Archive for January 26, 2009

Ketika Anda Tidak Cukup Berusaha

“Anda harus belajar memahami dan menghargai posisi pasangan Anda, bahkan ketika tidak setuju dengan pendapatnya.” (Diane Sollee)

Penelitian menunjukkan:

Lima dari enam pasangan suami isteri mengakhiri perkawinan hanya dalam waktu tiga tahun setelah menikah. Hanya 30 persen pasangan yang berpacaran, akhirnya menikah. Dan mayoritas, 70 persen pasangan, putus di tengah jalan.

Desperately seeking a mate?

Mega, saat ini berusia 28 tahun, dan ia baru saja mengakhiri hubungan dengan pacarnya yang sudah berlangsung cukup lama, sekitar 3,5 tahun. Masalahnya, pasangan ini baru saja membahas secara serius hubungan mereka dan kemungkinan pernikahan. Hasilnya: Mereka memang menginginkan pernikahan,tetapi tidak sekarang..!”

“Banyak sekali perbedaan diantara kami,” kata Mega. “Dan saya tidak yakin,apa kami bisa melaluinya nanti. Jangan-jangan setelah menikah, perbedaan makin besar dan masalahnya jadi tambah parah. Jalan termudah, adalah mengakhiri hubungan,” katanya.

Repotnya, setelah putus, Mega jadi bertanya-tanya, mengapa ia dulu tidak sungguh-sungguh mencoba mempertahankan hubungan tersebut.
Perbedaan-perbedaan pendapat –yang selama ini jadi alasan– mungkin masih bisa diatasi. Dengan kata lain, ia merasa belum cukup berusaha keras. Hmm,rumit ya…

Mencari Cinta Sejati…
Mega, hanyalah satu gambaran –dari sekian juta lajang di dunia ini– yang mati-matian berusaha menemukan cinta sejati-nya, true love.

Mereka sangat menginginkan kekasih sejati, tetapi mereka menyadari hal itu semakin lama semakin sulit ditemukan, that it’s harder and harder to find.
Bahkan, ketika akhirnya mereka merasa sudah menemukan orang yang tepat, dan menikah dengannya, ternyata itu pun sebuah kekeliruan.

Begitulah yang terjadi, mengapa jumlah pernikahan untuk setiap 1000
perempuan menurun hingga 43 persen antara tahun 1960-1996, sementara angka perceraian meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu yang sama. Data ini merujuk laporan penelitian yang dilakukan Rutgers University di New Jersey,dan dipublikasikan tahun lalu oleh the National Marriage Project.

Fakta ini tidak banyak berebeda dengan penelitian lain yang dilakukan Pamela Smock, PhD, peneliti di the University of Michigan’s Institute for Social Research, yang menemukan bahwa: Lima dari enam pasangan suami isteri mengakhiri perkawinannya hanya dalam waktu tiga tahun setelah mereka menikah. Hanya 30 persen pasangan yang berpacaran, akhirnya menikah. Dan mayoritas, 70 persen pasangan, putus di tengah jalan.

Mekanisme pertahanan diri..?

Sejumlah pakar menduga –semakin meningkatnya harapan hidup manusia di dunia saat ini dan semakin tingginya angka perceraian – membuat para lajang masa kini enggan cepat-cepat mengikat diri dengan seseorang.

Tetapi, seorang pakar melihatnya dari sisi yang berbeda. Sebagian besar lajang dikendalikan oleh emosi-emosinya ketika menjalin hubungan. Dan tanpa disadari, hal itu membuat mereka “mengasingkan diri” dari perasaan “mencintai” atau “dicintai”.

Takut “terluka” atau mengalami hal-hal buruk dalam menjalin hubungan,
membuat sebagian lajang membangun mekanisme “pertahanan diri”, kata Robert Firestone, Ph.D, seorang psikolog di Santa Barbara.

Dalam bukunya Fear of Intimacy, yang dipublikasikan pada tahun 1999 oleh the American Psychological Association, Firestone, mengemukakan teori bahwa alasan yang mendasari mengapa banyak pasangan lajang tidak berusaha sungguh-sungguh mempertahankan hubungan-nya sampai jenjang pernikahan, lebih disebabkan: “mekanisme pertahanan dirinya.” Mekanisme ini sudah digunakan
sejak masa kanak-kanak untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan, terluka secara emosional atau sakit hati.

Meski pun, sebagian besar orang sudah masuk dalam hubungan yang begitu serius dan intens dengan pasangannya, mereka terkadang masih sulit menembus dinding “pertahanan diri” ini . Akibatnya, mereka selalu gagal menjalin hubungan cinta yang bertahan lama dengan pasangannya.

Penyelesaiannya?
Firestone menganjurkan kepada orang-orang yang fobi atau takut membuat komitmen ini, segera mencari pertolongan ahli kejiwaan dan berkonsultasi bagaimana mengatasi ketakutannya.

Dengan demikian, mereka lebih terdorong untuk berani mengambil risiko dan membentuk hubungan yang sungguh-sungguh dengan pasangannya.

“Kalau Anda bertahan dan menarik diri, hal itu akan menutup pengalaman emosional dan mematikan perasaan Anda. Sebaiknya berusahalah lebih terbuka,jujur, dan berani mengambil kesempatan yang mungkin ada,” sarannya.

Mereka juga disarankan untuk mampu menangani perbedaan pendapat. Banyak pasangan percaya bahwa jika mereka menemukan banyak perbedaan dengan seseorang, mereka belum mendapatkan cinta yang sejati. “Tentu saja selalu ada perbedaan pendapat,” tegas Diane Sollee, Direktur the Washington DC,lembaga yang bergerak dalam penanganan masalah-masalah seputar pernikahan,dan keluarga.

“Mereka hanya perlu tahu bagaimana mengatasi perbedaan pendapat tersebut. Dalam hal ini Anda harus belajar memahami dan menghargai posisi pasangan Anda, bahkan jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya,” ujarnya.

Ketakutan untuk menjalin hubungan serius ini, diakui para pakar kejiwaan biasanya sulit diatasi dengan cepat. Tetapi, bagia lajang yang berharap memiliki kekasih sejati dan menikah suatu hari nanti, kecakapan untuk membina hubungan dengan orang lain dan mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada, masih bisa diasah dan dipelajari,” demikian Sollee.

Ada sejumlah ciri pada sejumlah orang yang takut membuat komitmen dengan orang lain. Jika Anda termasuk golongan ini , Anda pasti mengenalinya.

Tidak suka diberitahu apa yang harus dilakukan. Mereka bisa dengan mudah bersikap defensif dan argumentatif (suka membantah).

Mengabaikan urusan finansial dan waktu. Mereka seringkali terlambat atau tidak membayar tagihan-tagihannya tepat waktu.

Tidak suka membuat rencana. Mereka menolak untuk memikirkan masa depan atau membuat rencana atau jadwalnya sendiri.

Tidak suka menunjukkan perasaannya. Mereka merasa terlalu berlebihan untuk membentuk sebuah komitmen dan memberikan kekuasaan yang terlalu besar pada pasangannya.

Sering menunda pekerjaan. Mereka tidak suka terikat untuk melakukan sesuatu secara khusus. Mereka takut mengikat komitmen, bahkan terhadap impian-impiannya sekali pun.

Catatan: Ketika Anda telah menyelesaikan krisis emosional Anda, untuk
pertama kalinya dalam hidup, Anda akan merasa bebas untuk mencintai sedalam yang Anda inginkan.

Leave a Comment

SURGA BERSAMA SAHABAT

Seorang lelaki tua dan anjingnya sedang berjalan-jalan di sebuah jalan desa, menikmati pemandangan. Tiba-tiba ia tersadar bahwa ia baru saja meninggal dunia. Ia pun ingat di saat meregang nyawa, anjingnya yang telah menemani hidupnya selama ini juga telah meninggal. Kini mereka bersama-sama berada di sebuah alam baka.

Setelah berjalan bersama sekian lama, mereka tiba di sebuah bukit. Sepanjang sisi jalannya berhiaskan batu pualam yang indah. Pada puncaknya berdiri sebuah patung indah dimana sinar matahari memendar dari balik patung itu. Ia terkagum melihat indahnya pintu gerbang yang terbuat dari permata dan mutiara, sedangkan jalan setapak menuju pintu gerbang tersusun dari emas murni.

Ia senang sekali karena merasa akhirnya telah tiba di surga. Kemudian sambil menuntun anjingnya ia menuju pintu gerbang. Ketika dekat pintu gerbang ia melihat seseorang penjaga duduk di balik meja berukir indah. Ia menyapa orang tersebut,

* “Maafkan saya, apakah ini surga?”
* “Ya, benar sekali tuan,” jawab penjaga gerbang.
* “Wow, kalau begitu bolehkah saya meminta sedikit air?” pinta lelaki tua itu.
* “Tentu saja, tuan. Silakan masuk dan ambillah air minum sepuas anda.” Kemudian penjaga gerbang itu memberi isyarat dengan ibu jarinya, dan pintu gerbang yang besar itu pun perlahan-lahan terbuka.
* “Bolehkah saya mengajak sahabat saya ini masuk?” pinta lelaki tua itu sambil menunjuk pada anjingnya.Tetapi penjaga gerbang menjawab,
* “Maaf sekali tuan, kami tidak membolehkan hewan peliharan masuk.”

Lelaki tua itu berpikir sejenak lalu mengucapkan terima kasih pada penjaga gerbang itu. Mereka berbalik dan melanjutkan perjalanannya kembali. Setelah lama berjalan mereka tiba di sebuah bukit yang lain, tetapi kali ini jalannya lebih kotor, di ujung jalan terbuka sebuah pintu gerbang pertanian. Tidak ada pagar di sisi jalan, rumput tumbuh sembarangan, pintu
gerbang itu tampaknya tak pernah tertutup.

Ketika ia berada dekat pintu gerbnag itu, di dalamnya ia melihat seorang lelaki sedang duduk di sebuah kursi goyang di bawah bayangan pohon dan sedang membaca buku.

* “Permisi tuan!” teriak lelaki tua itu pada pembaca buku. “Apakah anda mempunyai air untuk kami minum?”
* “Tentu saja. Ada pompa air di sebelah sana,” sahut pembaca buku itu sambil menunjuk ke sebuah tempat yang tak tampak dari luar gerbang. “Masuklah,anggap saja rumahmu sendiri.”
* “Bagaimana dengan temanku ini?” tanya lelaki tua itu. Ia menunjuk pada anjingnya.
* “Oh, ia boleh masuk. Kami mempunyai mangkuk air di sebelah pompa itu,” jawabnya.

Kemudian mereka masuk ke dalam gerbang, dan menemukan sebuah pompa tangan tua dengan sebuah gayung dan mangkuk tergeletak di sampingnya. Lelaki tua itu mengisi mangkuk dengan air hingga penuh dan memberikan pada anjingnya. Setelah itu ia meneguk air untuk mengobati hausnya sendiri. Ketika mereka sudah cukup minum, mereka kembali menemui pembaca buku itu yang tampaknya sedang menunggu mereka. Lelaki tua itu bertanya,

* “Tempat apakah ini?”
* “Ini surga,” jawab pembaca buku itu.
* “Wah, ini sangat membingungkan kami,” kata lelaki tua itu. “Tempat ini sama sekali tak seperti surga. Di ujung jalan di sebelah sana ada seseorang yang mengatakan bahwa bukit itulah yang surga.”
* “Oh, apakah yang anda maksudkan adalah bukti dengan jalan yang terbuat dari emas dan pintu gerbang yang terbuat dari permata itu?” tanya pembaca buku.
* “Ya, bukankah itu tempat yang sangat indah.”
* “Bukan, itu adalah neraka.”
* “Tidakkah anda salah menyebutnya sebagai neraka tempat yang indah seperti itu?”
* “Tidak. Saya mengerti mengapa anda berpendapat demikian, tetapi bukanlah seperti itu.

———-
Keindahan yang ditampakkannya itu menipu sehingga dapat membuat orang tega meninggalkan sahabat terbaiknya dalam penderitaan.”

source : unknown

Catatan Kecil :
Tak perlu memperdebatkan konsep surga dan neraka dalam cerita di atas namun pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa keindahan yang terkadang hanya ilusi seringkali membuat kita membiarkan sahabat-sahabat kita berada dalam penderitaan.

Mungkin sebuah makna bahwa apalah artinya keindahan dan juga kemewahan bila kita harus meninggalkan sahabat terbaik kita, dimana malah sebaliknya kita bisa merasakan keindahan bahkan kemewahan disaat kita bersama sahabat terbaik yang kita miliki, dimana pun dan kapan pun juga.

Leave a Comment

SEORANG KAKEK DALAM KERANJANG

Tersebutlah sebuah kisah yang amat terkenal di Asia, yang menceritakan tentang kekejaman seorang lelaki terhadap ayah kandungnya sendiri. Pada suatu ketika tinggallah sepasang suami isteri muda yang mempunyai seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun.

Ayah si suami itu tinggal bersama mereka, ia sudah amat tua, sangat lemah serta sulit untuk berjalan sendiri. Isteri muda itu amat tidak menyukai kehadiran ayah mertuanya di antara mereka. Tetapi suaminya, amat menyayangi ayahnya dan selalu menenangkan isterinya untuk merawat orangtuanya dengan baik.

Pada suatu malam, si isteri itu menunggu sampai anak laki-lakinya tidur nyenyak, ia lalu meminta kepada suaminya untuk menyingkirkan ayah mertuanya itu dari rumahnya, apabila suaminya ingin tetap hidup bersamanya.

Suaminya amat sedih dan merasa tidak berdaya menghadapi permintaan isterinya itu. Akhirnya ia menyetujui permintaan isterinya, supaya kehidupan rumah tangganya tidak terganggu lagi oleh ayahnya yang sudah tua renta itu.

Setelah yakin anaknya sudah tidur nyenyak, mereka lalu merencanakan bagaimana caranya untuk membuang ayahnya itu. Si isteri berkata : “Besok pagi-pagi sekali, kamu harus katakan kepada ayahmu, bahwa kamu akan membawanya ke tempat ziarah. Taruh saja dia di dalam keranjang besar dan bawa dia ke dalam hutan lebat. Tinggalkan saja di sana, biar dimakan binatang buas, setelah itu cepat-cepat pulang ke rumah.”

Keesokkan paginya, anak laki-laki itu bangun pagi-pagi sekali. Seperti yang telah direncanakan orangtuanya, si ayah membawa kakeknya yang dimasukkan kedalam keranjang besar dan pergi keluar. Anak itu lalu bertanya : “Ayah,mau dibawa kemana kakekku ini?” “Anakku, saya akan membawanya pergi berziarah.”

“Baiklah ayah, tetapi jangan lupa ya membawa pulang kembali keranjang besar itu, karena kalau nanti ayah sudah setua kakek, saya akan membawa ayah berziarah juga.” Kata-kata anak laki-laki itu menyadarkan mereka, pasangan suami isteri muda itu lalu berubah pikiran. Mereka akhirnya merawat orangtua itu dengan baik.

Cerita ini menyinggung dengan tajam dan tepat nilai-nilai moral pada masa sekarang ini. Di India, pada masa yang lampau, banyak cerita-cerita seperti ini. Dimana perhatian utama adalah ketidak-puasan seorang anak terhadap orangtuanya dan hal ini diperbaiki oleh cucunya. Cerita yang lain tentang hal seperti ini sebagai berikut.

Seorang ayah yang masih muda merencanakan membuang ayahnya yang sudah tua, si ayah dimasukkan ke dalam sebuah kereta. Ia lalu membawanya ke kuburan. Cucunya juga ikut serta. Ketika cucunya melihat ayahnya sedang menggali lubang kuburan untuk mengubur kakeknya, anak kecil itu berkata kepada ayahnya : ” Ayah, tolong gali sebuah lubang lagi untuk kuburanmu sendiri. Nanti, kalau ayah sudah tua saya tinggal mengubur ayah saja disitu, jadi saya tidak usah repot-repot menggali kuburan untukmu.” Tentu saja hal ini menakutkan si ayah muda itu.

Pesan moral yang terkandung dalam cerita ini adalah apa yang kita lakukan terhadap ayah, akan terjadi pula pada diri kita sendiri, yang akan dilakukan oleh anak kita.

Ada cerita lain lagi, seorang kakek diberikan makanan dengan sebuah piring yang amat kotor, ditaruh di atas tanah. Piring itu begitu kotornya sehingga tak seorang pun yang sanggup untuk memakan makanan dari piring tersebut. Ketika anak laki-laki tua tersebut melihat bahwa tak ada gunanya lagi untuk memberi makan kepada ayahnya, ia ingin membuangnya. Anaknya yang masih muda lalu berkata : “Ayah, piring tua itu jangan dibuang. Saya ingin
menyimpannya.”

Ayahnya bertanya : “Untuk apa?” Anak muda itu berkata : “Untuk apa….? Tentu saja untuk memberikan makanan ayah di atas piring itu kalau ayah sudah setua kakek saya ini.”

Inilah pelajaran untuk seorang ayah muda untuk lebih mengasihi dan merawat orangtuanya yang sudah tua.

Leave a Comment

Older Posts »