Archive for April 6, 2009

Pesan Terakhir

(nice story) (Karen Corkern Babb – Chicken Soup for the Couple’s Soul)

Kamar rumah sakit, tenang dan remang-remang, bagiku terlihat tidak nyata. Waktu berlalu lamban, sepertinya aku sedang menonton tablo yang dimainkan di dalam gedung teater yang gelap.

Sayangnya, yang kulihat itu nyata – saudara-saudaraku dan aku sendiri, tenggelam dalam pikiran masing-masing, duduk membisu memandang ibu kami yang duduk di samping tempat tidur Ayah, menggenggam tangannya, dan berbisik lembut kepadanya meskipun Ayah tidak sadar.

Ayah kami, setelah bertahun-tahun dengan sabar menahan penderitaan karena penyakit yang tak bisa disembuhkan, sekarang sampai di akhir perjuangannya. Pagi-pagi tadi, Ayah kehilangan kesadaran. Koma. Kami tahu, saat ajalnya sudah dekat.

Ibu berhenti bicara kepada Ayah, kulihat dia memandangi cincin-cincin di jarinya sambil tersenyum lembut. Aku juga tersenyum, karena tahu Ibu pasti membayangkan ritual yang mereka mainkan selama empat puluh tahun menikah dengan Ayah. Ibu, yang enerjik dan tak bisa diam, selalu keliru memasang cincin pertunangan dan cincin kawinnya.

Ayah,yang tenang dan sabar, selalu meraih tangan Ibu dan dengan lembut serta hati-hati membetulkan letak kedua cincin itu. Meskipun sangat perasa dan penuh cinta, sulit bagi Ayah untuk mengucapkan kata-kata “aku cinta padamu”,karenanya dia mengungkapkan cintanya lewat hal-hal kecil, seperti itu, selama bertahun-tahun.

Setelah diam beberapa lama, Ibu berpaling kepada kami dan berkata lirih dengan suara sedih, “Aku tahu ayah kalian akan segera meninggalkan kita, tetapi tiba-tiba dia tidak sadar hingga aku tak sempat mengucapkan pesan terakhir,bahwa aku mencintainya sampai kapan pun.”

Aku menunduk. Aku ingin berdoa, memohon mujizat agar kedua orangtuaku bisa mengungkapkan cinta mereka untuk terakhir kalinya, tetapi hatiku sesak dan kata-kata tak mau terucap.  Sekarang kami hanya bisa menunggu. Malam semakin larut, satu per satu kami terlena, kamar semakin sunyi. Tiba-tiba, kami tersentak bangun.

Ibu menangis. Takut bahwa yang terburuk telah terjadi, kami bangkit berdiri untuk menghiburnya. Tapi, alangkah kagetnya kami melihat Ibu ternyata menangis bahagia. Kami ikuti arah pandangannya, dia masih menggenggam tangan Ayah, dan entah bagaimana tadi, tangan Ayah yang satunya telah bergeser sedikit dan kini tertumpang di tangan Ibu.

Ibu tersenyum sambil menangis dan berkata, “Sesaat tadi dia memandangku.” Ibu berhenti bicara, memandang tangannya lagi. “Lalu,” bisiknya dengan suara parau penuh perasaan, “dia membetulkan letak kedua cincinku.”

Ayah meninggal satu jam kemudian. Tetapi Tuhan dalam kebijaksanaanNya yang abadi, maha mengetahui apa keinginan kita sebelum kita sempat berdoa memohon kepadaNya.

Doa kami dikabulkan dengan cara yang akan selalu kami syukuri dan kami kenang sepanjang hidup kami. Ibu sudah menerima pesan terakhir dari Ayah.

Leave a Comment

Caraku Mengatasi Keadaan

(nice story) (Mike Cottrill – Chicken Soup for the Unsinkable Soul)

Aku tidak mau mempercayai penglihatanku sendiri. Pasti ada penjelasan lain untuk sesuatu yang kusaksikan, kataku terus kepada diri sendiri, berusaha menyembunyikan kecemasanku.
Aku duduk menemani istriku,Diane, sesudah kelahiran anak kami yang kedua, Sandra. Diane tampak cerita ketika ia sambil berbaring di tempat tidur bercakap-cakap dengan orangtuanya melalui telepon.

Tetapi, Diane belum melihat bayi kami. Kendatipun demikian ia sempat melihat pandangan aneh pada mata perawat ketika ia cepat-cepat menyembunyikan bayi kami.

Tidak ada tes. Tidak ada peringatan.
Aku kehilangan semua harapan ketika dokter datang dan mengambil kursi. Ia menunggu dengan sabar sampai Diane menyelesaikan percakapan teleponnya, baru kemudian menyampaikan kabar sangat menyedihkan itu: “Maaf. Bayi Anda menderita sindrom Down.”

Diane menerima kabar itu dengan pasrah. Ia telah menunggu sembilan bulan untuk menimbang bayinya. Bahkan sebelum mereka membawa Sandra kepadanya, istriku telah mencintai putri kami yang baru dengan sepenuh hatinya. Akan tetapi, aku tidak demikian. Aku meminta diri untuk meninggalkan ruangan.

Aku berjalan sepanjang gang rumah sakit sampai berjam-jam, sambil memukul-mukulkan kepalanku ke dinding dan menangis sampai air mataku tak tersisa lagi. “Mengapa Engkau berbuat begini kepada anakku?” protesku kepada Tuhan yang baru saat itu kusadari keberadaan-Nya. “Mengapa harus dia? Mengapa harus aku?”

Mengapa Sandra tidak diciptakan sempurna – seperti putraku yang sudah tiga tahun, Aaron? Aaron adalah permataku. Aku suka mengajaknya berjalan-jalan pada waktu hujan sambil menunjuk cacing malam dan siput yang bermunculan di bahu jalan.

Kami selalu bersenang-senang pada setiap Jumat malam ketika Diane harus melakukan kerja lembur dan menginap di rumah orangtuanya supaya ia tidak perlu menempuh perjalanan satu setengah jam ke rumah dan balik lagi pada Sabtu pagi. Kami bermain dengan truk dan dinosaurus dari plastik. Aku membacakannya cerita untuk mengantarnya tidur.

Apabila Aaron memintaku untuk tidak meninggalkannya, aku mengambil bantal dan selimut, lalu berbaring di lantai di samping tempat tidurnya. Pada pagi hari, ia selalu sudah berada bersamaku di lantai.

Dengan mata masih mengantuk ia akan bertanya, “Ayah, dapatkah kita menonton kartun?”   “Terserah kau, Nak,” jawabku.

Dengan Sandra segala sesuatu seharusnya tidak terlalu berbeda.
Setelah membawanya pulang, aku bergegas ke perpustakaan dan membaca apa pun yang pernah ditulis tentang sindrom Down. Aku dengan putus asa mencari kalau-kalau masih ada harapan, sekecil apa pun. Akan tetapi semakin banyak aku membaca, semakin aku merasa putus asa.

Tidak ada obat ajaib untuk penyakit yang kusebut “kondisi Sandra.”
Belakangan aku bahkan sampai tidak bisa menyebut “sindrom Down.”
Diane dan aku mendaftar ke sebuah kelompok pendampingan, tetapi baru beberapa minggu aku tidak sanggup datang lagi.

Mendengar penuturan para orangtua anak-anak penderita sindrom Down yang lebih tua tentang berbagai masalah kesehatan yang mereka hadapi, membuat aku merasa semakin pilu. Beginikah masa depan kami? tanyaku dalam hati.

Meskipun usianya baru enam bulan, ia memang sudah memerlukan operasi jantung.     “Ya Tuhan, tolong jangan ambil Sandra dariku,” kata Diane dalam doanya. Tetapi, aku tidak setuju dengan doa itu.

Semoga ia mendapatkan yang paling baik, pikirku diam-diam, dan berusaha keras agar tidak masuk ke dalam perenungan tentang: terbaik, bagi siapa?

Sementara hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun, aku dengan terpaksa mengatar Sandra pulang pergi ke dokter dan spesialis terapi. Aku memijat kakinya dan mencoba memperkuat ototnya. Aku mencoba mengajarinya berjalan dan bercakap-cakap, dan aku semakin frustrasi dan depresi menyaksikan perkembangannya yang begitu lambat.

Aku berusaha membuat Sandra merasa lebih baik. Aku bertekad “memperbaiki”nya, tetapi memang itu tepatnya yang kuperbuat – mencoba memperbaikinya. Aku tidak sayang kepada putriku. Aku hanya mengambilnya dari boks untuk mengganti popoknya atau menjalankan terapi yang diwajibkan. Aku tidak pernah memeluknya, menimangnya, dan menikmati wangi khas anak kecil yang dibedaki. Aku tidak pernah tersenyum kepadanya atau bermain petak umpet.

“Kau tidak mencintai Sandra seperti kau mencintai Aaron,” kata Diane dengan hati-hati pada suatu petang, dan aku harus mengakui bahwa ia benar.
“Aku hanya memerlukan waktu,” bantahku tak bersemangat.

Aku malu karena perasaanku, dan mudah-mudahan Tuhan memaafkan aku, aku malu karena gadis kecilku. Aku merasa malu bila terlihat berada bersamanya. “Hei, ia lucu sekali,” begitu kata banyak orang, padahal mendengar itu aku selalu ingin merenggut baju mereka lalu memaki: “Bukan itu yang sesungguhnya kau pikirkan! Dalam hati kau mengatakan bahwa anakku buruk rupa! Kau mungkin berpendapat bahwa ia seharusnya dimasukkan ke panti perawatan!”

Amarahku berkembang menjadi kesedihan, dan selanjutnya kesedihanku berkembang menjadi apatis dan memperlebar jarak di antara kami.

Bahkan berjalan-jalan atau bermain dengan Aaron kehilangan sebagian besar daya tariknya karena selalu mengingatkan aku dengan segala sesuatu yang tidak akan pernah mampu diperbuat oleh Sandra.

Aku berusaha mengikuti anjuran-anjuran untuk menyayangi Sandra, tetapi aku semakin putus harapan dan semakin jauh darinya. “Ia selamanya akan terus begini,” keluhku pada suatu hari sekitar setahun yang lalu waktu aku mendudukkanputriku yang dua tahun itu pada kursi tingginya untuk makan siang. Aku menyendoki makanan bayi ke atas piring sambil menghapus air mata keputusasaan yang tak terbendung.

Aku merasakan suatu kekosongan yang luar biasa dalam diriku.
Akan tetapi ketika aku mendekati kursi tingginya, ia memiringkan kepalanya dan mengamati aku dengan mata birunya yang besar. Dan setelah itu ia mengulurkan kedua lengannya yang kecil dan memelukku sekuat tenaga yang dapat dikerahkannya, seolah-olah berkata, “Yah, aku ingin mengambil kedukaanmu.”

Aku membalas pelukan Sandra dan menangis sekeras-kerasnya. Namun bedanya,sekarang aku bukan menangis sedih. Aku menangis karena gadis kecilku telah menunjukkan kepadaku rasanya dicintai tanpa syarat.

Selama beberapa saat kami seolah-olah bertukar tempat. Sandra telah memberiku kasih sayang yang begitu lama tidak mampu kuberikan kepadanya.

Aku telah berduka karena putriku tidak sempurna, tetapi siapakah aku sampai berani mengharapkan kesempurnaan sementara aku sendiri masih sangat jauh dari sempurna? Siapakah aku sampai berani menangisi sesuatu yang kuinginkan, bukannya menerima dan menyayangi putriku karena ia akan dan selalu menjadi sesuatu yang sangat khusus?

Sandra mengajari aku cara membuka hati dan memberikan kasihku dengan suka hati dan tanpa pamrih. Aku telah menghabiskan begitu banyak waktu dan energi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan Sandra, sampai lupa sama sekali untuk sekadar menikmati kebersamaanku dengannya. Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama.

Kini setiap hari aku membacakan cerita kepada anak-anakku menjelang mereka tidur, dan setiap Sabtu pagi Anda akan menemukan kami bergelung bertiga di atas sofa, menonton kartun bersama-sama. Dan setiap kali aku membuat Sandra tertawa dengan mimik lucuku, atau bermain bola dengannya, atau memeluk salah satu bonekanya, tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya bahwa, setelah aku akhirnya berhasil membuka hatiku bagi Sandra, setiap hari ia mengisinya sampai penuh dengan kebahagiaan dan kasih sayang.

Leave a Comment

Cahaya Bintang, Terang Bintang

(nice story) (from chicken soup for the teenage soul II)

ketika berusia lima tahun, aku tergila-gila pada mainan kakak perempuanku. Tidak jadi soal bahwa aku sendiri mempunyai segudang boneka dan mainan sendiri. Hartanya yang khas “gadis besar” lebih menarik dan memikat.

Sama halnya ketika aku berusia sepuluh tahun dan ia sudah dua belas tahun; anting-antingnya dan alat rias yang mulai dicobanya sangat menarik perhatianku, sementara kegemaranku menangkap serangga seakan tinggal kenangan masa lalu yang memudar.

Hal ini terus berlangsung tahun demi tahun dan selalu dapat diterima kakakku,kecuali lecet-lecet dan ancaman untuk “memotong rambut” yang mengerikan saat aku sedang tidur.

Ibuku selalu mengingatkannya, pada waktu aku masuk MP dan memakal jepit barunya, sebenarnya aku memuji gaya penampilannya. Kata Ibu, sewaktu aku memakai bajunya saat masuk SMU, kakakku tertawa dan mengingatkanku bahwa la selalu lebih keren dibandingkan dengan diriku.

Aku selalu berpendapat bahwa kakakku memiliki selera tinggi, lebih-lebih saat ia mulai kedatangan tamu teman teman telakinya. Aku menyaksikan tak putus-putusnya anak lelaki usia enam belas tahun yang menjelajahi rumahku, makan dengan lahap di dapur, atau main basket di jalan ke garasi.

Baru belakangan lni aku sadar bahwa anak lelaki ternyata tidaklah “sekonyol” seperti yang semula kuduga, dan bahwa mereka ternyata tidak terlalu rese. Namun,anak lelaki kelas sembilan yang, seusia denganku, yang selama berbulan-bulan membuat aku dan teman-temanku cekikikan saat Pertandingan football, tiba-tiba saja terlihat sangat muda.

Mereka tidak bisa mengemudikan mobil dan tidak mengenakan jaket tim utama sekolah. Teman-teman kakakku bertubuh tinggi, kocak,dan meskipun kakakku selalu ingin segera menyingkirkanku, mereka selalu baik padaku pada saat kakak menyuruhku keluar ruangan.

Sekali-sekali aku beruntung saat mereka datang ketika kakakku tak ada di rumah.  Salah seorang di antaranya ngobrol lama denganku sebelum akhirnya pergi untuk melakukan kegiatan yang biasa dilakukan anak lelaki usia enam belas tahun (masih merupakan misteri bagiku). la bicara denganku sebagaimana ia bicara dengan orang lain, tidak bicara seperti kepada anak kecil, adik temannya… dan ia selalu memelukku untuk pamit sebelum pergi.

Tidaklah mengherankan kalau tidak lama kemudian aku pun terbuai olehnya.
Teman-temanku mengatakan tak mungkin aku bisa pacaran dengan anak kelas sebelas.  Kakakku tampaknya khawatir kalau-kalau aku akan patah hati.

Tapi, kita tentu tak bisa menentukan kepada siapa kita jatuh cinta, baik orang itu lebih tua atau lebih muda daripada kita, lebih tinggi atau lebih pendek, sangat berbeda atau sama dengan kita. Aku begitu dikuasai perasaan saat aku bersamanya, dan aku sadar bahwa sudah teriambot untuk berpikir wajar-aku telah jatuh cinta.

Bukannya aku tidak tahu bahwa mungkin saja aku ditotak.Aku sadar bahwa aku mengambil risiko dengan mempertaruhkan perasaan dan harga diriku. Kalau aku tidak menyerahkan hatiku kepadanya, ada kemungkinan ia . membuatku patah hati… tapi ada juga kemungkinan la menerimaku.

Suatu malam sebelum ia pulang, kami duduk di teras depan rumah, ngobrol sambil menyaksikan bintang bermunculan di langit. la menatapku dengan serius dan bertanya apakah aku percaya pada bintang pembawa keberuntungan. Aku heran dengan pertanyaannya, tapi tetap bersikap serius dan berkata bahwa selama ini tak pernah memikirkan bintang seperti itu.

“Oke, sekarang sudah waktunya kau memikirkannya,”katanya sainbil menunjuk kelangit. “AYO, pilih satu dan ucapkan apa yang paling kauinginkan.” Aku menatap ke langit, memilih satu bintang yang paling terang. Kupejamkan mataku rapat-rapat, dan walaupun serasa ada berjuta kupu kupu menggelepar dalam perutku, aku mengucapkan harapan agar dilimpahi keberanian.

Kubuka rnataku dan tarnpak ia tersenyum menyaksikan betapa bersemangatnya aku mengucapkan harapan dalam hatiku. la bertanya apa harapanku “Keberanian? dan ketika aku menjawab , ia tampak bingung. Keberanian? Keberanian untuk apa?” tanyanya.

Aku menarik napas panjang dan menjawab, “Untuk melakukan ini.” Dan aku menciumnya dengan penuh semangat. Sungguh suatu keberanian yang tak kusangka kumiliki, kekuatan yang ada jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, yang mengambil alih akal sehatku.

Waktu aku selesai menciumnya, kulihat pandangan tercengang di wajahnya, yang berubah menjadi senyuman, lalu menjadi tawa. Setelah memikirkan sesuatu untuk diucapkan, yang bagiku terasa berjam-jam, ia meraih tanganku dan berkata, “Eh,kita memang sama-sama beruntung malam ini. Ternyata harapan kita berdua terkabul.”

Kelly Garnett
________________________________________________

Indo community

Leave a Comment

Older Posts »