Anggapan Kondom Berpori Tak Lagi Relevan

Anggapan bahwa kondom berpori sudah tidak relevan lagi untuk dipercaya sekarang. Kondom memang berpori kalau kondom tersebut terbuat dari bahan alami seperti usus domba. Namun, jenis itu sudah tidak diproduksi.

Kondom yang beredar saat ini adalah kondom lateks yang cukup kuat dan sudah diuji untuk menahan sperma dan HIV. Demikian dikemukakan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS dr Farid W Husein SpBD dalam diskusi “Kondom: Antara Mitos dan Fakta” di Jakarta.

Kualitas produk kondom lateks yang beredar saat ini sudah melewati uji standar kelayakan laboratorium, yang mencakup uji volume peledakan, dimensi kondom, tegangan putus, kebocoran, keutuhan segel pengaman, serta pelabelan.

Ketika kondom dianggap bisa bocor, pecah, atau robek, kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh cara penggunaan yang salah atau akibat lain yang bisa menyebabkan turunnya mutu kondom, misalnya penyimpanan di tempat panas, sinar Matahari, kedaluwarsa, dan robek karena kuku atau gigitan.

Kondom lateks sudah terbukti sebagai alat paling efektif dan murah untuk mencegah penularan infeksi menular seksual (IMS). Beberapa studi sudah membuktikan hal ini, di antaranya studi klinik terhadap orang yang terinfeksi HIV dengan pasangannya yang tidak terinfeksi (discordant couple).

Pada 124 pasangan yang memakai kondom lateks secara konsisten, tidak ada yang terinfeksi HIV. Sedangkan 121 orang yang memakai kondom secara tak konsisten, 12 orang (10 persen) partner yang tidak terinfeksi HIV menjadi terinfeksi. Studi lain di Amerika juga menunjukkan, pemakaian kondom secara benar dan konsisten mencegah penularan sampai 85 persen.

Turunkan risiko

Kondom lateks juga bisa membantu menurunkan risiko terjadinya kanker cervical (leher rahim) pada perempuan. Ini sudah teruji pada studi yang pernah menemukan bahwa laki-laki yang tidak menggunakan kondom membawa virus HPV (Human Papillomavirus) yang bisa menyebabkan kanker leher rahim pada perempuan.

Walaupun banyak bukti yang mendukung efektivitas kondom, di Indonesia penggunaan kondom masih rendah. Menurut hasil survei demografi kesehatan Indonesia tahun 2003, penggunaan kondom pada pasangan usia subur di Indonesia masih sangat rendah, 0,9 persen. Padahal, diperkirakan ada 7-10 juta laki-laki yang melakukan hubungan seks di luar nikah dan hanya kurang dari 10 persen yang mau menggunakan kondom.

Upaya mempromosikan penggunaan kondom terus dilakukan oleh berbagai sektor dalam pencegahan IMS. Salah satunya lewat Program Kondom 100% untuk mempromosikan penggunaan kondom dalam pencegahan penyebaran infeksi HIV/AIDS. Meski demikian, hasilnya masih jauh dari memuaskan.

Seusai diskusi, diumumkan pemenang lomba tulis AIDS yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Dr Sutomo (LPDS) dan program Aksi Stop AIDS (ASA). Lomba yang diikuti 31 peserta dengan 37 naskah tersebut, Sarie Febriane (wartawan Kompas) keluar sebagai pemenang pertama dengan artikel “HIV/AIDS di Jawa Barat, Mimpi Buruk yang Menjadi Kenyataan.” Pemenang kedua, Taufik Alwie (Gatra) lewat karyanya “Terimpit Stigma hingga Ajal”, sedangkan pemenang ketiga adalah Kornelis Kewa Ama (Kompas) dengan reportasenya mengenai masuknya HIV ke dalam kehidupan suku Asmat di Papua.

Sumber : kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s