Archive for March 9, 2009

4 Cara Memilih Suplemen Diet

Info Sehat :

Ternyata 90 persen diantara kita, tidak mendapat vitamin dan mineral yang kita butuhkan secara teratur.Kita tidak makan cukup buah-buahan dan sayuran dan tidak mendapat antioksidan yang seharusnya kita miliki dalam diet. Ada banyak faktor pemicu kurangnya mendapat nutrisi. Faktor lingkungan seperti polusi, bahan pengawet, kurangnya zat hara tanah dan terlalu banyak pupuk yang berakibat menurunnya nutrisi.

Faktor gaya hidup seperti stress,pemakian alkohol dan produk tembakau yang berlebihan. 56 persen orang dewasa menggunakan vitamin dan suplemen dalam kebutuhan sehari-hari untuk meyakinkan bahwa kita mendapat nutrisi yang dibutuhkan. Tetapi hati-hati suplemen tidak bisa menggantikan vitamin dan mineral yang ditemukan dalam makanan.

Ada empat kunci saat kita mulai mencari dan membeli suplemen diet:

  1. Perhatikan produk yang memiliki formula khusus untuk pria dan wanita. Lebih banyak kita tahu tentang nutrisi, lebih jelas karena pria wanita memiliki kebutuhan berbeda. Suplemen yang baik akan memiliki formula berbeda sesuai dengan kebutuhan.
  2. Cari suplemen yang memiliki formulasi pagi dan malam. Tubuh kita tidak membutuhkan nutrisi sekaligus. Kita butuh vitamin dan mineral untuk membantu melakukan aktivitas sehari-hari, dan yang lain membantu tubuh memperbaiki diri sendiri malam hari.
  3. Baca label untuk meyakinkan bahwa formula telah diuji dan analisa. Suplemen sebaiknya diuji kemungkinan mengandung racun dan didukung dengan penelitian ilmiah.
  4. Belilah suplemen dalam bentuk kapsul dari pada tablet. Tablet mungkin lebih murah untuk di produksi dibandung kapsul, tetapi lebih baik karena kapsul lebih efisien diserap tubuh.

Selamat mencoba !

Salam,
Indra Harjanto

Leave a Comment

Bahaya Kanker Di Balik Melamin

Jakarta, Kompas (Rabu 16Nov 2005)
Saat diperkenalkan di Indonesia pada 1970-an, perlengkapan makan dari bahan melamin segera memikat konsumen. Ringan dan tak mudah pecah. Praktis dibawa piknik pula.

Namun, penelitian YLKI mengingatkan kita untuk lebih cermat dan bijak. Sebab, ada yang berharga murah tapi terbuat dari bahan yang membahayakan kesehatan. Bagaimana tidak tergiur pada perlengkapan makan berbahan melamin kalau harganya sangat murah? Bayangkan, produk melamin dari segala jenis dan ukuran hanya dihargai Rp 10.000,- untuk 3-4 buah.

Bahkan di sejumlah hypermarket dan pusat grosir ditawarkan kiloan dengan patokan sekitar Rp
25.000,-/kg. Sebaliknya, melamin lokal (bermerek Golden Dragon, Hoover, Onyx, Vanda) berupa sendok, gelas, cangkir, piring, pinggan sampai mangkuk besar kisaran harganya Rp 2.000,- — Rp 40.000,-. Tak heran jika produk melamin murah itu makin mudah dijumpai dalam keseharian.

Penjaja bakso, warung makan, sampai usaha jasa boga beranggaran rendah dengan senang hati mulai mengganti perangkat makan dari beling dan gelas dengan perlengkapan yang mengurangi risiko rugi karena pecah ini. Produsen makanan siap saji dari kacang kulit sampai biskuit bubur bayi pun menyertakan perlengkapan makan dari melamin murah itu dalam kemasan sebagai hadiah, pemikat calon pembeli.

Namun, uji produk melamin yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bekerja sama dengan jurusan Kimia FMIPA, Universitas Indonesia terhadap 10 jenis merek (empat lokal, enam impor) menunjukkan, tak semuanya memenuhi food grade. Artinya, ada di antara produk-produk tadi yang mengandung zat berbahaya atau beracun dan bisa berpindah ke makanan akibat proses pengolahan makanan. Misalnya, dipakai untuk menyimpan sayur panas.

Pencetus kanker
Zat berbahaya itu formaldehid namanya. Dalam kadar tinggi bahan ini akan berdampak buruk bagi kesehatan. Berdasarkan acuan kesehatan di Inggris, paparan maksimumnya 2 ppm atau 2 mg/l. Sedangkan Amerika Serikat (AS) menetapkan paparan maksimum untuk jangka panjang 1 ppm dan jangka pendek 2 ppm.

Penelitian laboratorium selama dua tahun oleh Chemical Industry Institute of Toxicology yang dimulal tahun 1979 menunjukkan, kontak dengan formaldehid menyebabkan kanker hidung pada tikus. Penelitian ini didukung oleh 36 perusahaan kimia di AS. Tahun 1987 Environmental Protection Agency (EPA) AS menggolongkan formaldehid sebagai zat yang mungkin memicu kanker.

Beberapa penelitian juga membuktikan, pekerja yang terpapar formaldehid berisiko terserang kanker lebih besar beberapa kali, apalagi jika berlangsung terus-menerus. AS kemudian secara tegas menyatakan,formaldehid sebagai pencetus kanker bagi manusia. Uap formaldehid memicu radang pada mata (perih), hidung, saluran pernapasan atas, batuk, bronkitis, pneumonia, dan asma.

Kulit yang terpapar formaldehid akan perih dan kemerahan seperti terbakar. Bila air yang terkontaminasi formaldehid terhirup atau tertelan akan menyebabkan sakit mendalam, luka bernanah, dan pembusukan pada selaput lendir tubuh (misalnya pada pipi bagian dalam dan bibir). Gejala keracunan dapat ditandai dengan muntah-muntah, pusing, dan hilang kesadaran. Kematian bisa terjadi bila formaldehid terminum sampai kadar 30 mg/l.

Pertanyaannya, dari mana datangnya formaldehid?
Untuk menjawabnya mari kita tengok ke belakang ketika pada 1907 ahli kimia Belgia, Leo Hendrik Baekeland, menemukan plastik buatan (sintetis) pertama yang disebut bakelite. Inilah cikal bakal melamin yang awalnya digunakan sebagai bahan dasar pesawat telepon generasi pertama.

Kemudian senyawa ini dikembangkan dan diterapkan untuk industry perlengkapan rumah tangga, termasuk perangkat makan. Pada 1930 – 1940-an, perusahaan-perusahaan di AS macam Cyanamid, Ciba,dan Henkel mengembangkan senyawa ini untuk industri tekstil sebagai bahan pengisi dan perekat. Keunggulannya berupa kejernihan, stabil terhadap panas, cahaya, bahan kimia, goresan, bahkan api!

Faktor inilah yang membuat melamin formaldehid makin luas digunakan pada tahun-tahun awal pasca-Perang Dunia 11. Antara lain digunakan pada industri kayu lapis untuk memperkuat dan mempercantik produk-produknya.

Lokal asli
Jadi, memang dari sononya formaldehid sudah nebeng di melamin. Menurut Bambang Ariwahjoedi, pengajar pada FMIPA ITB, melamin merupakan persenyawaan (polimerisasi) kimia antara monomer formaldehid dan monomer fenol. Bila kedua senyawa bergabung, sifat racun formaldehid akan hilang karena terlebur menjadi satu senyawa, yaitu melamin.

Formaldehid dalam senyawa melamin dapat muncul kembali karena depolimerisasi. Akibat proses ini, formaldehid terlepas menjadi monomer yang bersifat racun. Pemicunya bisa berupa paparan panas, sinar ultraviolet, gesekan, dan tergerusnya permukaan melamin hingga partikel formaldehid terlepas.

Meski tahan di rentang suhu 120 derajat celcius sampai 30°C di bawah nol, tapi karena menyerap panas, melamin tak tahan dipapar panas terlalu tinggi. Apalagi terpapar dalam jangka waktu lama. Oleh sebab itu melamin tak bisa digunakan dalam microwave.

Persoalan lain, dalam persenyawaan yang kurang sempurna dapat terjadi residu. Sisa formaldehid dan fenol yang tak bersenyawa itu akan terjebak dalam materi melamin. Formaldehid yang terjebak inilah yang bias mengancam kesehatan bila masuk ke tubuh manusia. Dari uji produk melamin, melamin lokal dan impor dari Cina mempunyai senyawa berbeda. Melamin lokal terbuat dari melamin asli, sementara yang impor terbuat dari bahan bukan melamin, salah satunya urea formaldehid.

Kedua senyawa ini dibentuk oleh reaksi polimerisasi yang menghasilkan fenol. Senyawa melamin dan urea berasal dan hasil reaksi formaldehid dengan senyawa amino yang mengandung kelompok senyawa NH2. Susunan kimianya sangat berbeda. Melamin punya struktur rantai lingkaran sehingga lebih stabil. Ikatan kimia urea formaldehid berupa rantai lurus, makanya pelepasan formaldehid lebih mudah. Urea formaldehid hanya tahan sampai suhu 62 derajat celcius hingga lebih mudah pecah atau berubah bentuk pada perlakuan suhu ekstrem.

Urea yang dipanaskan akan menghasilkan formaldehid yang kadar pencemarnya tergantung pada seberapa kuat ikatan bahannya serta tingkat proses yang dijalankan produsen. Untuk menguji kadar formaldehid pada beberapa produk berbahan melamin,YLKI melakukan dengan beberapa cara.

Pertama, uji rebus. Produk melamin direbus dalam 2 l air selama 30 menit dalam panci tertutup berlubang kecil untuk menghindari tekanan. Ini untuk memperbandingkan dengan kebiasaan konsumen menggunakan wadah itu bagi air mendidih, misalnya menyeduh teh, kopi, atau sebagai wadah bakso kuah dan sup panas yang biasa disantap selama 15 – 30 menit. Juga untuk menguji penggunaan berulang dengan air mendidih.

Kedua, uji kadar formaldehid dengan Pharmacopoeia Standard (Baku Mutu Farmakop). Hasilnya, seperti yang terungkap dalam Warta Konsumen, September 2004, enam merek melamin impor Cina ternyata berkadar formaldehid tinggi, 4,76 – 9,22 mg/l. Sementara merek lokal (Onyx, Golden Dragon, Vanda, Hoover) berkadar kurang dan 0,05 mg/l.

Safe yang tidak aman
Dari pengujian pula, YLKI mewanti-wanti untuk hati-hati dengan melamin impor dari Cina yang mencantumkan label aman. Misalnya, pada mug bertutup merek W Melamin CH 13 tercantum label heat safe . Saat diuji di laboratorium, hasilnya ternyata bertolak belakang.

Hal semacam ini bisa menyesatkan konsumen yang mempunyai bayi dan biasa menyuci hamakan wadah makanan bayi dengan cara direbus. Maunya aman, tapi justru berbahaya. Kandungan formaldehid dari mug yang direbus 30 menit ini sangat tinggi (8,82 mg/l).

Agar tak was was, kita bisa melakukan uji sederhana untuk memastikan apakah perangkat makan melamin kita asli atau tak memenuhi food grade.

Pertama, uji bakar sederhana. Bakarlah ujung melamin dengan lilin selama 20 detik. Jika tercium gas formaldehid yang menyengat, berarti tidak memenuhi food grade. Pada melamin asli hanya tampak gosong tanpa bau formaldehid.

Kedua, uji rebus selama 30 menit sampai satu jam. Melamin palsu (dalam hal ini impor dari Cina) akan berubah bentuk, meliuk,bahkan rapuh dan mencair. Uap rebusannya pun menyebabkan mata perih,batuk, dan mual.

Walau sekilas sama, secara fisik kita bisa membedakan melamin asli dan palsu. Melamin asli lebih tebal dan berat dibandingkan dengan melamin palsu yang lebih terkesan sebagai plastik. Bila sesama melamin asli dibenturkan, bunyi yang terdengar akan lebih “tebal” dibandingkan dengan pembenturan antarmelamin palsu. Permukaan melamin asli lebih licin dan berkilau, sedangkan yang palsu mudah ternoda oleh pangan berwarna (misalnya, teh atau kopi) hingga warnanya lebih gelap.

Walau lama-kelamaan akan kusam juga, melamin asli lebih stabil ketimbang yang palsu.
Dengan perlakuan dan perawatan benar, perlengkapan makan melamin bisa layak digunakan 6 – 10 tahun. ? Ini laporan dari salah satu konsumen,? tutur Dedi Cahyadi, asisten manajer Research and Development Onyx Design yang mulai berproduksi sejak 1988.

Agar perlengkapan melamin awet,cucilah segera setelah dipakai. Tak masalah apakah menggunakan pembersih sabun cair atau sabun colek. Yang penting, jangan digosok kasar. Gunakan spons halus dan hindari penggunaan sabut kelapa, abu gosok, apalagi bahan penggosok dari logam yang mulai ditawarkan di pasaran.

Kapan sebaiknya peralatan makanan dari melamin ini diafkir?
Perhatikan permukaannya. Bila mulai banyak ternoda, berubah warna karena pengaruh atau minuman makanan macam teh, kopi, makanan asam yang lebih mudah terserap, juga bila mulai kusam dan tergores-gores, sebaiknya pensiunkan saja. Selain mempertimbangkan keamanan bagi kesehatan, tentu tak elok lagi dipandang. Selera makan mungkin ikut berkurang. Bekas peralatan makan kita ini masih bisa dimanfaatkan sebagai tatakan pot,misalnya. *

Bahaya Di Balik Piring-piring Cantik!
Jakarta, Kompas (Rabu 16 Nov ‘05)

Anda suka pakai peralatan makan dari melamin? Hati-hati, lo, karena dibalik sosoknya yang cantik serta harganya yang murah meriah, ada bahaya mengintai. Banyak yang mengandung formalin berkadar tinggi yang membahayakan kesehatan.

Bagaimana menyiasatinya agar aman?
Beberapa waktu lalu, Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI) melansir hasil penelitian mengenai kandungan formalin dalam wadah-wadah melamin. Penelitian yang dilakukan bulan September 2004 lalu itu membuahkan hasil yang mengejutkan.

Peralatan makan dari melamin yang kini amat mudah ditemui di pasaran, banyak yang mengandung formalin dalam konsentrasi tinggi. Ilyani S. Andang, peneliti YLKI, menegaskan, penelitian dilakukan terhadap 10 merek produk melamin. “Enam merek diantaranya adalah produk impor, sedangkan sisanya adalah produk lokal,” ujarnya. Produk yang diambil contoh adalah peralatan makan yang dijual di pasar-pasar tradisional serta pertokoan yang dijual dengan harga murah. “Ada yang Rp 10.000 dapat tiga buah.”

Ilyani dan tim-nya sengaja memilih produk-produk yang beragam. “Ada yang dengan jelas mencantumkan merek, ada pula yang tidak,” imbuhnya. Dari yang tidak ada mereknya ini, banyak yang hanya mencantumkan nomor-nomor. “Enggak tahu juga apa artinya nomor-nomor tersebut. Tapi yang jelas produk-produk tersebut tidak bisa diketahui siapa yang memproduksi.” Formalin Tinggi

Contoh-contoh produk yang akan diteliti kemudian disiram dengan air panas.
“Tetapi ternyata tidak cukup hanya disiram dengan air panas, karena formalin sifatnya cepat menguap, sehingga tidak bisa diteliti,” urai Ilyani mengenai mekanisme penelitian yang dilakukannya. Akhirnya, Ilyani memutuskan untuk merebus wadah-wadah tersebut, dengan pertimbangan, “Para ibu rumahtangga suka merebus peralatan makannya untuk sterilisasi, bukan?”

Dari hasil air rebusan yang kemudian dibawa ke Laboratorium Kimia Universitas Indonesia, ini didapatkan hasil, bahwa kandungan formalin pada hampir semua produk yang diteliti, ternyata sangat tinggi. “Nilainya beragam, antara 4,76 9,22 miligram per liter,” ungkap Ilyani. Tingginya kandungan formalin ini sangat berbahaya jika sampai terkonsumsi. “Akumulasi formalin yang tinggi di dalam tubuh bias menyebabkan beragam penyakit. Bahkan penyakit kanker yang mematikan.”

Dari kenyataan tersebut, Ilyani khawatir, jika para konsumen tidak tahu cara yang tepat menggunakan piranti melamin tersebut, akan terkena dampak negatif dari tingginya kadar formalin yang terdapat di sana. “Sebetulnya, asal tidak dipakai untuk makanan atau minuman panas, sih, aman-aman saja. Yang bahaya, kan, jika wadah-wadah ini dipakai untuk menaruh bahan makanan panas,” paparnya, sembari mencontohkan, perangkat melamin kerap digunakan untuk membuat minuman teh, kopi, atau makanan
berkuah panas.

Di Sekitar Kita
Apa itu formalin? Menurut Drs. Bambang Wispriyono, Apt, PhD,formalin adalah nama dagang larutan formaldehid dalam air dengan kandungan 30-40 persen.
Di pasaran, formalin bisa ditemukan dalam bentuk yang sudah diencerkan,dengan kandungan formaldehid 10-40 persen. “Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Di industri makanan, misalnya, formalin dipakai untuk membuat makanan lebih awet. Misalnya saja untuk
tahu, mi, atau bakso.”

Di industri kecantikan formalin biasa dipakai di produk cat kuku. “Di perikanan, formalin digunakan untuk menghilangkan bakteri yang biasa hidup di sisik ikan,” ungkap Wakil Dekan I Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini.

Menurut Bambang, formaldehid memiliki banyak fungsi, diantaranya sebagai pengawet, serta anti bakteri. “Formaldehid juga dipakai untuk reaksi kimia yang bisa membentuk ikatan polimer, dimana salah satu hasilnya adalah menimbulkan warna produk menjadi lebih “muncul”. Itu sebabnya formaldehid dipakai di industri plastik.”

Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yaitu mulut dan pernapasan. “Sebetulnya, sehari-hari kita menghirup formalin dari lingkungan sekitar.” Kata Bambang, polusi yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang mau tidak mau kita hirup,kemudian masuk ke dalam tubuh. “Begitupula dari asap rokok,” tandasnya. Bahkan, air hujan yang jatuh ke bumi pun sebetulnya mengandung formalin.

Sebabkan Kanker
Di dalam tubuh, jika terakumulasi dalam jumlah besar, formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika kandungan dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel, sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh.

Bambang menegaskan, akumulasi formalin yang tinggi di dalam tubuh akan menyebabkan berbagai keluhan, misalnya iritasi lambung dan kulit,muntah, diare, serta alergi. “Bahkan bisa menyebabkan kanker, karena formalin bersifat karsinogenik.”

Khusus mengenai sifatnya yang karsinogenik, Bambang mengingatkan,formalin termasuk ke dalam karsinogenik golongan IIA. “Golongan I adalah yang sudah pasti menyebabkan kanker, berdasarkan uji lengkap. Sedangkan golongan IIA baru taraf diduga, karena data hasil uji pada manusia masih kurang lengkap.”

Bambang menekankan, dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air,serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh. “Itu sebabnya formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah.” Tetapi, Bambang mengingatkan, imunitas tubuh sangat berperan dalam berdampak tidaknya formalin di dalam tubuh. “Jika imunitas tubuh rendah,sangat mungkin formalin dengan kadar rendah pun bisa berdampak buruk terhadap kesehatan,” cetusnya.

Menanggapi hasil penelitian YLKI, Bambang sedikit ragu melihat angkanya yang dinilainya sangat tinggi. “Apa betul, ya, angkanya segitu? Jika betul, itu berarti tinggi sekali, lo. Menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter,” tandasnya. Perlu diketahui, IPCS adalah lembaga khusus dari tiga organisasi di PBB, yaitu ILO, UNEP,serta WHO, yang mengkhususkan pada keselamatan penggunaan bahan kimiawi.

Meskipun diakui berbahaya jika terakumulasi di dalam tubuh, namun Bambang melihat, sangatlah tidak bijaksana jika melarang penggunaan formalin. “Bagaimanapun, industri memerlukan formalin,” katanya. “Yang penting,kita harus bijaksana dalam menggunakannya, misalnya dengan cara tidak menggunakannya pada makanan.”

BAGAIMANA MENYIKAPINYA?

1. Tenang
Meskipun harus waspada, hendaknya jangan lantas menjadi paranoid, alias curigaan. “Tidak perlu lah sampai harus emoh memakai perangkat melamin sama sekali. Itu namanya paranoid. Lagipula, tidak semua wadah melamin mengandung formalin berlebihan, bukan?” kata Bambang. Yang penting, menurutnya, konsumen harus jeli dengan memperhatikan kualitas barang serta harganya. “Kalau produknya mudah sekali pudar atau kusam, itu berarti bahannya banyak yang terkikis. Produk seperti ini perlu dihindari.”

2. Dingin
Jika tidak yakin akan kualitas produk melamin yang Anda punya, sebaiknya jangan gunakan piranti makan tersebut untuk makanan serta minuman panas. “Untuk makanan dingin, sih, aman-aman saja, karena formalin yang sudah membentuk polimer sulit untuk terurai. Kalaupun terurai, pasti tidak 100 persen,” papar Bambang.

3. Cermat
Dalam mengonsumsi bahan makanan, pilihlah yang tidak mengandung formalin. “Kalau tahu tahan sampai berhari-hari, diduga keras mengandung formalin,” ujar Bambang. Menurut situs WHO (lembaga PBB yang khusus menangani kesehatan), sebetulnya, makanan yang mengandung formalin memiliki bau yang khas, sehingga bisa dideteksi oleh orang awam sekalipun.

4. Pengawet Lain
Sebisanya, hindari penggunaan formalin sebagai bahan pengawet. “Jika bisa diganti dengan pengawet lain, itu lebih baik,” saran Bambang. (Tabloid Nova)

Melamin, Piring Cantik yang Menyimpan Racun
Jakarta, Kompas (Minggu 11 Juli 2005)

Di banyak toko yang menjual perabot rumah tangga, peralatan makan dan minum yang disebut melamin relatif mudah ditemukan. Kalau sekitar tahun 1970-1980-an melamin masih terbatas warna maupun coraknya, maka kini desain melamin bisa bersaing dengan barang pecah belah lainnya. Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga barang ini tak hanya bisa dibeli di toko tertentu, tetapi juga di pasar tradisional sampai di pedagang kaki lima.

Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907 ketika ilmuwan kimia asal Belgia,Leo Hendrik Baekeland, berhasil menemukan plastik sintesis pertama yang disebut bakelite. Penemuan itu merupakan salah satu peristiwa bersejarah keberhasilan teknologi kimia awal abad ke-20.

Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan telepon generasi pertama. Namun, pada perkembangannya kemudian, hasil penemuan Baekeland dikembangkan dan dimanfaatkan pula dalam industry peralatan rumah tangga. Salah satunya adalah sebagai bahan dasar peralatan makan, seperti sendok, garpu, piring, gelas, cangkir, mangkuk, sendok sup, dan tempayan, seperti yang dihasilkan dari melamin.

Peralatan makan yang terbuat dari melamin di satu sisi menawarkan banyak kelebihan. Selain desain warna yang beragam dan menarik, fungsinya juga lebih unggul dibanding peralatan makan lain yang terbuat dari keramik,logam, atau kaca. Melamin lebih lebih ringan, kuat, dan tak mudah pecah. Harga peralatan melamin pun relatif lebih murah dibanding yang terbuat dari keramik misalnya.

Potensi formalin
Dengan segala kelebihan melamin, tak heran kalau sebagian orang tidak menyadari bahwa melamin menyimpan potensi membahayakan bagi kesehatan manusia.
Menurut pengajar pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung, Bambang Ariwahjoedi PhD, MSc, melamin berpotensi menghasilkan monomer beracun yang disebut formaldehid (formalin).

Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, formaldehid juga digunakan untuk bahan baku melamin. Menurut Ariwahjoedi, melamin merupakan suatu polimer, yaitu hasil persenyawaan kimia (polimerisasi) antara monomer formaldehid dan fenol. Apabila kedua monomer itu bergabung, maka sifat toxic dari formaldehid akan hilang karena telah terlebur menjadi satu senyawa, yakni melamin.

Berdasarkan kerja sama penelitian antara Universitas Indonesia dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), diketahui kandungan formaldehid dalam perkakas melamin mencapai 4,76?9,22 miligram per liter. ?Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang sempurna dapat terjadi residu, yaitu sisa monomer formaldehid atau fenol yang tidak bersenyawa sehingga terjebak di dalam materi melamin. Sisa monomer formaldehid inilah yang berbahaya bagi kesehatan apabila masuk dalam tubuh manusia,? ujar Ariwahjoedi.

Dalam sistem produksi melamin yang tidak terkontrol, bahan formaldehid yang digunakan cenderung tidak sebanding dengan jumlah fenol. Maka,kerap terjadi residu. Ini bukan berarti proses produksi yang sudah menerapkan well controlled dan tidak menghasilkan residu terbebas dari potensi mengeluarkan racun. Menurut Ariwahjoedi, formaldehid di dalam senyawa melamin dapat muncul kembali karena adanya peristiwa yang dinamakan depolimerisasi (degradasi). Dalam peristiwa itu, partikel-partikel formaldehid kembali muncul sebagai monomer, dan otomatis menghasilkan racun.

Ariwahjoedi menjelaskan, senyawa melamin sangat rentan terhadap panas dan sinar ultraviolet. Keduanya sangat berpotensi memicu terjadinya depolimerisasi. Selain itu, gesekan-gesekan dan abrasi terhadap permukaan melamin juga berpotensi mengakibatkan lepasnya partikel formaldehid. Ariwahjoedi menambahkan, formaldehid sangat mudah masuk ke tubuh manusia, terutama secara oral (mulut). Formaldehid juga dapat masuk melalui saluran pernapasan dan cairan tubuh.

Monomer formaldehid yang masuk ke tubuh manusia berpotensi membahayakan kesehatan. ?Formalin kan berfungsi untuk membunuh bakteri. Kalau bakteri saja tidak bisa hidup, berarti tinggal selangkah lagi meracuni makhluk yang lain,? ungkapnya berilustrasi.
Formaldehid yang masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu fungsi sel,bahkan dapat pula mengakibatkan kematian sel.

Dalam jangka pendek, hal ini bisa mengakibatkan gejala berupa muntah,diare, dan kencing bercampur darah. Sementara untuk jangka panjang, akumulasi formaldehid yang berlebih dapat mengakibatkan iritasi lambung, gangguan fungsi otak dan sumsum tulang belakang. Bahkan, fatalnya dapat mengakibatkan kanker (karsinogenik). (d10)

Leave a Comment

Bahaya Garam Bagi Kesehatan

Seperti yang kita ketahui, garam sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan, sejak ribuan tahun lalu, garam telah digunakan sebagai penyedap masakan dan bahan pengawet makanan. Siapa sangka, justru keakraban inilah yang menimbulkan masalah kesehatan. Tepatnya, garam dianggap sebagai pemicu penyakit darah tinggi alias hipertensi.

Mengapa garam menjadi berbahaya?
Garam dapur dikenal sebagai Natrium clorida atau NaCl, adalah mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Mineral ini bertugas ‘menukar’ zat makanan lama dengan yang baru. Kelancaran proses pertukaran sisa makanan di dalam tubuh,tergantung pada kadar natrium di dalam sel.

Natrium beredar ke seluruh tubuh mengikuti aliran darah, menumpang pada butir darah merah. Seharusnya butir-butir darah merah hanya mendapat pasokan natrium yang pas. Bila kekurangan, butir darah akan mengempis, sebaliknya bila kelebihan butir darah merah akan mengembang dan berdampak merobek pembuluh darah.

Berapa banyak garam yang dibutuhkan oleh tubuh ?
Dr. Lewis K Dahl, peneliti dari New York mengingatkan, setiap orang hanya memerlukan sekitar 2 gr atau ½ sendok teh garam setiap hari. Saat ini rata-rata konsumsi garam seseorang setiap hari di dunia adalah 5 sampai 6 gram per hari,bahkan lebih.

Kelebihan konsumsi garam inilah yang memicu gangguan kesehatan manusia saat ini. Jika ingin mempertahankan kesehatan tubuh, sangat disarankan agar kita mengurangi penggunaan garam saat memasak dan meminimalkan konsumsi makanan kalengan (mengandung garam sebagai pengawet).

Tentu saja tidak mudah mengurangi penggunaan garam saat memasak, karena makanan yang dimasak tanpa garam akan terasa hambar. Namun sebenarnya, garam tidak hanya didapatkan melalui tambahan pada masalah, karena garam alami bisa didapatkan tubuh melalui sayuran dan makanan hasil laut.

Besar sekali risiko gangguan kesehatan yang dihadapi jika kita kelebihan garam. Tak ada salahnya mulai memperhitungkan konsumsi garam sejak saat ini.

Semoga tips ini dapat membantu anda dan keluarga dalam menjaga kesehatan selama Lebaran berlangsung.

Indra Harjanto
Herbal Information Centre

Leave a Comment

Older Posts »