Archive for April 7, 2009

Tidak Ada Kasih yang Lebih Besar

(Kolonel John W. Mansur – Chicken Soup for the Unsinkable Soul)

Apa pun sasaran yang mereka tuju, peluru mortir itu mendarat di sebuah panti asuhan yang dikelola oleh sebuah kelompok misionaris di sebuah perkampungan kecil Vietnam.

Misionaris dan satu atau dua anak langsung tewas secara mengerikan, sedangkan beberapa anak lain terluka, termasuk seorang gadis kecil sekitar delapan tahun.

Orang-orang dari kampung itu segera meminta pertolongan medis dari sebuah kota terdekat yang memiliki hubungan radio dengan tentara Amerika.

Akhirnya, seorang dokter dan seorang perawat dari Angkatan Laut Amerika tiba di situ dengan sebuah Jeep yang hanya membawa obat-obatan dan peralatan medis.

Mereka menemukan bahwa cedera anak perempuan itu paling kritis. Tanpa tindakan cepat, ia akan meninggal karena shock dan kehabisan darah. Transfusi darah merupakan sesuatu yang tidak dapat ditawar, dan untuk itu diperlukan darah yang jenisnya sama.

Pengujian secara cepat menunjukkan bahwa diantara orang Amerika tidak ada yang memiliki golongan darah sama, tetapi beberapa anak panti yang tidak terluka memilikinya.

Sang dokter tidak begitu menguasai bahasa Vietnam, sedangkan bahasa Prancis sang perawat hanya sebatas yang diperolehnya di SMU. Dengan kombinasi itu,ditambah bahasa isyarat, mereka mencoba menerangkan kepada anak-anak yang masih ketakutan itu bahwa kecuali bila darahnya yang banyak keluar itu diganti, gadis kecil itu akan meninggal.

Kemudian mereka bertanya apakah ada di antara mereka yang bersedia memberikan darah.    Permintaan itu ditanggapi dengan diam seribu bahasa. Setelah agak lama, seorang anak mengacungkan tangannya perlahan-lahan tetapi dalam keraguannya ia menurunkannya lagi, walaupun kemudian mengacungkan tangannya lagi.

“Oh, terima kasih,” kata sang perawat dalam bahasa Prancis. “Siapa namamu?”
“Heng,” jawab anak itu. Heng dengan cepat berbaring di atas tandu, lengannya diusap dengan alkohol, dan kemudian sebatang jarum dimasukkan ke dalam pembuluh darahnya. Selama proses ini Heng terbaring kaku, tidak bergerak.

Namun beberapa saat kemudian, ia menangis terisak-isak, dan dengan cepat menutup wajahnya dengan tangannya yang bebas. “Apakah kau kesakitan, Heng?” tanya dokter itu. Heng menggelengkan kepalanya, tetapi tidak lama kemudian ia terisak lagi, walaupun berusaha menahan tangisnya itu. Sekali lagi dokter bertanya apakah jarum yang dipakai membuatnya sakit, dan sekali lagi Heng menggelengkan kepala.

Akan tetapi, sekarang isak yang tertahan-tahan berubah menjadi tangis yang memilukan. Matanya dipejamkannya rapat-rapat, sedangkan tangannya berusaha menutup mulutnya untuk menahan tangis. Tim medis itu menjadi khawatir. Pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Untunglah, seorang perawat Vietnam segera datang. Melihat anak kecil yang begitu tertekan, ia berbicara dengan cepat dalam bahasa Vietnam, mendengarkan jawaban anak itu, kemudian membalas dengan suara yang menghibur.

Tidak lama kemudian, anak itu berhenti menangis dan memandang dengan mimik bertanya kepada sang perawat Vietnam. Ketika perawat itu mengangguk, tampak sinar kelegaan menyebar pada seluruh wajahnya. Sambil melihat ke atas, perawat itu berkata lirih kepada tim medis Amerika, “Ia mengira bahwa ia akan mati. Ia salah paham.

Ia mengira Anda memintanya memberikan seluruh darahnya supaya gadis kecil itu dapat hidup.”    “Tapi mengapa ia bersedia melakukannya?” tanya perawat angkatan laut.    Perawat Vietnam itu kembali bertanya kepada anak lelaki yang sedang menyumbangkan darah, yang menyahut singkat, “Ia sahabat saya.”

Leave a Comment

Low Trust Society

Oleh: Rhenald Kasali
Saya baru saja memeriksa ujian mahasiswa saya. Ketika akan menyerahkan nilai akhir mereka, saya terpaksa menoleh kepada berita acara ujian yang mencantumkan nama beserta tanda tangan mereka masing-masing. Astaga. Tak ada satu pun nama yang dapat saya kenali dari tanda tangannya.

Hal ini mengingatkan saya pada peristiwa unik yang saya alami hampir tujuh tahun silam ketika baru saja memulai program doktoral saya di Amerika Serikat. Baru tiba beberapa hari, adviser saya menyuruh saya membuka bank account di bank mana saja di kota itu. Saya pun menurutinya. Maklum, tanpa punya buku cek, hidup di Amerika akan terasa sulit.

Hampir semua transaksi dilakukan melalui pos. Bayar listrik, telepon,air,tagihan kartu kredit, beli buku, bayar pajak, kena tiket lalu lintas (tilang), sampai bayar uang sekolah. Semuanya menggunakan cek. Tanpa cek, hidup di Amerika kok rasanya susah sekali.

Setelah punya bank account dan mulai berbelanja dengan menggunakan cek,ternyata saya pun mengalami kesulitan. Pasalnya, petugas bank memanggil saya karena mengalami kesulitan membaca tanda tangan saya. Saya mencoba menjelaskannya bahwa itu benar tanda tangan milik saya, dan saya melakukannya kembali di depan petugas itu. Petugas tetap menolak dan mengatakan itu bukan tanda tangan. Kalau bukan tanda tangan lantas apa? “Itu urek-urek!” ujarnya sambil tersenyum.

Sejak itu saya pun mulai berlatih membuat tanda tangan baru, yaitu tanda tangan yang namanya mudah teridentifikasi. Maka, sejak saat itu saya mulai terbiasa memiliki dua jenis tanda tangan. Saya menyebutnya satu tanda tangan lokal (yang dikatakan urek-urek tadi) dan satu lagi tanda tangan Amerika.

Kalau Anda pernah hadir dalam seminar saya dan meminta saya menandatangani buku saya yang Anda baru beli, Anda pasti ingat bahwa saya selalu mengatakan itu adalah tanda tangan Amerika: mudah dibaca dan diidentifikasi. Ada juga pembaca yang minta dua-duanya, dan ada kalanya saya pun meluluskannya. Tanda tangan lokal itu biasanya hanya saya gunakan untuk urusan bank dan menandatangani transkrip nilai mahasiswa.

Dalam salah satu seminar saya pernah meminta agar para peserta menggoreskan tanda tangannya di atas kertas dan meminta rekan di sebelahnya yang baru dikenalnya mengenali nama mereka.

Ternyata tak banyak di antara mereka yang dapat mengenali nama orang dari tanda tangannya.  Ketika ditanya mengapa mereka membuat tanda tangan seruwet itu, semuanya menjawab bak koor: “Biar tidak mudah ditiru orang lain.”

Mengapa kita semua melakukan hal yang sama?
Mudah ditebak jawabnya.
Sejak kecil kita telah diajari orang-orang tua dan guru-guru kita agar tidak mudah percaya pada orang lain. “Buatlah tanda tangan yang tidak mudah ditiru agar jangan sampai dipalsukan orang lain.

” Kita menurutinya, dan tanpa kita sadari roh-roh ketidakpercayaan ini sudah melekat dalam pikiran kita. “Trust,” kata Francis Fukuyama, adalah “The social virtues and the creation of prosperity.”

Rasa percaya adalah suatu ikatan sosial yang penting untuk menciptakan kemakmuran.  Kalau tidak ada rasa percaya, mestinya tidak ada bisnis.  Bagaimana mungkin kita berbisnis dengan orang yang tidak kita percaya?

Rasa percaya itu pula yang akan menentukan bangunan organisasi perusahaan saudara.    Makin rendah rasa percaya kita terhadap orang lain, makin banyak pula kita melibatkan sanak saudara kita, teman sealmamater, sesuku dan sebagainya terlibat dalam bisnis kita.

Kita makin menutup pintu bagi orang lain. Dan akibatnya potensi kita untuk menjadi besar akan terhambat.

Pengalaman lainnya yang saya dapatkan di Amerika barangkali dapat menjelaskan betapa berbedanya tingkat rasa percaya. Menjelang pulang ke tanah air, setelah menyelesaikan program studi, saya pun melakukan moving sale melego barang-barang yang nilai bukunya masih cukup tinggi.

Misalnya saja ada sebuah dish washer (mesin pencuci piring) elektrik yang usianya baru tiga tahun dan nilainya masih cukup tinggi namun harus dilepas dengan harga yang sangat murah.

Pembelinya tentu saja masyarakat komunitas tempat tinggal kami, yang umumnya adalah keluarga muda atau para mahasiswa asing yang dari mancanegara.

Kalau calon pembelinya datang dari negara-negara seperti Rusia, Yugoslavia,Ceko, Turki, Portugal, Brazil, Irak, Pakistan, India, atau negara-negara Afrika,biasanya transaksi berjalan tersendat-sendat.

Mereka umumnya tidak percaya terhadap kualitas mesin (apakah masih tetap baik) dan harga yang ditawarkan.

Mereka mengutak-atik mesin, menghabiskan waktu berjam-jam, mengajukan pertanyaan, lalu menawar di bawah separo dari harga yang ditawarkan. Prosesnya sama seperti Anda menawar harga sepasang sepatu di pasar Senen atau pasar lainnya di Indonesia. Dan akhirnya pun dapat diterka: tidak ada transaksi.

Hal yang berbeda dialami kalau pembelinya berasal dari negara-negara yang barangkali dapat kita sebut sebagai high trust society, seperti Amerika,Inggris, Finlandia, bahkan Jepang yang rata-rata sudah lebih makmur hidupnya.

Mereka cuma bertanya tiga hal: mengapa dijual, apakah ada kerusakan, dan berapa harganya. Kalau mereka suka, mereka tidak menawar, langsung angkat.  Dalam kepala mereka, kalau barang ini rusak maka mereka akan kembalikan segera.

Mereka percaya bahwa orang lain dapat dipercaya, dan kalau mereka menipu mereka akan ditangkap polisi, diadili, dan dijatuhi hukuman.  Pembaca, apakah implikasi melakukan kegiatan bisnis di sebuah low trust society?

Mudah-mudahan Saudara sudah dapat menangkapnya: jangan langsung melakukan transaksi.  Selalu mulailah dengan membangun rasa percaya dari lawan-lawan bisnis Anda.  Jangan sesekali melakukan penawaran kalau lawan bisnis Anda di sini belum mengenal betul Anda.

Kalau ada jalan pintas yang dapat ditawarkan, barangkali cuma satu ini: carilah jembatan melalui orang-orang yang sudah dikenal dan dipercaya oleh lawan bisnis Anda. Tanpa itu, Anda Cuma melakukan upaya sia-sia. Saya merindukan, kelak anak-anak kita akan membuat tanda tangan yang namanya dapat dibaca oleh orang lain.

Leave a Comment

Negeri Orang Tertawa

Berpengalaman Dijajah

Saya berasal dari sebuah negeri yang penuh kehangatan hidup.  Bakat utama negeri saya adalah bergembira dan tertawa. Kaya atau miskin, menang atau kalah, mendapatkan atau kehilangan, kenyang atau lapar, sehat atau sakit – semuanya potensial untuk membuat kami bergembira dan tertawa.

Bangsa saya sangat murah hati.  Mengekspor ke berbagai negara bukan hanya barang dan makanan, tetapi manusia.  Penduduk negeri saya bertebaran diberbagai negara.

Ada yang menjadi kaya, ada yang mati tak ketahuan kuburnya.  Ada yang sukses, ada yang diperkosa.  Ada yang pulang membawa modal lumayan, ada yang dipukul, diseterika, dibenturkan kepalanya ke tembok..

Dua kali saya membawa pulang wanita muda gegar otak dan badannya luka-luka, dari Cairo dan Riyadh ke Jakarta.

Aliansi anti deportasi di Jakartta melaporkan hanpir 3 juta kasus penindasan atas tenaga kerja Indonesia diluar negeri, dan tak satupun yang diselesaikan, para pekerja yang sukses tidak ada yang bersikap egoistik: pulang ketanah air, di Terminal 3 Cengkareng airpport.

Mereka menyediakan diri untuk ditodong oleh banyak yang memang menunggu disana untuk mencari nafkah. Itu membuat mereka menangis sejenak tapi kemudian tertawa-tawa lagi. Karena penderitaan adalah memang sahabat yang paling akrab dengan mereka sejak kanak kanak.

Bangsa saya sangat berpengalaman dijajah. Sebagian mereka menunggu penjajah datang ke kampungnya, sebagian yang lain menyebrang keluar negeri untuk mencari penjajah.

Tuhan Menyesuaikan Diri Pada Aturan Manusia
Bangsa Indonesia tidak memerlukan pemerintahan yang baik untuk tetap bisa bergembira dan tertawa. Kami memerlukan perekonomian yang stabil,politik yang bersih, kebudayaan yang berkualitas – untuk mampu bergembira dan tertawa. Kami bisa menjadi gelandangan, mendirikan rumah liar sangat sederhana di tepian sungai, dan kami hiasi dengan pot pot bunga serta burung perkutut.

Bangsa kami sangat berpengalaman dijajah, juga saling menjajah diantara kami. Dijajah atau menjajah, kami bergembira dan tertawa.

Sayang sekali belum ada ilmuwan yang tertarik meneliti frekwensi tertawa bangsa kami dirumah, di warung, di lapangan sepakabola, di ruang pertunjukan,dilayar televisi, ditengah kerusuhan, di gedung parlemen, dirumah ibadah dan di manapun saja. Ada orang yang terjatuh dari motor, kami menuding nudingnya sambil tertawa. Orang bodoh ditertawakan. Apalagi orang pintar.

Kehidupan kami sangat longar, sangat permisif dan penuh kompromi.
Segala sesuatu bisa dan gampang diatur. Hukum sangat fleksibel, asal menguntungkan.

Kebenaran harus tunduk kepada kemauan kita.  Bangsa saya bukan masyarakat kuno yang sombong dengan jargon: ” MEMBELA YANG BENAR”
Kami sudah menemukan suatu formula pragmatis untuk kenikmatan hidup, yakni ” membela yang bayar”.

Tuhan harus menyesuaikan aturan aturan-Nya dengan perkembangan dan kemajuan hidup kita.  Orang orang yang memeluk agama sudah sangat lelah berabad abad diancam oleh Tuhan yang maha menghukum, menyiksa, mencampakknya ke api neraka.

Tuhan yang boleh masuk kerumah kita sekarang adalah Tuhan yang penuh kasih sayang yang suka memaafkan dan memaklumi kesalahan kesalahan kita. Sebagaimana kata kata kata mutiara – “Manusia itu tempat salah dan maaf”.

Emha A N

Leave a Comment

Older Posts »