MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT

– - – sebuah perenungan

Based on True Story..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah sudah lebih 32 tahun

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka,sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata

* ” Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” .dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya
* “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya,kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.”
* Anak2ku ……… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu,mungkin bapak akan menikah……tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian..sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.

* kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.” Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno

* merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

* Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak Suyatno bercerita.

* “Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu,tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya,dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

* Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”

Mahalnya sebuah karir

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak, mantan direktur sebuah perusahaan multinasional.
Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suaminya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke mengalami kelumpuhan karena
memikirkan musibah ini.

Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan.

Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah pembantu kami. Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba. Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak begitu hebat pada putri kami. Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami,dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun.

Bahkan bagi Maya dan Doni , bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggal. Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini.Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu)

Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya “Hari ini Mama sakit di
Rumah sakit”, hanya itu saja. Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul.

Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya. Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni,Maya dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.

Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian bahkan mungkin lebih.
Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka.
Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja,ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti “robot” yang terprogram untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya.
Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi?.

Meski sebenaranya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan. Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian
pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya.

Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan “kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas “selalu menjadi patokan saya.

Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar. Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba
dan saya tidak mengetahuinya!

Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu terngiang ditelinga. Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya,setelah dia ditinggal mati suaminya.

Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami. Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya.
Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan.

Akhirnya semua terjadi ,setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu , bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit. Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.

Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya.
Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami.Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka,sudah seperti ibu kandungnya! menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia.Tragis.

Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta. Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor.

Dan dihalaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.
Maya menulis :

* “Ya Allah kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat sholat,siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah,siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur……….Ya Allah , Maya kangen banget sama bik Inah

Astagfirullah bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya,bukan bik Inah ?
Sungguh hancur hati saya membaca itu semua,namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu.

Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.
Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya.

Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya.
Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan

* “prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya”.

Biarkan saya seorang yang mengalaminya.
Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy dan mencoba aktif ikut dipengajian pengajian untuk menentramkan hati saya.
Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.

Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya,karena itu tidak mungkin!.
Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya.
Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.
Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.
Dan semoga Allah mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya.
Dan disetiap berdoa saya selalu memohon

* “YA Allah seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Allah,biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram disisiMu”. Semoga Allah mengabulkan doa saya.

(Jakarta, Januari 2002).

Racun yang Menyembuhkan

(Terjemahan dari “The Healing Poison”)

Dahulu kala, seorang gadis bernama Li-Li menikah dan tinggal bersama suami serta ibu mertuanya. Dalam waktu singkat, Li-Li langsung merasa bahwa ia tidak dapat hidup bersama-sama dengan mertuanya lagi.

Kepribadian mereka sangat berbeda, dan Li-Li sering marah dengan kebiasaan-kebiasaan dari ibu mertuanya.Lebih lagi, ia sering mengritik Li-Li. Hari berganti hari, minggu berganti minggu.
Li-Li dan ibu mertuanya tidak pernah berhenti berdebat dan berkelahi. Tetapi yang membuat keadaan makin memburuk adalah, menurut tradisi Cina, Li-Li harus tunduk pada mertuanya dan menuruti setiap keinginannya.

Seluruh kemarahan dan ketidakbahagiaan di rumah tersebut menyebabkan suami yang malang itu menjadi sangat susah. Akhirnya, Li-Li tidak dapat menahan lagi sikap buruk
dan kesewenangan ibu mertuanya, dan ia memutuskan untuk berbuat sesuatu.

Li-Li pergi menemui sahabat ayahnya, Pak Huang, yang menjual jamu-jamuan. Ia menceritakan keadaannya dan bertanya apakah ia bisa memberikan sejenis racun agar
ia bisa bebas dari masalahnya sekarang dan seterusnya.

Pak Huang berpikir sejenak, dan akhirnya berkata,

* “Li-Li, aku akan membantu memecahkan persoalanmu, tetapi kau harus dengar kataku dan menaati apa yang kukatakan”. Li-Li menjawab,
* “Ya, Pak Huang, aku akan melakukan apa pun yang kaukatakan”. Pak Huang pergi ke ruang belakang, dan kembali tak lama kemudian dengan satu pak ramu-ramuan. Ia berkata kepada Li-Li,
* “Kau tidak dapat menggunakan racun yang bereaksi cepat untuk menyingkirkan ibu mertuamu, sebab akan membuat orang curiga. Karena itu, aku akan membunuhnya perlahan-lahan. Setiap kali kau menyiapkan makanan, taruhlah sedikit ramuan ini kedalam makanannya. Sekarang, supaya tidak ada orang yang mencurigaimu ketika ia mati, kau harus sangat berhati-hati dan berlakulah ramah di hadapannya. Jangan berdebat dengannya, turuti setiap kemauannya,dan perlakukanlah ia sebagai ratu”.

Li-Li sangat gembira. Ia berterima kasih kepada Pak Huang dan bergegas pulang untuk memulai aksi pembunuhan ibu mertuanya.

Minggu berjalan, bulan berlalu, dan setiap hari Li-Li menyediakan makanan secara istimewa untuk ibu mertuanya. Ia ingat apa yang Pak Huang nasehatkan agar menghindari kecurigaan orang, maka ia mengendalikan emosinya, menuruti mertuanya, dan memperlakukannya
seperti ibunya sendiri. Enam bulan telah berlalu, seluruh kehidupan rumah tangga itu telah berubah.

Li-Li telah dapat mengendalikan emosinya sedemikian rupa sehingga ia hampir tidak pernah lagi merasa kesal atau marah-marah. Selama enam bulan ia tidak pernah lagi berdebat dengan ibu mertuanya, yang kini tampak lebih ramah dan mudah untuk hidup bersamanya.

Sikap ibu mertua kepada Li-Li pun berubah, dan ia mulai mencintai Li-Li seperti anak kandungnya sendiri. Ia menceritakan kepada teman-teman dan kerabatnya bahwa Li-Li adalah menantu paling baik yang pernah ditemui. Li-Li dan mertuanya sekarang saling menyayangi satu sama lain seperti layaknya ibu dan anak. Suami Li-Li sangat bahagia melihat apa yang kini terjadi.

Suatu hari, Li-Li datang menemui Pak Huang dan meminta bantuannya kembali. Ia berkata,

* “Pak Huang, tolonglah saya untuk mencegah racun tersebut membunuh ibu mertua saya! Ia telah berubah menjadi seorang wanita yang baik, dan saya mencintainya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak ingin ia mati karena racun yang saya berikan”.Pak Huang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
* “Li-Li, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku tidakpernah memberimu racun. Ramuan yang aku berikan adalah vitamin untuk memperbaiki kesehatannya. Racun itu hanya ada dalam pikiranmu dan dalam perlakuanmu terhadapnya, tetapi semua itu telah terhapus dengan cinta kasih yang kauberikan kepadanya”.

PESAN MORAL : Kawan, sudahkah kamu menyadari bahwa apa yang kamu perbuat bagi orang lain adalah apa yang akan mereka perbuat untukmu?
Di Cina ada pepatah : Orang yang mencintai, akan dicintai. Itulah HUKUM EMAS.

Bahaya Mandi Bola-Bola Permainan

McDonalds, Burger king, Time Zone… Tempat bermain bagi anak2 yang
dipenuhi bola2… biasanya disebut kolam bola….
Satu dari putra2ku kehilangan jam tangannya dan karenanya dia sangat kecewa. Jadi kami menggali di antara bola2 untuk mencarinya.

Daripada menemukan jam tersebut, kami menemukan muntahan, makanan, kotoran, dan sesuatu lainnya yang tidak ingin saya sebutkan. Saya pergi ke manager dan memprotess hal tersebut, dan menemukan bahwa kolam bola hanya dibersihkan satu kali setiap bulannya.

Saya bahkan ragu bahwa itu telah dilakukan sesering itu. Anak2ku tidak akan pernah bermain lagi di kolam bola manapun.
Beberapa di antara kalian mungkin bukan orang tua, tapi mungkin kau punya keponakan, cucu, atau berteman dengan anak2.

Kasus lainnya akan membuatmu terenyuh. ketika aku membacanya, hatiku terasa tersayat, dan aku mohon agar ini difoward ke lebih banyak orang lagi. Kau tidak akan bisa membayangkan bertapa pentingnya ini..

Hai, namaku Lauren Archer, putraku KEvin dan aku tinggal di Melbourne,Australia .2 October 1999, aku membawa putra tunggalku ke MC Donalds untuk perayaan ulang tahunnya yang ketiga. Setelah dia menyelesaikan makan siangnya aku mengijinkan dia bermain di kolam bola. ketika tak lama kemudian dia mulai melolong, aku bertanya kepadanya apa ada masalah.

Dan dia menunjukkan pantatnya dan berkata dengan sederhana : Ma, disini sakit. Aku tidak dapat menemukan apapun yang keliatannya bermasalah pada dia saat itu. Aku memandikannya ketika kami pulang, dan menemukan di point yang dia tunjuk, terdapat memar – bekas bilur di pantatnya.

Berdasarkan pemeriksaan, kelihatannya itu adalah sesuatu seperti ada serpihan di bawah memar itu. Aku membuat janji dengan dokter pada hari berikutnya dan anakku mulai muntah dan gemetaran, kemudian matanya berputar ke belakang kepalanya, dari situ, aku memutuskan untuk ke ruang darurat/ICU. Dia meninggal tepat pada malam hari itu.

Yang mematikannya adalah memar di pantatnya, yang merupakan ujung sebuah jarum suntik yang patah ketika tertusuk masuk ke pantatnya. Hasil autopsi menyebutkan Kevin mati karena overdosis heroin.

Minggu berikutnya, polisi memindahkan bola2 dari kolam bola. di sana
ditemukan makanan rusak, beberapa jarum suntik lainnya, beberapa masih dosis penuh, beberapa telah digunakan, pisau2, permen yang dimakan separuhnya, diapers, kotoran, dan genangan urine.

Jangan mengira ini hanya terjadi di Mc. Donalds. Seorang anak kecil
lainnya telah bermain di kolam bola Burger King dan mulai mengeluh
lengannya terluka. Dia juga meninggal kemudian. Ditemukan bahwa dia
mendapat gigitan ular di sekitar lengan dan pantatnya.

Ketika mereka membersihkan kolam bola itu, mereka menemukan sarang ular berbisa di dasar kolam bola tersebut. Anak kecil itu telah menderita sejumlah gigitan dari ular2 yang sangat berbisa.

Kirimkan ini, teruskan ini, jika anda peduli pada anak2. Teruskan kepada
orang tua lainnya. Apa jadinya dunia ini.. anak2 bahkan tidak aman di tempat bermain untuk anak2.
Think about it- Pikirkanlah. . sekalipun tidak mematikan jika tertusuk
jarum suntik bekas, bagaimana jika jarum suntik itu jarum bekas pengidap AIDS? bayangkan bakteri di antara bola2 yang dasarnya ada kotoran?

Cermin Orang Tua

Suatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama yang meriah, dengan pemain yang semuanya siswa-siswi disana. Setiap anak mendapat peran, dan memakai kostum sesuai dengan tokoh yang diperankannya.
Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung, semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara itu.

Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya, ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerap terdengar, di sisi kiri dan kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Dan itu berarti, sudah saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka terpilih menjadi pemain drama yang terbaik. Dalam komat-kamit mereka berdoa, supaya Pak Guru menyebutkan nama mereka, dan mengundang ke atas panggung untuk menerima hadiah. Para orangtua pun ikut berdoa, membayangkan anak mereka menjadi yang terbaik.

Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama. Ahha…ternyata, anak yang menjadi pak tua pemarah lah yang menjadi juara. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. “Aku menang…”, begitu ucapnya. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtuanya yang tampak bangga.

Tepuk tangan terdengar lagi. Sang orangtua menatap sekeliling, menatap ke seluruh hadirin. Mereka bangga.

Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit bertanya kepada sang “jagoan,

* “Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang yang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini? Kamu pasti rajin mengikuti latihan, tak heran jika kamu terpilih menjadi yang terbaik..” tanya Pak Guru, “Coba kamu ceritakan kepada kami semua, apa yang bisa membuat kamu seperti ini..”.

* Sang anak menjawab, “Terima kasih atas hadiahnya Pak. Dan sebenarnya saya harus berterima kasih kepada Ayah saya dirumah. Karena, dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayahlah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka, bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah.” Tampak sang Ayah yang mulai tercenung. Sang anak mulai melanjutkan, “Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini, adalah peran yang mudah buat saya…”

Senyap. Usai bibir anak itu terkatup, keadaan tambah senyap. Begitupun kedua orangtua sang anak di atas panggung, mereka tampak tertunduk. Jika sebelumnnya mereka merasa bangga, kini keadaannya berubah. Seakan, mereka berdiri sebagai terdakwa, di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka.

~~~

Teman, setiap anak, adalah duplikat dari orang di sekitarnya. Setiap anak adalah peniru, dan mereka belajar untuk menjadi salah satu dari kita. Mereka akan belajar untuk menjadikan kita sebagai contoh, sebagai panutan dalam bertindak dan berperilaku. Mereka juga akan hadir sebagai sosok-sosok cermin bagi kita, tempat kita bisa berkaca pada semua hal yang kita lakukan. Mereka laksana air telaga yang merefleksikan bayangan kita saat kita menatap dalam hamparan perilaku yang mereka perbuat.

Namun sayang, cermin itu meniru pada semua hal. Baik, buruk, terpuji ataupun tercela, di munculkan dengan sangat nyata bagi kita yang berkaca. Cermin itu juga menjadi bayangan apapun yang ada di depannya. Telaga itu adalah juga pancaran sejati terhadap setiap benda di depannya. Kita tentu tak bisa, memecahkan cermin atau mengoyak ketenangan telaga itu, saat melihat gambaran yang buruk. Sebab, bukankah itu sama artinya dengan menuding diri kita sendiri?

Teman, saya ingin berpesan kepada kita semua, “berteriaklah kepada anak-anak kita saat kita marah, maka, kita akan membesarkan seorang pemarah Bermuka ketuslah kepada mereka saat kita marah, maka kita akan membesarkan seorang pembenci, dan biarkanlah mulut dan tangan kita yang bekerja saat kita marah, maka kita akan belajar menciptakan seorang yang penuh dengki…

Peran apakah yang sedang kita ajarkan kepada anak-anak kita saat ini? Contoh apakah yang sedang kita berikan kali ini? Dan panutan apakah yang sedang kita tampilkan?

Teman, percayalah, mereka akan selalu belajar dari kita, dari orang yang terdekatnya, dari orang yang mencintainya. Merekalah lingkaran terdekat kita, tempat mereka belajar, menerima kasih sayang, dan juga tempat mereka meniru dalam berperilaku.

Saya berharap, bisa menjadi orang yang sabar saat melihat seorang anak menumpahkan air di gelas yang mereka pegang. Saya berharap menjadi orang yang ikhlas, saat melihat mereka memecahkan piring makan mereka sendiri.

Sebab, bukankah mereka baru “belajar” memegang gelas dan piring itu selama 5 tahun, sedangkan kita telah mengenalnya sejak lebih 20 tahun?
Tentu mereka akan butuh waktu untuk bisa seperti kita…..

BAGI YG BELUM BERKELUARGA DAPAT BELAJAR DARI SEKARANG !!!

Kiriman: Julistian Irawati (SDS)

Apakah Anda mengerti arti kata KELUARGA?

Kata-kata Kasar

Hampir saja saya bertabrakan dengan seseorang di jalan, “Oh, maaf” kata saya. Orang itu berkata, “Maafkan saya juga; saya tidak melihat Anda.”
Kami berdua, orang itu dan saya, sama-sama bersikap sopan. Kami bahkan mengucapkan selamat tinggal sebelum berpisah. Namun keadaan menjadi berbeda ketika berada di rumah, bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, baik yang muda maupun yang tua.

Pada hari yang sama, pada saat saya sedang mempersiapkan makan malam,anak saya berdiri di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya menabraknya. “Minggirlah,” saya menggerutu. Anak saya segera meninggalkan tempat itu sambil bersedih hati. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya tadi.

Ketika saya berbaring di tempat tidur, saya mendengar suara Tuhan dengan lembut berkata, “Ketika berhadapan dengan orang yang tidak kaukenal, engkau bersopan santun, tetapi terhadap anak yang kaukasihi, engkau malah menyakitinya. Pergilah ke dapur dan lihatlah, engkau akan menemukan bunga di dekat pintu masuk dapur.

Bunga-bunga tersebut dipetik khusus untukmu. Anakmu sendiri yang memilih warnanya: merah muda, kuning, dan biru. Sebenarnya ia bermaksud untuk memberimu kejutan, tetapi engkau tidak menyadarinya, dan bahkan tidak melihat bahwa ia hampir menangis.”

Pada saat itu, saya merasa begitu rendah, dan hampir meneteskan airmata. Perlahan-lahan saya menuju ke kamar anak saya dan berjongkok di dekat tempat tidurnya; “Bangun anakku, bangunlah,” kata saya. “Apakah bunga-bunga ini untuk ibu?” Anak saya tersenyum sambil berkata, “Saya menemukannya di dekat pepohonan.

Saya memetiknya karena mereka cantik seperti ibu. Saya tahu ibu pasti menyukainya, terutama yang berwarna biru.” Saya berkata, “Maafkan sikap ibu hari ini, tidak seharusnya ibu
berteriak seperti itu.” Ia berkata, “Tidak apa-apa Bu. Saya tetap mencintai ibu.” Kata saya, “Ibu mencintaimu juga, dan ibu menyukai bunga-bunga itu, terutama yang berwarna biru.”

Apakah Anda menyadari apabila besok kita meninggal dunia, perusahaan dimana kita bekerja akan begitu mudahnya menempatkan orang lain pada posisi atau jabatan kita. Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan selalu merasa kehilangan.

Melihat kenyataan ini, jika kita lebih mementingkan pekerjaan daripada keluarga, merupakan suatu penanaman modal yang kurang bijaksana, bukan? Apakah arti di balik cerita ini?
Apakah Anda mengerti arti kata KELUARGA?

Terima kasih sdri. Irene T, yg telah menerjemahkan cerita ini

Cara natural hadapi bayi

Anak pilek, batuk dan radang tenggorokan Radang tenggorokan, pilek dan batuk adalah penyakit saluran pernapasan yang paling sering menyerang bayi dan anak-anak Apalagi
gejalanya ditambah dengan rewel, hidung mampet atau justru tidak berhenti meler, dan nyeri di telinganya! Rasanya ingin ada obat ajaib yang bisa membuat anak sembuh dalam sekejap

Mungkin hampir seluruh orang tua pernah pergi ke dokter dan anaknya didiagnosis radang tenggorokan dengan gejala tersebut diatas. Mungkin kemudian kita pulang dengan sederet obat atau. mungkin juga tidak. ]adi sebenarnya, apa yang periu kita waspadai tentang radang
tenggorokan yang terkenal ini?

Anak & Bayi bisa sangat sering terserang infeksi saluran napas atas,termasuk radang tenggorokan dan ternyata sekitar 90% dari kasus radang tenggorokan yang disertai hidung berair, demam, dan nyeri telinga disebabkan oleh virus! Bakteri menjadi penyebab dari 10% kasus sisanya.

Karena hampir seluruh kasus disebabkan oleh virus, maka antibiotik biasanya tidak diperlukan. Infeksi oleh virus (misalnya: batuk-pilek, radang tenggorokan) sesungguhnya tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik. Infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya, tubuh akan melawan dengan sistem kekebalan tubuh (imunitas).Penggunaan antibiotik yang berlebihan justru akan merugikan karena akan membuat anak menjadi resisten dan antibiotik menjadi tidak mempan untuk melawan infeksi saat dibutuhkan.

Pada 10% kasus sisanya bakteri penyebab radang tenggorokan tersering adalah Streptokokus. Gejala infeksi bakteri ini adalah tenggorokan yang berwarna merah daging dan tonsil yang mengeluarkan cairan. Untuk mendiagnosis bakteri ini sebagai penyebab secara past! adalah dengan melakukan usap tenggorok untuk kemudian dikultur serta dilakukan
pemeriksaan darah

Saya sebagai pencinta herbal sering diminta saran oleh para orang tua bagaimana cara menghadapinya dengan bantuan herbal atau secara natural.

Berikut adalah tips sederhana yang secara empiris membantu imunitas anak & bayi , bahkan orang dewasa sekalipun. Bahan yang diperlukan adalah minyak oles/usap/gosok yang mengandung bahan baku utama minyak kelapa (cocos nucifera) atau biasa dikombinasikan pula dengan kayu putih, cengkeh dll. Untuk bayi pilihlah yang tidak terlampau keras
atau tidak menyebabkan iritasi kulit.

Cara pemberian adalah dengan mengoleskan pada beberapa titik limfatik diwaktu sebelum tidur.

Titik yang dioleskan adalah :
Dibalik kedua lutut
Dikedua ketiak
Dikedua pelipis
Dioles tipis dari kedua belakang daun telinga bawah (persis
ditempat biasanya lubang anting) sampai leher
Di dada atas dekat leher Boleh juga ditambah pada lipatan paha, namun biasanya agak kerepotan untuk bayi yang kerap menggunakan popok bayi (diapers) untuk buka
pasangnya.

Pengolesan minyak kelapa ini baik juga dilakukan dikala sehat sehingga imunitas dan pertumbuhan bayi & anak yang lebih baik.

Demikianlah tips sederhana dan manjur ini, semoga bermanfaat.
Wassalam

zon

UCAPAN CINTA TERAKHIR

(Debbie Smoot – A Second Chicken Soup for the Woman’s Soul)

Suami Carol tewas dalam kecelakaan mobil tahun lalu. Jim, yang baru berumur lima puluh dua tahun, sedang mengemudikan mobil ke rumah, dari kantornya. Yang menabraknya adalah seorang remaja yang mabuk berat. Jim tewas seketika. Remaja itu masuk ruang gawat darurat, namun tidak sampai dua jam di sana.

Ironisnya lagi, hari itu hari ulang tahun Carol yang kelima puluh, dan Jim sudah membeli dua tiket pesawat ke Hawaii. Ia ingin memberi kejutan untuk istrinya. Tapi ia justru tewas gara-gara seorang pengemudi mabuk.
“Bagaimana kau bisa mengatasi itu?” tanyaku pada Carol, setahun kemudian.

Mata Carol basah oleh air mata. Kupikir aku sudah salah bicara, tapi dengan lembut ia meraih tanganku dan berkata,
“Tidak apa-apa. Aku ingin menceritakan padamu. Ketika aku dan Jim menikah, aku berjanji bahwa setiap pagi, sebelum dia berangkat, aku mesti mengatakan bahwa aku mencintainya.

Dia juga membuat janji yang sama. Akhirnya hal itu menjadi semacam gurauan di antara kami. Ketika anak-anak mulai lahir, sulit untuk menepati janji itu. Aku ingat aku suka lai ke mobilnya sambil berkata,
‘Aku mencintaimu’, dengan gigi terkatup rapat kalau aku sedang marah. Kadang aku mengemudi ke kantornya untuk menaruh catatan kecil di mobilnya. Hal itu menjadi tantangan yang lucu.
“Banyak kenangan kami tentang kebiasaan mengucapkan cinta ini setiap hari, sepanjang kehidupan perkawinan kami. “Pada pagi Jim meninggal, ia menaruh kartu ulang tahun di dapur, lalu pergi diam-diam ke mobilnya. Kudengar mesin mobilnya dinyalakan. Jangan
coba-coba kabur, ya, pikirku. Aku lari dan menggedor jendela mobilnya, sampai ia membukanya.

“‘Hari ini, pada ulang tahunku yang kelima puluh, Bapak James E. Garrett, aku, Carol Garrett, ingin menyatakan bahwa aku mencintaimu.’ “Karena itulah aku bisa tabah menghadapi peristiwa itu. Karena aku tahu bahwa kata-kata terakhir yang kuucapkan pada Jim adalah
‘Aku mencintaimu.’”

SEORANG KAKEK DALAM KERANJANG

Tersebutlah sebuah kisah yang amat terkenal di Asia, yang menceritakan tentang kekejaman seorang lelaki terhadap ayah kandungnya sendiri. Pada suatu ketika tinggallah sepasang suami isteri muda yang mempunyai seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun.

Ayah si suami itu tinggal bersama mereka, ia sudah amat tua, sangat lemah serta sulit untuk berjalan sendiri. Isteri muda itu amat tidak menyukai kehadiran ayah mertuanya di antara mereka. Tetapi suaminya, amat menyayangi ayahnya dan selalu menenangkan isterinya untuk merawat orangtuanya dengan baik.

Pada suatu malam, si isteri itu menunggu sampai anak laki-lakinya tidur nyenyak, ia lalu meminta kepada suaminya untuk menyingkirkan ayah mertuanya itu dari rumahnya, apabila suaminya ingin tetap hidup bersamanya.

Suaminya amat sedih dan merasa tidak berdaya menghadapi permintaan isterinya itu. Akhirnya ia menyetujui permintaan isterinya, supaya kehidupan rumah tangganya tidak terganggu lagi oleh ayahnya yang sudah tua renta itu.

Setelah yakin anaknya sudah tidur nyenyak, mereka lalu merencanakan bagaimana caranya untuk membuang ayahnya itu. Si isteri berkata : “Besok pagi-pagi sekali, kamu harus katakan kepada ayahmu, bahwa kamu akan membawanya ke tempat ziarah. Taruh saja dia di dalam keranjang besar dan bawa dia ke dalam hutan lebat. Tinggalkan saja di sana, biar dimakan binatang buas, setelah itu cepat-cepat pulang ke rumah.”

Keesokkan paginya, anak laki-laki itu bangun pagi-pagi sekali. Seperti yang telah direncanakan orangtuanya, si ayah membawa kakeknya yang dimasukkan kedalam keranjang besar dan pergi keluar. Anak itu lalu bertanya : “Ayah,mau dibawa kemana kakekku ini?” “Anakku, saya akan membawanya pergi berziarah.”

“Baiklah ayah, tetapi jangan lupa ya membawa pulang kembali keranjang besar itu, karena kalau nanti ayah sudah setua kakek, saya akan membawa ayah berziarah juga.” Kata-kata anak laki-laki itu menyadarkan mereka, pasangan suami isteri muda itu lalu berubah pikiran. Mereka akhirnya merawat orangtua itu dengan baik.

Cerita ini menyinggung dengan tajam dan tepat nilai-nilai moral pada masa sekarang ini. Di India, pada masa yang lampau, banyak cerita-cerita seperti ini. Dimana perhatian utama adalah ketidak-puasan seorang anak terhadap orangtuanya dan hal ini diperbaiki oleh cucunya. Cerita yang lain tentang hal seperti ini sebagai berikut.

Seorang ayah yang masih muda merencanakan membuang ayahnya yang sudah tua, si ayah dimasukkan ke dalam sebuah kereta. Ia lalu membawanya ke kuburan. Cucunya juga ikut serta. Ketika cucunya melihat ayahnya sedang menggali lubang kuburan untuk mengubur kakeknya, anak kecil itu berkata kepada ayahnya : ” Ayah, tolong gali sebuah lubang lagi untuk kuburanmu sendiri. Nanti, kalau ayah sudah tua saya tinggal mengubur ayah saja disitu, jadi saya tidak usah repot-repot menggali kuburan untukmu.” Tentu saja hal ini menakutkan si ayah muda itu.

Pesan moral yang terkandung dalam cerita ini adalah apa yang kita lakukan terhadap ayah, akan terjadi pula pada diri kita sendiri, yang akan dilakukan oleh anak kita.

Ada cerita lain lagi, seorang kakek diberikan makanan dengan sebuah piring yang amat kotor, ditaruh di atas tanah. Piring itu begitu kotornya sehingga tak seorang pun yang sanggup untuk memakan makanan dari piring tersebut. Ketika anak laki-laki tua tersebut melihat bahwa tak ada gunanya lagi untuk memberi makan kepada ayahnya, ia ingin membuangnya. Anaknya yang masih muda lalu berkata : “Ayah, piring tua itu jangan dibuang. Saya ingin
menyimpannya.”

Ayahnya bertanya : “Untuk apa?” Anak muda itu berkata : “Untuk apa….? Tentu saja untuk memberikan makanan ayah di atas piring itu kalau ayah sudah setua kakek saya ini.”

Inilah pelajaran untuk seorang ayah muda untuk lebih mengasihi dan merawat orangtuanya yang sudah tua.