“Anda harus belajar memahami dan menghargai posisi pasangan Anda, bahkan ketika tidak setuju dengan pendapatnya.” (Diane Sollee)
Penelitian menunjukkan:
Lima dari enam pasangan suami isteri mengakhiri perkawinan hanya dalam waktu tiga tahun setelah menikah. Hanya 30 persen pasangan yang berpacaran, akhirnya menikah. Dan mayoritas, 70 persen pasangan, putus di tengah jalan.
Desperately seeking a mate?
Mega, saat ini berusia 28 tahun, dan ia baru saja mengakhiri hubungan dengan pacarnya yang sudah berlangsung cukup lama, sekitar 3,5 tahun. Masalahnya, pasangan ini baru saja membahas secara serius hubungan mereka dan kemungkinan pernikahan. Hasilnya: Mereka memang menginginkan pernikahan,tetapi tidak sekarang..!”
“Banyak sekali perbedaan diantara kami,” kata Mega. “Dan saya tidak yakin,apa kami bisa melaluinya nanti. Jangan-jangan setelah menikah, perbedaan makin besar dan masalahnya jadi tambah parah. Jalan termudah, adalah mengakhiri hubungan,” katanya.
Repotnya, setelah putus, Mega jadi bertanya-tanya, mengapa ia dulu tidak sungguh-sungguh mencoba mempertahankan hubungan tersebut.
Perbedaan-perbedaan pendapat –yang selama ini jadi alasan– mungkin masih bisa diatasi. Dengan kata lain, ia merasa belum cukup berusaha keras. Hmm,rumit ya…
Mencari Cinta Sejati…
Mega, hanyalah satu gambaran –dari sekian juta lajang di dunia ini– yang mati-matian berusaha menemukan cinta sejati-nya, true love.
Mereka sangat menginginkan kekasih sejati, tetapi mereka menyadari hal itu semakin lama semakin sulit ditemukan, that it’s harder and harder to find.
Bahkan, ketika akhirnya mereka merasa sudah menemukan orang yang tepat, dan menikah dengannya, ternyata itu pun sebuah kekeliruan.
Begitulah yang terjadi, mengapa jumlah pernikahan untuk setiap 1000
perempuan menurun hingga 43 persen antara tahun 1960-1996, sementara angka perceraian meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu yang sama. Data ini merujuk laporan penelitian yang dilakukan Rutgers University di New Jersey,dan dipublikasikan tahun lalu oleh the National Marriage Project.
Fakta ini tidak banyak berebeda dengan penelitian lain yang dilakukan Pamela Smock, PhD, peneliti di the University of Michigan’s Institute for Social Research, yang menemukan bahwa: Lima dari enam pasangan suami isteri mengakhiri perkawinannya hanya dalam waktu tiga tahun setelah mereka menikah. Hanya 30 persen pasangan yang berpacaran, akhirnya menikah. Dan mayoritas, 70 persen pasangan, putus di tengah jalan.
Mekanisme pertahanan diri..?
Sejumlah pakar menduga –semakin meningkatnya harapan hidup manusia di dunia saat ini dan semakin tingginya angka perceraian – membuat para lajang masa kini enggan cepat-cepat mengikat diri dengan seseorang.
Tetapi, seorang pakar melihatnya dari sisi yang berbeda. Sebagian besar lajang dikendalikan oleh emosi-emosinya ketika menjalin hubungan. Dan tanpa disadari, hal itu membuat mereka “mengasingkan diri” dari perasaan “mencintai” atau “dicintai”.
Takut “terluka” atau mengalami hal-hal buruk dalam menjalin hubungan,
membuat sebagian lajang membangun mekanisme “pertahanan diri”, kata Robert Firestone, Ph.D, seorang psikolog di Santa Barbara.
Dalam bukunya Fear of Intimacy, yang dipublikasikan pada tahun 1999 oleh the American Psychological Association, Firestone, mengemukakan teori bahwa alasan yang mendasari mengapa banyak pasangan lajang tidak berusaha sungguh-sungguh mempertahankan hubungan-nya sampai jenjang pernikahan, lebih disebabkan: “mekanisme pertahanan dirinya.” Mekanisme ini sudah digunakan
sejak masa kanak-kanak untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan, terluka secara emosional atau sakit hati.
Meski pun, sebagian besar orang sudah masuk dalam hubungan yang begitu serius dan intens dengan pasangannya, mereka terkadang masih sulit menembus dinding “pertahanan diri” ini . Akibatnya, mereka selalu gagal menjalin hubungan cinta yang bertahan lama dengan pasangannya.
Penyelesaiannya?
Firestone menganjurkan kepada orang-orang yang fobi atau takut membuat komitmen ini, segera mencari pertolongan ahli kejiwaan dan berkonsultasi bagaimana mengatasi ketakutannya.
Dengan demikian, mereka lebih terdorong untuk berani mengambil risiko dan membentuk hubungan yang sungguh-sungguh dengan pasangannya.
“Kalau Anda bertahan dan menarik diri, hal itu akan menutup pengalaman emosional dan mematikan perasaan Anda. Sebaiknya berusahalah lebih terbuka,jujur, dan berani mengambil kesempatan yang mungkin ada,” sarannya.
Mereka juga disarankan untuk mampu menangani perbedaan pendapat. Banyak pasangan percaya bahwa jika mereka menemukan banyak perbedaan dengan seseorang, mereka belum mendapatkan cinta yang sejati. “Tentu saja selalu ada perbedaan pendapat,” tegas Diane Sollee, Direktur the Washington DC,lembaga yang bergerak dalam penanganan masalah-masalah seputar pernikahan,dan keluarga.
“Mereka hanya perlu tahu bagaimana mengatasi perbedaan pendapat tersebut. Dalam hal ini Anda harus belajar memahami dan menghargai posisi pasangan Anda, bahkan jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya,” ujarnya.
Ketakutan untuk menjalin hubungan serius ini, diakui para pakar kejiwaan biasanya sulit diatasi dengan cepat. Tetapi, bagia lajang yang berharap memiliki kekasih sejati dan menikah suatu hari nanti, kecakapan untuk membina hubungan dengan orang lain dan mengatasi perbedaan-perbedaan yang ada, masih bisa diasah dan dipelajari,” demikian Sollee.
Ada sejumlah ciri pada sejumlah orang yang takut membuat komitmen dengan orang lain. Jika Anda termasuk golongan ini , Anda pasti mengenalinya.
Tidak suka diberitahu apa yang harus dilakukan. Mereka bisa dengan mudah bersikap defensif dan argumentatif (suka membantah).
Mengabaikan urusan finansial dan waktu. Mereka seringkali terlambat atau tidak membayar tagihan-tagihannya tepat waktu.
Tidak suka membuat rencana. Mereka menolak untuk memikirkan masa depan atau membuat rencana atau jadwalnya sendiri.
Tidak suka menunjukkan perasaannya. Mereka merasa terlalu berlebihan untuk membentuk sebuah komitmen dan memberikan kekuasaan yang terlalu besar pada pasangannya.
Sering menunda pekerjaan. Mereka tidak suka terikat untuk melakukan sesuatu secara khusus. Mereka takut mengikat komitmen, bahkan terhadap impian-impiannya sekali pun.
Catatan: Ketika Anda telah menyelesaikan krisis emosional Anda, untuk
pertama kalinya dalam hidup, Anda akan merasa bebas untuk mencintai sedalam yang Anda inginkan.
