Archive for May 19, 2009

Kumpulan humor 61

Suami Istri

Ada sepasang suami istri yang hidup bahagia. Karena mereka saling pengertian…..
Disuatu saat tatkala istri lagi hamil tua (-/+ 7-8 Bulan) terjadilah dialog…

  • S : Ma, papa kangen nih …… ayo…..dong
  • I: Ah .. papah, mama kan lagi hamil, nggak bisa dong…….. (sambil tersenyum simpul), mending jajan aja, mama nggak apa-apa kok…..
  • S: Beneran nih…(sedikit heran)
  • I : Iya… , Mamah nggak apa-apa kok.

Akhirnya suaminya pergi untuk melampiaskan keinginannya (sambil bangga terhadap istrinya yang memberikan izin untuk jajan), mana ada istri yang pengertian seperti itu, Ia memang istri yang baik dan sangat pengertian (gumamnya) Nggak lama kemudian dia balik ke rumahnya, dan istrinya lagi asyik nontonTV.

  • I : Pah, kok jajannya cepet banget sih???
  • S : Iya….. abis mo pergi jauh males….
  • I: Terus jajan di mana ????
  • S: di tetangga sebelah. (dengan polosnya)
  • I: dikasih uang berapa ???
  • S: papah kasih 200,000
  • I: Gila lo ya, Kemahalan tuh……
  • S: Memangnya kenapa mah ???
  • I: Iya pah, waktu istrinya hamil tua, mamah cuma dikasih 100,000 oleh suaminya.
    Ambil gih kembaliannya……..

Sedang apa di tempat tidur
Seorang pria tiba² berteriak kepada istrinya sambil berlari keluar rumah ditengah malam,

  • “Kamupun nggak pandai di atas kasur!!”

Pagi-harinya, pria tsb memutuskan untuk menelepon kerumah dengan maksud ingin berbaikan kembali. Setelah beberapa kali dicobanya, telpon tsb tidak juga diangkat. Namun, … kemudian diseberang sana terdengar suara istrinya dengan napas ter-sengal².

  • “Kok lama sekali diangkatnya dan kenapa dengan napasmu, … sesak ya?”
  • “Aku di tempat tidur.”
  • “Sedang apa di tempat tidur di jam sekarang ini?” tanya suaminya.
  • “Sedang mencoba pendapat dari orang kedua, …”

Menjawab Pertanyaan Guru
Di Klas II A1 (Jurusan Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam, ini pembagian dizaman SMA tahun 1990-an) SMA Puncak Sekuning Palembang. Sesuai jadwal pelajaran, masing guru masuk ke klas tsb. Jam pertama, Pelajaran Ilmu Bumi Alam Falak, Pak Leo sedang menerangkan keadaan cuaca, setelah itu dia bertanya kepada murid² di klas.

  • Guru: “Kenapa jemuran kering bisa basah???”
  • Ali: “Kena hujan.”
  • Guru: “Salah”
  • Bedoel: “Terlambat mengangkat.”
  • Guru: “Betoel… seratus!”

Jam pelajaran kedua, Guru Fisika masuk, Pak Ucok, dia menerangkan tentang proses pembakaran sehingga terjadi carbon mono-oxide dan di-oxide, setelah pelajaran selesai dia bertanya:

  • Guru: “Kenapa roti di oven bisa hangus?”
  • Ali: “Adanya peristiwa pemanasan tinggi, sehingga O2 di dalam oven memuai akibatnya particles O2 yang panas pada menabrak roti sehingga rotinya mengalami trauma tumpul akibatnya rotinya memar kehitaman…!”
  • Guru: “Salaaaahhhhhh!”
  • Bedoel: “Terlambat mengangkat!”
  • Guru: “Betul… betul !

Jam pelajaran ketiga, Guru Biologi yang masuk, Pak Aman, menerangkan ttg proses pembuahan. Setelah selesai beliau bertanya kpd muridnya:

  • Guru: “Kenapa wanita hamil???”
    Ali: “Krn terjadi zygote, yaitu pertemuan antara sperma dgn sel telur!”
  • Guru: “Salaaahhhhh!”
  • Bedoel: “Terlambat mengangkatnya!”

Pembalap baik hati

Seorang pembalap sepeda motor sedang melaju kencang di jalan raya. Tiba-tiba ia menabrak seekor burung pipit yang langsung jatuh tak sadarkan diri. Dia segera memutar sepeda motornya dan mengambil burung malang yang tak sadarkan diri itu untuk dibawanya pulang.

Ketika sampai di rumah, dia menaruh burung itu dalam sangkar. Sebelum pembalap itu pergi, tidak lupa dia meninggalkan roti dan air dalam sangkar tersebut.

Beberapa saat ketika pembalap itu sudah pergi, burung pipit itupun akhirnya siuman dan langsung memandang ke sekelilingnya sambil berkata,

 

“Terali besi …, roti …, air …. Ya Tuhan!!! Aku sudah membunuh pembalap itu!!!”

Indo community

Leave a Comment

Kumpulan humor 60

Sepak Bola

Dua orang sobat kental, Ucup dan Boneng, sedang duduk-duduk sambil memberi makan ikan di kolam dan membicarakan sepakbola,permainan yang mereka mainkan setiap hari, apalagi selama piala dunia kemarin.

  • Tiba-tiba Ucup berkata pada Boneng, “Menurut loe ada nggak ya sepakbola di surga?”.
  • Boneng berpikir sebentar dan menjawab, “Wah, ngga tau deh gue. Tapi kita bikin perjanjian aja: kalau gue meninggal duluan, gue bakal balik dan ngasih tau loe apa ada sepakbola di surga, dan kalau loe meninggal duluan, loe musti ngelakuin hal yang sama.”

Mereka pun berjabat tangan dan sedihnya beberapa bulan kemudian si Ucup yang malang meninggal dunia. Suatu hari, seperti biasa Boneng sedang duduk dipinggir kolam memberi makan ikan-ikannya
seorang diri ketika dia mendengar bisikan suara, “Neng … Boneng…”

  • Boneng celingukan, “Ucup?! … itu loe nih?”
  • “Iya ini gue, Neng”, bisik hantu Ucup.
  • Dalam ketakjubannya Boneng bertanya, “Jadi gimana, ada sepakbola ngga di surga?”
  • “Yaa …,” Ucup berkata, “Gue punya cerita bagus dan cerita jelek nih.”
  • “Kasih gue cerita bagus dulu deh”, kata Boneng masih penasaran.
  • Ucup berkata, “Yaa … emang ada sih sepakbola di surga.”
  • Boneng kegirangan, “Hebat dong! Trus cerita jelek apaan yang bisa ngerusak cerita hebat tadi?!”
  • Ucup melenguh dan berbisik, “Loe bakal jadi kiper hari Sabtu ini.”

MASINIS & PENJUAL GADO-GADO
Suatu hari sebuah kereta melaju dengan kencang hendak melewati perkampungan. Di perkampungan itu ada seorang ibu penjual gado-gado selesai mencuci serbetnya (kain lapnya) yang berwarna merah. Selesai mencuci dia mengibaskan serbet tersebut untuk dijemur di pagar pembatas antara rel kereta dengan kampung.

Dari kejauhan, sang masinis kereta melihat si ibu dengan kain lap yang berwarna merah kemudian berkata. Masinis menjadi menyangka ibu itu member tanda bahaya. Dengan khawatir masinis segera mengerem keretanya secara mendadak hingga menyebabkan para penumpang kereta terjungkal.

  • Lalu masinis bertanya pada ibu tersebut, “Ada apa, Bu?”
  • Si ibu penjual gado-gado pun menjawab dengan ringan, “Hampir habis, Pak.
    Tinggal kacang panjang dan kangkung doang!”

 

Anjuran dokter…

Eko sering mengeluh sakit kepala dan nyeri didada. Dokter menganjurkan agar dia berhenti merokok dan minum minuman keras. Selain itu harus berhenti makan daging kambing, daging kesukaan Eko.

  • “Jangan makan daging kambing. Anda hanya boleh makan sayur-sayuran dan
    daging hewan yang BISA BERENANG DAN TERBANG,” nasehat Dokter.

Setelah tiga hari berlalu sang Dokter menelpon Eko mengingatkan Eko agar hanya makan daging hewan yang bisa berenang dan terbang.

Tiga bulan kemudian Dokter menegok kerumah Eko untuk melihat perkembangan Eko. Dia diberitau kalau Eko ada di kolam renang. Mendengar itu sang Dokter merasa tenang, menyangka Eko bukan hanya mengikuti anjurannya, tetapi juga mau berolahraga untuk meningkatkan kebugaran tubuhnya.

Sang Dokter langsung bergegas menuju kekolam renang dimana Eko berada. Disana sang Dokter melihat
Eko didalam kolam renang sedang melatih kambing berenang.

Indo community

Leave a Comment

MOM’s LAST LAUGH

(nice story) By Robin Lee Shope

Submitted by Jane Etz

Consumed by my loss, I didn’t notice the hardness of the pew where I sat. I was at the funeral of my dearest friend – my mother. She finally had lost her long battle with cancer. The hurt was so intense; I found it hard to breathe at times.

Always supportive, Mother clapped loudest at my school plays, held a box of tissues while listening to my first heartbreak, comforted me when my father died, encouraged me in college, and prayed for me my entire life.

When Mother’s illness was diagnosed, my sister had a new baby and my brother had recently married his childhood sweetheart, so it fell to me, the twenty-seven-year-old middle child without entanglements, to take care of her. I counted it as an honor.

“What now, Lord?” I asked, sitting in the church. My life stretched out before me as an empty abyss.

My brother sat stoically with his face toward the cross while clutching his wife’s hand. My sister sat slumped against her husband’s shoulder, his arms around her as she cradled their child. All so deeply grieving, they didn’t seem to notice that I sat alone.

My place had been with our mother, preparing her meals, helping her walk, taking her to the doctor, seeing to her medication, reading the Bible together. Now she was with the Lord. My work was finished, and I was alone.

I heard a door open and slam shut at the back of the church. Quick footsteps hurried along the carpeted floor. An exasperated young man looked around briefly and then sat next to me. He folded his hands and placed them on his lap. His eyes were brimming with tears. He began to sniffle.

  • “I’m sorry I’m late,” he explained, though no explanation was necessary.
    After several eulogies, he leaned over and commented, “Why do they keep calling Mary by the name of ‘Margaret’?”
  • “Because Margaret was her name. Never Mary. No one called her ‘Mary’,”
    I whispered. I wondered why this person couldn’t have sat on the other side of the church. He kept interrupting my grieving with his tears and fidgeting. Who was this stranger anyway?
  • “No, that isn’t correct,” he insisted, as several people glanced over at us whispering. “Her name is Mary, Mary Peters.”
  • “That isn’t whose funeral this is.”
  • “Isn’t this the Lutheran church?”
  • “No, the Lutheran church is across the street.”
  • “Oh.”
  • “I believe you’re at the wrong funeral, sir.”

The solemn nature of the occasion mixed with the realization of the man’s mistake bubbled up inside me and erupted as laughter. I cupped my hands over my face, hoping the noise would be interpreted as sobs. The creaking pew gave me away. Sharp looks from other mourners only made the situation seem more hilarious. I peeked at the bewildered,misguided man seated beside me. He was laughing, too, as he glanced around; deciding it was too late for an uneventful exit. I imagined Mother laughing.

  • At the final “Amen,” we darted out a door and into the parking lot.
  • “I do believe we’ll be the talk of the town,” he smiled. He said his name was Rick and since he had missed his aunt’s funeral, he asked me to join him for a cup of coffee.

That afternoon began a lifelong journey for me with this man, who attended the wrong funeral, but was in the right place. A year after our meeting, we were married at a country church where he was the
assistant pastor. This time we both arrived at the same church, right on time.

In my time of sorrow, God gave me laughter. In place of loneliness,God gave me love. This past June we celebrated our twenty-second wedding anniversary. Whenever anyone asks us how we met, Rick tells them, “Her mother and my Aunt Mary introduced us, and it’s truly a match made in heaven.”

Comments (3)

Older Posts »