Archive for December 8, 2008

Sesuatu terjadi karena sebuah alasan

Ini ada cerita tentang setiap orang pasti punya suatu misi, let’s find out…

Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat.
Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot.

Namun, sesuatu pun terjadilah.Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru.

Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington . Setiap hari aku berlari ke kotak pos.Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi.

Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center .

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur.

Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?
Aku berpaling pada ayahku. Katanya,”Semua terjadi karena suatu alasan.”

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali.

Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku, “Semua terjadi karena suatu alasan.” Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini.

Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.
Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Leave a Comment

Manusia,Burung dan Cacing

Bila kita sedang mengalami kesulitan hidup karena himpitan kebutuhan materi, maka cobalah kita ingat pada burung dan cacing. Kita lihat burung tiap pagi keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Tidak terbayang sebelumnya kemana dan dimana ia harus mencari makanan yang diperlukan.

Karena itu kadangkala sore hari ia pulang dengan perut kenyang dan bisa membawa makanan buat keluarganya, tapi kadang makanan itu cuma cukup buat keluarganya, sementara ia harus “puasa”. Bahkan seringkali ia pulang tanpa membawa apa-apa buat keluarganya sehingga ia dan keluarganya harus “berpuasa”.

Meskipun burung lebih sering mengalami kekurangan makanan karena tidak punya “kantor” yang tetap, apalagi setelah lahannya banyak yang diserobot manusia, namun yang jelas kita tidak pernah melihat ada burung yang berusaha untuk bunuh diri.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menukik membenturkan kepalanya ke batu cadas. Kita tidak pernah melihat ada burung yang tiba-tiba menenggelamkan diri ke sungai.

Kita tidak pernah melihat ada burung yang memilih meminum racun untuk mengakhiri penderitaannya. Kita lihat burung tetap optimis akan rejeki yang dijanjikan Allah.

Kita lihat, walaupun kelaparan, tiap pagi ia tetap berkicau dengan merdunya.
Tampaknya burung menyadari benar bahwa demikianlah hidup, suatu waktu berada diatas dan dilain waktu terhempas ke bawah. Suatu waktu kelebihan dan dilain waktu kekurangan. Suatu waktu kekenyangan dan dilain waktu kelaparan.

Sekarang marilah kita lihat hewan yang lebih lemah dari burung, yaitu cacing. Kalau kita perhatikan, binatang ini seolah-olah tidak mempunyai sarana yang layak untuk survive atau bertahan hidup.

Ia tidak mempunyai kaki, tangan, tanduk atau bahkan mungkin ia juga tidak mempunyai mata dan telinga. Tetapi ia adalah makhluk hidup juga dan, sama dengan makhluk hidup lainnya, ia mempunyai perut yang apabila tidak diisi maka ia akan mati.

Tapi kita lihat , dengan segala keterbatasannya, cacing tidak pernah putus asa dan frustasi untuk mencari rejeki . Tidak pernah kita menyaksikan cacing yang membentur-benturkan kepalanya ke batu.

Sekarang kita lihat manusia. Kalau kita bandingkan dengan burung atau cacing, maka sarana yang dimiliki manusia untuk mencari nafkah jauh lebih canggih.

Tetapi kenapa manusia yang dibekali banyak kelebihan ini seringkali kalah dari burung atau cacing ? Mengapa manusia banyak yang putus asa lalu bunuh diri menghadapi kesulitan yang dihadapi ? padahal rasa-rasanya belum pernah kita lihat cacing yang berusaha bunuh diri karena putus asa.

Leave a Comment

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah  ini justru sebaliknya.

Dengan adanya kebohongan ini, makna  sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan  terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong  mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang  anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin.

Bahkan untuk makan  saja,seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi  nasinya untukku.

Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :  ”Makanlah nak,aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan  waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu  berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan  bergizi untuk petumbuhan.

Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan  yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,  ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih  menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku  makan.

Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu  menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku.

Tetapi ibu dengan  cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan  ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan  kakakku,ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api  untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang  untuk menutupi kebutuhan hidup.

Di kala musim dingin tiba, aku bangun  dari tempat tidurku,melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan  dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api.

Aku  berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus  kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak  capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku  pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,  ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama  beberapa jam.

Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah  selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah  disiapkan dalam botol yang dingin untukku.

Teh yang begitu kental  tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.

Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk  ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak  haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,  dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita  pun semakin susah dan susah.

Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat  kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati  yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar  maupun masalah kecil.

Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat  kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk  menikah lagi.

Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan  nasehat mereka, ibu berkata :
“Saya tidak butuh cinta”  ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun.

Tetapi ibu tidak  mau,ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit  sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kakakku dan abangku yang  bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu  memenuhi kebutuhan ibu,tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang  tersebut.

Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya  punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika  berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan.

Akhirnya aku pun bekerja  diperusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud  membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika.

Tetapi ibu yang baik  hati,bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku  tidak terbiasa”

———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker  lambung,harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di  seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk  ibunda tercinta.

Aku melihat ibu yang terbaring lemah diranjangnya  setelah menjalani operasi.
Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku  dengan penuh kerinduan.

Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya  terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. T

Terlihat dengan jelas  betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat  lemah dan kurus kering.
Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air  mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam
kondisi seperti  ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “angan menangis
anakku,Aku  tidak kesakitan”

———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta  menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! “

Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon  ayah ibu  kita?

Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita  untuk berbincang dengan ayah ibu kita?

Di tengah-tengah aktivitas kita  yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk  meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian.

Kita selalu lupa akan ayah  dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan  pacar kita.

Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas  apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di  samping kita.

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?  Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum?

Cemas apakah ortu kita  sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita  renungkan kembali lagi..

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari. _._,_.___

Salam & Best Regards,

Leave a Comment

Older Posts »