Archive for May 7, 2009

Membangun persahabatan dengan orang yang anda kencani

(relationship)

  1. Janganlah sering2 kontak fisik
  2. Carilah minat serta hobby baru
  3. Lakukankanlah kegiatan2 yang menyenangkan
  4. Jadilah diri sendiri – janganlah bersandiwara hanya agar yang bersangkutan mennyukai anda
  5. Ajukanlah pertanyaan2 terbuka
  6. Dengarkanlah hati yang bersangkutan, bukan hanya kata2nya
  7. Bicaralah dengan pasangan kudus yang lebih tua dan cari tahulah bagaimana mereka membangun persahabatan mereka
  8. Bacalah buku yang baik bersama2, dan diskusikanlah bagaimana isinya bisa membantu anda menguatkan hubungan anda
  9. Berusahalah memahami sudut pandangnya

Ingatlah bahwa semakin anda saling mengenal sebelum menikah, semakin sedikit kejutan negatif yang akan anda temui setelah menikah.

(Dick Purnell)
______________________________________________________________
Ideas are like rabbits.
You get a couple and learn how to handle them,and pretty soon you have a dozen.

Leave a Comment

MEMAAFKAN SI DIA, YA ATAU TIDAK?

Pantas nggak, sih, memaafkan bila si dia ternyata mengkhianati kesetiaan kita? Memang diperlukan waktu dan kesabaran, tapi sayangnya banyak orang lebih suka menyia-nyiakan waktu dengan tetap memelihara rasa sakit hati,benci dan dendam. Sikap ini sebenarnya hanya merugikan diri sendiri. Dengan memaafkan, sakit hati secara drastis akan berkurang.

Bila kebetulan kita mengalaminya, coba ikuti langkah-langkah berikut.
Biarkan diri merasa sakit hati.

Jangan berusaha bersikap ‘manis’. Menekan rasa marah atau benci hanya mengakibatkan emosi yang terpendam meledak dalam bentuk negatif.

Tanya pada diri sendiri, sejauh mana keterlibatan kita dalam peristiwa yang menyakitkan ini. Dengan demikian, perasaan sakit hati kita seimbang dengan perbuatannya.

Jangan picik, lihat permasalahan secara menyeluruh, sehingga penilaian kita bisa lebih fair. Pada saat kita memaafkan, pada saat itu pula kita akan mampu menata kehidupan kia kembali.

Tanda-tanda Anda Harus Segera Memaafkannya…

  1. Masih trauma dengan peristiwa tersebut.
  2. Masih menganggap diri sebagai orang tersial di dunia.
  3. Menganggap diri kita adalah orang baik dan yang menyakiti adalah orang jahat.
  4. Hidup dalam kebencian atau depresi berat.
  5. Terus-terusan mendengar nasihat untuk melupakan peristiwa tersebut.
  6. Orang-orang di sekitar mencoba menerangkan peristiwa itu dari sudut pandang berbeda.
  7. Merasa kehilangan harga diri.
  8. Bersikap seolah-olah peristiwa ini tidak mempengaruhi kita.
  9. Sulit untuk membina hubungan baru dengan orang lain.
  10. Terjebak dalam kebiasaan buruk: minuman keras, obat penenang,narkoba.
  11. Tanpa disadari melakukan kesalahan yang sama dalam menjalin hubungan baru.
  12. Tak bisa menyimpulkan langkah apa yang telah diambil untuk mengatasi masalah kita.

sumber : citacinta.com

____________________________________________
To accomplish great things we must not only act,
but also dream, not only plan, but also believe.
***********************************************

Leave a Comment

Cinta Yang Tak Rumit Dari Faiz

Masih ingat Muhammad Faiz si penulis surat kepada Presiden itu? Apa yang menyebabkan kita menyapa atau tidak menyapa, saat bertemu seseorang?  Kebanyakan kita menyapa karena kita mengenal atau minimal mengetahui seseorang itu.

Bisa juga karena kita menyukai atau menghormati orang tersebut, karena memang kebiasaan, atau punya keperluan. Mungkin juga sekadar basa basi. Apa pun itu, saya belajar banyak soal ini dari seorang anak kecil yang berbeda umur 26 tahun dari saya.

Setiap hari saat berjalan kaki menuju sekolahnya yang tak begitu jauh dari rumah, Faiz akan melewati deretan panjang rumah yang ada di sekitar kami. Empat tahun yang lalu, ketika Faiz masih TK, saya takjub menyaksikan bagaimana cara ia menyapa! Semua tetangga yang kebetulan dilewati atau ditemuinya di jalan, tak akan luput dari teguran ramah disertai senyum lebar Faiz.

  • “Selamat pagi, Pak, selamat pagi, Bu….”
    “Assalaamu’alaikum….”
    “Mari Oma, mari Opa…”
    “Dari mana, Tante?”
    “Wah hari ini Kakak berseri sekali!”
    “Mau kuliah, Bang?”
    “Eh, ketemu adik cakep. Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?”
  • Dan seterusnya….

Saat ia duduk di kelas II SD, saya pernah bertanya pada Faiz,” Mas Faiz,apa kamu tak lelah menyapa begitu banyak orang setiap pagi?”

Faiz tertawa. “Tidaklah, Bunda. Aku senang karena senyum dan sapaku mungkin bukan mengawali pagiku saja. Tapi mengawali pagi orang lain. Lagipula senyum itu kan sedekah, Bunda.”

Saya nyengir. Pernyataan yang unik dari anak yang waktu itu belum berumur delapan tahun. “Subhanallah. Kalau dihitung dengan uang, sedekahmu mungkin sudah milyaran,” ujar saya sambil mencium pipi Faiz yang memerah.

Setiap kali hadir pada arisan yang diadakan ibu-ibu sekitar rumah,mereka kerap membicarakan Faiz.

  • “Waduh, Faiz itu ramah sekali ya, Bu. Kalau bertemu saya selalu menegur lebih dulu, senyumnya manis sekali.” “Kok bisa seperti itu sih, Bu? Bagaimana mendidiknya?”

Saya tersenyum. Bagaimana mengatakannya? Sesungguhnya saya tak pernah mendidik Faiz secara khusus untuk menyapa dan tersenyum. Sayalah yang banyak belajar dari Faiz! Terbayang lagi berbagai peristiwa yang terjadi sejak Faiz mulai duduk dibangku SD. Ketika ia ada di teras rumah, semua pengemis yang lewat selalu dipanggilnya, diajak makan dan minum.

  • “Hari ini di rumah masak sop dan perkedel.” Atau “Bapak mau bawa kopi untuk di jalan biar tidak mengantuk? Mau teh manis dingin?” Ia akan berlari ke kamar, mengambil celengan dan mengeluarkan lembaran kertas dari sana untuk diberikan pada mereka.

Belum lagi, semua tukang jualan, tukang sol sepatu, yang lewat pun disuruh mampir. Ada saja yang ditawarkannya.

  • “Istirahat dulu di sini,Pak. Kan capek. Hari panas sekali. Sini, makan kue dan minum dulu. Atau mau makan nasi?” Selain itu ia pun akan bisik-bisik pada anggota keluarga lainnya untuk membeli sesuatu dari tukang jualan itu, meski kami tak terlalu membutuhkannya. “Apa salahnya sih menolong orang?” ujarnya.

Maka di rumah mungil yang kami tempati, tak pernah ada hari di mana kami memasak sekadar pas untuk keluarga. Selalu ada tamu-tamu istimewa yang entah siapa. Faiz mengundang mereka secara tak terduga. “Ikhlas yaaa, Bunda…,” katanya sambil tersenyum manis.

Lalu apakah ada lagi yang bisa saya ucapkan, meski dengan terbata?
Saya hanya mampu memeluk Faiz kuat-kuat.

(Helvy Tiana Rosa)

Leave a Comment

Older Posts »