Berutang tanpa terjerat

Setiap keluarga punya rencana dalam anggaran pengeluaran dan pemasukan keuangan setiap bulan. Semua sudah terencana dan disesuaikan dengan pemasukan yang bersumber dari gaji bulanan atau pendapatan tambahan lain. Anggaran belanja rutin biasanya sudah dianggarkan secara berkala dan masuk dalam perhitungan neraca pengeluaran keuangan keluarga setiap bulan.

Namun siapa yang bisa menghindar dari kebutuhan belanja yang sifatnya mendadak dan tidak terencana? Alhasil, tidak sedikit anggaran keuangan kebobolan di luar bujet yang seharusnya karena adanya kebutuhan belanja yang dikeluarkan di luar rencana.

Misalnya, tiba-tiba ada anggota keluarga yang mendadak datang, sehingga anggaran pengeluaran tiba-tiba membengkak. Atau ada anggota keluarga yang tiba-tiba menggelar hajatan besar di luar kota sehingga tidak ada ancang-ancang pengeluaran yang dipersiapkan keluarga. Tabungan cekak, dana tersisa untuk membayar pengeluaran rutin yang tidak bisa diganggu gugat. Pilihan terakhir, mencari pinjaman yang bisa menutup kebutuhan mendadak itu.

Beberapa pilihan ada di depan mata, pinjam uang dari anggota keluarga, mencairkan dana cadangan, atau mengajukan kredit. Perencana keuangan Rico Satria Putra dari IM Planner justru sangat melarang setiap keluarga mencari pinjaman lewat kredit untuk kebutuhan konsumsi mereka.

Harus diakui, ada beberapa bank dan lembaga keuangan lain menawarkan kredit konsumsi yang sekilas prosesnya mudah, cepat, dan meringankan karena cicilannya bisa diatur sesuai dengan kemampuan. Misalnya KTA atau kredit tanpa anggunan. Meskipun kredit yang ditawarkan biasanya menjanjikan proses cepat dan bunga rendah, Rico memberi saran jauhkan kredit untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

“Pada dasarnya kalau untuk kebutuhan konsumtif sebaiknya jangan lewat kredit. Barang nilainya akan semakin menurun sedangkan bunga jalan terus,” ujarnya. Namun apa jadinya jika tidak ada pilihan lain bagi keluarga mencari pemasukan lain dan hanya tersedia KTA?

“KTA salah satu pilihan bagus sekarang, dengan bunga antara 1% dan 1,5% tetapi itu bunga flat, jadi efektifnya adalah sekitar 2% dan 3%, kurang lebih sama dengan bunga kartu kredit, tetapi tidak compounding,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan perencana keuangan Safir Senduk dari Biro Perencanaan Safir Senduk dan Rekans yang mengatakan ada baiknya setiap keluarga mempertimbangkan secara matang keinginan untuk mengajukan KTA.

“KTA memang memberi Anda keleluasaan dalam mengelola keuangan Anda, tetapi kondisi, persyaratan, dan sanksi yang menyertainya bisa dikatakan sama dengan produk pinjaman bank pada umumnya,” ujarnya.

Jangan memperberat
Safir menambahkan, mengajukan KTA sama halnya dengan produk pinjaman bank pada umumnya yang membutuhkan komitmen sangat besar pada peminjamnya. Meski diakui, peminjam bisa menggunakan KTA untuk tujuan konsumtif, seperti membayar biaya pendidikan anak, biaya pernikahan, atau merenovasi rumah.

Di samping itu KTA juga bisa digunakan untuk tujuan produktif seperti membiayai modal awal suatu usaha, membeli persediaan barang dagangan, membeli mesin, membeli perlengkapan kantor, atau membiayai kebutuhan modal kerja lain.

Sehingga ada baiknya keluarga yang ingin mengajukan KTA terlebih dahulu menanyakan tujuan dari keinginan pengajuan KTA itu sendiri dan pertimbangkan apakah besaran cicilan KTA itu nantinya justru tidak akan menambah berat anggaran pengeluaran peminjam setiap bulan.

“Mengambil kredit seharusnya dibuat untuk memudahkan hidup Anda, bukan malah memperberat Anda. Jadi pertimbangkan dengan masak-masak,” Safir menambahkan.

Demikian juga dengan nasihat Rico yang mengatakan jika ada baiknya KTA digunakan untuk membiayai kebutuhan yang sifatnya mendadak dan tidak bisa ditunda. Atau KTA dibutuhkan justru untuk meringankan pengeluaran setiap bulan.

Misalnya saja KTA dibutuhkan untuk membiayai beli motor yang akan meringankan biaya transportasi peminjam setiap bulannya lebih besar daripada besaran cicilan KTA.

“Tapi kalau beli sepeda motor hanya untuk mengganti yang lama dan gengsi karena motornya udah butut, ya sebaiknya diurungkan saja niatnya untuk ambil kredit,” ujar Rico.

Jika KTA tidak memungkinkan peminjam menanggung cicilan, Rico menyarankan keluarga yang membutuhkan uang mengajukan kredit lewat anggota keluarga. Supaya peminjam dan anggota keluarga yang akan meminjamkan uang tidak merasa dirugikan, buat aturan main yang meringankan kedua belah pihak.

Misalnya, buat aturan cicilan pinjaman selama peminjam merasa mampu, ditambah bunga yang besarannya antara 1% dan 2% setiap bulan, atau bayar bunganya saja. Namun ada baiknya setiap 2 atau 3 bulan sekali pokok utang harus bisa dicicil untuk meringankan beban utang pokok yang harus dibayarkan.

Namun jika keputusan mengajukan kredit sudah bulat, perlu diingat jika maksimal besaran cicilan utang setiap bulan tidak lebih dari 30% pemasukan peminjam setiap bulan.

“Jangan membuat utang baru kalau misalnya dengan utang lama masih menyita 30% income. Kalau misalnya ada tawaran dari pihak lain dengan bunga lebih rendah ingat, selalu ada konsekuensi biaya administrasi dan biaya lain yang cukup besar,” Rico menambahkan.

Apakah keluarga Anda tetap ingin mengajukan kredit? Hitung secara cermat dan siapkan mental Anda.

Th. D. Wulandari
Bisnis Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s