Bisakah Psikotes Diakali ?

oleh Widyarto Adi Ps
(Sumber : Kumpulan Artikel Psikologi – Intisari)

Agar diterima di suatu perusahaan, ada yang lalu mencoba menyiasati psikotes dengan berbagai cara. Misalnya, dengan mempelajari buku “petunjuk praktis” menghadapi tes tahap awal menghadapi seleksi itu. Mujarabkah kiat itu? Berikut pengungkapannya lebih jauh.

“Bagaimana caranya supaya lulus psikotes?” tanya Aji. Pertanyaannya menggelikan. Dia meminta kiat agar lulus psikotes supaya diterima dalam tahapan seleksi penerimaan pegawai baru suatu perusahaan. Dalam pembicaraan lebih jauh, Aji mengeluarkan buku cetakan tipis. Isinya berbagai “rahasia” yang dapat menaklukkan tahap awal rangkaian seleksi. Jurus rahasia itu sepertinya memberi jaminan melewati tahapan tersebut.

Buku seharga beberapa ribu rupiah itu kelihatan berfungsi seperti buku “bimbingan tes” yang banyak diadakan untuk tes UMPTN. Isinya seperti ingin mengatakan, “Bacalah buku ini dan Anda akan berkesempatan mendapat nilai lebih banyak dalam mengerjakan soal-soal psikologi.”

Benarkah demikian? Simaklah pengalaman Aji. Rupanya dia telah menghafal isi buku itu, lalu diterima bekerja setelah ikut 5 kali psikotes di 5 perusahaan berbeda jaringan toserba, perusahaan computer,  kontraktor bangunan, pengembang kawasan (developer), dan agribisnis. Akhirnya lulusan fakultas pertanian universitas swasta di Jawa Tengah itu diterima disebuah perkebunan di daerah Sumatra Selatan.

Bukan satu aspek
——————
Dalam pelaksanaan evaluasi psikologis (pengganti istilah psikotes/psychotes, yang dirasakan janggal oleh kaum psikolog) diterapkan berbagai metode atau alat standar untuk mendapatkan gambaran mengenai aspek-aspek psikologis seseorang. Gambaran aspek tersebut didapatkan sesuai dengan maksud diadakannya evaluasi. Jadi ada gambaran mengenai aspek kecerdasan, kepribadian, kemampuan berkomunikasi, dan semacamnya.

Dalam pelaksanaan evaluasi psikologis seperti kasus Aji hasilnya dipakai untuk menentukan dapat atau tidaknya seseorang diterima bekerja. Minimal, evaluasi psikologis akan memberikan gambaran mengenai aspek kecerdasan, misalnya, didapatkan gambaran mengenai taraf atau tingkat kecerdasan umum, daya analisis sintetis, daya abstraksi dan kreativitas.

Dalam aspek kepribadian, tergambar pula kepercayaan diri, penyesuaian diri, pengungkapan diri, kemampuan sosial, kemampuan berkomunikasi, dsb. Dalam aspek sikap kerja, minimal ada gambaran aspek kecepatan kerja, ketelitian, ketekunan dan daya tahan terhadap stress.

Dalam penerapan evaluasi psikologis yang lebih mendalam, dari aspek kepribadian bisa didapatkan gambaran mengenai kecenderungan menonjolkan diri, keinginan bergaul atau berteman, dan pemahaman terhadap orang lain. Dari aspek sikap kerja, bisa diperoleh gambaran tentang hasrat berprestasi, keinginan membantu orang lain, kebutuhan terhadap keteraturan atau bimbingan dari atasan maupun orang lain.

Juga hasrat terhadap perubahan, kecenderungan mendominasi, kecenderungan agresivitas, dll. Itulah sebabnya, walaupun telah hafal di luar kepala isi buku jimatnya, Aji baru lulus pada tes kelima. Sebab buku itu sebenarnya hanya mengungkap satu aspek: aspek kecerdasan.
Itu pun tidak secara akurat. Lalu kalau lolos, Aji belum tentu berhasil melewati tahapan seleksinya.

Harus “bebas budaya”
———————–
Metode, alat, atau perlengkapan untuk mengungkapkan aspek psikologis, selalu standar. Artinya, tidak dibuat dan disusun sembarangan karena hasilnya harus reliable, dapat dipercaya. Jadi, apa pun alat yang dipakai, hasilnya akan selalu ajek, sama. Misalnya, bila seseorang dites dengan suatu alat tertentu, hasilnya menunjukkan tingkat kecerdasan oknum itu berada pada taraf rata-rata tinggi (high average).

Bila dia dites lagi dengan alat berbeda, hasilnya tetap harus tingi juga. Hasil tersebut akan tetap selalu reliable, karena sebelum suatu tes go public (dipergunakan secara luas), harus mengalami rangakaian uji coba yang panjang dan akurat. Suatu tes asal luar Indonesia, harus mengalami penyesuaian dan “penyelarasan” dengan sikon sosial-budaya Indonesia.

Tes itu akan diuji di berbagai daerah, terhadap  berbagai tingkatan sosial-pendidikan dulu, sebelum secara resmi dipakai di Indonesia. Terutama kalau soal-soal (items) tes tersebut memakai banyak “kata” (words) yang mengungkap pengetahuan yang banyak kaitannya dengan aspek sosial-budaya suatu negara (Misalnya, judul buku, nama pahlawan, istilah, pepatah). Sebab, ilmu psikologi mengenal istilah tes “bebas budaya” (cultural free), yang tidak mengandung kata-kata khusus, juga pengerjaan jawaban yang hanya berdasarkan logika yang secara universal pasti sama.

Dalam tes bebas budaya ini pun, psikolog tetap harus berhati-hati. Mengingat tolak ukur untuk membaca hasil tes di suatu Negara asal tes yang sangat maju, tidak begitu saja dipakai untuk membaca hasil dari Negara yang kondisi social-ekonomi-budayanya, belum semaju Negara pertama.

Kejadian inilah yang menggelikan, saat Aji membuka buku panduan psikotes tersebut, rupanya masyarakat umum menganggap begitu sederhana pengertian evaluasi psikologis. Aji dan lainya terlalu percaya kepada buku jimatnya. Mereka yakin, ajaran dalam buku semacam itu adalah pegangan untuk menyiasati evaluasi psikologis.

Padahal evaluasi psikologis mencakup lima hal: kecerdasan, kemampuan khusus (keuangan, teknik, komunikasi, menjual, dsb.), bakat, minat, dan sikap.
Hasil tes bakat dan minat, dapat berupa panduan mengenai minat seseorang. Misalnya, minat kepada hal yang berkaitan dengan angka, kegiatan luar dan dalam ruang, berkomunikasi, perhatian terhadap hal yang berkaitan dengan ilmu pasti atau seni-budaya.

Sedangkan hasil tes sikap berupa ukuran dari sikap seseorang terhadap  suatu permasalahan. Tes kepribadian dapat berupa rangkaian pertanyaan, tugas menggambar atau tes grafis yang berlandasan sama dengan grafologis. Tes ini menilai coretan tangan hasil penerusan “getaran” dari dalam jiwa seseorang. Tak heran Prof. J.Nimpuno, grafolog terkenal dari Fakultas Psikologi

Universitas Padjadjaran, Bandung, dapat mendeteksi penyakit akut seseorang, melalui tulisan tangan orang itu. Mirip seperti professor itu, seorang ahli tes grafis dapat dengan akurat mengungkapkan kepribadian seseorang, begitu melihat gambar yang dibuatnya. Gambar itu harus tentang benda-benda tertentu. Seperti items alat evaluasi psikologis lainnya, benda yang harus digambar itu juga harus melalui uji coba bertahun-tahun.

Pemanfaatan evaluasi psikologis
———————————–
Hasil evaluasi psikologis dapat mengungkapkan penyimpangan yang dialami seseorang secara klinis. Misalnya, mereka yang mengalami permasalahan psikologis (kesehatan mentalnya kurang baik atau terganggu). Dalam konsultasi psikologis, orang ini datang ke psikolog.

Lazimnya, psikolog memberikan tes grafis untuk memahami kondisi psikologis orang itu pada suatu saat. Biasanya hasil tes grafis ini digunakan untuk menemukan hal yang tak terungkap selama wawancara. Atau tes itu untuk mendukung hasil wawancara sebagai penemuan jalan keluarnya.

Hasil evaluasi psikologis ini biasanya dipergunakan di bidang klinis, pendidikan, maupun industri. Di bidang klinis, hasilnya untuk menentukan arah, tingkat atau stadium, jenis gangguan atau penyimpangan kepribadian secara klinis. Alat pengungkapnya biasanya tes grafis atau tes sikap: subyek atau testee (orang yang diperiksa atau dites) diminta mengungkapkan kesan atau persepsinya tentang suatu situasi, atau terhadap suatu gambar dan rangkaian gambar. Kesan orang normal pasti berlainan dengan orang yang mengalami gangguan psikologis.

Di bidang pendidikan, umum sudah mengenal tes IQ (intelligent quotient – angka penunjuk kecerdasan). Hasil IQ dapat dibaca dengan Skala Wechsler atau Skala Stanford-Binet. Mereka itulah pakar yang lakukan berbagai penelitian, lalu berhasil menetapkan skala angka yang menunjukkan tingkat kecerdasan. Kedua skala itu berbeda sedikit sekali.

Menurut Skala Binet, seseorang yang bertingkat kecerdasan normal mempunyai IQ antara 90 dan 109. IQ 80-89 berarti tingkat kecerdasannya rendah. Kalau 70 – 79, artinya berada pada skala “ambang batas” (borderline defective). Kalau dibawah ini artinya seseorang mengalami defektif secara mental.

Secara lebih rinci dapat disebutkan bahwa IQ 68 – 83 adalah borderline mental retardation, 52 – 67 mild mental retardation, 36 – 51 moderate mental retardation, dan IQ di bawah angka 19 adalah profound mental retardation. (Mental retardation = cacat mental). Sedangkan IQ di atas rata-rata adalah: 110 – 119 termasuk mempunyai kecerdasan rata-rata tinggi (high average), 120 – 139 superior, 140 – 169 sangat superior, dan di atas 170 termasuk kelompok jenius.

Dalam evaluasi psikologis di bidang industri, taraf kecerdasan umumnya tidak ditunjukkan dengan angka IQ atau skala kuantitatif, tetapi memakai skala kualitatif: kurang, rendah, rata-rata rendah, rata-rata, rata-rata tinggi, tinggi, dan tinggi sekali. Tes bakat atau minat, juga banyak digunakan dalam bidang pendidikan. Mereka yang ragu-ragu memilih jurusan, dapat memanfaatkan jasa psikolog untuk mengetahui kecenderungan yang mereka miliki. Dengan demikian ia dapat memutuskan bidang yang sesuai minat atau bakatnya.

Hafal pun percuma
———————
Di bidang industri, evaluasi psikologis tidak hanya dipakai untuk melengkapi tahapan seleksi, seperti pengalaman Aji. Tapi juga untuk keperluan inventarisasi kemampuan karyawan (yang sudah bekerja di perusahaan). Di sini evaluasi psikologis dilaksanakan terhadap beberapa karyawan.

Dari hasilnya dapat diidentifikasikan karyawan mana yang berpotensi untuk dikembangkan, siapa yang kurang, serta siapa saja yang sudah mentok. Dari hasil itu, pengembangan SDM (sumber daya manusia) di perusahaan di harapkan tidak salah pilih, atau terpilih kalau keliru arah pengembangannya. Tentu saja alat evaluasi itu mencakup suasana kerja juga. Hasil ini dapat mengungkap potensi seseorang – baik yang sudah kelihatan maupun belum.

Evaluasi psikologis juga dipakai dalam seleksi. Namun hasilnya harus disesuaikan dengan jabatan yang akan diisi. Istilah teknisnya, disesuaikan dengan job requirement jabatan tersebut. Kalaulah perusahaan mencari orang-orang bertingkat kecerdasan rata-rata atau lebih, orang ekstrovert dan menyukai kegiatan luar ruangan seperti Aji pasti tidak akan cocok untuk pekerjaan pembukuan atau audit. Atau jabatan wiraniaga, pasti tidak cocok bagi orang tapi sangat introvert.

Kecenderungan dasawarsa terakhir ini, untuk posisi wijawiyata manajemen (management trainees), perusahaan tidak lagi begitu memperhatikan disiplin ilmu pelamar yang sarjana. Karena S1 dianggap tingkat kemampuan berpikirnya dapat diisi dengan tuntutan yang sesuai untuk jabatan manajerial.

Maka jawaban tepat terhadap pertanyaan Aji, “Bagaimana caranya supaya lulus psikotes?”,
adalah: Kerjakan sebaik-baiknya dan dengan semampumu! Kalaupun ada soal-soal evaluasi psikologis yang sudah dihafal karena sudah berkali-kali diikuti hingga hasilnya “dapat direkayasa”, tetap saja ada jenis evaluasi yang dapat mengungkapkan keadaan sebenarnya.

Siapa mau menghafalkan tes grafis? Siapa yang mau mengubah bentuk Tulisan tangannya, hanya untuk kesempatan evaluasi psikologis sesaat? Selain itu masih ada tahapan wawancara – yang kalau dilakukan dengan mendalam, teliti, dan akurat, pasti akan menggali lebih meyakinkan lagi.

Itulah sebabnya kalau proses seleksinya baik dan akurat, artinya tidak memakai uang pelicin, koneksi, atau katebelece, ada orang-orang yang pasti tidak akan diterima untuk jenis pekerjaan tertentu, tetapi sesuai untuk jenis pekerjaan yang lain. Hal ini sering disalah artikan. Banyak yang mengira seseorang diterima bekerja, setelah mengikuti evaluasi psikologis berkali-kali.

Padahal ia murni diterima, karena tuntutan pekerjaannya sesuai dengan aspek yang dipunyainya. Kegagalan jenis lain, mungkin seseorang berhasil mengikuti tahapan evaluasi psikologis, tetapi gugur ditahapan seleksi berikutnya. Berarti ia gagal membuat diri sesuai dengan tahapan yang diikutinya. Atau malah, ia kalah bersaing dengan pelamar lain yang lebih baik kualitasnya.

Dalam hal terakhir, apa boleh buat. Karena bebas memilih, perusahaan lebih suka mendapat karyawan yang diperkirakan akan memberi kontribusi lebih banyak dibandingkan calon karyawan yang konstribusinya rata-rata saja. Anda sendiri juga akan memilih orang yang berdaya guna lebih atau berdaya guna kurang atau rata-rata, bukan?

Ada hal yang perlu diperhatikan. Didunia seleksi dikenal dengan istilah 10 : 2 : 1. artinya: untuk 2 jabatan (posisi) lowong yang sama, akan ada 2  dari 10 pelamar yang diterima. Tapi, perusahaan hanya akan menemukan 1 orang yang sesuai betul dengan jabatan lowong tersebut. Jadi, kalaupun posisi lowong itu terisi, satu posisi lain akan diisi orang yang sebetulnya kurang sesuai (peringkat No.2). Tetapi saat ini kualitas pelamar umumnya sudah dianggap lebih baik, perbandingannya berubah menjadi 15 : 3 : 2.

—————-

2 responses to “Bisakah Psikotes Diakali ?

  1. kemarin ada teman saya yg matematikanya ancur banget n gag begitu pinter ternyata nilai tes TPAnya lbh tinggi dr yg pintar matematika n analisisnya bagus banget. Dan contoh lain jg temen saya yang super jenius (pemenang olimpiade fisika dunia) ternyata IQnya lebih rendah hasilnya dari temen yg biasa2 aja dikelas. Dan kemarin wkt saya ikut tes TPA (dilangsungkan hanya dlm waktu 1,5 jam dengan jumlah 3 orang) saat itu hasilnya memang diatas 400, hanya yg mengecawakan temen saya lebih tinggi dari saya, padahal banyak yg tidak bs mereka jawab, saya mengeceknya dg perbandingan jwaban untuk soal matematika yg berhasil kami jawab, saya memang tidak menjawab semua soal, dari 30 soal saya hanya dapat menjawab separonya karena waktu yg singkat sedangkan saya mengerjakan dg urut dr no terkecil dan berurutan tanpa ada yg terloncati, dan saya yakin jawaban saya benar (asal tau saja nilai matematika saya selalu tinggi dan saat SD dulu sy pernah memenangkan lomba olimpiade matematika se-propinsi). Disinilah kekecawaan saya, apakah tes IQ atau TPA bs dipercaya sebagai tes untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang. Dan yang paling lucunya lagi saya sering mendengar adanya ‘kursus psikotest’ jadi lucu aja dengarnya, karena menurut saya yg dites itu kan bakat alami, kalo sampai benar ada kursus spt itu berarti tes ini gag sahih donk. Mohon penjelasannya… Tq

    Like

    • Woi rani… ngga mau ya kalo ternyata kalah? ngga mau ya nerima kenyataan? ngga suka jadi nomor dua yaa??? hahahahahaha… kasian sekali kamu….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s