Kenali Gangguan Hyperhidrosis

Posted by: “konsultasi.kesehatan@gmail.com

Dari Hiperaktivitas hingga Ancaman Penyakit Serius

BERKERINGAT adalah fenomena alamiah yang diperlukan untuk pengaturan suhu tubuh secara individual. Pengeluaran keringat dimediasi oleh sistem saraf vegetatif (sistem saraf simpatis sistem saraf otonom/di luar kendali seseorang).

Dokter umum Agustining Rahayu mengatakan, secara normal produksi keringat oleh kelenjar keringat diatur oleh sistem saraf simpatis untuk mengatur suhu tubuh. Namun pada sekitar 1% manusia (ada yang mengatakan mendekati 3%), kerja sistem saraf simpatis berlebihan lebih dari yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menjaga suhu konstan. Keadaan ini menimbulkan keringat berlebihan yang dalam dunia medis dikenal dengan sebutan hyperhidrosis.

Wanita yang akrab disapa dr Ayu ini menyebutkan, hyperhidrosis berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua jenis. Yaitu, hyperhidrosis primer di mana penyebabnya tidak diketahui walaupun ada yang menduga hiperaktivitas simpatis yang berhubungan dengan fungsi abnormal dari otak. Umumnya, hyperhidrosis jenis ini terjadi pada masa kanak-kanak atau remaja dan diduga berhubungan dengan genetis (gen autosomal dominan).

Sementara hyperhidrosis sekunder, terangnya, disebabkan oleh suatu hal tertentu yang melatarinya. Misalnya, kelainan neurologis (saraf), kelainan/proses metabolik seperti tirotoksikosis, diabetes mellitus, hipoglikemia, gout, feokromositoma, dan menopause. Penyebab lain berupa penyakit-penyakit seperti demam, penggunaan obat-obatan seperti propranolol, physostigmine, pilocarpine, antidepresan trisiclik, venlafaxine, alkoholism kronik.

“Tempat terjadinya hyperhidrosis ada di beberapa tempat. Di antaranya adalah telapak tangan dan kaki, kulit kepala wajah, ketiak dan tubuh bagian tengah atau keseluruhan (generalized hyperhidrosis) ,” kata dr Ayu.

Lebih lanjut dikatakan, pada penderita hyperhidrosis sekunder, pengobatan pertama ditujukan kepada penyakit yang menjadi latar belakangnya. Penderita yang mendapat pengobatan hormonal untuk kanker prostat, bilamana terjadi serangan pengeluaran keringat yang berlebihan dapat dikurangi dengan pemberian anti hormon (antiestrogens) .

Sedangkan pengobatan pada hyperhidrosis primer, papar Ayu, bila ada masalah jiwa, hendaknya diterapi masalah kejiwaannya kepada psikiater. Adapun penanganan lain yang bisa dilakukan adalah sebagai sebagai berikut:

  1. Antiperspirant: Aluminum chloride (20-25%) dalam 70 – 90% alkohol dioles malam hari 2-3 kali perminggu.
  2. Lontophoresis: Menggunakan listrik berintensitas rendah. Lontophoresis dipakai apabila hasil pengobatan dengan menggunakan antiperspirant kurang berhasil.
  3. Obat: Sebenarnya tak ada yang spesifik, mungkin hanya penggunaan obat-obat penenang.
  4. Operasi: Simpatektomi (Endoscopic Thoracic Sympathectomy) sampai saat ini masih merupakan pilihan paling efektif.

“Untuk menentukan pengobatan yang terbaik, sebaiknya penderita hyperhidrosis ini harus berkonsultasi dengan dokter ahlinya,” tandasnya.

(dha)

http://www.kaltimpo st.co.id/ index.php? mib=berita. detail&id= 23128

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s