Archive for April 21, 2009

BUNGA MAWAR DAN POHON CEMARA

Konon di tengah hutan, bunga mawar menertawakan pohon cemara seraya berkata,
“Meskipun Anda tumbuh begitu tegap, tetapi Anda tidak memiliki keharuman sehingga tidak dapat menarik kumbang dan lebah untuk mendekat.” Pohon cemara diam saja. Ia tak menganggap itu sebagai hinaan.

Demikianlah bunga mawar dimana-mana menyiarkan dan menceritakan betapa buruknya pohon cemara, sehingga membuat pohon cemara tersingkir dan menyendiri di tengah hutan.

Ketika musim dingin datang dan turun salju yang lebat, bunga mawar yang sombong sangat sulit mempertahankan kehidupannya. Demikian pula dengan pohon dan bunga-bunga lainnya. Hanya pohon cemara yang masih tegak berdiri di tengah badai dingin yang menerpa bumi.

Di tengah malam yang sunyi, salju berbincang-bincang dengan pohon cemara. Salju berkata, “Setiap tahun saya datang ke bumi ini, selalu melihat kemakmuran dan keramaian di bumi berubah wajah. Hanya gersang dan sunyi senyap yang menyelimuti bumi. Namun, kamulah satu-satunya yang dapat melewati ujian saya dan berdiri tegak hingga dapat menahan segala macam tekanan alam. Begitu pula alam kehidupan dan manusia selalu mengalami perubahan.”

Demikianlah pembicaraan menarik antara pohon cemara dan salju yang terjadi ditengah malam pada musim dingin. Sedih dan gembira selalu datang silih berganti; hanya dengan keteguhan jiwa dan pikiran, kebahagiaan itu dapat diraihnya. Caci maki dan fitnah tidak dapat menjatuhkan orang yang kuat.

Di dalam ungkapan Timur sering terdapat kata-kata: “Menengadah ke langit dan membuang ludah.” dan “Menabur debu dengan angin yang berlawanan.”

Ini semua mengisahkan kebodohan-kebodohan yang dilakukan seseorang dan pada akhirnya mencelakakan dirinya sendiri. Menghadapi fitnahan dan celaan, hendaknya seseorang berlapang dada bagaikan langit besar yang tak bertepi. Cuaca terang dan berawan selalu silih berganti. Belajar bagaikan cermin yang jernih dapat melihat keadaan sebenarnya.

Bunga mawar hanya merasakan kepuasan dan kecongkakan sejenak, tetapi pohon cemara dapat menghadapi, menerima dan menahan diri dengan tenang dan sabar.

Kita harus belajar dari sifat pohon cemara yang tegar menahan serangan, baik serangan yang bersifat tindakan, ucapan maupun pikiran, dan menjadikannya sesuatu yang sejuk, hangat dan damai.

source: unknown

Harry Prasetya

Leave a Comment

A GRANDMOTHER SPEAKS…

(inspiration)

By Barbara Cawthorne Crafton

Although you hear people say it all the time, it isn’t really just because you can give grandchildren back to their parents when they start to cry that makes having them so wonderful. It’s something much deeper, and harder to put into words.

Was I a good mother? I’m aware now, from the vantage point of elapsed decades, that the answer is yes and no. Some things were great. Some should have been a lot better. I see in my children a number of wonderful qualities I helped them acquire. I see some weakness I know to be mine, too. And I see much that came from elsewhere: injuries & blessings that formed them as they walked through their growing-up years.

What a remarkable thing it is to see it all begin again! I see my grandchildren with the eyes of experience. I see things I recognize: the flash of a dimple here, a certain open-hearted gaze there, the same one I used to meet from another little girl long ago. They carry us in them, their mother and me. And they go forth into the world that will form them differently from the way our two different worlds formed us.

I now know, better than I knew it when I was a young mother, how glorious and how painful their journey into an unknown future will be. I ache for their futures at the same time as I rejoice for them. And, perhaps, I also ache and rejoice for my own past, and their mother’s. Her motherhood, her girlhood, my motherhood and girlhood, mingle with told and retold stories of my own mother’s girlhood, and a few from my grandmother’s. They all rest in these little girls.

For the larger portion of their lives, I will be gone. They will have stories of our times together to tell, I hope, but I will be only a memory. I want them to pay attention to the ache and to the joy of life, more attention than I paid more,probably, than young people can.

But I can do so now; I am the link between them and the past, as they are my link to a future I will not see. Blessings on it, little girls, and on you, forever and ever.

Shared by Joe Gatuslao – Bacolod City, Philippines

Leave a Comment

SEORANG NENEK BERCERITA……

Meskipun kau dengar orang2 selalu ngomong begini, tapi tidaklah hanya karena kau bisa mengembalikan cucu2 kepada orang tuanya, bila mereka mulai menangis,yang membuat memiliki mereka menjadi begitu indah. Ada sesuatu yang lebih dalam,lebih berarti, dan lebih sulit dinyatakan dalam kata2.

Apakah aku seorang ibu yang baik? Sekarang aku sadar, melihat segi2 baik berpuluh tahun yang sudah lewat, jawabannya ialah ya dantidak. Ada hal2 yang hebat. Ada juga yang seharusnya jauh lebih baik lagi. Aku melihat dalam diri anak2ku sejumlah nilai nilai baik yang kubantu mereka dapatkan. Aku melihat ada beberapa kelemahan berasal dariku, juga. Dan aku melihat banyak lagi yang berasal entah dari mana: luka dan berkat yang membentuk mereka ketika berjalan mengarungi tahun2 masa dewasanya.

Mengagumkan sekali melihat semuanya itu mulai lagi! Aku melihat dan mengamati cucu2ku lewat dan dengan mata penuh pengalaman. Aku melihat hal2 yang kukenali: sepintas kilat lesung pipi disini, wajah hati-terbuka khas disana, hal sama yang biasa kujumpai dari seorang gadis kecil ber-tahun2 yang lalu. Mereka membawa serta kami didalam dirinya, ibu mereka dan aku. Dan mereka pergi masuk kedunia yang akan membentuk mereka dengan cara berbeda dari cara dan jalan kedua dunia yang membentuk kami.

Sekarang ini aku tahu, jauh melebihi sebelumnya saat aku masih seorang ibu muda, betapa bakal agung mulia dan juga sakitnya perjalanan mereka masuki suatu masa depan yang tak dikenal. Aku ikut merasa sakit [dan prihatin] untuk masa depan mereka, dan pada saat bersamaan aku juga bergembira untuknya. Dan, mungkin,aku juga merasa pedih dan gembira atas masa laluku, dan ibu mereka. Masa keibuannya,masa muda gadisnya, masa keibuanku dan kegadisanku, semuanya tercampur dengan cerita2 yang dikisahkan dan diulang lagi mengenai masa muda ibuku sendiri,ditambah dengan beberapa dari nenekku sendiri. Semua mengendap dan ada di-gadis2 kecil ini.

Untuk sebagian besar hidup mereka, aku akan terhilang. Mereka akan memiliki cerita2 zamannya kami bersama untuk dikisahkan, akau harap, tapi aku hanya akan menjadi kenangan. Aku ingin mereka menaruh perhatian pada suka dan duka,pahit manisnya kehidupan ini, lebih banyak perhatian daripada yang kulakukan –melebihi,barangkali, daripada yang bisa dilakukan orang2 muda.

Tapi sekarang ini bisa kulakukan, akulah penghubung antara mereka dan masa lalu, seperti juga mereka adalah penghubungku kesuatu masa depan yang tidak bisa kulihat. Semoga terberkatilah itu, gadis2 kecil, dan juga kalian, untuk se-lama2nya.(JM)

 

Indo community

Leave a Comment

Older Posts »