Archive for April 17, 2009

MENGAMBIL KEPUTUSAN

SelfManager: LEMBAR 7: MENGAMBIL KEPUTUSAN

Struktur organisasi disusun sedemikian rupa untuk menggambarkan tingkat-tingkat keputusan yang bisa diambil oleh anggota organisasi. Semakin tinggi hierarki organisasi, semakin luas, penting, dan berpengaruh keputusan yang diambil oleh pejabat tersebut.

Karena itu bisa dikatakan bahwa yang membedakan satu tingkat karyawan dengan tingkat karyawan lain dalam sebuah organisasi adalah kemampuannya dalam mengambil keputusan. Kualitas seorang pejabat pun diukur dari bagaimana ia memutuskan sesuatu, karena memang tugas mereka adalah memutuskan sesuatu. Pada kenyataannya kita berjalan bukan diatas rencana-rencana, namun di atas keputusan-keputusan yang kita buat.

Pertanyaan #1–Apakah dalam mengambil keputusan anda mengandalkan data,fakta, dan analisa yang mendalam serta mempertimbangkan dampak positif maupun negatif dari keputusan anda? Menurut anda, kapankah anda menggunakan cara pengambilan keputusan seperti itu?

Membuat keputusan yang tepat tidaklah mudah. Bahkan mengukur ketepatan keputusan yang kita buat tidak kalah sulitnya. Yang bisa kita lakukan adalah senantiasa memperbaiki keputusan yang kita buat. Terlebih lagi, setiap keputusan selalu berhadapan dengan ketidakpastian. Meskipun dengan memutuskan kita telah memilih memastikan suatu keadaan, namun apa yang akan terjadi setelah keputusan itu tidak selalu pasti kita ketahui.

Karenanya sebelum memutuskan seharusnyalah kita melakukan pertimbangan, penilaian, dan penelitian masak-masak atas segala hal yang berkaitan dengan hal yang akan kita putuskan.

Cara yang paling banyak dianjurkan adalah dengan mengumpulkan selengkap-lengkapnya data, fakta, informasi untuk dianalisa dan dijadikan bahan pengambilan keputusan. Premis yang berlaku umum: keputusan yang didasarkan pada data aktual memberikan kekuatan pada keputusan kita.

Sayangnya tidak semua data tersedia. Kalau toh ada, mungkin harganya terlalu mahal untuk dibayarkan. Karenanya seringkali kita harus mengambil keputusan tanpa data yang cukup.

Untuk itu diperlukan imajinasi, belajar dari pengalaman sendiri maupun orang lain, meminta pendapat orang lain, dan keyakinan diri yang kuat. Ini tidaklah perlu dirisaukan, karena seberapa banyaknya data yang kita miliki, itu tetap tidak mencukupi untuk menjawab apa yang tidak diketahui. Data mungkin mengurangi ketidakpastian, namun takkan pernah bisa menghapuskannya.

Pertanyaan #2–Kapankah anda mengandalkan firasat, intuisi atau instink untuk mengambil keputusan? Menurut anda apakah saat itu anda sedang bersikap realitis dalam menghadapi persoalan?

Tidak semua keputusan mengikuti pola matematis dan memiliki alasan.
Barangkali jauh lebih banyak kita mengambil keputusan begitu saja, tanpa perencanaan, tanpa analisa, tanpa pertimbangan. Keputusan yang diambil semata-mata berdasarkan firasat, intuisi atau instink.

Dalam hal ini banyak orang yang mempertanyakan keabsahan keputusan yang diambil berdasarkan intuisi. Sebenarnya bila ditelaah lebih jauh, instuisi juga dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lalu, kebiasaan-kebiasaan, keyakinan dan keterbukaan diri, kemampuan mental subyektif dari pengambil keputusan.

Selain itu, keputusan intuitif biasanya muncul dikarenakan keterkaitan diri kita dengan keadaan rill yang sedang terjadi. Pertimbangan akal pikiran dan rasio berusaha menafsirkan situasi, tidak menggambarkan situasi yang sesungguhnya.

Sedangkan intuisi menangkap langsung situasi itu tanpa perlu penerjemahan dalam kata-kata. Karenanya keputusan yang intuitif bukan selalu berarti bersikap tidak realistis terhadap kenyataan.

Pertanyaan #3–Apakah anda berani menghadapi resiko dari keputusan anda?  Termasuk resiko dicemooh atas keputusan anda?

Dalam setiap keadaan setidaknya selalu ada dua keputusan yang diambil: mengambil keputusan atau tidak. Mengambil keputusan berarti menantang resiko sekaligus memastikan harapan.

Sedangkan tidak mengambil keputusan berarti memupuskan harapan, juga memunculkan resiko. Jadi tak ada resiko yang lenyap begitu saja dibalik ketidakmauan kita mengambil keputusan. Keputusan berarti memutuskan dari keragu-raguan dengan keyakinan untuk mencapai sebuah kepastian.

Pertanyaan #4–Menurut anda, apakah anda adalah seorang yang kreatif?

Setiap keadaan selalu unik. Tak ada persoalan yang sama persis. Selalu saja ada variasi dan tantangan baru. Dengan demikian setiap keadaan menuntut pemecahan dan pengambilan keputusan yang unik untuk keadaan tersebut. Pengalaman adalah bekal yang baik.

Data masa lalu menjadi dasar valid dari keputusan anda. Intuisi menuntun anda memahami situasi yang sebenarnya. Namun yang dibutuhkan oleh setiap persoalan adalah sebuah keputusan yang kreatif.

Kita perlu mengembangkan pola pandang yang kreatif, melampaui data,fakta dan pengalaman. Juga mengembangkan kekuatan mental agar dapat memahami kondisi unik yang muncul di setiap persoalan.

Memutuskan secara kreatifitas
berarti bersedia menghancurkan hambatan-hambatan yang disajikan oleh data dan pengalaman, membongkar prosedur yang telah ditetapkan, menemukan keberanian besar untuk menanggung resiko serta mengembangkan kekuatan mental yang kuat.

Itu berarti kita harus berusaha keras memahami persoalan serta menyediakan jiwa yang bebas dari kepentingan pribadi untuk memecahkan masalah. Hambatan terbesar kita adalah ego.

Pertanyaan #5–Apakah anda bersedia menanggung semua tanggung jawab penuh atas keputusan anda? Apakah arti kemandirian bagi anda?

Kesulitan dalam mengambil keputusan adalah ketidakmampuan kita untuk memikul secara penuh tanggung jawab atas keputusan tersebut. Mengambil keputusan bukanlah akhir dari segala pekerjaan kita. Setelah keputusan diambil kita harus mempertanggung jawabkannya.

Di saat kita berkata bertanggung jawab penuh atas keputusan yang kita ambil, di saat itulah kita menemukan apa arti kemandirian dan kebebasan diri dalam bertindak. Kecemasan, ketakutan, kekhawatiran yang muncul biasanya terkait erat dengan kepentingan ego atas keputusan kita.

Karenanya, bersedia mengambil keputusan lalu bertanggung jawab penuh serta menemukan kemandirian yang hakiki, adalah rangkaian dari sebuah perjalanan mengatasi ego kita.

KEGIATAN ALTERNATIF
Kunci pengambilan keputusan adalah tanggung jawab anda. Oleh karena itu disaat mengambil keputusan semestinya anda mempertanyakan kemampuan anda mempertanggungjawabkannya. Kegiatan itu mengajak anda untuk menelaah hal tersebut.

1–Anda bertugas untuk membeli sesuatu. Ada dua pemasok yang menawarkan barang serupa. Pemasok satu menawarkan barang dengan kualitas tinggi dengan harga mahal.

Sedangkan barang yang ditawarkan pemasok dua sedikit lebih rendah kualitasnya dan murah. Manakah yang anda pilih? Mengapa? Tahukah anda kepada siapa anda harus mempertanggung jawabkan keputusan anda?

2–Anda bertugas merekrut seorang karyawan. Ada dua karyawan yang harus anda pilih seorang. Keduanya sama-sama memiliki latar belakang dan pendidikan yang sama. Keduanya memeragakan sikap dan kepribadian yang sama menariknya.

Manakah yang anda pilih? Mengapa? Tahukah anda kepada siapa anda kelak mempertanggung jawabkan keputusan anda?

3–Anda ditawari sebuah pekerjaan baru yang sesuai dengan minat, keinginandan cita-cita anda, namun gajinya lebih kecil dibanding yang anda terima sekarang. Selain itu tempat kerjanya lebih jauh sehingga anda harus mengeluarkan biaya lebih. Karena anda sudah lama menginginkan pekerjaan itu,anda terima tawaran itu. Menurut anda mengapa anda memilih pindah?

4–Dari ketiga pertanyaan di atas, apakah anda bisa mengetahui mana keputusan yang berdasarkan analisa fakta, data dan pengalaman? Mana yang menggunakan intuisi? Mana juga yang menggunakan kreativitas anda?

5–Dari ketiga pertanyaan di atas, apakah anda bisa merasakan kepada siapa anda mempertanggung-jawabkan keputusan anda? Manakah yang paling membuat anda merasa begitu penuh tanggung jawab atas diri anda sendiri?

Semua dari kita selalu memutuskan sesuatu dan melakukan perbedaan karena keputusan tersebut. Keputusan adalah pisau yang memutuskan kita dari keraguan dan kecemasan. (Editor-140501)

Harry Prasetya, ST

Leave a Comment

MEMAHAMI BAHASA

SelfManager: LEMBAR 6: MEMAHAMI BAHASA

Seorang pengawas produksi diajak untuk terlibat dalam sebuah kegiatan karyawan.  Sebagai seorang pengawas tentu ia mempunyai cukup pengaruh pada karyawan, dan ini diharapkan bisa mensukseskan kegiatan tersebut. Sebenarnya ia senang saja bisa membantu namun ia mengeluh tak punya waktu. Katanya, “Maaf, aku tak bisa ikut membantu.

Aku selalu dikejar target produksi.” Kemudian ajakan itu dialihkan pada seorang pengawas produksi yang lain. Meski sama-sama tidak mempunyai waktu luang, terutama karena jadwal produksi yang padat, namun ia beralasan, “Aku harus mengejar target produksiku terlebih dahulu.”

Pertanyaan #1–Apakah anda bisa menangkap suatu pola pikir yang berbeda dari kalimat yang diucapkan oleh kedua pengawas produksi tadi?

Melanjutkan cerita di atas, pengawas yang pertama menempatkan dirinya sebagai seorang obyek. Ini ditunjukkan dengan bentuk kalimat pasif yang digunakannya.  Dalam pola pikirnya, ia adalah “penderita” yang dikejar-kejar oleh target produksinya.

Dengan demikian ia selalu dalam keadaan “kalah” dan tunduk pada sang subyek. Sedangkan pengawas yang kedua menempatkan dirinya sebagai seorang subyek (pelaku) aktif yang berusaha mencapai target produksi. Dalam pola pikirnya, target adalah sesuatu yang berada di bawah kendalinya.

Pengawas kedua memandang situasi kerja melalui kacamata positif karena itu ia bisa berperan aktif dalam mengatur kehidupannya. Bila target produksi telah tercapai, atau kendali itu telah cukup baik dikuasai, maka bukan tak mungkin ia memiliki cukup waktu untuk terlibat dalam kegiatan karyawan. Pola piker demikian mendorong ia untuk maju penuh inisiatif.

Pertanyaan #2–Apakah anda bisa menangkap pola pikir anda dari bentuk kalimat dan bahasa yang anda gunakan sehari-hari? Menurut anda bagaimanakah bentuk bahasa anda?

Cerita lain: seorang manajer perencanaan menemui atasannya. Ia berkata, “Bos,kita punya masalah. Besok, pemasok kita libur dan tidak bisa mengirim pesanan yang kita butuhkan lusa.” Sang bos memerintahkan agar hari ini juga pemasok bisa mengirimkan barang tersebut.

Manajer tadi menjawab, “Itu sudah saya lakukan. Masalahnya, kendaraan mereka rusak.” Sang bos memerintahkan agar menggunakan truk perusahaan saja. Manajer tadi menyahut, “Kendaraan kita sedang keluar. Kita harus menyewa angkutan, masalahnya siapa yang harus membayar ongkos angkutnya?”

Sang bos kembali menjawab agar merundingkan baik-baik dengan pemasok. Manajer tadi melanjutkan, “Masalahnya bagian keuangan mereka cukup sulit diajak berunding.” Akhirnya sang bos agak naik pitam, dan menutup perbincangan, “Stop! Itu semua bukan masalah! Itu hanya sesuatu yang harus kita hadapi dengan baik. Sekali lagi, itu bukan masalah.”

Pertanyaan #3–Apakah anda bisa menangkap “masalah” di dalam istilah “masalah” yang digunakan oleh si manajer tadi? Sadarkah anda bahwa penggunaan kata-kata (bukan hanya kalimat) juga mencerminkan pola pikir anda?

Ya, kata-kata menunjukkan bagaimana diri kita. Dalam beberapa masyarakat,bahasa dibeda-bedakan dalam tingkat-tingkat tertentu yang menunjukkan tingkat penggunaannya. Ada bahasa yang khusus digunakan untuk pergaulan, bentuk penghormatan, dan sebagainya.

Bagi beberapa orang berkata-kata adalah melakukan pilihan secara sadar untuk menyatakan sesuatu demi tujuan mereka. Mereka menyebutnya sebagai sebuah diplomasi. Kata-kata pun digunakan dalam seni.

Itu berarti seluruh penggunaan kalimat dan kata-kata bukan hanya menjadi penting untuk mengetahui diri kita, menyatakan kehendak, namun juga untuk mencapai tujuan-tujuan. Berbahasa bukan sekedar berkomunikasi, bukan?

Pertanyaan #4–Menurut anda, apakah ada hubungan antara ruang lingkup pergaulan anda (yang tentu saja dapat anda lihat sebagai bentuk kemajuan kehidupan pribadi, karier, perkawinan, dan lain-lain.) dengan bahasa yang anda gunakan?

Banyak orang berpendapat bahwa kita harus mempelajari dan menguasai bahasa-bahasa tertentu agar bisa mencapai kemajuan. Tentu bahasa yang dimaksud adalah bahasa yang banyak digunakan dalam pergaulan internasional.

Ini ditujukan agar pergaulan kita bisa terbentang lebih luas seiring dengan luasnya kemampuan kita berkomunikasi. Sering terjadi di saat kita sedang dalam proses belajar berbahasa asing, kita mulai belajar dengan menerjemahkan kata-kata (bahasa ibu yang tersimpan dalam “kamus” benak kita) yang kita ingin ucapkan ke dalam bahasa asing tersebut terlebih dahulu.

Kita masih belum bisa langsung berbicara begitu saja dalam bahasa asing itu. Kita baru menjadi seorang penerjemah saja,dengan demikian sesungguhnya kita belum sungguh-sungguh berbahasa asing. Dengan kata lain, seberapa jauh kita mampu berbahasa asing ditentukan juga oleh seberapa luas penguasaan kita pada berbagai kata yang kita serap dalam bahasa ibu. Di saat kita semakin jauh terlibat dalam bahasa-bahasa baru, kita berkenalan dengan pola pikir baru yang membuka wawasan lebih jauh.

Pertanyaan #5–Seberapa banyak perbendaharaan kata yang anda kuasai? Apakah anda sadar bahwa seberapa luasnya pergaulan anda dipengaruhi pula oleh seberapa banyak perbendaharaan kata yang anda miliki?

Banyak orang dalam berbagai kesempatan mengumbar istilah dan kata-kata yang tampaknya asing bagi pendengarnya. Mungkin ia berpikir bahwa semakin sulit dan luas kata-kata yang bisa ia ucapkan, maka semakin tinggilah pengetahuan dan kemampuannya.

Itu memang benar. Namun, berkata-kata bukan sekedar cermin ketrampilan dan pola pikir. Berkata-kata adalah cermin bagi pengendalian diri dan kepribadian, terutama bila kita mampu menggunakannya secara tepat dan baik.

Tak heran bila orang bijak selalu berpesan agar kita berhati-hati dengan bahasa, terutama bahasa lisan, yang kita ucapkan. Seorang pujangga menulis,bahwa mulutmu adalah harimaumu.

KEGIATAN ALTERNATIF
Kegiatan ini ditujukan untuk mengajak anda menilai dan mengukur kemampuan berbahasa dan menghitung perbendaharaan kata-kata anda. Pada gilirannya anda bisa mengukur dan mengetahui sejauh mana bahasa dan kata-kata itu berpengaruh pada kehidupan karier anda.

1–Perhatikan setiap kalimat yang anda ucapkan. Apakah anda menggunakan bentuk kalimat aktif untuk menggambarkan kondisi diri anda? Atau kalimat pasif?

Apakah anda mampu menyadari seberapa “aktif” dan “pasif”-nya diri anda tercermin dari bentuk kalimat yang anda gunakan? Coba untuk membandingnya, jika perlu menyusun sebuah statistik sederhana.

2–Kini perhatikan setiap kalimat yang diucapkan oleh lawan bicara anda. Apakah mereka menggunakan bentuk kalimat aktif atau pasif. Apakah anda mampu menangkap apa yang terjadi di balik bentuk-bentuk kalimat mereka?

Pandanglah sorot matanya untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan anda. Apakah menurut anda bentuk kalimat yang digunakan itu mencerminkan kondisi pola pandang mereka?

3–Ambillah sepuluh kata secara sembarang (misal, usaha, maju, berhasil, kalah,juang, sumber daya, dan sebagainya). Coba uji kemampuan diri anda untuk menambahkan sinomin (baik dalam bahasa Indonesia, Inggris atau istilah-istilah baru lainnya) atas kata-kata tersebut.

Seberapa banyak kata yang bisa anda kail dari ingatan anda untuk menggambarkan keadaan yang dimaksud dalam kata-kata yang berbeda. Apakah anda mampu merasakan perbedaan nuansa yang ditimbulkan oleh kata-kata yang berbeda itu? Apakah anda memahami apa arti kata diplomasi?

4–Perhatikan kata-kata yang diucapkan oleh lawan bicara anda, terutama kata-kata yang menyatakan berakibat pada perubahan emosi anda. Misal, kata-kata untuk menyatakan pujian, kemarahan, sindiran, dan lain sebagainya.

Apakah anda bisa membedakan sebuah emosi, misal, kemarahan dapat dinyatakan dengan cara yang berbeda dan memberikan hasil yang berbeda pada diri anda. Apakah anda bisa membedakan mana kata-kata yang halus, kasar, dan lain sebagainya. Apakah anda menemukan bahwa kata mempunyai makna, yang berarti mempunyai kekuatan?

5–Kini perhatikan setiap kata dan kalimat yang anda dan lawan bicara anda komunikasikan. Bagaimana sebuah jeda diucapkan, balas-berbalas bentuk kalimat, atau saling melempar kata-kata.

Apakah anda menangkap bahwa saling berbahasa adalah saling menunjukkan kepribadian masing-masing. Mereka yang mampu berbahasa dengan baik, mampu mengungguli lawan bicaranya?

Perhatikan bahasa anda. Waspadai kata-kata anda. Berhati-hatilah dengan apa yang anda ucapkan. Prinsip awal memanajemeni diri sendiri adalah mengenal diri.  Sadar atau tidak kita belajar tentang diri sendiri dari apa yang keluar dari bibir kita.

(Editor-300401)

Harry Prasetya, ST

Leave a Comment

MANGKOK TANPA ALAS

Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis.
Sang raja menyapa pengemis ini, “Apa yang engkau inginkan dariku?”

Si pengemis itu tersenyum dan berkata, “Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba.”

Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, “Tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!”  Maka menjawablah sang pengemis, “Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa.”

Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis. Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis. “Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya-raya.”

Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah, “Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan.”  Bukan main! Raja menjadi geram mendengar ‘tantangan’ pengemis di hadapannya.

Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas! Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang di bawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.

Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.

Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya, “Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?”

Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, “Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya.

Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu”.

Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan..

Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan:  power tends to corrupt; kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak.

Raja itu bertanya lagi, “Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?”  “Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Tuhan. Jika engkau pandai bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat padamu,” ucap sang pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang.

Harry Prasetya, ST

Leave a Comment

Older Posts »