Archive for April 1, 2009

Akibat TIDUR Di Dekat Peralatan Elektronik

(info kesehatan – warning)

Note: Just FYI to take more care your family’s life.
Akibat TIDUR Di Dekat Peralatan Elektronik , Simon Menderita Leukimia!

Rumah yang kita tinggali memang memberikan perlindungan dan kenyamanan.  Akan tetapi, rumah bisa juga berpotensi menjadi sumber gangguan bagi kesehatan kita.    Bahkan kalau gangguan itu berlangsung lama, bisa mengancam kesehatan kita.    Gangguan terhadap rumah di antaranya datang dari dua macam sumber polusi.

Pertama, polusi yang dikeluarkan unsur-unsur kimia dari bahan bangunan rumah.   Misalnya bahan pembasmi serangga, cat, bahan-bahan finishing yang berasal dari bahan-bahan kimia anorganik. Polusi tidak hanya berlangsung pada saat pengecatan, tetapi juga sepanjang keberadaan rumah kita. Bahan-bahan seperti plywood, pipa-pipa PVC, permadani dengan bahan sintetis,juga berpotensi “memancarkan polusi kimia

Kedua, polusi yang datang dari unsur-unsur elektromagnetik yang dikeluarkan perlengkapan listrik dan elektronik yang kita pergunakan. Mulai dari yang kecil hingga yang besar seperti hair dryer, microwave oven, pencukur rambut elektronis, alat penyedot debu, bor listrik, alarm, hingga saluran listrik tegangan tinggi dan menara antena transmisi televisi.

Tak banyak yang menyadari, peralatan elektronik yang ada dalam lingkungannya sehari-hari itu mengeluarkan gelombang elektromagnetik. Orang biasanya baru menyadari, saat muncul serangan kanker, leukimia, atau bayi lahir dalam kondisi cacat.

Paparan gelombang elektromagnetik yang berlangsung terus-menerus, memang dapat mempengaruhi sistem sel tubuh sehingga terjadi pertumbuhan sel yang menyimpang.
Pengalaman mengenaskan berkaitan radiasi elektromagnetik menimpa keluarga asal Inggris Denise dan Ray Studholme yang kehilangan anak laki-lakinya setelah pindah rumah.

Keduanya yakin, Simon meninggal akibat tidur terlalu dekat dengan peralatan elektronik.

Alkisah, Januari 1989, Ray dan Denise pindah ke bungalow impian mereka di Little Lever, Bolton, Inggris. Kurang dari empat tahun kemudian, anak laki-laki mereka yang berusia 13 tahun meninggal setelah berjuang cukup lama melawan penyakit leukimia yang dideritanya.

Ayahnya, Ray, berceritera hanya dalam waktu enam bulan setelah pindah, Simon mengeluh sakit kepala dan pusing-pusing.
“Dia bilang rasanya seperti ada orang yang memukuli kepalanya kuat-kuat.”
November 1990, Simon didiganosa menderita leukimia, dan diwajibakn menjalani terapi kemoterapi. Ini seperti hukuman mati bagi anak seusianya –apalagi tingkat kematian akibat penyakit ini diantara anak-anak yang lebih tua usianya sangat tinggi.

Beberapa bulan kemudian, kondisinya terlihat membaik, ia bahkan kembali bersekolah seperti biasa.

Sayangnya, Mei 1992, Simon jatuh sakit lagi. “Sejak itu, hidupnya seperti di neraka.

Dia mengalami penderitaan dan kesakitan teramat sangat. Kami melihat dan merasakan dia sekarat di depan kami,” kata Ray. Ia ingat pernah mengatakan tinggal di dekat pemancar listrik dan ada sejumlah tiang listrik di sekitar tempat tinggalnya– tetapi dokter mengabaikan informasi tersebut dan menyarankan Ray tetap konsentrasi pada kesembuhan anaknya.

Simon, akhirnya meninggal 19 September 1992. Keluarga Studholme pun mulai bertanya-tanya apakah gelombang elektromagnetik yang menjadi sumber gangguan kesehatan anak laki-lakinya selama ini?

Mereka kemudian mengadakan uji coba, terutama di sekitar tempat tidur Simon.    Hasilnya sungguh mengejutkan, ditemukan medan elektromagnetik begitu tinggi disana –bukan dari peralatan listrik di luar rumah –tetapi justru dari alarm anti maling dan meteran lsitrik yang berada di samping tempat tidur Simon.

“Sampai hari ini, saya dan istri saya yakin, gelombang elektromagnetik itulah yang menyebabkan Simon menderita leukimia.”

Karenanya, mereka berusaha memperingatkan keluarga lainnya agar berhati-hati meletakkan peralatan listrik di sekitar tempat tidur anak-anak mereka.

Bulan Maret 2004 lalu, keluarga Studholmes mencoba menggugat perusahaan penyelia yang memasang peralatan listrik di rumahnya ke pengadilan, namun mereka diberitahu kasus itu akan gagal.

Saat ini, yang bisa dilakukan Denise dan Ray hanyalah melakukan tindakan pencegahan.    Mereka membuang alarm anti maling dari rumah mereka, dan tak seorangpun anak-anak yang lain boleh tidur di kamar tidur Simon.

Setiap malam, Ray juga memastikan keluarganya selalu mematikan sebagian besar peralatan listrik di rumah mereka. “Kami berusaha melakukan apapun yang bisa kami lakukan.

Kalau ada yang bisa kami lakukan untuk mengembalikan Simon kepada kami, saya akan melakukannya,” kata Ray.

“Tetapi itu tidak mungkin..,” lanjutnya sedih.

Sumber : Kompas

Leave a Comment

Di dobel aja

(joke)

Sudah dua minggu Henny dan Harun pulang dari berbulan madu, dan Harun berniat mengundang kolega kantornya untuk makan malam pada hari Jumat.

Henny agak ragu-ragu karena dia harus memasak dan tidak terlalu yakin dengan masakannya (maklum anak mami yang tidak pernah masuk dapur).
Harun mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikuatirkan karena dia hanya mengundang tiga orang temannya beserta istri masing-masing, dan Henny cukup memasak untuk 8 orang.

 

Dan karena ini adalah pesta pertama,Henny cukup membuat kue saja untuk hidangan penutup, sedangkan makanan utamanya bisa dipesan dari restoran.

Henny sangat senang dengan usul Harun dan bersiap untuk membuat kue.

Jumat pagi, Henny menelpon Harun ke kantornya sambil ketakutan,mengatakan bahwah resep kue yang dimilikinya hanya untuk 4 orang saja.
Harun lantas memberi nasehat “Gampang saja sayang, didobel aja semuanya”.
Berpikir bahwa itu adalah ide yang jitu, Henny mulai tenang.

Jam 4 sore, kembali Henny telpon.

Kali ini dengan terisak-isak. “Mas,matilah kita.

Benar-benar tak mungkin masak kue untuk 8 orang”.

Sambil mencoba menenangkan istrinya, Harun menanyakan apa yang terjadi.

“Untuk 4 orang, dibutuhkan 2 telor dan saya telah memakai 4 telor.

Juga dibutuhkan 3 cangkir terigu dan saya telah memakai 6 cangkir” kata Henny

“Jadi apa masalahnya?” tanya Harun

“Masalahnya bukan di bahannya mas.

Menurut resep, kue ini harus dipanggang pada suhu 350 derajat, dan saya sudah cek ternyata oven
kita tidak bisa dipakai untuk suhu 700 derajat”

indo community

Leave a Comment

the right man in the right chair

Does your Company have a problem in recruiting the right person for the right chair?

If yes, try this simple experiment.

Put around 100 bricks in some particular order in a closed room with an open window.

Then send 2-3 candidates into the room and close it from outside.

Leave them alone and come back after 6 hours, and then analyze the situation:

~If they are counting and recounting the number of bricks

-PUT THEM IN ACCOUNTS DEPT.
~If they have messed up the whole place with the bricks
-PUT THEM IN THE ENGINEERING DEPT.

~If they are arranging the bricks in some other order

-PUT THEM IN PLANNING.
~If they are throwing the bricks at each other
-PUT THEM IN OPERATIONS.

~If they are sleeping
-PUT THEM IN SECURITY.
~If they have broken the bricks into pieces
-PUT THEM IN INFORMATION TECHNOLOGY.

~If they are sitting idle -
PUT THEM IN HUMAN RESOURCE DEPT.
~If they are clinging onto the bricks
-PUT THEM IN TREASURY.

~If they say they have tried different combinations, yet not a brick has moved
-PUT THEM IN SALES.
~If they have already left for the day
-PUT THEM IN MARKETING.

Last but not least….

~ If they are talking to each other and not a brick has moved

-PUT THEM IN TOP MANAGEMENT CELL.

“It is better to light one small candle than to curse the darkness.”

 

Indo community

Leave a Comment

Older Posts »