Betulkah Kanker Payudara Pria Meningkat?

Heboh. Seperti pada wanita, kanker payudara pria pun meningkat dalam 25 tahun terakhir ini (Dr. Sharon Giordano, Universitas Texas). Betul kasusnya tidak sebanyak pada wanita, tapi angka kenaikannya merisaukan kaum Adam.

“Eh, Dokter jangan bercanda. Yang benar aja, masak lelaki bisa kena kanker payudara. Emang lelaki ada payudaranya, gitu?” sergah seorang ibu peserta seminar pranikah yang semuanya wanita. Dan saya mulai mesem.

Sungguh, yang bertanya begitu bukan cuma orang kita. Di Amerika Serikat pun banyak orang tidak percaya kalau lelaki bisa kena kanker payudara. Saking tidak percaya, sebagian besar kasus datang terlambat ke dokter, sehingga kankernya telanjur menyebar.

Di AS sendiri muncul 1.400 kasus setiap tahunnya. Empat ratus di antaranya meninggal sebab terlambat datang ke dokter. Tidak ada data di Indonesia. Namun, di Asia dan Afrika diduga angkanya lebih tinggi oleh karena angka penyakit hati, sebagai salah satu faktor risikonya, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di negara Barat.

Faktor Risiko?

Penyakit hati disebut-sebut sebagai salah satu faktor risiko kanker payudara pada pria. Yang mengidap penyakit hati, sebut saja sirosis (cirrhosis hepatis), terganggu metabolisme hormon seksnya.

Pada kasus dengan fungsi hati sudah jelek, hormon seks di dalam tubuh menjadi kacau. Akibat metabolisme hormon dalam hati seorang pria berubah, hormon seks laki-lakinya (androgenik) malah turun, sementara hormon seks wanita, estrogenik, malah meningkat.

Pria yang dalam tubuhnya kelebihan hormon seks perempuan untuk waktu lama bukan mustahil mendadak bisa punya payudara. Semakin tinggi kadar estrogen dalam darahnya, semakin montok pula dadanya.

Contohnya terapi estrogen pada lelaki yang operasi ganti kelamin, misalnya. Selain kulit jadi halus, lelaki yang mengonsumsi estrogen dalam jangka lama payudaranya pun bisa menyamai milik Dolly Parton. Yang sama terjadi juga kalau Om Peter salah minum pil KB berbulan-bulan, disangka obat kuat. Selain jadi impotensi, ia heran kok dadanya jadi sexy banget.

Lelaki yang estrogen tubuhnya tinggi, selain bisa kanker payudara, kemungkinan memang bisa tumbuh pembesaran payudara jinak atau gynecomastia. Kasus begini banyak ditemukan pada lelaki yang mengidap penyakit hati.

Gangguan keseimbangan hormon seks juga lazim terjadi pada pria usia lanjut. Maka gynecomastia pun acap muncul setelah usia 60-an. Keadaan yang sama kadang-kadang bisa terlihat pada anak laki-laki yang baru pubertas, juga sebab perubahan keseimbangan hormonal, yang biasanya hanya untuk sementara dan tak perlu dirisaukan benar.

Ternyata memang bukan cuma bencong yang bisa punya payudara. Opa Tom juga suatu hari bisa merasa perlu pakai BH kalau lagi keluar rumah. Faktor risiko lain kalau mendadak Pak Sam., yang cucunya sudah tiga, mendadak berpayudara gede, perlu dilacak apa ada adik atau kakak perempuannya yang kena kanker payudara.

Faktor warisan gen kanker berlaku pula pada kanker payudara. Ayah dengan mutasi gen kanker payudara (BRCA gene 1), bisa mewariskan bakat kanker payudara kepada anak-anak perempuannya (BRCA gene 2).

Pria yang terserang kanker getah bening Hodgkin bukan kasus jarang. Terapi radiasi pada daerah dada untuk mengobati kanker getah bening bisa menjadi faktor risiko lain seorang suami bakal memiliki payudara menyaingi ukuran milik istri.

Selain itu, jangan pula lupa Opa Mur., yang kanker prostatnya tidak mau dioperasi dan memilih minum pil turunan estrogen untuk menghambat pertumbuhan sel kanker prostatnya, suatu hari bisa membuatnya harus siap membeli BH juga.

Lain dari itu, gemuk dan kegemukan sekarang sudah menjadi kultur hampir segala bangsa di dunia. Sel lemak yang besar-besar dan banyak jumlahnya berkorelasi dengan produksi hormon estrogen tubuh juga. Hormon seks estrogen biang keladi beberapa jenis kanker pada wanita (Hormone related cancer), bukan saja untuk kanker payudara.

Kita tahu wanita yang rentan terhadap kanker yang bertalian dengan hormon estrogen dalam tubuhnya mewarisi bakat memiliki hormon reseptor (hormone receptor positive). Maka salah satu terapi hormon pada kanker payudara dipakai juga obat hormon yang menghambat pertumbuhan dan reproduksi sel kanker (antiestrogenik, di antaranya Tamoxifen). Sementara itu, pada kanker payudara pria dipakai juga obat hormon antiandrogenik (Megace, kendati belum jelas kenapa bisa), untuk meredam sel kankernya.

Seperti apa gejalanya?

Sama seperti kanker payudara pada wanita, mulanya cuma benjolan. Oleh karena jaringan payudara pria jauh lebih sedikit dibandingkan pada wanita, sebetulnya kemunculan benjolan di payudara yang masih sangat kecil pun pada pria mestinya sudah bisa teraba.

Namun, sekali lagi, karena tidak mengira lelaki bisa kena kanker payudara juga, benjolan sudah sebesar bola bekel pun umumnya masih didiamkan. Alih-alih segera pergi ke dokter, malah suka iseng dipijit-pijit sendiri kalau lagi duduk memikirkan nasib.

Kalau stadium kankernya sudah lanjut, mungkin telah ada perubahan pada puting dan daerah hitam di sekitar puting. Kulit putingnya bertambah merah, mengerut, tertarik ke dalam, atau bisa jadi sudah keluar cairan dari putingnya. Waspada.

Pada pria harus dibedakan antara pembesaran payudara jinak gynecomastia dengan kanker payudara. Gynecomastia umumnya mengenai kedua belah payudara, dengan ukuran sama besar dan biasanya simetris.

Kalau itu suatu kanker, umumnya hanya menyerang sebelah, dan jika diraba bukan empuk kayak karet busa seperti gynecomastia, melainkan keras menggerenjil. Kalau kankernya ternyata menyerang kedua sisi, tentu tidak persis simetris kayak pada kasus gynecomastia.

Tak berbeda dengan kanker payudara wanita, ragam kanker payudara pria pun sama saja jenisnya. Seperti pada wanita, sekurang-kurangnya ada lima jenis kanker payudara yang dapat menyerang pria siapa saja, termasuk bisa menimpa Om Paul yang berulang tahun ke-65 besok.

Jika seorang lelaki mencurigai keseksian dadanya itu suatu kanker, perlu dilakukan mammography seperti pasien wanita juga, selain sekiranya perlu juga dibantu USG, biopsi, atau pemeriksaan cairan yang mungkin keluar dari putingnya.

Sumber : Senior

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s