Archive for April 30, 2009

Deteksi Penyakit dari Kuku

Teknik mendiagnosis penyakit kini semakin beragam. Selain lewat pemeriksaan darah, faeses, dan air seni, penyakit juga dapat dideteksi lewat mata, lidah, bahkan kuku.
Penafsiran penyakit lewat kuku ini sebenarnya sudah dilakukan orang sejak zaman Hippocrates.

Fungsi utama kuku adalah melindungi ujung jari yang lembut dan penuh urat saraf, serta mempertinggi daya sentuh. Secara kimia, kuku sama dengan rambut yang antara lain terbentuk dari keratin protein yang kaya akan sulfur.

Kuku tumbuh dari sel mirip gel lembut yang mati, mengeras, dan kemudian terbentuk saat mulai tumbuh keluar dari ujung jari. Kulit ari pada pangkal kuku berfungsi melindungi dari kotoran.

Pada kulit di bawah kuku terdapat banyak pembuluh kapiler yang memiliki suplai darah kuat sehingga menimbulkan warna kemerah-merahan. Seperti tulang dan gigi, kuku merupakan bagian terkeras dari tubuh karena kandungan airnya sangat sedikit.

Pertumbuhan kuku jari tangan dalam satu minggu rata-rata 0,5 – 1,5 mm,empat kali lebih cepat dari pertumbuhan kuku jari kaki. Pertumbuhan kuku juga dipengaruhi oleh panas tubuh.

Nutrisi yang baik sangat penting bagi pertumbuhan kuku. Sebaliknya,kalau kekurangan gizi atau menderita anoreksia nervosa, pertumbuhan kuku sangat lamban dan rapuh.

Berikut beberapa kejanggalan kuku yang dapat membantu dokter mendiagnosis suatu penyakit:

  1. Warna kebiruan pada pangkal kuku menandakan kurang beresnya sirkulasi darah dan merupakan gejala penyakit jantung.
  2. Bila separuh bagian dekat ujung kuku berwarna merah muda atau coklat sementara kulit ari berwarna putih, itu merupakan gejala penyakit gagal ginjal kronis.
  3. Bila timbul kerutan horizontal dan kuku tampak kusam, itu menandakan kurang gizi atau gejala suatu penyakit seperti campak, cacar air,gondok, jantung serta kondisi seperti sindrom Reynaud (kejang pada urat jari tangan dan kaki akibat sangat kedinginan).
  4. Lapisan merah membujur pada kuku, menandakan perdarahan pada pembuluh kapiler. Garis-garis ganda merupakan gejala penyakit darah tinggi(hipertensi).
  5. Bila pertumbuhan kuku tampak lambat, tebal dan mengeras serta kekuning-kuningan, menandakan gangguan getah bening atau penyakit pencernaan kronis.
  6. Timbulnya bintik-bintik tak beraturan pada kuku, menandakan adanya penyakit psoriasis (penyakit kulit kronis).
  7. Bila ada lengkungan berlebihan pada pangkal kuku dan sekitar ujung kuku, itu menandakan gejala penyakit TBC, emfisema(gangguan pada paru-paru), penyakit kardiovaskuler atau hati.

Kalau memang diagnosis tersebut benar, hendaknya kita rajin memperhatikan perubahan apa pun pada pertumbuhan kuku agar penyakit lebih cepat terdeteksi.

Indo community

Leave a Comment

Dari putih hingga hitam

Selama ini orang mengenal empat jenis teh, yakni teh putih, hijau, oolong,dan teh hitam. Perbedaan keempatnya terletak pada metoda pemrosesan daun the setelah dipetik. Tiap jenisnya dijuluki berbeda-beda pula sesuai tempat diproduksi.

  • Teh hijau.
    Teh hitam.
    Teh putih.

Di antara jenis-jenis teh tadi, teh hijau memang lebih populer. Setelah selama berabad-abad menjadi minuman pilihan di Asia, kepopuleran teh hijau kini merambah ke negara Barat. Kunci popularitasnya terletak pada aroma alaminya dan manfaatnya bagi kesehatan.

Teh hijau ini dikenal dua macam menurut asalnya, yakni teh hijau Tiongkok dan Jepang. Hampir semua teh yang diminum di Tiongkok adalah teh hijau. Begitu pula dengan di Jepang. Di AS popularitas teh jenis ini meningkat setelah menjadi bagian penelitian ilmiah yang mengaitkannya dengan penurunan risiko terhadap kanker.

Meski tak sepopuler teh hijau, teh oolong juga memiliki penggemar sendiri. Teh oolong terbaik di dunia kebanyakan diproduksi secara eksklusif di Tiongkok, Darjeeling (India), dan Formosa (Taiwan).

Sementara, teh hitam terbaik di dunia dihasilkan di India (Assam,Darjeeling, dan Nilgiri), Sri Lanka (Ceylon), dan Tiongkok. Di negara-negara Barat konsumsi tehnya lebih dari 80% menggunakan teh hitam. Khusus, di AS konsumsi teh jenis ini mencapai lebih dari 90%.

Keempat jenis teh tersebut berbahan mentah sama, yakni tanaman the Camellia sinensis. Meski di banyak tempat di dunia bisa ditemukan, namun yang terbanyak dibudidayakan di India, Tiongkok, Kenya, dan Sri Lanka.

Selain keempat jenis teh tadi, belakangan juga muncul teh “bohongan” yang dikenal dengan nama teh herbal. Teh imitasi ini dikemas seperti layaknya teh betulan, diseduh seperti teh, dan diminum seperti teh. Tapi teh ini tak terbuat dari daun teh yang sebenarnya. Teh herbal dibuat dari bebungaan,bebijian, dedaunan, atau akar dari beragam tanaman. Teh jenis ini umumnya diminum untuk keperlukan pelangsingan tubuh.

(*/I Gede Agung Yudana/dr. Audrey Luize)
_____________________________________________________
To say that you can love one person all your life
is just like saying that one candle will continue burning
as long as you live (Tolstoy)

Leave a Comment

Cara Mudah Mencegah Kanker

Sepertinya semakin sering kita mendengar orang terkena kanker. Tentunya ada perasaan takut dan was-was, jangan-jangan diri kita adalah calon penderita kanker.

Penelitian oleh Institute Kanker Nasional AS menyebutkan tiga puluh persen kasus kanker disebabkan oleh rokok dan sekitar 35 – 50 persen kasus kanker disebabkan oleh makanan. Tapi, kapan sih kita dapat terkena kanker ?

Kanker dimulai dari satu sel tak normal yang mulai memperbanyak diri tanpa terkontrol. Kelompok sel semacam itu membentuk kanker dan mendesak jaringan yang sehat. Sel kanker yang matang pecah dan anak sebarnya dibawa aliran darah menyebar ke bagian lain tubuh dan membentuk kanker baru.

Diantara semua faktor penyebab kanker, yang paling mungkin kita kontrol adalah makanan kita sehari-hari. Ada baiknya kita perhatikan beberapa pedoman berikut ini.

Pentingnya zat pencegah kanker pada sayuran & buah Sayuran tidak hanya tinggi serat dan rendah lemak, tetapi juga banyak mengandung zat pencegah kanker. Karotenoid, pigmen yang memberi warna gelap pada buah dan sayuran hijau misalnya, terbukti bisa membantu mencegah kanker.

Betakaroten yang terdapat dalam sayuran berwarna hijau tua dan jingga membantu mencegah kanker paru-paru, kanker ginjal, kanker mulut,kanker kerongkongan (esophagus), kanker pangkal tenggorok (larynx),dan kanker payudara.

Sayuran seperti kol, brokoli, kale, kembang kol, dan brussel sprout mengandung flavonoid dan indole yang juga bersifat antikanker. Sedangkan kandungan vitamin C di dalam buah-buahan dan beberapa sayuran juga bisa menurunkan risiko kanker kerongkongan dan kanker perut.

Vitamin C berlaku sebagai antioksidan yang menetralkan bahan kimia penyebab kanker yang terbentuk di dalam tubuh. Mineral selenium yang ditemukan pada kelompok padi-padian juga memiliki efek antioksidan seperti halnya vitamin C dan vitamin E.

Untuk mencegah kanker, tingkatkan konsumsi sayuran dan buah- buahan.  Usahakan mengkonsumsi sayuran dan buah minumal 5 porsi setiap hari.

Tingkatkan konsumsi makanan berserat

Makanan kaya serat juga membantu mencegah kanker payudara, karena serat bisa mengikat hormon estrogen dan membantu mengeluarkannya dari dalam tubuh. Dengan demikian, estrogen tidak kembali ke aliran darah,sehingga tidak menyebabkan peningkatan kadar estrogen di dalam tubuh.

Kadar estrogen yang tinggi di dalam tubuh bisa meningkatkan risiko kanker payudara.Serat banyak terdapat pada sayuran, buah-buahan, polong-polongan, kacang-kacangan (kacang hijau, kacang merah, kedelai, tempe), lentil,dan makanan pokok seprti beras serta gandum yang diproses minimal (whole grain).

Banyaknya konsumsi serat yang dianjurkan adalah antara 20 dan 30 g setiap hari. Serat sebaiknya bersumber dari makanan, bukan dari suplemen.

Turunkan konsumsi lemak

Demi menurunkan risiko, institut Kanker Nasional AS menyarankan kita untuk membatasi konsumsi lemak hingga 30 persen saja. Tetapi menurut penelitian, untuk mendapatkan efek antikanker, sebaiknya usahakan mengkonsumsi lemak kurang dari 30 persen, untuk amannya kira-kira 10-15 persen saja.

Hindari alkohol

Meminum minuman berlakohol secara berlebihan bisa meningkatkan risiko kanker payudara, kanker mulut, kanker faring (phrynx, saluran antara rongga hidung, rongga mulut, dan kerongkongan), dan kanker kerongkongan (esophagus). Apa lagi jika ditambah dengan kebiasaan merokok, bisa juga meningkatkan risiko kanker perut, kanker hati, dan kanker usus besar (kolon).

Hindari terlalu sering memasak makanan pada suhu tinggi

Memasak makanan seperti daging atau ikan dengan cara digoreng dengan panas tinggi bisa memunculkan zat-zat yang bersifat karsinogenik (menimbulkan kanker). Daging yang dibakar, dipanggang, diasap, atau diberi bahan pengawet nitrit juga bisa membentuk zat karsinogen. Jadi,lebih aman memasak dalam suhu yang lebih rendah misalnya dikukus,direbus atau dimasak sekejap.

Batasi camilan lezat tapi tidak sehat

Terkadang kita tergoda mengkonsumsi camilan yang rasanya lezat namun tidak sehat seperti cake, permen, serta aneka dessert yang umumnya terbuat dari lemak jenuh. Jika sulit menghindar, makanlah dalam porsi kecil sambil tingkatkan konsumsi makanan yang sehat.

Kurangi mengkonsumsi keripik kentang dan kentang goreng

Menurut penelitian, makanan kaya karbohidrat seperti kentang yang digoreng, akan merangsang terbentuknya senyawa pemicu kanker bernama akrilamida. Senyawa karsinoganik pada keripik kentang atau kentang goreng ini jauh lebih banyak dibandingkan akrilamida yang terdapat pada makanan gorengan lain seperti daging, ikan dan roti goreng.

Kedelai dan olahannya mencegah kanker

Menurut penelitian, kedelai dan hasil olahannya (tempe, tahu, susu kedelai) membantu menurunkan risiko terjadinya kanker payudara dan kanker prostat. Kedelai mengandung fitoestrogen, yaitu genistein dan daidzein, dibantu zat-zat lain yang berfungsi mencegah terjadinya kanker.

Nah, setidaknya kita tahu pola makan seperti apa yang dapat menghindarkan kita dari kanker. Bagi yang memiliki teman atau sanak keluarga yang menderita kanker, jangan berkecil hati. Alam telah memberi kita tanaman herbal yang ampuh dalam melawan kanker. Silahkan berkunjung dan berkonsultasi langsung dengan herbalis kami (free of charge).

Silahkan mencoba !!

Indra Harjanto

Leave a Comment

Older Posts »