Deteksi Dini Kanker Pada Anak

Kanker bisa menyerang siapa saja, tak terkecuali anak. Pada anak, kanker tidak mudah diketahui secara dini. Karena pada tahap awal, sebagian anak jarang mengeluarkan keluhan, bahkan anak tidak merasakan kelainan dalam tubuhnya.

“Bila anak tidak bisa merasakan apa yang ada dalam tubuhnya, maka orangtualah yang seharusnya melihat bila ada sedikit saja kelainan yang dilakukan anaknya,” kata pakar kanker anak dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Djajadiman Gatot, SpA(K) dalam sebuah seminar di Jakarta, belum lama ini.

Ditambahkan, bila dibandingkan dengan kanker yang menyerang orang dewasa, kanker pada anak memiliki jenis berbeda. Kanker dapat menyerang berbagai organ tubuh anak, sejak anak dalam kandungan maupun saat ia telah dilahirkan.

Penyebabnya ada dua faktor, yaitu genetik dan lingkungan (Ekogenetik). Faktor lingkungan, misalnya radiasi, infeksi virus, dan sebagainya. Kondisi ekonomi yang mengakibatkan anak kekurangan gizi, juga berperan terhadap timbulnya kanker.

“Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan kanker pada anak, namun sampai saat ini belum satu pun yang bisa dipastikan,” ujar dr Djajadiman.

Karena itu, ia mengharapkan orangtua kerap mewaspadai hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dialami oleh anak, misalnya anak mendadak pucat atau demam. Karena di mancanegara kira-kira 10 persen kematian pada masa anak-anak disebabkan oleh kanker.

“Meskipun di Indonesia belum ada penelitian, tetapi diperkirakan bahwa proporsi kurang lebih sama dengan luar negeri, sebagaimana ditemukan terutama di pusat-pusat rujukan,” kata Dr Djajadiman Gatot, SpA(K), pakar kanker anak RSUPN Ciptomangunkusumo.

Pengobatan kanker pada anak pada dasarnya sama seperti orang dewasa, yaitu kombinasi antara operasi, radioterapi, dan kemoterapi. Penyembuhannya pun lebih mudah, asal ditangani sejak dini. Namun, upaya penyembuhan itu sangat bergantung pada jenis kanker, stadiumnya, dan kelengkapan pengobatan. Selama ini kebanyakan pasien baru mengunjungi dokter setelah kankernya mencapai stadium III dan IV.

Menurut Dr Djajadiman, pengobatan kanker anak bukanlah semata-mata untuk memperpanjang umur saja, tapi juga untuk mencapai kesembuhan. Karena itu semakin dini kanker ditemukan akan semakin besar kemungkinan disembuhkan.

Gejala

Dr Djajadiman menegaskan, kanker sebenarnya tidak terjadi begitu saja, tapi melewati suatu proses. Untuk itu, orangtua perlu lebih jeli memperhatikan kondisi anak. Bila ditemukan gejala-gejala yang tidak biasa pada anak anda, segeralah periksa ke dokter untuk menentukan apakah hal tersebut disebabkan oleh kanker atau tidak.

Berikut beberapa jenis kanker yang biasa menyerang anak disertai gejala yang menyertainya.

Pertama, leukimia atau biasa disebut kanker darah. Gejalanya berupa rasa lesu atau lelah disertai pucat, demam yang tidak jelas sebabnya, perdarahan abnormal– biasanya di kulit mudah dilihat, nyeri pada tulang dan perut yang terasa keras ketika diraba atau membengkak.

“Kadang-kadang dapat ditemukan pula benjolan-benjolan di kulit, pembengkakan gusi atau kelumpuhan otot wajah atau tungkai tanpa sebab yang jelas. Angka kejadian tertinggi antara usia 3-6 tahun dan anak laki-laki lebih banyak terserang dibanding anak perempuan,” ujarnya.

Kedua adalah tumor otak. Gejalanya berupa sakit kepala yang disertai mual sampai muntah dengan keras, daya penglihatan menjadi berkurang, penurunan kesadaran atau perubahan perilaku. Pada bayi biasanya diketahui dari ubun-ubunnya yang terlihat sangat menonjol.

“Orangtua juga perlu curiga bila terdapat gangguan bicara pada anak atau gangguan keseimbangan, gerakan anggota tubuh anak melemah atau kejang-kejang,” katanya.

Ketiga adalah retinoblastama atua kanker pada retina mata. Gejalanya yang terlihat adalah bercak putih pada bagian tengah mata yang seolah bersinar bila terkena cahaya, seperti mata kucing. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah penglihatannya yang terganggu atau menjadi juling.

“Bila penyakitnya sudah agak parah, bola mata akan menonjol. Pada keadaan atau stadium yang lebih lanjut lagi, bila sel-sel kanker telah masuk ke adalam rongga otak akan timbul gejala seperti tumor otak. Sering dijumpai pada anak umur 6 bulan hingga 2 tahun,” tuturnya.

Keempat adalah limfoma malignum atau kanker kelenjar getah bening. Gejalanya berupa pembesaran pembesaran dan pembengkakan kelenjar getah bening di daerah leher, ketiak atau selangkangan yang progresif. Umumnya tanpa disertai infeksi. Bila timbulnya di dalam usus, dapat menyebabkan sumbatan pada usus dengan gejala sakit perut, muntah, tidak bias buang air besar dan demam.

“Bila timbulnya di daerah dada, kankernya dapat mendorong atau menekan saluran napas sehingga menyebabkan sesak napas dan muka membiru. Angka kejadian tertinggi pada anak berusia antara 5-7 tahun,” ujarnya.

Jenis kelima adalah neuroblastoma–sejenis kanker syaraf. Biasanya gejala awal sulit diketahui. Bila timbulnya di daerah leher atau di dalam rongga dada, dapat menyebabkan bola mata turun dan pupil melebar. Bila terdapat di tulang belakang, maka akan menekan sumsum tulang belakang dan mengakibatkan kelumpuhan yang progresif.

“Tumor di daerah perut akan teraba bila sudah cukup besar. Dapat pula menyebabkan patah tulang tanpa sebab, mengakibatkan penderitanya pincang mendadak. Kanker ini paling sering ditemukan pada anak usia 0-4 tahun.

Keenam adalah Tumor Wilms atau kanker ginjal pada anak. Gejalanya berupa kencing berdarah, rasa tidak enak didalam perut dan bila sudah cukup besar dapat teraba sebagai perut yang besar dan keras terutama bila anak sedang dimandikan. Biasanya umur rata-rata terjangkit kanker ini antara 3,5 tahun baik laki-laki maupun perempuan.

Ketujuh adalah rabdomisarkoma atau kanker otot lurik. Gejala yang ditimbulkan bergantung pada letak kankernya. Gejalanya dapat berupa mata menonjol, nyeri pada telinga yang dapat sertai dengan keluar darah, sesak napas, pembengkakan muka, gangguan berkemih atau kencing berdarah. Dapat pula sebagian anggota gerak membengkak. Umur rata-rata anak saat di diagnosis sekitar 5 tahun.

Dan kedelapan adalah osteosarkoma atau kanker tulang. Pembengkakan progresif yang dapat disertai rasa nyeri dan demam perlu diwaspadai sebagai tanda kemungkinan kanker tulang. Kadang-kadang disertai trauma seperti jatuh dan sebagainya yang tidak jelas hubungannya. Angka kejadian tertinggi biasanya anak berusia 10 tahun ke atas, bahkan remaja.

Sumber : Suara Karya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s