Archive for May 3, 2009

Kaya dan Cukup

Apapun keadaan kita maka kita harus merasa KAYA dan CUKUP.

Pernyataan ini baik sekali untuk ditempatkan pada konteks “bahagia menikmati hidup”. Dan tentu tidak harus kaya material dulu. Nah sekarang pertanyaannya bagaiman kita bisa ” bahagia menikmati hidup ” dan sekaligus ” kaya material ” ?.

Untuk masalah “bahagia menikmati hidup”, temen saya pernah ngasih tahu caranya dengan menghindari lima hal yang sering menyebabkan kita tak bahagia menikmati hidup :

Pertama,
Adanya keyakinan bahwa Anda tidak akan bahagia tanpa memiliki hal-hal yang Anda pandang bernilai. Anda sudah memiliki pekerjaan tetap dan tingkat kehidupan yang lumayan, tapi Anda masih merasa kurang. Anda merasa akan berbahagia bila memiliki uang lebih banyak, rumah lebih besar, mobil lebih bagus, dan sebagainya.

Pikiran Anda dipenuhi oleh benda-benda yang Anda kira dapat membahagiakan Anda. Padahal, Anda tidak bahagia karena lebih memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang tidak Anda miliki, dan bukannya pada apa yang Anda miliki sekarang.

Kedua,
Anda percaya bahwa kebahagiaan akan datang bila Anda berhasil mengubah situasi dan orang-orang di sekitar Anda. Anda tak bahagia karena pasangan, anak, tetangga, dan atasan Anda tidak memperlakukan Anda dengan baik. Kepercayaan ini salah. Anda perlu menyadari bahwa amat sulit mengubah orang lain.

Bukannya berarti Anda harus menyerah, silakan terus berusaha mengubah orang lain. Namun, jangan tempatkan kebahagiaan Anda di sana. Jangan biarkan lingkungan dan orang-orang di sekitar Anda membuat Anda tak bahagia. Kalau Anda tak dapat mengubah mereka, yang perlu Anda ubah adalah diri Anda sendiri, paradigma Anda.

Ketiga,
Keyakinan bahwa Anda akan bahagia kalau semua keinginan Anda terpenuhi. Padahal, keinginan itulah yang membuat kita tegang, frustrasi, cemas,gelisah dan takut. Terpenuhinya keinginan Anda paling-paling hanya membawa kesenangan dan kegembiraan sesaat. Itu tak sama dengan kebahagiaan.

Keempat,
Anda tak bahagia karena cenderung membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain. Saya pernah bertemu eksekutif yang berkali-kali pindah kerja hanya karena kawan akrabnya semasa kuliah dulu memperoleh penghasilan lebih besar dari dirinya. Karena itu, setiap ada tawaran kerja, yang dilihat adalah apakah ia dapat mengungguli atau paling tidak menyamai penghasilan kawannya.

Ia bahkan tak peduli bila harus berganti karier dan pindah kebidang lain. Sampai suatu saat ia menyadari bahwa tak ada gunanya “mengejar” sahabat karibnya. Sejak itulah ia mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya sendiri. Ia kini bahagia dengan pekerjaannya dan tak pernah ingin tahu lagi penghasilan sahabatnya.

Kelima,
Anda percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan. Anda terlalu terobsesi pepatah “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Kapan Anda bahagia? “Nanti, kalau sudah jadi manajer,” kata Anda. Persoalannya, saat menjadi manajer, Anda tambah sibuk, waktu Anda tambah sempit. “Saya akan bahagia nanti, kalau sudah menjadi direktur atau dirjen, gubernur, menteri, presiden.”

Nah, daftar tunggu ini masih dapat terus diperpanjang. Namun,Anda tak juga bahagia. Kalau demikian yang terjadi adalah, “bersakit-sakit dahulu, bersenang -senang entah kapan.” Kebahagiaan telah Anda letakkan ditempat yang jauh. Padahal, sebenarnya kebahagiaan berada sangat dekat dan dapat Anda nikmati di sini, sekarang juga!

GUNDOLO SOSRO

Leave a Comment

Karet Gelang

(thoughtful story)
Suatu kali saya membutuhkan karet gelang, Satu saja. Shampoo yang akan saya bawa tutupnya sudah rusak. Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat dengan karet gelang. Kalau tidak bisa berabe.

Isinya bisa tumpah ruah mengotori seisi tas. Tapi saya tidak menemukan satu pun karet gelang. Di lemari tidak ada. Di gantungan-gantungan baju tidak ada. Di kolong-kolong meja juga tidak ada.

Saya jadi kelabakan. Apa tidak usah bawa shampoo, nanti saja beli dijalan. Tapi mana sempat, waktunya sudah mepet. Sudah ditunggu yang jemput lagi. Akhirnya saya coba dengan tali kasur, tidak bisa.

Dipuntal-puntal pakai kantong plastik,juga tidak bisa. Waduh, karet gelang yang biasanya saya buang- buang, sekarang malah bikin saya bingung. Benda kecil yang sekilas tidak ada artinya, tiba-tiba menjadi begitu penting.

Saya jadi teringat pada seorang teman waktu di Yogyakarta dulu. Dia tidak menonjol, apalagi berpengaruh. Sungguh, Sangat biasa-bisa saja. Dia hanya bisa mendengarkan saat orang-orang lain ramai berdiskusi.

Dia hanya bisa melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Itu pun kadang-kadang salah, Kemampuan dia memang sangat terbatas.

Tetapi dia sangat senang membantu orang lain; entah menemani pergi, membelikan sesuatu, atau mengeposkan surat. Pokoknya apa saja asal membantu orang lain, ia akan kerjakan dengan senang hati.

Itulah sebabnya kalau dia tidak ada, kami semua, teman-temannya, suka kelabakan juga. Pernah suatu kali acara yang sudah kami persiapkan gagal, karena dia tiba- tiba harus pulang kampung untuk suatu urusan.

Di dunia ini memang tidak ada sesuatu yang begitu kecilnya, sehingga sama sekali tidak berarti. Benda yang sesehari dibuang-buang pun, seperti karet gelang, pada saatnya bisa menjadi begitu penting dan merepotkan.

Mau bukti lain? Tanyakanlah pada setiap pendaki gunung, apa yang paling merepotkan mereka saat mendaki tebing curam? Bukan teriknya matahari. Bukan beratnya perbekalan. Tetapi kerikil-kerikil kecil yang masuk ke sepatu.

Karena itu, jangan pernah meremehkan apa pun. Lebih-lebih meremehkan diri sendiri. Bangga dengan diri sendiri itu tidak salah. Yang salah kalau kita menjadi sombong, lalu meremehkan orang lain.

———————————
Indo community

Leave a Comment

karma

(thoughtful story)

“Di dunia ini Ia menderita, Di dunia sana Ia menderita. Pelaku kejahatan menderita di kedua dunia itu, Ia meratap ketika berpikir,”Aku telah berbuat jahat, dan Ia akan lebih menderita lagi ketika berada di alam sengsara.” Ada sebuah kisah nyata, yang terjadi sekitar 46 tahun yang lalu.

Di Thailand terdapat sebuah Vihara yang jauh dari desa maupun kota. Di lingkungan Vihara, ada pohon bodhi yang sangat besar, umurnya diperkirakan sudah ratusan tahun.

Pada hari itu Bhante Wongsin dan gurunya (Luangpu Jagaro) yang pada waktu itu menjadi kepala Vihara di sana menunjukkan kepada Bhante Wongsin seorang wanita yang sedang menari- nari sambil bertepuk tangan dan berteriak, “Selamat jalan anakku, selamat jalan anakku, kita tidak lama akan bertemu lagi.

” Terus berulang-ulang ia ucapkan. Ya….. wanita tersebut memang terganggu kejiwaannya. Wanita tersebut bernama Duen yang artinya bulan.

Bhante Wongsin bertanya kepada gurunya, “Apa yang menyebabkan wanita itu menjadi gila?” Lalu Luangpu Jagaro mulai menceritakan kehidupan wanita yang dimaksud di atas tadi.

Sekitar 45 tahun yang lalu, kehidupan wanita itu amatlah jaya. Itu disebabkan karena ia berhasil dalam pekerjaannya, tapi sayangnya pekerjaan itu amatlah bertentangan dengan ajaran agama. Pekerjaannya adalah sebagai Penggugur Kandungan atau Aborsi.

Sebelumnya wanita itu sering dinasehati oleh para bhikkhu bahwa pekerjaan itu tidak baik, disarankan untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik, yaitu pekerjaan yang tidak melanggar sila. Karena bila hal itu terus dilakukan akan mengakibatkan penderitaan di masa yang akan datang.

Tapi wanita itu menjawab, “Bhante, saya ingin mencari uang yang cukup banyak, setelah cukup maka saya akan berhenti, saya sanggup menanggung semua resiko bahkan yang terburuk sekalipun.”

Dari pekerjaannya menggugurkan kandungan, ia mendapatkan banyak uang. Penghasilannya bisa mencapai 500 sampai 1.000 Baht perharinya, maka tidak heran ia bisa membangun rumah yang sangat besar dan mewah. Kemudian ia menikah dengan seorang laki-laki yang menjadi pilihannya.

Namun, dua bulan kemudian rumahnya yang megah itu habis terbakar, ia menjadi miskin dan kehidupannya kembali seperti dulu, menjalankan pekerjaan sebagai penggugur kandungan. Tetapi pasiennya tidaklah sebanyak dulu.

Kian hari pasiennya kian sedikit. Satu tahun kemudian wanita tersebut melahirkan seorang bayi laki-laki yang gemuk, manis dan sangat lucu. Kehadirannya membawa kebahagiaan bagi sepasang suami istri itu.

Tapi sayangnya kehidupan tidak berpihak kepadanya. Rumah yang dulu megah berubah menjadi gubuk yang sangat sederhana. Karena kesederhanaannya itu, banyak anjing yang dapat keluar masuk dengan mudah ke gubuk tersebut, lalu memakan beras milik si wanita tadi. Beras yang dengan susah payah ia dapat kian hari kian berkurang,sehingga membuatnya jengkel.

Suami istri itu kemudian berencana untuk membalas dendam kepada anjing-anjing itu. Maka keduanya kemudian menyiapkan rencana untuk melaksanakan hal tersebut bila anjing-anjing tersebut datang kembali ke gubuk mereka untuk mencuri beras mereka.

Menjelang larut malam saat suami istri itu tertidur, terdengar suara yang mencurigakan. Si istri terbangun kemudian membangunkan suaminya untuk menjalankan rencana buruk mereka. Mereka siap dengan pedang yang sudah diasah,secepat kilat sang suami mengayunkan pedang tersebut ke arah suara yang mencurigakan, dan…..kreeek!!!

Sekali penggal, tidak terdengar lagi suara apapun, setelah itu dengan geram dipotong-potongnya tubuh itu menjadi 12 bagian.

Lalu setelah selesai, suami istri itu bergegas menyalakan pelita (karena saat itu belum ada penerangan dengan menggunakan listrik) untuk mengetahui apakah makhluk tersebut telah menerima ajalnya.

Namun betapa terkejutnya pasangan suami istri itu, setelah mengetahui apa yang telah mereka lakukan. Makhluk yang telah dibunuhnya ternyata bayinya sendiri yang dikira seekor anjing yang sering mencuri beras di gubuknya.

Bayi yang sangat disayanginya telah penuh dengan lumuran darah dan sudah tidak berbentuk,yang terlihat cuma potongan-potongan daging akibat sabetan pedang.

Suami istri itu tidak percaya akan apa yang dilihatnya, semuanya sudah terlanjur terjadi, ia hanya bisa menangis sejadi-jadinya sambil berteriak-teriak hingga akhirnya ia pingsan karena terkejut dan sangat menyesal.

Keesokan harinya setelah mayat anaknya dikremasi, suaminya ditangkap dan ditahan karena dituduh telah membunuh secara keji dan terencana. Sedangkan Duen, ibu dari sang anak tersebut merasa sangat sedih dan merasa sangat menyesal. Karena penyesalan dan kesedihan yang tidak habis-habisnya ia kemudian kehilangan kesadarannya.

Mungkin inilah akibat dari hasil perbuatan yang telah ia lakukan karena menekuni pekerjaan yang salah yaitu membantu orang lain menghilangkan nyawa makhluk lain.

Walaupun makhluk tersebut mungkin masih berupa gumpalan darah atau belum berwujud manusia, namun di dalamnya telah terdapat unsur kehidupan, sehingga jika unsur itu ia hilangkan, maka ia telah melakukan pembunuhan.

Dan hal ini telah ia lakukan secara berulang-ulang tanpa merasa takut ataupun menyesal sehingga bila saatnya tiba maka sesalpun akan datang, namun sayang penyesalan selalu datang terlambat.

Oleh sebab itu maka kita seharusnya senantiasa berhati-hati dalam bertindak karena perbuatan buruk yang ditanam akan menghasilkan akibat yang buruk pula jika dilaksanakan. Ini adalah hukum yang abadi dan akan berlaku sampai kapanpun juga.

Leave a Comment

Older Posts »