Bimbingan moral bagi keluarga anda

ANDA BISA MEMBUAT PERBEDAAN!

I . Lakukanlah yang benar secara moral.
Jadilah teladan moral, dan bertindaklah dengan penuh kuasa.

2. Pilihlah yang baik, dan tolaklah yang biasa-biasa saja serta yang jahat.
Sekaranglah saatnya untuk menyingkirkan dari rumah tangga Anda, segala
macam bacaan atau tontonan yang Anda tahu tidak senonoh atau
membingungkan secara moral.

3. Bawalah ke rumah Anda hanya hal-hal yang Anda tahu menarik, mendidik,menghibur, dan mengajar. Letakkanlah majalah dan buku-buku di mana anak Anda akan tertarik untuk
membacanya.

4. TV serta alat pengendali jarak jauhnya adalah milik Anda.
Andalah yang punya kuasa! Biasakanlah anak-anak untuk minta izin sebelum
nonton TV atau video.

5. Rumah Anda adalah istana Anda.
Apa yang Anda pajang atau Anda biarkan dilihat orang, mencerminkan siapa
Anda. “Akankah Allah senang karenanya?” adalah panduan yang baik dalam
mempertimbangkan apa-apa yang diperbolehkan di rumah Anda.

6. jangan biarkan anak remaja atau akil balik mengganggu Anda.
Dengan lembut namun tegas peringatkanlah mereka bahwa selama mereka
masih tinggal di rumah Anda, mereka tidak berhak menonton atau
mendengarkan siaran yang Anda anggap tidak pantas.

7. Jangan letakkan TV di kamar tidur anak-anak.
Hal itu dapat menyebabkan isolasi dan membangkitkan kebiasaan menonton
yang tidak terbatas atau tidak sehat.

8. Bersikaplah yang konsisten.
janganlah bingungkan anak Anda dengan pikiran yang berubah-ubah menyangkut bahan bacaan atau tontonan yang Anda tahu tidak senonoh atau amoral.

9. Tetapkanlah ketentuannya
Menonton tayangan yang penuh dengan kekerasan atau adegan seksual dapat merusak daya imajinasi anak-anak dan membingungkan pemikirannya.

10. Bersikaplah yang adil.
Beritahukanlah terlebih dulu, lalu pegang teguhlah aturan-aturan Anda.

11. Jangan mau mengalah atau menyerah.
Kalau menetapkan standar media masih baru di rumah Anda, bersabarlah,namun tegas.

Mary Ann Kuharski, Penulis paruh waktu, Ibu rumahtangga, dan Ibu seorang anak berusia 13 tahun.
Diambil dari Majalah “Homelife”

_______________________________________________
If we want a love message to be heard, it has to be sent out.
To keep a lamp burning, we have to keep putting oil in it.
***********************************************

Menjaga Romatisme dan Cinta Tetap Tumbuh

Berikut beberapa tips untuk menjaga romantisme dan cinta Anda tetap tumbuh dan
bersemi.

  1. Kembangkan rasa humor
  2. Beritahu pasangan Anda bahwa Anda ada hanya untuk dia
  3. Tunjukkan bahwa Anda mencintainya dalam kondisi apapun.
  4. Sisakan waktu untuk mengerjakan kesenangan masing-masing
  5. Hindarkan pertengkaran
  6. Jagalah hubungan Anda penuh dengan kejutan
  7. Percaya satu sama lain
  8. Percaya bahwa suasana dan sikap romantis penting untuk hubungan Anda
  9. Selalu menjaga komunikasi yang baik dengan pasangan
  10. Unsur kepercayaan pada pasangan harus ada dalam hubungan Anda
  11. Katakan pada kekasih Anda seberapa besar arti dirinya bagi Anda.
  12. Jadilah diri Anda sendiri
  13. Romantislah senantiasa
  14. Luangkan waktu bersama
  15. Jika ada kesalahpahaman, yakinlah untuk membicarakan problem tersebut dan bekerjasama untuk menyelesaikan masalah tsb.
  16. Perlakukan pasangan Anda seperti Ia sangat berarti bagi Anda.
  17. Berilah hormat padanya.
  18. Setiap kali selesai di telpon, akhiri dengan kalimat “I Love You”
  19. Berilah pujian baginya sesering mungkin
  20. Janganlah berusaha untuk mengambil keuntungan dari hubungan Anda
  21. Jangan membawa kemarahan ke tempat tidur. Lebih baik diselesaikan segera.
  22. Jadilah pendengar yang baik
  23. Terbuka dan jujur satu sama lain.
  24. Pertahankan komunikasi terbuka satu sama lain.

Indo community

10 Hal yang Mempercepat Ketuaan

Tanpa disadari, kita kerap melakukan kebiasaan yang justru mempercepat datangnya ketuaan. Kenali kebiasaan-kebiasaan buruk Anda, dan atasi segera. Berikut ini 10 perilaku tidak sehat yang sering kita lakukan, serta cara mengatasinya:

1. Stress Berlebihan
Sejak dulu, kita tahu bahwa stres yang berlebihan dapat menurunkan daya tahan tubuh seseorang dan memacu resiko penyakit jantung, serta membuat kita tidak nyaman. Stres yang berlebihan juga memacu penuaan dini.

Ibu-ibu yang memiliki anak-anak dengan penyakit kronis merupakan orang-orang yang mengalami stres, dan mengalami penuaan dini yang paling ekstrim.  Cara cepat untuk mengurangi stres adalah dengan menarik nafas dalam-dalam yang disebut dengan pernafasan difragmatik. Untuk jangka panjangnya, luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang dapat mengurangi stres Anda.

2. Minum Alkohol
Bukan merupakan suatu kebetulan bila alkohol merupakan kabar buruk mengenai stres. Para wanita sebaiknya membatasi diri meminum minuman beralkohol. Berbagai gangguan kesehatan juga bisa timbul dari kebiasaan minum alkohol yang berlebihan. Termasuk serangan jantung, kangker hati, kanker tenggorokan, dan kanker payudara.

3. Kurang Bergerak
Dengan sedikit menggerakkan tubuh, kita dapat memperpanjang hidup serta mengurangi kelebihan berat, mengurangi stres, dan bahkan mencegah penyakit Alzheimer. Langkah pertama yang perlu dilakukan yaitu hanya dengan berjanji pada diri sendiri bahwa kita akan lebih aktif.

Parkirlah mobil dari jauh pintu masuk,menggunakan tangga dan tidak menggunakan lift, melakukan olahraga/senam, jalan kaki selama 30 menit atau lebih banyak selama lima kali atau lebih dalam satu minggu.

4. Mengkonsumsi Makanan Berlemak
Lemak yang dikonsumsi secara berlebihan dapat memacu kolesterol tinggi dan merangsang penyakit jantung. Biasakan diri Anda untuk mengkonsumsi makanan yang non-kolesterol dan berkadar lemak rendah.
Tips: Takar asupan lemak, jangan lebih dari 10 persen (atau kurang) dari seluruh kalori.

5. Merokok
Untuk mengurangi bahaya kanker dan kerutan dini, Anda dapat mengganti rokok dengan permen karet rasa nikotin. Berdasarkan penelitian di tahun 2004, permen karet rasa nikotin memberikan hasil dua kali lipat dimana perokok berhenti merokok dibandingkan dengan keinginan/janji si perokok untuk berhenti merokok.

6. Menghirup Udara Polusi
Polusi udara dapat menyebabkan batuk dan sakit mata/mata perih dan hal ini berhubungan dengan serangan pada penyakit asma dan saluran pernafasan. Usahakan untuk berada di dalam ruangan sebanyak yang Anda bisa bila kadar udara sedang tinggi.

7. Terlalu Sering Kena Sinar Matahari
Batasi diri Anda dari sengatan sinar matahari dan gunakan tabir matahari, paling tidak yang mengandung SPF 15 untuk mencegah resiko kanker kulit dan juga kerutan.

8. Kurang Tidur
Kurang tidur berhubungan dengan obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi dan masalah ingatan. Singkirkan segera televisi dan benda-benda elektronik lain yang mengganggu ketenangan dari kamar tidur Anda. Tata ulang kamar tidur Anda dan ciptakan suasana kamar tidur yang nyaman dengan lampu yang temaram yang membuat Anda tidur dengan nyenyak.

9. Kelebihan Berat Badan
Kelebihan berat badan dapat memicu kemungkinan penyakit serangan jantung,diabetes, bahkan kanker. Penelitian mutakhir menyatakan jenis diet yang dilakukan kurang penting dibandingkan dengan komitmen Anda untuk melakukan diet tersebut dengan disiplin.

10. Mengonsumsi Gula Berlebih
Gula yang berlebihan dapat menaikkan berat badan dan kemungkinan terserang penyakit jantung. Ahli nutrisi menyarankan untuk menjaga tambahan gula pada makanan kecil/cemilan dan kue-kue kering sampai 12 sendok teh per hari pada diet berkalori 2200. Selain itu ganti makanan yang manis-manis dengan buah-buahan dan sayuran segar. (Nova)

Harry Prasetya, ST

JANGAN MEMASAK AIR DALAM MICROWAVE !!

Diambil dari komplain pengguna Microwave merk General Electric………

Anak saya yang berumur 26 tahun memutuskan untuk membuat minuman kopi. Ia mengambil secangkir air & dipanaskan ke dalam microwave untuk dipanaskan sampai mendidih (sebagaimana sering dia lakukan sebelumnya). Saya tidak tahu pasti berapa lama dia mengeset timer pada microwave tersebut, tetapi dia mengatakan kalau dia ingin air tersebut mendidih.

Ketika timernya sudah otomatis mati, dia mengambil cangkir tersebut dari dalam oven. Dia lihat ke dalam cangkir, dan nampak bahwa air dalam cangkir tidak mendidih, tetapi tiba-tiba air di dalam cangkir “muncrat” ke wajahnya. Cangkir tersebut masih tetap dipegang sampai dia melemparkan dari tangannya, tetapi semua air panas tersebut telah muncrat ke wajahnya karena adanya energi.

Semua wajahnya melepuh dan dia mengalami luka bakar (kulit ari) dan kulit jangat melepuh ber-air, yang mungkin akan meninggalkan bekas luka. Dia juga hampir kehilangan sebagian penglihatan pada mata kirinya. Sewaktu di rumah sakit, dokter yang merawatnya mengatakan bahwa hal ini sering terjadi, dan seharusnya tidak memanaskan air (hanya air) didalam microwave oven.

Jika air dipanaskan dengan cara ini (dalam microwave), sesuatu harus dimasukkan ke dalam cangkir untuk bisa men-difusi-kan energi seperti stik kayu, tea bag (teh celup), dll. Tetapi akan lebih aman kalau mendidihkan air pada ketel air. Mohon teruskan informasi ini kepada semua rekan dan keluarga.

Williams.

Respon dari General Electric :
Terimakasih untuk kontak dengan kami, Mr. Williams.
Kami sangat senang dapat membantu anda. Email yang anda terima adalah benar.  Memasukkan air dan cairan lainnya ke dalam microwave tidak selalu Nampak mendidih (ada gelembung-gelembung udara) pada saat mencapai titik didihnya.

Air/cairan tersebut dapat mengalami “superheated/super panas” dan sama sekali tidak mengeluarkan gelembung-gelembung air.

Cairan yang mengalami “superheated/super panas” akan menggelembung/ muncrat saat cangkir dipindahkan atau saat sesuatu seperti sendok atau teh celup dimasukkan ke dalamnya.

Untuk mencegah hal ini terjadi dan mengakibatkan cedera, jangan memanaskan cairan apapun ke dalam microwave lebih dari 2 menit untuk setiap cangkir. Setelah pemanasan, biarkan cangkir tersebut tetap di dalam microwave untuk sekitar 30 detik sebelum memindahkan atau menambahkan sesuatu ke dalam cangkir tersebut.

Saya harap ini dapat membantu.

10 Cara Menjadi Ayah yang Hebat

1.HORMATILAH IBU ANAK-ANAK ANDA,
Salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan Ayah bagi anak-anaknya
adalah menghormati Ibu mereka. Kalau Anda menikah, jagalah pernikahan
Anda agar tetap kuat dan penuh vitalitas. Kalau Anda, tidak menikah,
adalah tetap penting untuk menghormati serra menunjang Ibu anak-anak
Anda.

2. LEWATKANLAH WAKTU BERSAMA ANAK-ANAK ANDA.
Bagaimana seorang Ayah melewatkan waktunya mengatakan apa yang penting
baginya. Kalau Anda tampaknya selalu terlalu sibuk untuk anak-anak Anda,
mereka akan merasa ditelantarkan, apapun yang Anda katakan.

3. UPAYAKANLAH HAK UNTUK DIDENGARKAN.
Terlalu sering satu-satunya saat sang Ayah bicara kepada anak-anaknya
adalah ketika mereka melakukan suatu kesalahan. Mulailah bicara kepada
anak-anak ketika mereka masih kedl sehingga. topik-topik sulit akan
lebih mudah ditangani ketika mereka semakin besar. Luangkanlah waktu dan
dengarkanlah ide-ide serta persoalan-persoalan mereka.

4. DISIPLINKANLAH DENGAN KASIH.
Semua anak butuh bimbingan dan pendisiplinan, bukan sebagai hukuman,
melainkan untuk menetapkan batasan-batasan yang masuk akal. Ingatkanlah
anak-anak Anda akan ganjaran perbuatan mereka dan berikanlah imbalan
yang berarti atas perilaku yang diinginkan.

5. MODEL PERAN.
Para Ayah adalah model peran bagi anak-anaknya, entah mereka
menyadarinya atau tidak. Seorang anak perempuan yang melewatkan waktu
dengan Ayahnya yang penuh kasih tumbuh dengan pengetahuan bahwa ia
pantas diperlakukan dengan hormat oleh anak-anak lelaki, dan apa yang
harus dicarinya dalam diri seorang suami. Para Ayah dapat mengajari
putera-puteranya apa yang penting dalam kehidupan ini dengan
mendemonstrasikan kejujuran, kerendahan hati, dan tanggung jawab.

6. JADILAH GURU.
Terlalu banyak Ayah yang menganggap bahwa mengajar adalah urusan orang
lain. Namun seorang Ayah yang mengajari anak-anaknya tentang yang benar
dan yang salah serta mendorong mereka untuk melakukan yang terbaik akan
melihat anak-anaknya mengambil pilihan yang baik.

7. MAKANLAH BERSAMA-SAMA KELUARGA.
Makan bersama-sama (sarapan, makan siang, atau makan malam) bisa menjadi
bagian penting dari kehidupan keluarga yang sehat. Selain memberikan
struktur pada hari yang sibuk, ini juga memberi anak-anak peluang untuk
membicarakan apa yang sedang mereka kerjakan dan apa yang ingin mereka
kerjakan.

8. BACAKANLAH CERITA BAGI ANAK-ANAK ANDA.
Mulailah membacakan cerita bagi anak-anak semenjak mereka masih kecil.
Setelah mereka lebih besar, doronglah mereka untuk membaca sendiri.
Menanamkan kecintaan untuk membaca adalah salah satu cara terbaik untuk
memastikan anak-anak Anda mengalami pertumbuhan pribadi maupun karir
seumur hidup.

9. PERLIHATKANLAH KASIH SAYANG ANDA.
Anak-anak butuh ketenteraman yang berasal dari mengetahui bahwa mereka
diinginkan, mereka diterima, dan dikasihi oleh keluarga. Orangtua,
terutama para Ayah, perlu membiasakan diri merangkul anak-anaknya.
Memperlihatkan kasih sayang setiap harinya adalah cara terbaik untuk
memberitahu mereka bahwa Anda sayang kepada mereka.

10. SADARLAH BAHWA TUGAS SEBAGAI AYAH TIDAK PERNAH SELESAI
Bahkan setelah anak-anak besar dan siap meninggalkan rumahpun, mereka
akan tetap mencari hikmat serta nasihat darl Ayahnya. Entah soal
meneruskan pendidikan, pekerjaan baru, atau pernikahan, para Ayah terus
memainkan peran penting dalam kehidupan anak-anak mereka sementara
mereka bertumbuh dan, mungkin, menikah dan membangun keluarga sendiri.

The National Fatherhood Initiative

_______________________________________________
Be more concerned with your character than your reputation,
because your character is what you really are,
while your reputation is merely what others think you are
***********************************************

Indo community

7 Kalimat Tabu Untuk Diucapkan Ayah & Ibu

Bicara pada anak, kelihatannya memang sepele. Tapi percayalah, jika tak jeli
memilih kata-kata dan kalimat, bisa berdampak buruk bagi si kecil.
Tak mau, khan, buah hati jadi tak punya percaya diri, merasa dirinya jadi
pecundang, atau terus-menerus diliputi rasa bersalah?

Sering kita dengar seorang ibu menegur balitanya dengan ucapan, “Kalau kamu
enggak nurut, nanti Ibu tinggal!” Maksudnya, sih, supaya si anak menurut. Tapi
yang sebetulnya terjadi, “ancaman” seperti itu hanya membuat perasaan anak
terluka. Orang tua sering lupa, kalimat yang dilontarkan pada anak, amat
berpengaruh pada rasa percaya diri, kesehatan emosional, dan kepribadiannya.
Dengan kata lain, ada hubungan kuat antara kalimat yang dipakai dengan sikap dan tingkah anak kelak.

Sederet kata memang bisa berdampak positif, juga negatif. Asal tahu saja, bahasa bisa jadi salah satu sumber kekerasan terhadap anak. Pendek kata, perhatikan dan pilih betul kata-kata yang akan disampaikan pada buah hati.

Kalau emosi sedang memuncak, coba, deh, tinggalkan si kecil sejenak, tarik napas dalam-dalam, jalan-jalan, atau minum air putih. Emosi pun akan turun dan kita jadi bisa berpikir lebih tenang. Setelah itu, baru ajak anak berkomunikasi.

Berikut sejumlah kalimat tabu untuk dilontarkan pada si buah hati.

1. “Gara-gara kamu, Ayah dan Ibu jadi pisah.”
Tak seorang anak pun bisa dijadikan alasan perceraian orang tuanya. Seorang anak tak selayaknya menanggung beban yang sedemikian berat. Meski hal itu benar adanya dan disampaikan dengan halus, tetap saja anak akan merasa sangat bersalah. “Seandainya saya tak nakal, pasti Ayah dan Ibu enggak pisah,” begitu yang seringkali timbul di benaknya.

2. “Kalau enggak berhenti menangis, Ibu tinggal kamu di sini!”
Ketakutan terbesar dari seorang anak adalah berpisah atau ditinggalkan
sendirian. Apalagi oleh orang tuanya. Mengancam anak dengan kalimat seperti itu dengan tujuan anak mau menuruti perintah dan berhenti melakukan suatu tindakan,jelas tidak bijak. Lebih bijaksana jika memberinya pilihan. Misalnya,

 

“Sayang,jika kamu tetap saja berteriak-teriak seperti itu, lebih baik kita pulang saja,ya. Ibu baru mau meneruskan belanja kalau kamu berhenti berteriak-teriak.
Terserah, kamu mau pilih yang mana?” Alternatif lain adalah dengan mengalihkan perhatian anak atau menghentikan kegiatan untuk sementara. Siapa tahu, Anda atau si kecil memang sudah capek dan perlu istirahat.

3.”Mestinya kamu malu pada diri sendiri.”
Rasa bersalah akan segera menyergap anak jika kita mengucapkan kalimat seperti itu. Sementara orang tua justru yakin, kalau anak merasa bersalah, ia pasti bakal mengubah kelakuan dan jadi menurut.

 

Memang, rasa bersalah atau rasa malu bisa membuat seseorang, termasuk anak, mengubah perilakunya sesuai yang diharapkan. Namun, jangan salah. Pada saat yang sama, ia juga akan merasa dirinya sebagai pecundang. “Saya memang anak nakal, tak bisa bikin orang tua senang,” “Saya selalu salah,” dan sebagainya. Ujung-ujungnya, rasa percaya diri anak menurun drastis.

4. “Kami tak pernah mengharapkan kamu.”
“Nyesel rasanya Ibu melahirkan kamu! Kalau tahu kamu bakal senakal ini, lebih
baik kamu tak lahir saja.” Kalimat seperti ini sungguh tak bisa diampuni. Tak
peduli apa kesalahan anak atau selembut apa pun disampaikan, tetap saja tak
dibenarkan untuk dilontarkan. Sebab, hanya menunjukkan ada yang tak beres dalam hubungan orang tua dan anak. Jika ini yang terjadi, segera cari tahu, apa yang salah dalam hubungan dengan si kecil. kalau perlu, segera minta bantuan ahli.

5. “Kenapa, sih, enggak bisa seperti adikmu?”
Saat orang tua membandingkan anak dengan saudaranya, berarti salah satu di
antaranya dianggap kurang. Kalimat ini membawa pesan pada anak, ia tak lebih
pandai, tak lebih baik, dan tak lebih cakap dibanding saudaranya. Kalimat, “Kamu memang tak seperti kakakmu,” akan membuatnya merasa dikucilkan dan bisa berdampak hingga ia dewasa.

Membanding-bandingkan antara saudara juga akan menciptakan persaingan tak sehat di antara mereka. Alhasil, mereka jadi “hobi” bertikai dan akhirnya merusak hubungan antar-anak. Terimalah setiap anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ingat, tiap anak adalah individu unik.

6. “Pokoknya lakukan seperti kata Ibu!”
Kalimat ini membawa pesan, “Kamu, kan, anak kecil,tahu apa, sih? Ibu, kan, lebih tahu dan lebih pintar. Tugas saya adalah memberi tahu dan tugas kamu adalah mematuhi apa yang saya katakan!”

Kalimat ini akan menciptakan kebencian pada diri anak. Lain halnya jika
disampaikan dalam bentuk yang bisa mengundang empati anak, semisal, “Ibu
benar-benar capek, Sayang.”

7. “Sini, biar Ibu yang bikinin.”
“Sini, biar Mama yang kerjakan,” “Kali ini, Ibu mau bantu kamu.” Jika kalimat-kalimat itu selalu dilontarkaan setiap kali anak mendapat kesulitan, sama artinya dengan menciptakan rasa tak berdaya atau tak mampu dalam diri sikecil. Cara ini juga membuka peluang bagi anak untuk melakukan hal yang sama dimasa depan.

Kalau cuma dilakukan sekali, sih, tak masalah. Tapi dua kali, berarti pola sudah
tercipta. Tiga kali dan seterusnya? Berarti Anda sudah menciptakan pekerjaan
baru bagi diri sendiri.

ORANG TUA BAIK, ANAK JUGA JADI BAIK
Memberi anak motivasi agar berperilaku baik, sebetulnya tak sulit, kok. Orang
tua pun tak perlu menggunakan sikap otoriter yang justru bikin anak tertekan.

* Ubah sikap
Orang tua adalah model bagi anak. Jadi, coba cari tahu, apa yang membuat anak melakukan hal-hal yang tak Anda “setujui.” Bisa saja, mereka meniru dari Anda. Coba catat, apa perilaku baik yang dilakukan anak minggu ini dan catat pula apa yang Anda lakukan di minggu yang sama. Jika Anda berlaku “baik,” bisa dipastikan anak pun akan bertingkah baik pula.

* Buat aturan main
Apakah Anda sudah membuat aturan yang jelas di dalam keluarga? Termasuk untuk anak-anak Anda? Misalnya, setiap bangun tidur harus membereskan sendiri tempat tidur. Aturan akan membantu anak melakukan hal-hal positif tanpa kita perlu bersikap keras. Yang tak kalah penting, bersikaplah konsisten. Sekali Anda berkompromi dan melanggar aturan, anak pun akan punya cara untuk keluar dari aturan. Caranya? ya, dengan cari-cari alasan agar tak perlu ikut aturan.

* Cintai buah hati
Anak, di usia berapa pun, selalu ingin membuat orang tuanya senang. Mereka
adalah makhluk yang dipenuhi kasih. Tak ada anak yang berniat mencelakakan
ibunya, kan? Perhatian dan cinta orang tua yang tulus dan tanpa pamrih pada
mereka adalah motivator terkuat bagi anak.

* Tetapkan tujuan
Apa, sih, sebetulnya tujuan Anda mendidik dan membesarkan anak? Coba tulis,
apakah Anda ingin membesarkan anak menjadi orang yang penuh cinta kasih atau yang disiplin, dengan cara apa pun? Nah, cermati betul, apa kira-kira hasil yang akan diperoleh dari tujuan tadi. (Tabloid Nova)

Berkomunikasi Efektif Dengan Anak


Mother And Baby Fri, 03 Apr 2009 16:00:00 WIB

“Tiara, mama kan sudah bilang, kalau main jangan di ruang tamu, nanti ruang tamunya berantakan, kalau tiba-tiba ada tamu kan malu,” ujar Erna (28 tahun), kepada putrinya. Tapi, Tiara yang masih berusia empat tahun itu tetap bergeming dan terus asyik bermain di ruang tamu, dengan teddy bear-nyatanpa mempedulikan mainan lainnya yang berserakan. Erna yang berusaha memahami putrinya mencoba bersabar. Tapi sambil iseng, ibu dari tiga orang anak itu berkata, “Tiara, ikut Mama belanja yuk!” Serta merta bocah kecil yang masih duduk di bangku TK itu melempar bonekanya dan langsung menggandeng lengan sang mama. “Yuk, Ma. Nanti beli’in boneka lagi ya,” ujar Tiara dengan riang.

Cerita di atas bisa jadi juga banyak dialami orangtua ketika berkomunikasi dengan anaknya. Kalau yag dibicarakan adalah sesuatu yang menyenangkan, anak langsung merespon, meskipun sebelumnya ia tampak tak peduli pada kegiatan lain selain yang sedang dilakukannya. Sebaliknya kalau diminta tolong ini-itu, apalagi kalau diminta untuk mendengarkan nasihat yang panjang lebar. Jangankan merespon, mau mendengarkan saja sudah bagus.

Anak-anak yang berusia sekitar empat tahunan, umumnya sudah bisa memahami apa yang dikatakan orang dengan baik. Namun tak jarang, mereka hanya merespon untuk hal-hal yang menyenangkan dirinya saja. Berhubung anak lebih suka mendengar hal yang menurutnya menyenangkan, maka cara orangtua menyampaikan pesan perlu dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tak terkesan memerintah, menyuruh, menegur, ataupun melarang. Misalnya, dalam kasus Tiara tadi. Mungkin Tiara akan merespon lain, bila Erna mengatakan, “Tiara mau ikut Mama belanja? Tapi mainannya tolong dibereskan dulu ya…”

Gunakan kalimat positif
Menurut Rosdiana Tarigan, M.Psi, MHPEd, berbicara pada anak harus menggunakan kalimat yang positif, misalnya daripada “jangan lari” lebih baik menggunakan kalimat “jalan pelan-pelan”. Barangkali, kata “jangan” adalah kata yang paling sering diucapkan orangtua kepada anaknya. Orangtua kerap menggunakan kata itu begitu melihat anak melakukan tindakan yang kurang ia sukai. Padahal, menurut Rosdiana, kata jangan tidak membuat anak menjadi lebih mudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan.” Akibatnya, anak sulit memenuhi harapan orangtua, sementara orangtua bisa semakin jengkel karena merasa nasehatnya tidak didengar anak,” ujar psikolog dari RS Pluit, Jakarta, yang akrab disapa Diana itu.

Kalimat berisi larangan atau nasehat, menurut Diana, bukannya tidak boleh digunakan. Namun akan lebih efektif disampaikan kepada anak, dalam suasana yang netral. Misalnya, ketika anak dan orangtua sedang saling berinteraksi dengan akrab, bermain atau membaca bersama. Dalam suasana seperti itu, anak akan lebih mudah memahami pesan-pesan yang ingin disampaikan. Mereka bisa menerimanya sebagai aturan, dan bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya.

Diana juga menambahkan, komunikasi dengan anak hendaknya tidak dilakukan sekenanya, atau seenaknya orangtua. “Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan komunikasi dengan anak, yaitu positif, bermanfaat, jujur, valid, dan reliable.” Oleh karena itu, sebaiknya orangtua memikirkan dengan baik, hal-hal apa yang perlu disampaikan kepada anak. Misalnya, tidak menggunakan kalimat bertanya yang justru akan mendorong anak untuk berkata tidak. Umpamanya, “Kamu mau enggak membereskan mainanmu?”, akan lebih baik jika mengatakan, “Sayang ya, kalau mainanmu yang berantakan ini sampai terinjak-injak. Kita beresin yuk?!”

Orangtua juga perlu memahami, bahwa pada dasarnya banyak orang yang tidak suka diperintah. Begitu pula anak-anak. Daripada mengatakan, “Habis makan, taruh piring di tempat cucian ya,” sebaiknya katakan, “Sayang, sehabis makan dimana sebaiknya kamu menyimpan piring ini?” Dengan begitu, anak juga belajar untuk berpikir mencari solusi. Kalimat-kalimat yang menjurus pada jawaban ya atau tidak, sebaiknya dihindari. Hal ini berlaku dalam upaya memberi perintah, nasihat, atau pun percakapan sehari-hari. Contohnya, daripada menanyakan, “Kamu senang di sekolah tadi?”, akan lebih bijak jika bertanya, “Apa saja kegiatan seru yang tadi kamu lakukan di sekolah?” Setelah itu, ajak anak membicarakan topik-topik menarik yang bagi anak, yang ia lakukan di sekolah.

Kalaupun bermaksud memberi perintah kepada anak, usahakan agar unsur-unsur memerintah disamarkan. Akan lebih bijak bila keinginan orangtua untuk memerintah anak, diikuti pula dengan pemberian contoh. Misalnya, ketika ingin memerintah anak untuk membereskan mainannya yang berantakan. Anak mungkin akan menolak atau pura-pura tidak mendengar jika diperintah langsung untuk membereskan semua mainannya yang berantakan. Akan lebih efektif bila perintah untuk membereskan mainan itu, dilakukan dengan cara mengajak sambil mencontohkan. Misalnya, “Waduh kalau mainanmu sampai terinjak bisa berbahaya. Yuk kita bereskan sama-sama.”

Dengan memberi ajakan dan contoh, bukan tidak mungkin, di kemudian hari, anak akan mau melakukan yang diharapkan, tanpa menunggu perintah atau permintaan orangtua. Langkah ini selain untuk menumbuhkan sikap mandiri pada anak, sekaligus mengajarkan bagaimana menjalin kerja sama. Dengan bahu-membahu, pekerjaan akan lebih cepat selesai.

Perhatikan nada bicara
Selain memilih kalimat yang tepat, Diana jua menyarankan agar orangtua memperhatikan nada bicaranya kepada anak. Boleh saja bertindak tegas kepada anak, namun jangan berteriak, membentak, atau mengomel tak berkesudahan. Selalu bersikap lembut, sebenarnya juga kurang baik bagi perkembangan si anak. Ada saat-saat dimana orangtua perlu menunjukkan sikap tegas agar anak memahami makna kedisiplinan. Misalnya, ketika anak menunda-nunda pekerjaan, atau ogah-ogahan menjalankan suatu kewajiban. Sikap tegas berarti mengatakan apa yang perlu dan harus dilakukan dengan nada bicara yang datar namun jelas. Contohnya ketika anak menunda-nunda mandi. “Adik, ini sudah waktunya mandi. Ayo matikan televisinya.” Dengan bersikap tegas, anak akan merasa segan pada orangtua sehingga tak mau lagi melanggar aturan.

Satu hal yang tak kalah penting, kenali karakter anak untuk menemukan gaya berkomunikasi yang pas dengannya. Anak yang cenderung pemalu atau pasif memang biasanya lebih cuek ketimbang anak yang terbuka atau aktif. Cobalah berbagai gaya bicara yang paling efektif untuk masing-masing karakter anak. “Sesekali mungkin Anda lepas kontrol. Kembali ke gaya lama atau cenderung emosional menghadapi anak yang cuek. Tidak apa, tapi ubahlah segera gaya bicara Anda sebelum anak menutup telinganya rapat-rapat,” tutur Diana.

Kata-kata yang diucapkan sebaiknya pendek atau sederhana. Tidak terlalu berbelit-belit. Bila Anda sulit membuat kalimat seperti itu, sesekali perhatikan bagaimana si anak berkomunikasi dengan teman seusianya. Cermatilah caranya, dan tiru. Bila anak memperlihatkan gejala bahwa dirinya tak berminat diajak ngobrol, boleh jadi itu karena ia tak terlalu mengerti ucapan orangtuanya karena bertele-tele, atau terlalu banyak berisi kalimat perintah atau larangan.

Posisi tubuh
Dalam melakukan komunikasi dengan anak, perhatikan pula posisi tubuh kita. Posisi badan yang sejajar dengan tinggi badan si anak dan jaraknya tidak terlalu jauh, akan memudahkan anak untuk fokus pada pesan yang diucapkan orangtua. Hal ini dapat dilakukan dengan menekuk kaki, membungkukkan badan, atau mengambil posisi duduk. Adanya kontak mata juga dapat memberi kesan pada anak bahwa orangtua bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dengan menatap matanya, anak akan merasa mendapat perhatian, dan keberadaannya begitu penting. Jika anak terlihat tidak memperhatikan, sentuhlah dia untuk menarik perhatiannya. Sikap tersebut menunjukkan keseriusan kita dalam berkomunikasi. Kalau perlu, rangkul atau dekap anak saat kita mengajaknya berbicara.

Meskipun orangtua berhak dan wajib menegur, menasihati, atau sekedar mengomentari anaknya, namun tetap perlu berhati-hati dalam memilih kata dan nada bicara. Salah bicara sedikit dapat mengakibatkan efek yang akan terbawa hingga mereka dewasa nantinya. Maklum saja, dalam usia yang masih dini, wawasan anak agak terbatas, dan cara berpikirnya juga masih polos sehingga perasaan mereka juga agak peka. Namun begitu, anak-anak memiliki “keunggulan”, yaitu daya ingat dan daya cerna mereka yang luar biasa hebatnya.

Menurut Ratih Andjayani Ibrahim, Psi, MM, psikolog perkembangan dan pendidikan dari Personal Growth, bagaimana informasi itu disampaikan serta diterima oleh anak akan memberikan pengaruh yang tak main-main terhadap perkembangan anak, diusianya sekarang maupun nanti. “Meliputi perkembangan dirinya secara keseluruhan, termasuk di dalamnya perkembangan mental, kepribadian dan karakternya,” ungkap Ratih.

Trust merupakan faktor terpenting
Ratih menambahkan cara berbicara dengan anak-anak yang paling pas adalah dengan mengobrol atau sharing. Mengobrol mengandung makna dua arah, dialog dan interaktif sifatnya. Di dalamnya juga terdapat unsur kedekatan, keakraban dan trust. “Hal-hal tersebut merupakan syarat bagaimana sebuah komunikasi dapat terjalin dengan baik, tidak hanya efektif, tapi juga sehat sifatnya,” ujarnya.

Trust merupakan unsur terpenting karena tanpa adanya trust, cara komunikasi secanggih apapun, akan macet. Oleh karena itu, orangtua harus menyadari pentingnya membangun trust di dalam diri anak. Membangun trust, masih menurut Ratih, tak semudah membalikkan telapak tangan. “Faktor trust perlu dibangun seumur hidup, sejak usia anak masih sangat dini,” tegasnya.

Dengan adanya trust, berbagai isu seperti cinta kasih, sopan santun, relasi, etiket, serta masih banyak isu lain dapat muncul dengan sendirinya dalam perbincangan sehari-hari antara anak dan orangtua. Oleh karena itu, orangtua perlu membuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkomunikasi dengan anak, tanpa harus secara khusus mempersiapkan waktu dan mengangkat isu khusus untuk dibicarakan.

Selain mengakrabkan hubungan orangtua-anak, Ratih memastikan komunikasi antara anak-orangtua memiliki manfaat yang luar biasa. Anak diharapkan akan memperoleh informasi yang benar dari sumber yang terpercaya, yaitu orangtuanya sendiri. Ada klarifikasi informasi jika memang dibutuhkan. Orangtua maupun anak dapat saling belajar satu sama lain dan bertumbuh bersama-sama, dan terdapat suatu ikatan emosional yang terbangun secara positif.

“Anak yang terbiasa berkomunikasi secara baik dengan orangtuanya juga akan tumbuh sebagai pribadi yang lancar dalam berkomunikasi, dan mengekspresikan dirinya. Ada self esteem yang baik, serta sikap kritis dan analitis yang tumbuh dalam diri anak. Juga akan muncul sikap sportif untuk mampu berdiskusi dan menerima perbedaan pendapat,” lanjut Ratih.

Bila anak tak mau mendengarkan saat diajak bicara oleh orangtuanya, menurut Ratih, orangtua perlu memahami mengapa anak bersikap demikian. Mungkin isu yang dibicarakan tidak menarik bagi anak, di luar konteks minat anak, cara memaparkannya atau mendiskusikannya tidak cocok dengan gaya si anak. Atau jangan-jangan anak memang tidak nyaman, atau enggan, mengobrol dengan orangtuanya. “Jadi bukan isunya, tapi tentang dengan siapanya,” katanya. Bila kemungkinan ini yang terjadi maka perlu mengintrospeksi hubungannya dengan anak.

Tapi bisa saja, ketika diajak bicara anak sedang “sibuk” dengan hal lain yang lebih diminatinya. Oleh karena itu orangtua perlu mengetahui apa yang sedang jadi minat anak, apa yang menurut dia penting, apa yang membuat dia jadi suka sekali dengan sesuatu hal. “Kita bisa masuk dari situ untuk kemudian menariknya ke isu lain yang ingin dibahas bersama,” papar Ratih. Bila orangtua sudah dapat memahami hal-hal tersebut di atas, cobalah untuk menemukan cara yang pas untuk mengajak anak keluar sejenak dari keasyikannya sendiri, dan terlibat dengan isu dan pembicaraan orangtuanya.

Bambang Hari Sumarto

Sumber: Majalah Inspire Kids