Harapan Baru Penderita Hepatitis B

Adefovir Dipivoxil,
Peluang sembuh bagi penderita penyakit hati (hepatitis) B saat ini semakin tinggi dengan ditemukannya obat hepatitis generasi terbaru, Adevofir Dipivoxil. Obat yang diproduksi perusahaan farmasi dunia, GlaxoSmithKline dengan nama dagang Hepsera tersebut mampu menekan virus hepatitis B dan memperbaiki jaringan hati.

Ahli hepatologi Prof Dr Nurul Akbar mengatakan, penemuan obat baru tersebut merupakan lompatan besar dalam penatalaksanaan penyakit Hepatitis B kronis. Karena obat oral hepatitis B yang selama ini dipakai jutaan orang di dunia dan masuk kelompok nukleosida analog dengan nama dagang Lamivudine tidak mampu mengatasi mutasi atau resistensi yang sering terjadi setelah 1 tahun pemakaian obat tersebut.

“Dengan Hepsera pengobatan hepatitis B kini jadi lebih mudah karena obatnya diminum 1 kali sehari. Selain juga peluang kesembuhannya lebih besar, meski tidak 100 persen,” kata Prof Nurul Akbar dalam simposium yang diselenggarakan Perhimpunan Peneliti Hati Jaya (PPHI Jaya) bertajuk “Paradigma Baru Pengobatan Hepatitis B Kronis”, di Jakarta.

Prof Nurul mengatakan, penemuan obat baru hepatitis B itu menjadi sangat penting mengingat makin banyaknya penderita penderita hepatitis B di muka bumi ini. Badan kesehatan dunia, WHO memperkirakan ada sekitar 350 juta penduduk dunia menderita penyakit tersebut. Sementara di Indonesia jumlahnya diperkirakan mencapai 11 juta jiwa.

Untuk kota Jakarta sendiri, Ketua PPHI Jaya, dr Agus Waspodo memperkirakan 1 dari 20 orang warga DKI menderita hepatitis B. “Namun sayang, jumlah penderita yang cukup tinggi ini tidak diimbangi dengan kewaspadaan dan pengetahuan yang cukup mengenai penyakit itu sendiri. Sehingga perlu terus dilakukan sosialisasi kepada masyarakat awam agar penderita penyakit ini bisa ditekan,” ujar dr Agus Waspodo.

Dijelaskan, hepatitis B adalah penyakit serius yang disebabkan oleh virus yang menyerang hati. virus yang dikenal dengan nama virus hepatitis B (HBV) ini bekerja dengan cara merusak hati secara tidak langsung melalui gangguan sistem kekebalan/imun dan selanjutnya dapat menyebabkan infeksi yang berkepanjangan, sirosis (pengerasan) hati, kanker hati sehingga menimbulkan kematian.

Cara penularan virus HVB, ditambahkan Prof Nurul Akbar, sangatlah mudah yaitu melalui cairan tubuh dari seseorang yang terinfeksi seperti melalui darah, air ludah dan cairan tubuh lainnya. Virus hepatitis B tidak akan menular bila hanya melakukan jabatan tangan, berpelukan atau cium pipi.

“Karena itu, kita perlu segera periksa diri atas kemungkinan tertular bila kita pernah melakukan transfusi darah maupun transplantasi organ, melakukan seks bebas dengan berganti-ganti pasangan, penggunaan obat-obatan ke dalam pembuluh darah, pemakaian sikat gigi dan pisau cukup bergantian dengan orang lain serta membuat tato dengan menggunakan jarum yang tidak steril,” katanya.

Virus hepatitis juga dapat menular dari ibu yang telah terinfeksi kepada bayinya pada masa persalinan, atau dari seorang anak ke anak yang lain pada masa balita. Berbagai penelitian menunjukkan 9 dari 10 orang yang terinfeksi dapat kembali terinfeksi ketika mereka dewasa. “Kasus-kasus semacam ini kebanyakan terjadi di wilayah Asia Pasifik dan di Sub-Sahara yang mana virus hepatitis B sangat umum,” tutur Prof Nurul Akbar.

Virus hepatitis B dapat bertahan sampai beberapa minggu di luar tubuh manusia, sehingga penularan virus itu sangat cepat dan penularannya 100 kali lebih cepat dari virus HIV. Ketika seseorang terinfeksi virus hepatitis B, virus akan masuk ke sel hati.

HBV genetic material (DNA) kemudian menggunakan sel-sel hati tersebut untuk bereplikasi. Virus lalu membajak fungsi sel hati dan menggunakannya untuk menghasilkan ribuan partikel virus baru. Partikel virus baru akan memecahkan sel hati dan menginfeksi sel hati lainnya. Demikian terus berulang.

Jika fungsi hati terganggu–baik karena penyakit atau konsumsi minuman beralkohol dalam waktu lama, maka racun dan produk tak berguna akan menumpuk dalam tubuh, vitamin penting yang tersimpan akan habis sehingga tubuh kekurangan nutrisi penting yang diperlukan tubuh. “Bila kondisi ini dibiarkan saja akan berujung pada kematian,” ucapnya.

Bahayanya lagi, ditambahkan Prof Nurul Akbar, penyakit hepatitis B ini sering datang tanpa gejala yang jelas dan hanya sedikit yang menunjukkan gejala kuning pada mata dan kulit, lesu, tidak nafsu makan dan mual. Warna kuning itu disebabkan meningkatnya produksi yang tak berguna dalam darah, yang biasanya secara normal diproduksi dan dibuang oleh hati yang sehat.

“Diagnosa yang tepat hanya bisa dilakukan melalui pemeriksaan darah dan pemeriksaan tambahan lainnya yang dapat membantu ditemukannya kerusakan pada hati,” ujarnya.

Perbaikan Jaringan
Prof Nurul Akbar menjelaskan, bagi orang yang telah terkena virus hepatitis B maka ada dua cara pengobatan yang dikenal yaitu pengobatan oral dengan cara ditelan dan injeksi.

Cara injeksi kurang disukai karena dirasakan merepotkan. Sementara cara oral diberikan obat yang masuk dalam kelompok nukleosida analog, dengan nama dagang Lamivudine. Obat tersebut mempunyai toleransi yang cukup baik.

“Namun, pada pemakaian jangka panjang, Lamivudine ini kadang menimbulkan mutasi bagi penderitanya. Sehingga efek obatnya tidak lagi bekerja, terutama setelah 1 tahun pemakaian. Dengan adanya Hepsera kendala semacam itu bisa diatasi,” katanya.

Dr Helena Rahayu, Direktur Pemasaran GlaxoSmithKline menambahkan, cara kerja Hepsera adalah menekan replika virus sehingga menekan risiko perburukan hati dan memicu timbulnya anti HBe. Dengan anti HBe positif berarti tubuh kita telah memproduksi zat kebal yang menandakan virus hepatitis B berhenti memperbanyak diri/ replika.

“Dan Hepsera sangat baik dalam memperbaiki jaringan hati, sehingga akan mencegah progresivitas sirosis/kanker,” katanya,” kata dr Helena Rahayu seraya menambahkan Hepsera tersedia dalam bentuk tablet berwarna putih dengan dosis yang dianjurkan 10 mg per hari satu tablet selama 12 bulan.

Hasil penelitian yang dilakukan GlaxoSmithKline menunjukkan, 80 persen dari pasien yang diterapi dengan Hepsera mendapat perbaikan dalam uji peradangan dibandingkan dengan 42 persen pasien yang dicoba dengan placebo. Hepsera 10 mg satu kali sehari memberikan hasil yang signifikan dalam menekan virus hepatitis B DNA dalam waktu 48 minggu dibandingkan dengan placebo.

“Sebanyak 79 persen pasien mengalami perbaikan jaringan hati setelah menjalani pengobatan dengan Hepsera selama 96 minggu. Kemanjuran Hepsera semakin meningkat seiring dengan semakin lamanya terapi dengan obat tersebut. Sehingga Hepsera baik digunakan untuk terapi hepatitis B kronis jangka panjang,” tutur dr Helena Rahayu.

Ditanyakan untuk mengetahui apakah seseorang telah dinyatakan sembuh dari penyakit hepatitis B yang diidapnya itu, menurut Prof Nurul Akbar adalah dengan melihat hasil pemeriksaan darah apakah kadar HBs AG (hepatitis B surface antigen) dinyatakan negatif. “Kalau HBs AG-nya masih positif berarti virusnya masih aktif. Itu artinya pasien belum sembuh,” ujarnya.

Tentang harga yang harus dibayar pasien untuk obat tersebut, dr Helena Rahayu mengatakan, penggunaan Hepsera selama satu bulan dibutuhkan sekitar Rp 1,1 juta. Harga tersebut belum termasuk obat lain, bila pasien menderita komplikasi penyakit lainnya.

Sumber : Suara Karya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s