Archive for December 17, 2008

Ia Tak Pernah Meninggalkanku

(Sharon Whitley, Woman’s World – Chicken Soup for the Teenage Soul)
Aku berbaring di lantai, menendang-nendang keras dan menjerit sampai leherku terasa sakit – semuanya karena ibu asuhku memintaku menyimpan mainanku.

“Aku benci kamu,” jeritku. Usiaku enam tahun waktu itu dan tak mengerti mengapa aku selalu merasa marah.  Sejak usia dua tahun aku selalu tinggal di keluarga asuh. Ibu kandungku tak dapat membesarkanku dan kelima kakakku. Karena kami tak mempunyai ayah atau orang lain yang dapat mengurus kami, kami dimasukkan ke rumah asuh.

Aku merasa kesepian dan bingung. Aku tak tahu cara mengungkapkan bahwa hatiku sakit. Mengamuk adalah satu-satunya cara yang kuketahui untuk menunjukkan perasaanku.

Karena aku banyak membuat masalah, akhirnya ibu asuhku yang terakhir mengirimku kembali ke agen adopsi, sama seperti ibuku yang sebelumnya. Aku merasa aku adalah anak yang paling sulit dicintai di dunia.

Lalu aku bertemu Kate McCann. Usiaku tujuh tahun saat itu dan aku sedang tinggal dengan keluarga asuhku yang ketiga waktu ia datang berkunjung. Waktu ibu asuhku memberi tahu bahwa Kate masih belum bersuami dan ingin mengangkat anak, aku tak menyangka dia akan memilihku. Aku tak dapat membayangkan ada orang yang menginginkanku tinggal bersamanya terus-menerus.

Hari itu, Kate mengajakku ke kebun labu. Kami bersenang-senang, tapi aku tak menyangka akan bertemu dengannya lagi. Beberapa hari kemudian, seorang petugas sosial mengunjungi rumah untuk memberi tahu bahwa Kate ingin mengangkatku menjadi anaknya. Lalu dia bertanya apakah aku berkeberatan tinggal bersama satu orangtua, bukan dua. “Aku cuma ingin ada yang menyayangiku,” kataku.

Kate berkunjung keesokan harinya. Ia menjelaskan bahwa pengurusan adopsi memerlukan waktu setahun, tapi aku dapat segera pindah ke rumahnya. Aku senang tapi juga takut. Aku dan Kate benar-benar asing.
Aku bertanya-tanya apakah dia akan berubah pikiran setelah mengenalku. Kate dapat merasakan ketakutanku.

“Aku tahu hatimu telah disakiti,” katanya sambil memelukku. “Aku tahu kamu takut. Tapi aku berjanji, aku tak akan mengusirmu. Sekarang, kamu adalah anakku.” Aku terkejut melihat air matanya berlinang. Tiba-tiba aku menyadari bahwa dia juga merasa kesepian seperti diriku! “Baiklah… Ma,” kataku.

Minggu berikutnya aku bertemu dengan kakek, nenek, bibi, paman, dan sepupuku yang baru. Rasanya aneh – tapi menyenangkan – bersama-sama orang asing yang memelukku seakan mereka sudah mencintaiku. Waktu aku pindah ke rumah Mama, untuk pertama kalinya aku memiliki kamar sendiri. Dindingnya dilapisi kertas dan seprainya bercorak sama, ada meja rias antik dan lemari pakaian yang besar. Aku hanya memiliki beberapa potong pakaian yang kubawa di dalam kantung kertas. “Tak usah khawatir,” katanya. “Mama akan membelikan barang baru yang bagus-bagus untukmu.”

Aku merasa aman saat tidur malam itu. Aku berdoa agar aku tak perlu meninggalkan tempat itu. Mama baik sekali padaku. Ia mengajakku ke gereja. Ia membelikan binatang peliharaan dan memberikan pelajaran menunggang kuda dan bermain piano. Setiap hari ia mengatakan bahwa ia mencintaku. Tapi cinta tidak cukup untuk menyembuhkan rasa sakit di hatiku. Aku terus menunggunya berubah pikiran. Kupikir, “Kalau aku nakal sekali, ia pasti meninggalkanku, sama seperti yang lain.”

Jadi aku mencoba menyakitinya sebelum ia menyakitiku. Aku mempertengkarkan hal-hal kecil dan marah-marah kalau kemauanku tidak dituruti. Aku membanting pintu. Kalau Mama mencoba melarang, kupukul dia. Tapi, ia tak pernah kehilangan rasa sabarnya. Ia selalu memelukku dan berkata tetap mencintaiku. Kalau aku marah, ia menyuruhku melompat di atas trampolin.

Karena prestasi belajarku di sekolah buruk waktu aku pindah ke rumahnya, Mama sangat tegas mengenai PR-ku. Suatu hari waktu aku sedang menonton TV, ia masuk dan mematikannya. “Kamu boleh nonton setelah selesai mengerjakan PR,” katanya. Aku marah. Aku mengambil bukuku dan melemparnya. “Aku benci kamu dan aku tak mau tinggal di sini lagi!” aku berteriak.

Aku menunggunya menyuruhku mengepak pakaian. Waktu ia tidak menyuruhku demikian, aku bertanya, “Kamu tidak akan mengembalikanku ke rumah yatim piatu?”   “Aku tak suka melihat kelakuanmu,” katanya, “tapi aku tak akan pernah mengembalikanmu ke sana. Kamu adalah anakku sekarang, dan antara ibu dan anak tak pernah saling meninggalkan.”

Lalu mendadak aku sadar. Mama yang ini berbeda; ia tak akan menyingkirkanku. Ia sungguh-sungguh mencintaiku. Dan aku menyadari, aku mencintainya juga. Aku menangis dan memeluknya.

Pada tahun 1985, waktu Mama secara resmi mengangkatku sebagai anak, seluruh keluarga kami merayakannya di rumah makan. Menyenangkan rasanya memiliki keluarga. Tapi aku masih takut. Mungkinkah seorang mama
mencintaiku terus? Amarahku tak langsung lenyap, tapi setelah berbulan -bulan berlalu, aku makin jarang marah-marah.

Hari ini aku berusia 16 tahun. Indeks prestasi rata-rataku 3,4, aku memiliki kuda bernama Dagger’s Point, empat kucing, satu anjing, enam burung dara, dan katak yang tinggal di kolam di belakang rumah. Dan aku mempunyai cita-cita: aku ingin menjadi dokter hewan.

Aku dan Mama senang melakukan kegiatan bersama-sama, misalnya belanja dan menunggang kuda. Kami tersenyum kalau orang berkata kami mirip. Mereka tak percaya bahwa ia bukan ibu kandungku.

Sekarang aku lebih bahagia daripada yang pernah kubayangkan. Kalau aku sudah dewasa, aku ingin menikah dan punya anak, tapi kalau itu tak terjadi, aku akan mengangkat anak seperti Mama. Aku akan memilih anak yang kesepian dan ketakutan dan tak akan menyerah. Aku bahagia Mama tidak meninggalkanku.

Leave a Comment

Hari Ketika Akhirnya Aku Menangis

(Meg Hill – Chicken Soup for the Unsinkable Soul)
Aku tidak menangis ketika tahu bahwa aku adalah orangtua seorang anak cacat mental. Aku hanya duduk diam seribu bahasa ketika aku dan suamiku diberitahu bahwa Kristi, dua tahun – sesuai dengan kecurigaan kami -
adalah anak terbelakang.

“Silakan menangis,” kata dokter itu dengan ramah. “Itu dapat mencegah masalah-masalah emosi yang serius.”   Kendati terancam dengan masalah-masalah serius, aku tidak dapat menangis, baik waktu itu maupun selama bulan-bulan berikutnya. Ketika Kristi cukup “matang” untuk bersekolah, kami mendaftarkannya ke sebuah sekolah taman kanak-kanak pada usia tujuh tahun.

Akan sangat melegakan andaikata aku menangis pada hari ketika aku meninggalkannya di ruangan yang penuh dengan anak-anak lima tahun yang sangat bersemangat dan penuh keyakinan. Selama itu Kristi selalu bermain sendirian, tetapi saat ini, ketika ia menjadi anak “berbeda” di antara dua puluh anak lain, bukan tidak mungkin ia akan merasakan kesepian paling berat selama hidupnya.

Ternyata, sesuatu yang positif mulai terjadi pada Kristi di sekolahnya, juga pada teman-teman kelasnya. Kendati berlomba meraih prestasi-prestasi masing-masing, teman-teman Kristi selalu bersedia memberikan pujian kepadanya juga: “Kristi bisa mengeja dengan benar hari ini.” Tidak seorang pun bertindak usil dengan menambahkan bahwa kata yang harus diejanya lebih mudah daripada untuk anak-anak lain.

Selama tahun keduanya di sekolah, ia menghadapi sebuah pengalaman yang sangat traumatis. Peristiwa penting dalam semester itu adalah perlombaan dalam bidang keterampilan musik dan olahraga. Kristi terbelakang dalam olah musik dan olahraga. Aku dan suamiku juga takut dalam menghadapi hari itu.

Pada hari berlangsungnya acara itu, Kristi berpura-pura sakit. Mengingat kekurangannya, aku pun ingin membiarkannya tetap di rumah. Mengapa aku harus membiarkan Kristi dipermalukan di aula di hadapan para orangtua, murid, dan guru-guru? Kelihatannya solusi yang sederhana adalah mengizinkannya tinggal di rumah.

Tidak mengikuti acara ini pastilah bukan suatu masalah. Tetapi hati nuraniku tidak membiarkan aku menyerah begitu mudah. Maka aku dengan lembut membujuk Kristi untuk bersiap-siap berangkat dengan bus sekolah, sementara aku sendiri masih bimbang dengan keputusanku.

Karena aku baru saja memaksa putriku pergi ke sekolah, kini aku harus memaksakan diri pergi ke acara itu. Tampaknya kecil kemungkinan bagi kelompok Kristi untuk tampil dengan baik. Ketika akhirnya giliran mereka tiba, aku tahu mengapa Kristi merasa cemas. Seperti telah dikatakan, kelasnya dibagi menjadi beberapa kelompok. Dengan tenaganya yang lemah, dan reaksinya yang lambat serta kikuk, ia pasti akan menjadi penghalang bagi kelompoknya.

Untuk lomba-lomba yang lain, penampilan mereka cukup baik, sampai tiba saatnya untuk lomba balap karung. Sekarang tiap anak harus masuk ke dalam sehelai karung dalam posisi berdiri, kemudian melompat-lompat
sampai ke garis tujuan dan kembali lagi ke tempat semula. Aku mengawasi Kristi berdiri di bagian ujung kelompoknya, tampak panik sekali.

Akan tetapi begitu tiba giliran Kristi untuk beraksi, kelompok itu melakukan perubahan posisi. Anak laki-laki paling jangkung dalam barisan itu melangkah ke belakang Kristi lalu memegangnya pada pinggangnya. Dua anak laki-laki lain berdiri agak di depannya.

Pada saat pemain sebelum Kristi melangkah ke luar dari karung, kedua anak laki-laki tadi mengambil karung dari pemain terdahulu, kemudian membukanya sementara si jangkung mengangkat Kristi dan memasukkannya ke dalam karung. Seorang anak perempuan di depan Kristi memegang tangannya dan menahannya sebentar sampai Kristi memperoleh keseimbangannya.

Selanjutnya melompatlah ia sambil tersenyum bangga. Sementara para guru, sesama murid, dan para orangtua bersorak memuji, aku tersungkur bersujud, berterima kasih kepada Tuhan atas orang-orang yang ramah dan penuh pengertian dalam hidup ini, yang memungkinkan putriku yang cacat merasa sama seperti anak-anak lain.   Kemudian akhirnya aku menangis.

Leave a Comment

When Indians speak English

From: Sentot Adiprasena <sentot@rad.net.id>

Barbara Walters was doing a documentary on the customs of American Indians.  After a tour of the reservation they were on, she asked why there was a difference in the number of feathers in the braves headdresses.

Ms. Walters asked a brave who had only one feather in his headdress.

His reply was “Me have only one squaw, me have only one feather”.

She asked another brave, feeling the first fellow was only joking.

This brave had four feathers in his headdress.  He replied, “Ugh, me have four feathers because me sleep with four squaws.”

Still not convinced that the number of feathers indicated the number of squaws involved, she decided to interview the Chief.

The Chief had a full headdress of feathers, which needless to say, amused MS. Walters.

She asked the Chief, “Why do you have so many feathers in your headdress?”

The Chief proudly pounded his chest and said, “Me Chief!
Me fuck’em all!!!”

Horrified, Ms. Walters stated “You ought to be hung!”

The Chief replied, “You damn right me hung, big like buffalo, long like snake.”

Ms. Walters cried, “You don’t have to be so damned hostile.”

The Chief replied, “Hoss-style, dog-style, wolf-style, ant-style; me fuck’em all!!” With tears in her eyes Ms. Walters cried, “Oh dear!”

The Chief said, “No deer – Me no fuck deer!  Asshole too high.

Fuckers run too fast!

Leave a Comment

Older Posts »