Archive for May 23, 2009

Ini Negeri Amplop

Oleh : Asro Kamal Rokan
Pak Irwan pengusaha pribumi. Produknya telah menembus pasar Eropa dan Amerika Latin. Berbagai penghargaan dan akreditasi mutu skala nasional maupun internasional telah diraihnya. Untuk ukuran pengusaha sukses,penampilannya terkesan sangat sederhana. Pekan lalu bersama sejumlah pengusaha, Irwan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda dalam acara sarapan pagi.

Bermacam persoalan mereka sampaikan. Dan, Irwan pun menyampaikan pengalamannya. ”Pak Menlu, saya ini mengutamakan legalitas. Prosedur dan izin saya ikuti. Saya ingin semua berjalan benar. Namun, jika jalan yang benar itu tetap kami tempuh, ya … bangkrut.” Lelaki berpeci itu melanjutkan, ”Meski semua izin lengkap, namun di jalan polisi menahan kontainer saya. Alasannya macam-macam. Ya sudah, daripada barang terlambat sampai, yang akan berakibat fatal, kasih amplop saja. Pak Menlu, dalam sidang kabinet nanti, tolonglah soal-soal seperti itu dibahas.”

Kisah Irwan –yang sudah menjadi suatu yang biasa– membuat hadirin dalam pertemuan dengan Menlu itu tertawa. Aparat keamanan yang meminta uang,pengusaha yang terdorong untuk menyuap, birokrasi berbelit, dan berbagai penyimpangan lainnya telah menjadi keseharian –suatu yang telah dianggap wajar. Orang tidak lagi marah atau protes, bahkan justru tertawa.

Ketika Kwik Kian Gie berteriak tentang kerugian negara mencapai Rp 300 triliun akibat penggelapan pajak, kebocoran APBN, dan penggelapan hasil sumber daya alam, orang tidak lagi terperanjat, bahkan merasa pernyataan itu sebagai lelucon: Kwik yang berada di pusat kekuasaan, dalam cabinet yang dipimpin ketua umum partainya, kok tetap saja bertahan.

Negeri ini telah menjadi lelucon untuk ditertawai. Uniknya, lelucon itu tak pernah berhenti meski pemerintah silih berganti, pemain lama diganti pendatang baru, tata panggung telah berubah berkali-kali. Penonton pun telah berganti generasi. Itulah lelucon abadi, tentang negeri ini, negeri amplop, penduduknya mudah tersenyum dan sangat santun.

Ketika reformasi diyakini sebagai jalan untuk memberantas korupsi, yang tumbuh justru korupsi baru. Partai-partai buah dari kebebasan, sebagian diantaranya mengubah diri menjadi ”perusahaan jasa”–mengerjakan order,karena partai harus hidup dan memiliki dana. Mereka juga mengintai posisi menteri, karena dari situ terbuka peluang membiayai partai. Jika dahulu korupsi dilakukan sendiri-sendiri dan tersembunyi, kini terbuka dan berjamaah.

Ini negeri amplop.

  • Orang-orang miskin harus mengeluarkan amplop untuk mendapatkan surat keterangan miskin.
  • Orang-orang miskin yang ditangkap karena mencuri makanan, terpaksa mengeluarkan uang untuk keluar dari tahanan.
  • Beruntunglah orang-orang kaya. Mereka memberikan amplop untuk mendapatkan uang lebih besar. Besar amplopnya, besar pula keuntungan yang diraihnya.

Ini negeri amplop.

  • Pemerintah, polisi, jaksa, hakim, para pejabat, alim ulama, cendekiawan,politisi tahu soal itu sejak dahulu, tapi budaya amplop tetap saja berkembang dan bahkan telah menjadi lelucon.
  • Dengan uang semua dapat diperoleh,kecuali rasa malu dan harga diri. Seorang anggota parlemen –yang ikut membuat Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi—
  • dan kini telah menjadi orang kaya, mengatakan, ”Di negeri ini, hanya malaikat, bayi, dan orang gila yang tidak bisa disogok.”
  • Dia mengatakan itu sambil tertawa. Baginya itu lelucon.

Di negeri ini, negeri amplop ini, korupsi, suap, penyelewengan telah menjadi lelucon abadi. Dan, kita tertawa menyaksikannya.

http://www.republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=168595&kat_id=19

Leave a Comment

Mengelola Diri

Segala yang di bawah langit pasti berubah. Hanya satu hal yang tetap sepanjang masa, yaitu perubahan itu sendiri. Semua orang sudah mahfum dengan perkataan ini. Tetapi, tidak semua paham bahwa setiap perubahan selalu datang sambil bergandengan dengan segudang peluang atau pilihan.

Saya membicarakannya karena tergelitik kampanye internal salah satu biro iklan besar di Indonesia. ”Berubah atau Punah.” Begitu yang terbaca pada spanduk kecil yang terpampang pada sudut-sudut kantor biro iklan yang berada di salah satu gedung jangkung di Jakarta.

”Tidak selamanya pergantian keadaan menuju ke arah lebih baik. Sekali pun yang datang krisis, sejumlah peluang dan pilihan tetap menyertainya,” kata chief operating officer-nya. Ambil contoh ketika terjebak kemacetan lalu lintas Jakarta. Apa yang dapat Anda lakukan kalau berada dalam situasi menjemukan itu?

Senada dengan pendapat pemimpin biro iklan tersebut, ternyata banyak yang dapat dilakukan kendati dalam krisis. Sejumlah teman mengaku mengisi kemacetan dengan berzikir. Kebanyakan memilih membaca koran maupun buku. Ada juga yang memasang kaset pelajaran bahasa asing. Semua baik ketimbang menggerutui orang lain dan polisi.

Sementara itu, seorang teman lain memilih membuka laptop-nya dan menyelesaikan pekerjaan setiap kali terjebak keruwetan lalu lintas. Contoh yang ini menjelaskan bahwa dia telah beradaptasi dengan revolusi perubahan cepat teknologi informasi dan teknologi.

Dan, dia telah mendefinisikan kembali cara kerja dan cara pandang terhadap segala sesuatu di jaman serba komputer sekarang ini. Dia mempunyai rumusan baru menjalankan bisnis konsultannya dengan sokongan teknologi, yakni 3F: fast, focus dan flexible. Sehingga,dari setiap tempat dia dapat bekerja dan berkomunikasi dengan mitra bisnis.

Dengan rumusan tersebut dia mengaku sedang menjadikan dirinya sebuah merek atau citra. Persis seperti sebuah perusahaan yang mencoba menjaga reputasi dengan memuaskan semua pihak yang terkait langsung maupun tidak terhadapnya. Sekarang ini banyak perusahaan atau produk yang sengaja membangun citra jati dirinya ibarat manusia berbudi,lewat aktivitas menderma, menghibur, dan memudahkan.

Cerita tersebut menarik bila disandingkan dengan semakin seringnya datang kabar bahwa perusahaan-perusahaan sedang merasionalisasi atau melakukan restrukturisasi organisasinya. Maksud saya, semua itu ujung-ujungnya berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) sejumlah karyawan dengan segala konsekuensi ke penghidupan banyak keluarga.

Kembali ke awal pembicaraan kita, mereka yang terkena PHK berarti menemui perubahan berupa krisis. Artinya, mereka sesungguhnya bukan mengalami petaka tapi menjadi memiliki banyak peluang dan pilihan mau bagaimana di kemudian hari.

Menjadi lebih baik. Itu pasti yang mereka inginkan. Caranya?
Bisa bekerja di tempat lain kalau masih terbuka lowongan, menjadi wiraswasta, dan banyak lagi. Namun, apapun yang dipilih ada baiknya mencontoh bagaimana sebuah manajemen membangun citra perusahaan sedemikian rupa. Dengan kata lain, diri kita perlu manajemen diri sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan yang dialami.

Anjuran tersebut berlaku bagi semua. Bukan hanya bagi yang terkena PHK. Sebab, seiring jarum jam berputar, perubahan terus terjadi pada diri dan lingkungan kita. Segera ciptakan pernyataan positioning diri setalah mengevaluasi ekuitas merek diri. Intinya mengenali diri sendiri dan mengetahui pasti apa yang dapat diperbuat dan bagaimana strategi mencapainya.

Hal tersebut persis dengan yang diperbuat oleh manajemen perusahaan. Mereka sadar harus terus memperbaiki diri terus menerus. Jika perlu ganti logo, gaya komunikasi, ganti disain ruang kerja dan alat kerja yang sudah ketinggalan jaman. Yang penting, terus mampu bersaing dan mampu beradaptasi dengan gencarnya perubahan.

Nah, Anda dapat melihat sendiri belakangan ini bermunculan nama dan logo baru di sekitar kita. Ada toko obat, yang namanya begitu melekat, sekarang tampil dengan warna cerah dan masa kini. Sebuah asuransi milik negara dan berumur tua juga tampil seperti perusahaan yang baru kemarin diperkenalkan. Dan banyak lagi.

Sesungguhnya mereka ingin memperlihatkan kepada kita bahwa mereka tetap mampu bersaing, tetap berdaya, dan masih pas dengan masa kini. Begitulah mestinya diri kita. Jangan sampai kalah bersaing karena menghindari perubahan dan tidak melihat peluang. Berubah atau punah.

Sumber: Mengelola Diri oleh Mien R. Uno, Lembaga Pendidikan DUTA BANGSA Empower Yourself, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional

Leave a Comment

MENEROBOS LAMPU MERAH

MENEROBOS LAMPU MERAH

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan didepannya agak lenggang. Lampu berganti kuning.

Hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing. Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.

  • “Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
  • “Hai, Jack.” Tanpa senyum.
  • “Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri saya sedang menunggu di rumah.”
  • “Oh ya?” Tampaknya Bob agak ragu.

Nah, bagus kalau begitu. “Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh terlambat, dong.” “Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu merah di persimpangan ini.” O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi.

  • “Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah. Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha,terkadang berdusta sedikit bisa memperlancar keadaan”.
  • “Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”

Dengan ketus Jack menyerahkan SIM lalu masuk kedalam kendaraan dan menutup kaca jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.

Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob disela-sela kaca jendela. Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.

  • “Halo Jack,Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah. Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu dan memeluk ketiga anaknya lagi.

Sedangkan anak kami satu-satunya sudah tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk. Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan. Berhati-hatilah. Bob”

Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya dimaafkan.

Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga,jalanilah dengan penuh hati-hati.

Penulis tanpa nama.
___________________________________
Indo community

Leave a Comment

Older Posts »