi kesehatan dan olahraga.

Terapi dengan megavitamin kini juga kian populer pada masyarakat negara maju. Namun penggunaan vitamin yang jauh lebih tinggi dari jumlah harian yang dibutuhkan dapat menimbulkan efek samping yang serius. Misalnya penggunaan vitamin A lewat dosis dapat menimbulkan kenaikan tekanan intra-kranial, yang dapat mempengaruhi fungsi liver dan bersifat teratogen.

Indikasi pemakaian vitamin diarahkan untuk defisiensi vitamin. Di negara maju, seperti di Eropa keadaan defisiensi vitamin akibat kekurangan gizi sudah jarang terjadi, kecuali defisiensi akibat malabsorpsi.

Produk-produk vitamin digunakan untuk tujuan terapi dan profilaksis. Dosis terapi yang besar biasanya dipakai hanya pada pasien yang tidak dapat menggunakan zat makanan sebagaimana mestinya, yang sering dikaitkan dengan penyakit tertentu atau individu dengan kelainan metabolisme sejak lahir yang memberikan respons terhadap dosis-dosis tertentu vitamin.

Sediaan vitamin untuk pengobatan diperlukan untuk terapi penyakit defisiensi vitamin dan terapi suportif pada keadaan-keadaan patologik di mana kebutuhan makanan sangat meningkat misalnya pada alkoholisme dan kaheksia pasca operasi.

Pemakaian vitamin untuk maksud profilaksis misalnya pemberian vitamin K pada bayi baru lahir karena vitamin K defisiensi banyak dilaporkan terjadi pada minggu pertama kelahiran, menjelang fungsi flora usus menjadi normal.

Efek Samping Vitamin

Penggunaan vitamin secara berlebihan, terutama untuk vitamin yang tidak larut dalam air akan menimbulkan gejala-gejala hipervitaminosis, seperti yang ditunjukkan beberapa vitamin di bawah ini:

1. Vitamin A

Penggunaan vitamin A 25.000 hingga 50.000 UI sehari pada anak-anak dapat menimbulkan nyeri tulang, lesi kulit, rambut rontok, hepatosplenomegali, papiludem, perdarahan dan kelemahan. Vitamin A memiliki efek kumulatif yang tinggi pada hati dan lemak. Kebanyakan hipervitaminosis A terjadi akibat terlampau bersemangatnya para ibu memberikan minyak ikan kepada anak-anaknya setiap hari karena percaya akan kemujarabannya.

2. Vitamin D

Hipervitaminosis D dimanifestasikan dalam bentuk hiperkalsemia, kalsifikasi ektopik pada jaringan lunak, kelemahan, mengantuk, mual, nyeri abdomen, haus, konstipasi, kehilangan berat hingga kerusakan ginjal. Pada orang dewasa amat berbahaya mengkonsumsi vitamin D dengan dosis perhari di atas 10.000 UI lebih dari dua belas minggu. Hipervitaminosis D dapat diatasi dengan penghentian pemberian vitamin D, diet rendah kalsium, minum banyak dan pemakaian glukokortikoid untuk mengurangi absorpsi kalsium.

3. Vitamin E

Pemakaian vitamin E dengan dosis 400-800 unit perhari dapat menimbulkan kaburnya penglihatan, pembesaran payudara pada wanita dan laki-laki, diare, pusing, gejala-gejala seperti flu, sakit kepala, mual dan gejala kelemahan yang tidak lazim.

Pemakaian vitamin E dengan dosis lebih 800 unit perhari pada periode lama dapat meningkatkan risiko perdarahan pada pasien yang mengalami vitamin K defisiensi, mengganggu metabolisme hormon, imunitas dan fungsi seksual.

4. Vitamin C

Pemakaian vitamin C dosis tinggi dapat menimbulkan gangguan tidur, sakit kepala dan gangguan pencernaan. Dosis di atas 4 gram sehari dalam waktu panjang, dapat meningkatkan kadar oksalat di urin yang berperan dalam pembentukan batu oksalat. Diare juga sering terjadi dengan dosis di atas satu gram sehari.

Pemakaian dosis tinggi vitamin C dapat menimbulkan batu ginjal pada individu-individu tertentu. Pada individu dengan glucose 6-P defisiensi, krisis hemolitik dapat segera terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s